
Di lain sisi, Pramudhita masih berusaha untuk menemukan orang yang bernama Raja Renggolo di dalam Istana Swarnadwipa. Ada ribuan ruangan yang berada di dalam Istana, membuat otak pria itu berputar 7 keliling.
Sekekali dia masuk kedalam ruangan yang membuat wajahnya menjadi merah ketika mendapat pemandangan gadis-gadis pelayan itu sedang bermain air di pemandian.
Dia segera buru-buru keluar, sambil berusaha menyadarkan diri bahwa ada istrinya di rumah sedang menunggu kepulangannya. Ah, ketika mengingat sang istri terlintas niat di hatinya untuk kembali ke Istana Laut Dalam.
Setelah kurang lebih dua jam dia melayang-layang dari ruangan satu ke ruangan lain, pria itu akhirnya melihat beberapa orang masuk kedalam sebuah kamar mewah dan lebih berkelas di banding ruangan yang sudah dia masuki.
Pramudhita segera melayang cepat, tubuhnya yang gaib dengan leluasa menembus dinding. Kemudian dia melihat seorang pria mungkin sebaya dengan dirinya sedang duduk bersama prajurit-prajurit dengan cawan arak dan makanan yang terlihat nikmat.
Tak tertinggal 3 dayang cantik yang mengibaskan kipas besar dengan pakaian tipis dan sedikit lebih longgar. Berulang kali pria itu merebahkan kepalanya di pangkuan mereka, membuat beberapa prajurit hanya bisa menelan ludah.
“Raja Renggolo.” Salah satu dari prajurit utusan Kerajaan Sembilan membungkuk dan menyerahkan secarik kertas. “Aku membawakan surat dari pangeran Minak Singo.”
“HA?! Sejak kapan orang itu setara denganku?” bentak Raja Renggolo kemudian menepiskan surat dari tangan utusan itu. “Bakar surat ini! Katakan padanya, datang langsung temui aku dan sebaiknya bawa arak paling enak.”
“Tapi, hamba...”
“Pergilah dari sini dasar prajurit ingusan, atau akan aku lepaskan bagian atas tubuhmu dari batang leher kecilmu itu!” Raja Renggolo menarik sebilah pedang, lantas menggores tipis leher prajurit itu, membuat dia ketakutan bukan kepalang. “Apa kau ingin mati?”
“T,**,tidak Tuan...hamba akan memberi tahu Pangeran Minak Singo, segera.”
Tanpa menunggu lama, pria itu berlari meninggalkan kediaman Raja Renggolo dengan wajah biru dan mata merah, sedangkan semua orang di tempat itu tertawa terbahak-bahak melihat prajurit utusan itu.
“Ehm, ma'af, benarkah kau yang bernama Renggolo?”
__ADS_1
Semua orang mendadak berhenti tertawa berganti dengan dengan waspada melihat seorang pria entah dari mana tiba-tiba muncul di depan mereka dengan sebilah pedang yang terhunus.
“Kau tidak boleh bertemu dengan Minak Singo, aku harap tidak ada yang mencoba melawanku.” Pramudhita tersenyum sinis memandangi mereka. "Kalian tidak bisa, percayalah."
***
Hari sudah beranjak malam, tapi Sungsang Geni masih berada di tengah batang kelapa dan memanjat dengan perlahan.
Dia benar-benar tidak dapat lagi melihat keadaan dibawah sana yang mulai menjadi gelap. Kecuali kerlipan lampu Istana yang seperti kunang-kunang di ke jauhan.
“Aku seperti sedang berada diatas langit,” gumam pemuda itu, dia menakan alis mata ketika menyadari sekarang tingginya bahkan melebihi pegunungan kerakatau. “Aku juga kesulitan bernapas, mungkin udara disini tidak cocok untuk manusia.”
Semakin tinggi sebuah tempat maka kandungan oksigen di dalam udara semakin sedikit dibandingkan di permukaan tanah, itulah sebabnya siluman lebah mengatakan tidak bisa bertahan berada di atas ini.
Bukan hanya itu, Yang dikatakan Siluman lebah ternyata benar, udara mulai terasa lebih dingin dari malam biasanya di permukaan tanah.
Dengan bergerak cepat tubuhnya akan terasa lebih panas dari sebelumnya, meski resiko kelelahan lebih besar.
Ketika sudah 1/3 malam terakhir, pemuda itu mengalami kedinginan yang luar biasa hebat. Giginya bergeretak, sementara seluruh sendinya seakan tidak bisa lagi bertahan. Jika bukan karena selendang yang mengikat tubuhnya, Sungsang Geni yakin dia sudah jatuh dari pohon itu.
