
Sekelebat cahaya kuning menghantam Durada dan teman-temannya, membuat mereka harus terpental beberapa langkah dari tempat mereka berdiri sebelumnya.
Pakaian Durada terselubung asap tipis oleh pukulan tenaga dalam orang berbaju putih. Keempat prajurit yang bersamanya sekarang sudah tak sadarakan diri, terkapar diantara tanaman disekitar tempat bertarung. Durada tidak mengetahui mereka masih hidup atau sudah mati.
“Kantu kau baik-baik saja?” ucap Muksir, matanya terlihat nanar memandangi sahabatnya yang mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
Kantu belum menjawab, dia berusaha mengatur posisi berdirinya. Dengan wajah menyengir menahan sakit, akhirnya Kantu berhasil pula berdiri dengan benar.
“Aku rasa, tidak ada yang baik-baik saja diantara kita.” Kantu berusaha menyeka darah yang membanjiri dagunya, tapi darah tidak berhenti mengalir.
Durada yang kekuatannya paling besar diantara teman-temannya menatap Kantu dengan sedih. Jika bukan karena mengikutinya ketempat ini, teman-temannya tidak mungkin mengalami nasip seperti ini.
Tapi nasi telah menjadi bubur, baik Durada, Kantu dan Muksir menyadari tidak ada gunanya menyesali sesuatu yang telah terjadi.
Setelah selesai menatap Kantu, Durada memaling muka ke pada tiga orang berbaju putih yang sekarang tersenyum bangga.
“Aku tidak akan mema’afkan kalian semua.” Geretak Durada.
“Silahkan serang kami sekuat tenaga kalian, jika kalian mampu.” Timpal salah satu dari orang berbaju putih.
Durada kemudian mengakat tangannya kelangit, dia menarik napasnya setengah kemudian menahannya, Dia kemudian mengeraskan perutnya.
‘tidak ada cara lain, kami tidak akan menang menghadapi orang-orang ini. jadi ini adalah pilihan terakhir yang bisa kulakukan.’ Batin Durada bergumam, dia nampak tidak akan menyesali perbuatannya itu.
Kemudian dari tengah perut Durada sebuah energi berwara kuning menjalar keseluruh tubuhnya, energi itu seperti aliran air,bergerak cepat menyelusuri urat-urat ditubuh Durada.
Kekuatan Durada membuat orang berbaju putih terkejut, tekanan tenaga dalam yang mereka rasakan dari Durada sekarang berbeda dengan yang tadi.
“Pria ini, dia berusaha mengeluarkan seluruh potensi dari tenaga dalammnya.” Salah seorang berbaju putih berbicara kepada temannya.
__ADS_1
“Durada, kau tidak perlu memaksakan dirimu seperti ini, teknik yang kau guanakan akan berdampak buruk pada dirimu sendiri!” Muksir menyadari perbuatan Durada akan membahayakan tubuhnya sendiri.
Di Majangkara teknik ini dinamakan kompres energi, tidak sembarang orang bisa melakukannya. Teknik ini memungkinkan penggunanya merubah semua energi dalam tubuhnya termasuk energi kehidupan menjadi tenaga dalam.
Biasanya orang yang melakukan teknik ini akan mendadak menjadi tua, sebab dia memakai energi kehiduapan dalam jumlah banyak.
“Orang itu, bagaimana mungkin tekanan tenaga dalamnya menjadi sebesar ini?” orang berbaju putih mulai khawatir, saat ini mereka merasakan tenaga dalam Durada setingkat pendekar pemula Tanpa Tanding.
“Sudah ku bilang, aku tidak akan membiarkan kalian bertiga selamat.” Ucap Durada.
Setelah berkata demikian, Durada menyerang lebih dahulu. Berkat kekuatannya yang sekarang, gerakannya menjadi sangat cepat, membuat mata lawannya kesulitan mengikuti gerakannya.
Durada telah tiba pada salah satu orang berbaju putih, dia mengangkat goloknya tinggi-tinggi. Sebelum dia menebaskan goloknya, tatapan orang berbaju putih memancar ketakutan yang luar biasa.
Sing...Golok Durada berhasil menebas bahu sebelah kiri lawannya. Bahu itu sekarang nampak terkulai, nyaris saja putus, darah segar segera membanjiri tanah, bau anyir mulai menyengat hidung. Namun Durada tidak menghentikan serangnnya.
Dia memberikan belasan tebasan kepada lawannya, membuat luka koyakan yang sangat dalam. Dengan luka sebanyak itu orang itu meregang nyawa tanpa sempat melakukan perlawanan.
