
“Geni jangan dengarkan perkataan wanita itu.” Cempaka Ayu berkata geram. “Dia adalah wanita licik berhati iblis, pasti dia memiliki rencana tersembunyi.”
“Jika tidak mau, ya sudah.” Wulandari tersenyum kecil kemudian berbalik badan.
“Tunggu!” Sungsang Geni menarik lengan tangan gadis itu. “Katakan apa permintaanmu?”
Wulandari melirik tangan Sungsang Geni yang sedang memegang lengannya, pada saat seperti itu dadanya terasa berdebar kencang, entah kenapa tiba-tiba saja wajahnya menjadi merah merona.
Melihat hal itu, Cempaka Ayu buru-buru berdiri dan melerai kedua tangan mereka. Wulandari tersenyum kecil, menyadari jika gadis di depannya pasti kekasih Sungsang Geni.
“Jika kau ingin mendapatkan penawar racunnya, kau juga harus ikut bersamaku untuk mengambilnya.” Wulandari melirik kearah Cempaka Ayu dengan wajah kemenangan. “Tapi jika kau tidak mau, aku tidak akan memberikan penawaran....”
“Aku setuju!” Sungsang Geni berujar.
“Geni?” Cempaka Ayu tentu saja tidak akan setuju dengan pilihan pemuda itu, wanita iblis di depannya pasti sedang merencanakan sesuatu, tapi entah rencana apa yang sedang dipikirkannya. “ Kau tidak boleh pergi, kita akan membuat penawar itu dengan meminta bantuan pendekar medis di Serikat Pendekar.”
“Yang dikatan Cempaka ada benarnya.” Ratih Perindu berujar. “Atau mungkin Kakang Siko Danur Jaya memiliki pengetahuan mengenai racunnya?”
“Sayang sekali, tidak akan ada yang bisa membuat penawar itu meski kalian memiliki tabib terhebat sekalipun.” Wulandari lalu memasang wajah masam, dia segera berbalik badan berniat melupakan negosiasi yang kemungkinan gagal. “Racun yang dipelajari di dataran Java umumnya untuk membunuh, tapi racun yang kami pelajari bertujuan untuk menyiksa.”
“Tunggu!” Sungsang Geni menghentikan langkah kaki gadis itu, dengan terpaksa dia melepaskan pegangan tangan Cempaka Ayu. “Cempaka, aku tidak memiliki pilihan lain, Aku harap kau dan semua orang disini bisa memahami situasi kita saat ini. Tanpa penawar itu, kita tidak mungkin bisa melanjutkan perjuangan.”
“Tapi Geni, bagaimana jika kelak kau mati ditipu oleh perempuan iblis ini!” Cempaka Ayu masih tidak rela jika pemuda itu pergi seorang diri.
Sungsang Geni tersenyum kecil, kemudian membelai pipi gadis itu beberapa kali, memastikan tidak ada air mata yang akan menodainya. Setelah melakukan hal itu, Sungsang Geni mendekati Mahesa, memberikan kitab strategi perang kepadanya.
“Jika ternyata aku akan mati, kau bertanggung jawab terhadap Bayangkara.” Sungsang Geni segera menepuk pundak pria itu tiga kali kemudian segera melangkah pergi.
__ADS_1
“Gerr...” Panglima Ireng berniat untuk ikut bersama dengan pemuda itu, tapi Sungsang Geni tidak mengizinkannya.
“Semua orang disini dalam keadaan lemah, kau harus menjaga mereka.”
“Gerr...ger...”
Akhirnya Sungsang Geni pergi meninggalkan Markas Petarangan bersama Wulandari dan Saraswati dengan menunggangi kuda. Dari Markas ini, butuh waktu 15 hari perjalanan untuk tiba di Markas Utama Sekutu.
Entah hal apa yang akan terjadi kedepannya, Sungsang Geni berharap semua akan baik-baik saja. Dia menoleh ke belakang pada teman-temannya yang mengantar di muka gerbang Markas Petarangan.
Satu-satunya yang membuat pemuda itu masih berpikir positif adalah, ada Empu Pelak yang berdiri di atas tembok Markas sambil mengangkat beberapa bubuk setan.
'Kami masih memiliki bubuk setan, itu lebih dari cukup untuk bertahan dari serangan musuh.'
Setelah cukup jauh, Wulandari malah meminta Saraswati berjalan lebih dahulu. Alasannya agar wanita itu bisa membuat laporan palsu kepada Markas Utama Sekutu. Tentu saja Saraswati menolak keinginan gadis itu, tapi Wulandari memberi banyak sekali alasan agar dia bisa berjalan bersama dengan Sungsang Geni. Hanya berdua saja.
