PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Negri Tumenang


__ADS_3

Sudah dua hari lamanya, Wulandari merawat Cempaka Ayu, tapi hingga hari ini gadis itu belum pula menunjukkan tanda-tanda akan siuman.


Ini buruk, setiap malam tubuh gadis itu mengeluarkan cahaya putih yang terang, kemudian esok paginya keadaan dia menjadi lebih parah dari kemarinnya, begitu seterusnya.


Wulandari sudah melakukan segala hal, memberikan semua obat terbaik yang dia ketahui tapi tidak ada hasilnya. Bukan hanya itu, Saraswati sudah mencoba puluhan kali untuk menyalurkan tenaga dalam, tapi tubuh gadis itu selalu menolaknya.


“Aku tidak tahu bagaimana lagi cara menolong gadis ini...” berkata lesu Saraswati setelah meletakkan tubuh Cempaka Ayu. Dia mengambil secawan air, menegaknya banyak sekali. Wajah wanita itu dipenuhi dengan keringat.


Wulandari merapikan selimut dari bulu domba, menutupi tubuh Cempaka Ayu yang acap kali seperti orang kedinginan. Kemudian menyusul gurunya di teras depan gubuk.


“Apakah Geni bisa membantunya?” tanya Wulandari, sedikit ragu.


Saraswati belum menjawab, dia kembali menegak banyak air minum hingga akhirnya menatap Wulandari dengan penuh tanda tanya.


“Kau tidak sedang berpikir untuk mencari pemuda itu, bukan?”


“Menurut guru, apa lagi yang haru kita lakukan? Tidaklah mungkin kita membiarkan gadis ini mati.”


“Lalu alasan apa yang kau miliki, sehingga cukup yakin bahwa pemuda itu bisa menyelamatkannya.” Saraswati menaikkan nada suaranya, raut wajahnya menjadi lebih merah dari sebelumnya. “Lagipula, kita tidak memiliki hubungan dengan gadis ini, atau pula dengan pemuda itu, kenapa kau harus repot-repot menolong...”


“Guru...!” Wulan membungkukkan tubuhnya tiga kali. “Jangan berkata demikian...”


Saraswati menelan ludah pahit, menarik napas tanpa beraturan. Sifat keras kepala Wulandari tidak akan bisa dia lunakkan. Apa yang menjadi keputusan gadis itu tidak bisa terbantahkan, meski dia harus memaksanya.


“Kalau begitu biar aku yang mencari pemuda itu...” Saraswati memberi tawaran.


“Tidak, seseorang harus menjaga Cempaka, dan orang itu adalah dirimu.” Wulandari tersenyum kecut. “Aku akan baik-baik saja, percayalah!”


Saraswati sekali lagi hendak mencegah tindakan Wulandari tapi tidak jadi. Pada akhirnya dia mengizinkan gadis itu pergi seorang diri mencari keberadaan Sungsang Geni.

__ADS_1


***


Di sisi lain, Sungsang Geni telah melewati belasan perkampungan yang tertinggal. Menyebrangi sungai besar dan kecil, mendaki gunung tinggi dan melewati lembah-lembah dingin.


Hingga saat ini, dia istirahat tepat di salah satu kampung tertinggal. Panglima Ireng mencari sesuatu untuk dimakan di dalam rumah-rumah warga, tapi tidak menemukan sesuatu kecuali satu ekor tikus kecil. Dilahapnya tikus itu dengan mudah.


Tidak beberapa lama, terdengar beberapa orang bercanda gurau di kejauhan. Telinga Sungsang Geni begitu jelas mendengar sekitar 4 orang sedang berbicara. Tanpa menunggu lama, dia segera bergegas melompat ke atas batang tinggi, memalingkan wajah ke arah tenggara, dan benar. Ada beberapa orang sedang bercanda gurau di kampung kecil lainnya.


Setelah cukup lama memperhatikan, dia turun lagi ke permukaan tanah.


“Ireng, jangan berisik! Kita menemukan beberapa orang di kampung sebelah.”


“Gerr...gerr...” Panglima Ireng menggeram tanda mengerti.


Beberapa saat kemudian, pemuda itu sudah berhasil mendekati perkampungan kecil yang dijaga cukup banyak prajurit. Tapi sedikit lebih aneh, kampung itu terlihat lebih tentram dari kampung-kampung yang pernah dia jumpai.


Tepat di tengah perkampungan, sebuah altar pemujaan berdiri dengan gagah, berbentuk manusia dengan Kelelawar Besar di atas kepalanya.


