PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perjalanan Rakyat


__ADS_3

Setelah 2 jam melakukan perjalanan, rombongan Sungsang Geni menemukan desa lain yang sudah lama terbakar. Nampaknya penduduk disini sudah lebih dahulu mengungsi dari penduduk desa yang tadi ditemui pemuda itu.


“Berhenti!” ucap Sungsang Geni.


“Jaka Geni? Kenapa kau menghentikan laju kuda kita?” ucap Pemimpin rombongan itu. “Kita tidak punya banyak waktu untuk melihat pemandangan seperti ini?”


Sungsang Geni meletakkan jari telunjuknya di bibir, hingga berbunyi suara hustt dari mulutnya. Pemuda itu segera turun dari kuda, dia menoleh ke beberapa sisi perkampungan itu membuat yang lainnya menjadi sedikit bingung.


“Jaka Geni?”


“Ada orang lain disini, mereka sedang membutuhkan bantuan!” ucap Sungsang Geni.


Pemuda itu sebenarnya mendengarkan suara pertempuran di kejauhan, mungkin beberapa orang yang sedang melawan belasan pendekar.


Letaknya cukup jauh, hanya saja karena pendengaran Sungsang Geni yang sangat tajam masih bisa menangkap suara-suara pertarungan itu.


Tanpa berpikir panjang lagi, pemuda itu segera terbang dengan cepat menuju arah suara yang dia dengar.


Setelah kurang lebih 5 menit, dia akhirnya tiba di tengah lembah yang dingin dimana tepi sungai dipenuhi dengan pohon bambu yang rimbun.


Dari matanya, sekitar 20 orang pendekar dengan jubah Kelelawar sedang mengepung dua orang, salah satu dari dua orang tersebut adalah bocah lelaki yang menjinjing sebuah kecapi.


“ Jadi kecapi itu yang kudengar barusan?” Sungsang Geni mengelus dagunya, dia cukup yakin ada sesuatu yang berbeda dengan bocah itu.


20 prajurit kelelawar iblis berniat mengeroyok dua orang itu, membuat Sungsang Geni sangat marah. Tapi langkah kakinya berhenti sesaat ketika melihat, bocah kecil yang menggunakan kecapi memetik dawainya.


Petikan dawai kecapi menciptakan sebuah energi berbentuk ratusan burung yang menyerang lawannya.


"Luar biasa!" Sungsang Geni menaikkan alisnya karena kagum.


Namun kekuatan bocah itu tidak lebih hebat dari musuh-musuhnya, ratusan burung kecil dengan mudahnya dihancurkan.


“Bocah kecil!” bentak salah satu dari prajurit Kelelawar Iblis. “Sebaiknya kau ikut kami, dan jadilah budak bagi tuan kami Topeng Beracun. Dengan kepandaian dirimu menggunakan benda itu, kau bisa saja menjadi bintang penghibur.”


“Dia tidak akan menjadi budak siapapun!”

__ADS_1


Sontak 20 orang tersebut segera menoleh kearah sumber suara yang sedang berdiri di belakang mereka dengan tatapan tajam.


“Ada satu orang lagi rakyat jelata yang menghantar nyawa!” ucap salah satu dari mereka.


“Nyalimu cukup berani melawan...”


Sungsang Geni melepas satu pisau kecil tepat di batang leher pria itu, membuat ucapannya hanya tersambung dengan dewa kematian.


“Setan alas!” Mereka menarik senjata berupa golok. “Tinggalkan kepalamu disini sebagai hadiah untuk tuan kami!”


Sungsang Geni tersenyum kecil, mereka semua bahkan belum mencapai level pendekar pilih tanding tapi bertingkah seperti jagoan. Pemuda itu meraih sebilah ranting kecil yang masih terdapat sehelai daun di ujung ranting tersebut.


Dia sambil menggelengkan kepala, menghadapi mereka semua secara bersamaan dengan ranting itu. beberapa pedang yang terkena ranting yang dia gunakan seketika patah berkeping-keping.


Pemuda itu jelas telah menyalurkan tenaga dalam pada ranting itu, bahkan sehelai daun yang melekat tidak jatuh setelah beberapa kali berhasil mencabut nyawa lawannya.


Sekitar 3 menit atau mungkin 2 menit saja, Sungsang Geni hanya menyisakan satu lawannya yang masih hidup. Pemuda itu tidak membunuhnya, sebab lawannya sudah melepaskan senjata sambil gemetaran.


“Aku akan membunuh yang satu ini!” bocah itu berniat memetik dawai kecapi, tapi Sungsang Geni segera mencegahnya.


“Tapi tuan, dia sudah berniat mencelakakan kami...” ucap seorang pria yang nampak seperti kakek dari bocah kecil itu.