Pemuda itu masih berusaha menghimpun tenaga dalamnya, tapi ketika hal itu dia lakukan dadanya terasa sempit nyaris saja muntah darah. “Tenaga dalamku benar-benar tidak bisa difungsikan, ini sangat menjengkelkan.”
Namun senyum manis tersungging di bibirnya yang tipis, dia menyadari energi api di lengan kanannya tidak terpengaruh dengan racun itu.
Setidaknya, kedepan kelak dia bisa bertarung dengan menggunakan energi pisik dan hanya mengandalkan pedang energi.
Tapi dia menyadari, jika mungkin akan bertemu dengan pendekar tanpa tanding pasti akan membuatnya sedikit kerepotan, lebih-lebih jika mereka memiliki 3 sampai 4 jule tenaga dalam.
Setelah berjalan hampir satu hari lamanya, mereka menemukan gubuk sepi yang tiada lagi penghuninya. Gubuk itu sudah tidak terurus lagi, ada banyak sarang laba-laba disetiap sudutnya, dan lebih banyak lagi lubang di dindingnya.
“Kita akan istirahat sebentar di tempat ini!” Wulandari turun dari kuda, menambang di belakang gubuk agar orang tidak dapat meliht kudanya.
__ADS_1
Sungsang Geni terlihat kesal, tapi pada akhirnya dia hanya bisa menuruti permintaan gadis itu. Di tambangnya pula kuda di dekat kuda Wulandari.
Sangat kebetulan sekali, belum lama itu hujan turun dengan sangat deras. Hal yang sangat jarang terjadi di Dataran Java beberapa bulan terakhir.
Sungsang Geni buru-buru masuk ke dalam gubuk untuk berteduh, sementara itu Wulandari terlihat sedang menyalakan api untuk membuat penghangat tubuh.
Cukup lama gadis itu membenturkan dua batu, tapi api yang dia harapkan tidak kunjung menyala. Hal ini membuat Sungsang Geni sedikit iba, jadi dia segera mendekati Wulandari dan mengambil inisiatif.
Pemuda itu mengeluarkan pisau energi dari lengannya, pisau yang terasa sangat panas sekali. Wulandari terkejut bukan kepalang melihat pemandangan itu, dia tidak menyangka Sungsang Geni masih memiliki kemampuan untuk mengeluarkan senjata energi meski sudah terkena racun.
“Apa kau baru pertama kali melihatnya?” Sungsang Geni memecah lamunan Wulandari. “Jika bukan karena memikirkan teman-temanku, aku tidak akan keberatan menerima racun darimu. Aku memiliki cara lain untuk bertarung.”
Seketika Wulandari tersenyum kecil. “Pemimpin dari Bayangkara benar-benar penuh dengan kejutan, kemarin malam ada 7 bayangan dan sekarang bisa mengeluarkan senjata meski telah terkena racun.”
Sungsang Geni tidak menanggapi perkataan gadis itu, dia sibuk mengumpulkan puntung-puntung kecil ketika api sudah menyala. Menurutnya, diam itu lebih baik daripada berkata dengan wanita licik seperti Wulandari.
“Minum?” tanya Wulandari menyodorkan kendi labu miliknya.
“Tidak.” Sungsang Geni menjawab ketus.
“Apa kau takut jika air ini sudah kuberi racun?” Wulandari tertawa cekikikan, membuat wajah Sungsang Geni menjadi jengkel. “Jadi rupanya kau takut....”
Sungsang Geni segera menyambar kendi labu itu, menegaknya hingga tanpa tersisa. Wulandari menaikkan alis ketika melihat pemuda itu bertindak bodoh, tidak seperti sebelumnya ketika mereka berjumpa.
“Ini bukan racun?” Sungsang Geni meletakkan kendi labu dengan kasar diatas meja. “Kenapa kau melakukan hal itu, meracuni semua orang? Kemudian kau meminta aku untuk menemanimu mengambil penawarnya? Apa tujuanmu sebenarnya?”
Senyum kecil di bibir Wulandari segera lenyap berganti wajah cemberut. Harus diakui, ketika gadis itu bertingkah seperti itu, wajah iblisnya tiba-tiba hilang. Dan Sungsang Geni yakin, dia adalah gadis paling cantik ketika sedang berpose cemberut.
__ADS_1
“Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat...” Wulandari berujar dan beranjak meninggalkan Sungsang Geni di depan perapian. 'Apa aku tidak memiliki hak untuk berteman dengan dirimu, sedangkan gadis itu telah kau beri kesempatan?'