“Mereka ini adalah manusia biasa...” bergumam kecil Sungsang Geni, pemuda itu tidak merasakan ada aura kegelapan di dalam diri puluhan manusia itu, tapi pertanyaannya kenapa mereka menyembah patung manusia?


Dua orang yang mengenakan pakaian prajurit tampak berniat menunggangi kuda, mungkin akan pergi ke suatu tempat. Pakaiannya berwarna hijau tua, dengan tulisan sansekerta yang pasti dipahami oleh Sungsang Geni.


“Kerajaan Tumenang?” Sungsang Geni menaikkan alisnya. “Ini adalah kerajaan Miksan Jaya...”


Sungsang Geni sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan kerajaan Tumenang saat ini, meskipun dia tahu raja negri ini adalah sekutu Kelelawar Iblis. tapi....


“Mungkin Cempaka Ayu berada di wilayah ini.” Sungsang Geni memalingkan wajah ke arah Panglima Ireng dan hanya mendapatkan geraman kecil dari srigala itu. “Ya, mungkin pula ada makanan, padahal kau sudah berjanji untuk menahan perutmu.”


“Gerr...gerr...”

__ADS_1


“Ya..ya...ini sudah dua hari kau berpuasa.” Sungsang Geni mengelus moncong Panglima Ireng sebelum akhirnya mengikuti dua prajurit dari kejauhan.


Tidak beberapa lama, mereka tiba di sebuah tempat yang dijuluki sebagai Lembah Hantu. tempat itu dipenuhi dengan kabut ilusi yang melindunginya dari orang-orang asing yang memasuki kerajaan Tumenang.


Diperhatikan dengan seksama, rupanya dua orang prajurit itu menunjukkan lencana pada sebuah pohon beringin besar yang tampak memiliki rongga sebesar kepalan tinju. Ketika lencana di masukan kedalam rongga beringin, kabut ilusi tersibak sebesar pintu gerbang.


Dua orang itu masuk ke dalam gerbang yang tersibak, dengan sangat cepat Sungsang Geni mengangkat tubuh Panglima Ireng dan melesat sebelum pintu tertutup kembali.


“Astaga!” tersentak Sungsang Geni setelah melihat pemandangan di dalam kabut ilusi. Sebuah negri hijau nan makmur rupanya berada di dalam kabut itu.


Di tengah negri itu, satu buah Isatana Megeah berdiri, dengan warna hijau yang dihiasi dengan puluhan batu mulia warna warni.


Banyak sekali bangunan-bangunan megah di tempat itu, dan lebih banyak lagi kampung-kampung kecil yang terlihat sangat damai. Sawah terbentang luas, perkebunan sayur menghijau dan ternak berkembang biak.


Tapi sayangnya, tepat di tengah Negri itu Sungsang Geni bisa melihat padang luas dimana altar pemujaan dibangun. Sama seperti kampung di luar kabut ilusi, altar itu juga memiliki patung besar dengan Kelelawar bermata merah berdiri di atas kepalanya.


“Ireng, tempat ini begitu makmur tapi kau jangan terlena, otak mereka sudah dicuci oleh paham-paham Kelelawar Iblis.”


“Gerr...gerr...”


Ketika Sungsang Geni berbalik ke belakang, tiada lagi gerbang besar disana. Pemuda itu menyapukan pandangan ke setiap sisi, tapi juga tidak menemukan kabut ilusi yang melindungi negri ini.


“Negri Tumenang rupanya berbeda dari yang pernah aku bayangkan.” Sungsang Geni mulai melangkahkan kaki, menyusuri jalan luas berwarna kuning yang tersusun dari batu-batu pualam.


Dia melewati sawah luas, para petani sedang mengarit padi, kala dia melewati tempat itu. setiap sudut sawah ada patung Topeng Beracun, di bawah kaki patung itu ada banyak sekali sesaji dari beras dan gabah kering. Tampaknya sebagai ucapan syukur atas hasil panen yang telah mereka peroleh.


“Mereka benar-benar menganggap Topeng Beracun sebagai Dewa?” Bergumam Kecil Sungsang Geni. “Ini semua penuh dengan kepalsuan, menyelimuti semua ini dengan harta yang berlimpah.”


Sama hal ketika dia bertemu dengan masyarakat di Swarnadwipa, orang-orang di sini terlihat begitu ramah tamah. Namun perasaan Sungsang Geni menjadi sedikit buruk ketika seorang pria kekar menyeret seorang gadis belia, oh rupanya bukan seorang tapi ada sebelas orang gadis belia.

__ADS_1


“Mereka akan menumbalkan gadis-gadis itu.” Sungsang Geni tersentak.


__ADS_2