“Tidak! Meski dalam perang sekalipun, kau tidak boleh membunuh musuhmu yang sudah tidak berniat bertarung.” Sungsang Geni menatap kakek itu tajam sekali, membuat dia sangat ketakutan. “Karena itulah bedanya kita dengan mereka.”


“Kau!” ucap Sungsang Geni menatap prajurit Kelelawar Iblis yang mematung di tempatnya. “Jika kami adalah kalian, kau sudah mati hari ini. Tapi kami bukan kalian, dan itulah bedanya.”


Setelah mengatakan hal itu, Sungsang Geni mengajak bocah kecil beserta kakeknya untuk pergi dari tempat ini menuju rombongan pengungsi.


Sekitar 2 ratus meter dari mereka, 12 orang dari serikat pendekar hampir tidak bisa menutup mulutnya karena terkejut. Mereka cukup beruntung dua jam yang lalu tidak bertindak bodoh dengan menyerang pemuda itu.


“Apa kalian bisa memberi tumpangan kepada mereka berdua?” Sungsang Geni bertanya kepada 12 orang tersebut.


“Ten...tentu saja tuan pendekar.” Mereka akhirnya menyerahkan dua kuda, sementara penunggangnya memutuskan naik bersama teman mereka.


“Ma'af tuan, saya tidak bisa menunggang kuda!” ucap kakek dari bocah itu.

__ADS_1


Pada akhirnya kakek beserta bocah itu naik bersama pendekar lain, sedangkan Sungsang Geni menunggangi kudanya sendirian.


Butuh beberapa jam lamanya, sekarang Sungsang Geni melihat ratusan rakyat dengan membawa buntelan masing-masing sedang merayap mendaki bukit yang dipenuhi dengan rumput ilalang.


Sungsang Geni bisa melihat sekitar 20 pendekar sedang memimpin perjalanan mereka. Dua diantara pendekar itu nampaknya sudah mencapai puncak pendekar tanpa tanding.


Diantara barisan panjang tersebut, sebuah gerobak yang ditarik oleh 4 ekor kuda dan didorong hampir 10 orang berderik melintasi bukit yang tinggi.


Itu adalah persediaan makanan mereka, beberapa tong air dan mungkin ada setumpuk makanan kering yang mereka bawa dalam karung goni besar.


Setelah berada di puncak bukit, rombongan itu berhenti sejenak. Pimpinan dari kelompok itu terlihat sedang mengarahkan barisan tersebut, dan mulai membagi minuman.


Wajah pimpinan itu dipenuhi dengan brewok lebat dan berkepala botak. Dia tidak memakai sehelai baju, membuat tubuh besar yang dipenuhi luka-luka sayatan terpapar sinar matahari. Orang-orang di sana memanggilnya dengan nama Brewok Hitam.


“Kita tidak memiliki banyak persediaan air minum lagi.” Dia berkata seraya mengelilingi barisan rakyat jelata yang berpakaian compang-camping. “Tiga hari lagi kita baru bisa menemukan sungai, selama itu kita harus mengirit persediaan air minuman.”


Rombongan Sungsang Geni pada akhirnya baru saja bergabung dengan barisan pengungsi tersebut.


“Kami membawa tiga orang yang tertinggal,” pimpinan yang membawa Sungsang Geni berkata, tapi nampaknya pimpinan rombongan tersebut, Brewok Hitam tidak begitu peduli.


“Kalau begitu beri mereka minuman,” ucap Brewok Hitam terdengar datar.


Melihat tingkah pria itu, Sungsang Geni tersenyum kecil. Pemuda itu jelas mengetahui pekerjaan ini bukanlah keinginan Brewok Hitam.


Tentu saja dugaan itu benar. Satu-satunya yang membuat Brewok Hitam mau melakukan pekerjaan ini, karena mendengar hadiah yang ditawarkan serikat pendekar.


Tawaran dari Serikat Pendekar bukanlah kepingan emas, melainkan sesuatu yang lebih berharga dari pada itu. 20 karung beras.


Pada saat krisis seperti ini, beras adalah barang yang paling berharga daripada bongkahan berlian. 20 karung beras bisa membuatmu hidup selama setahun penuh jika dihabiskan seorang diri.


“Hai anak muda!” Brewok Hitam menegur Sungsang Geni yang tanpa izin mendekati gerobak barang. “Tidak ada yang boleh mendekati gerobak barang kecuali kami serikat pendekar.”


Mendengarnya Pemuda matahari itu tersenyum kecil, sementara 12 orang yang tadi bersamanya memberi isyarat kepada Brewok Hitam untuk tidak mengusiknya.


“Kau benar tuan!” Sungsang Geni menaikkan alisanya. “Tapi kita tidak boleh berhenti saat ini.”

__ADS_1


Dah dulu lah! Semoga kalian suka. Jangan lupa like dan komen termanis.


__ADS_2