“Aku tidak bisa menyalurkan tenaga dalam untuk melindungi tubuhku...” ratap pemuda itu sambil sekekali meniup telapak tangannya. “Aku lahir dengan api, suasana seperti ini tidak cocok untukku.”
Beberapa kali pemuda itu mengeluarkan pedang energinya yang terasa panas berniat menancapkan di pohon kelapa agar menjadi pegangan tangan, tapi niat itu di urungkan kecuali jika dia ingin menebang pohon itu.
Setelah setengah malam dia melakukan itu, sekarang pemuda itu bisa melihat buah kelapa bergelayutan di ujung matanya yang tajam. Dari tempatnya sekarang, butuh satu hari lagi untuk sampai di atas sana.
__ADS_1
Sinar matahari juga mulai merambah di sekujur tubuhnya, membuat pemuda itu riang bukan kepalang. Bibirnya yang tadi berwarna biru dan pucat sekarang menjadi merah segar, sendi tulangnya yang seperti tidak akan mampu menopang tubuhnya lagi sekarang menjadi bertenaga.
“Situasi seperti ini lebih cocok denganku.” Sungsang Geni lantas berteriak di atas sana, tapi tentu saja tidak akan ada yang mendengar suaranya. “Aku harus lebih cepat lagi, jangan sampai kembali bertemu malam ketika aku masih berada di atas.”
Seperti seekor monyet yang melarikan diri karena mencuri satu potong pisang, Sungsang Geni bergerak sangat cepat. Saking cepatnya, dia bahkan tidak menyadari jika kain selendang yang dia pinjam dari Cempka Ayu sudah mulai robek di banyak sisi.
“Ini gawat, selendang ini tidak bisa menahan tubuhku ketika angin datang menerjang.” Sungsang Geni kembali melihat ke atas, pada sebuah kelapa yang tergantung di atas sana, kemudian menarik napas berat lalu perlahan mulai memanjat pelan dengan perasaan khawatir.
Setelah berjuang keras, pada akhirnya dia menggapai pelepah kelapa dan berhasil tiba di tempat itu ketika matahari sudah condong ke barat. Sungsang Geni mengatur napasnya yang memburu, kemudian mengambil buah kelapa dengan sangat hati-hati.
Dia berniat mengambil beberapa buah kelapa dan memakannya untuk melepaskan dahaga, tapi rupanya kelapa itu berbuah hanya satu. Mengesalkan sekali, jika dia tidak hati-hati maka buah yang hanya satu itu bisa jatuh dan hilang di dalam hutan.
Sebenarnya buahnya tidaklah besar mungkin hanya sebesar betisnya saja, berwarna kuning tembaga dan terasa lebih berat dari buah kelapa pada umumnya.
Pemuda itu lantas membalut buah itu di dalam bajunya, kemudian kembali melilitkan selendang yang sekarang tinggal setengah. Sebelum dia kembali turun, Sungsang Geni memandang hamparan bumi yang sangat luas dan menghijau.
Dia berdiri tepat di atas pelepah muda, dengan memegang erat umbut kelapa yang mengayun di tiup angin. Hari ini tidak ada awan yang menghalangi matanya, sangat cerah. Sedangkan di ufuk barat, langit berwarna merah jingga.
“Rupanya dunia tidak sekecil yang aku pikirkan.” Pemuda itu tersenyum penuh syukur lantas mulai turun dengan sangat hati-hati.
Turun dari pelepah kelapa tidak semudah menaikinya, jika tidak hati-hati maka akan terjun bebas. Sungsang Geni sudah beberapa kali mendengar ada orang yang jatuh dari pohon kelapa ketika berusaha turun dari pelepahnya.
Namun pada kahirnya, sebelum tengah malam pemuda itu berhasil melihat Cempaka Ayu menunggunya dibawah sana.
Ada belasan belasan luka gores di dadanya yang bidang. Ya, Sungsang Geni hanya menyasar saja menuruni pohon itu.
__ADS_1
Cempaka Ayu menyeka air matanya ketika pemuda itu menapak di tanah yang dibantu dengan ratu siluman lebah.
“Sekarang aku butuh sebuah obat lelah,” gumam pemuda itu, ketika tubuhnya mulai terhuyung Cempaka Ayu segera memeluk dirinya. “Ya, ini sudah lebih dari cukup.”