Namun belum kering air liurnya, Durada kembali menebaskan goloknya tepat pada leher orang itu. Kecepatan Durada benar-benar membuat lawannya tidak dapat menghindar. Dimata Muksir dan Kantu, Durada laksana harimau yang terluka yang mencakar membabi buta.
“Muksir?” ucap Kantu, matanya terlihat berkaca-kaca.
“Benar teman, teknik itu telah mengambil seluruh energi hidup Durada. Dia tidak akan kembali kepada kita dengan hidup-hidup, dia berusaha membawa para ******** itu mati bersamanya.” Muksir adalah orang yang paling dekat dan mengetahui sipat Durada, dia berusaha menyembunyikan kesedihannya di depan Kantu, namun tetap tidak bisa.
Tidak butuh waktu lama, Durada telah membunuh semua lawannya dengan tebasan Golok yang mengoyakan seluruh daging ditubuh mereka.
“Durada, Lihatlah! ” ucap Muksir lirih, dia telah melihat kedatangan Karang Dalo dengan sebuah tombak kuning ditangannya.
Bukan hanya tekanan tenaga dalam yang besar memancar dari Karang Dalo, aura membunuh Senopati itu bahkan berhasil membuat dada Muksir dan Kantu terasa sesak.
__ADS_1
Belum lagi tombak yang digunakan Karang Dalo juga memancarkan aura yang kuat, tombak itu merupakan senjata tingkat tinggi.
“Pergilah dari sini, aku akan menahannya.” Perkataan Durada mulai tersengkal-sengkal, energi kuning yang menyelimuti dirnya mulai menipis berganti kulit yang mulai keriput dan kering.
“Tidak, kita akan pergi dari sini bersama-sama....”
“Hentikan! Kalian berdua bukanlah orang yang baru saja menjadi pendekar, jadi jangan berkata bodoh!” ucap Durada lagi, “Pergi atau tidak aku tidak akan selamat, jadi selagi aku melawan orang itu, kalian pergilah dan temuai Dewangga, aku yakin Sungsang Geni akan melindungi kalian.”
Glegar... tiba-tiba saja tubuh Durada telah mendarat pada sebuah pohon besar, membuat pagar pembatas antara kediaman Pangeran Warkudara dan Nala Setya rusak.
Baik Durada Muksir dan Kantu tidak melihat serangan yang dilakukan Karang Dalo. Kecepatan Karang Dalo berada diatas Durada yang bahkan telah melakukan teknik kompres energi.
Durada melirik tajam kepada Muksir dan Kantu, memberi isyarat agar lekas pergi dari tempat ini secepatnya. Namun sebelum kedua temannya meninggalkan tempat mereka, Karang Dalo telah mendaratkan kakinya tepat di wajah mereka berdua.
Muksir dan Kantu terhempas ketanah dengan keras. Telinga mereka menjadi pekak, mereka tidak mendengar suara apapun selain dengaingan. Bukan hanya itu, kepala mereka terasa ditindih oleh beban berat.
Melihat teman-temannya, Durada segera menyerang dengan goloknya. Namun Karang Dalo berhasil mematahkan golok itu dengan tombaknya, lalu mendaratkan kepalan tinju dibagian perut prajurit bayaran Majangkara itu.
Durada kembali menyerang dengan bertubi-tubi, menggunakan tendangan dan juga pukulan. Namun tidak ada satupun serangannya berhasil mengenai Karang Dalo meski dia telah berusaha sekuat mungkin.
“Aku tidak tahu teknik apa yang kau gunakan, tapi aku tidak akan kalah meski kau melipat gandakan tenaga dalamu itu.” Karang Dalo tersenyum sinis, “ Karena untuk menjadi hebat, tidak cukup hanya mengandalkan tenaga dalam saja.”
“Aku akan membunuhmu ********!” ucap Durada.
Tapi Karang Dalo masih terlihat tenang, dia menyadari Durada tidak akan bertahan lebih lama lagi menggunakan teknik kompres energi. Dia menyambut serangan Durada yang membabi buta dengan tusukan tombak yang menikam jantung Durada.
Karang Dalo mengakat tubuh Durada dengan tombaknya, menikmati setiap detik ajal menjemput prajurit Majangkara itu. Setelah kematiannya, Karang Dalo tersenyum sinis.
Disisi lain Muksir dan Kantu hanya dapat memandangai kematian Durada dengan pilu, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan, karena tendangan Karang Dalo benar-benar melumpuhkan mereka.
__ADS_1
Sebelum Muksir tak sadarkan diri, dia melihat puluhan prajurit Surasena tiba-tiba datang dari segala arah, menghunuskan tombak kearah dirinya.
“Tangkap penjahat ini!” Printah Karang Dalo.