PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Mempelajari kitab


__ADS_3

Pada saat yang sama, Panglima Ireng mulai menyusut seluruh tubuhnya. Dia mulai kehilangan sesuatu dari dirinya, yaitu kenangan bersama orang-orang yang pernah menjadi teman atau saudara.


Dia melonglong keras ketika wujudnya menjadi srigala biasa. Tapi dia tetap berdiri sendiri menunggu seseorang, meskipun sebenarnya dia tidak tahu lagi alasan kenapa dia menunggu.


Seseorang samar-samar datang di ingatannya, sosok manusia yang meninggalkan sebuah tanda di keningnya yang hitam. Tapi entah? Dia sendiri sudah melupakan sosok itu.


Setelah hilangnya tiga kristal suci, bumi bergetar pelan, tidak terlalu kuat memang tapi sudah cukup untuk membuat Sungsang Geni khawatir.


Pemuda itu berlari dengan cepat, takut jika saja tiba-tiba gunung semeru meletus. Dia menggendong kitab pedang bayangan, yang dia ikat dengan seutas tali.


Lalu dengan susah payah memanjat dinding goa, melalui akar-akar dari bunga kamboja. Sejauh ini tenaga dalam pemuda itu belum kembali. Dia tidak tahu kenapa tenaga dalamnya hilang, meski tiga kristal telah lenyap.


Setelah berusaha cukup keras, akhirnya pemuda itu berhasil keluar dari sana meski dengan napas yang terputus-putus.


“Bagus!Ternyata tenaga dalamku mulai kembali.” ucap Sungsang Geni, menyadari kekuatannya mulai pulih setelah keluar dari goa itu.


Sungsang Geni segera terbang dengan cepat meninggalkan puncak mahameru menuju hutan kehidupan. Tapi sayangnya, Sungsang Geni tidak mendapati lagi bentuk hutan kehidupan.


Sebab segala sesuatunya sudah berubah dengan drastis. Tidak ada lagi pohon bercahaya putih dan besar, juga tidak ada kabut hitam di wilayah hutan kayu mati.


“Apa yang terjadi sebenarnya?” Sungsang Geni bertanya-tanya.


Salah satu petunjuk Sungsang Geni adalah energi api yang dia letakkan di kening Panglima Ireng, jadi karena itulah dia akhirnya bisa menemukan srigala itu masih sedang menunggu di dekat perbatasan hutan dengan tanah bebatuan.


Panglima Ireng sekarang lebih kecil dari sebelumnya, membuat Sungsang Geni diliputi dengan rasa heran sekaligus tidak percaya.


“Ireng? Apa yang terjadi denganmu?” tanya Sungsang Geni. “Kenapa kau...bukan, kenapa semuanya berubah?”


Panglima Ireng tidak menjawab dengan geraman khas miliknya, dia malah sedikit takut bertemu dengan Sungsang Geni jadi dia mundur beberapa langkah ke belakang dengan kepala menunduk.


“Apa kau tidak mengingatku?” tanya Sungsang Geni, pemuda itu sekarang menjadi khawatir. “Aku adalah temanmu, kenapa kau bersikap begitu....”

__ADS_1


Sungsang Geni tidak melanjutkan ucapannya setelah menyadari sesuatu. Dia sekarang paham kenapa semuanya menjadi berubah hanya hitungan jam saja.


“Jadi tiga kristal suci telah menarik semuanya, termasuk keajaiban ditempat ini?” ucap Sungsang Geni. "Dan itu juga terjadi denganmu, bukan?"


Pemuda itu menjadi bersedih, padahal dia berniat membawa Panglima Ireng ikut bersama dengannya dalam perjalanan dirinya kelak. Tapi rupanya niat itu menjadi luntur, sebab Panglima Ireng sudah menjadi binatang biasa seperti srigala pada umumnya.


“Pergilah ireng!” ucap Sungsang Geni sampai meneteskan air mata, “Tanda di keningmu akan menjaga dirimu dari ancaman apapun, jika nanti kau bertemu manusia di luar sana, maka ingatlah bahwa tanda di keningmu adalah pemberian manusia pula, jadi jangan memakannya!”


Panglima Ireng menggeram beberapa saat, hingga akhirnya dia melompat ke dalam rumpun semak-semak belukar, tanpa terdengar geraman khas miliknya.


“Jadilah binatang yang baik, mungkin nanti derajatmu akan di angkat oleh Sang Hyang Widhi.” Sungsang Geni berkata sambil menyatukan kedua telapak tangannya.


Butuh beberapa jam lamanya bagi Sungsang Geni hingga tiba di depan Padepokan Pedang Bayangan. Dia memang tidak berniat terbang, selain mengirit tenaga dalamnya Sungsang Geni juga penasaran dengan apapun yang terjadi saat ini.


Kembalinya pemuda itu disambut oleh Resi Irpanusa dan puluhan pendekar lainnya, termasuk Pramudhita.


“Kau berhasil Geni!” ucap Pramudhita. “Kau kembali dengan keadaan sangat baik.”


“Tapi tidak dengan panglima Ireng!” sambung Sungsang Geni, wajahnya masih terlihat bersedih. “Dia sudah tidak mengenali diriku lagi.”


Sungsang Geni mengangguk tanda mengerti, kemudian dia membuka simpul tali di bahunya dan menyerahkan kitab pedang bayangan kepada Resi Irpanusa.


“Kau yang lebih membutuhkannya anak muda!” ucap Resi Irpanusa seraya tersenyum kecil, “Pelajarilah terlebih dahulu! Baru setelah itu kau bisa memberikannya padaku.”


“Jika begitu, bolehkah aku meminjam sebuah tempat untukku belajar dan juga tempat berlatih?”


“Tentu saja!” ucap Resi Irpanusa, “Pramudhita, antar pemuda!”


***


Sungsang Geni tiba di sebuah rumah yang paling jauh dari pusat Padepokan Pedang Bayangan. Tempat ini berada di sebelah utara dan terletak paling ujung.

__ADS_1


“Ini dulunya adalah tempat dimana aku dan saudaraku berlatih setiap harinya.” ucap Pramudhita. “Berlatihlah dengan keras! Aku mungkin akan mengunjungimu setiap minggu.”


“Terima kasih atas semua bantuanmu, Paman!”


Pramudhita hanya menepuk pundak Sungsang Geni kemudian segera berlalu meninggalkan pemuda itu sendirian.


Halaman rumah itu cukup luas, bisa menampung sekitar 100 orang berjejer rapi . Sungsang Geni masuk ke dalam rumah dan menemukan beberapa pedang yang terbuat dari bambu.


Ini mengingatkan dirinya akan latihan yang dilakukan di bukit batu bersama dengan Eyang Gurunya, Ki Alam Sakti.


Pemuda itu lantas meletakkan kitab pedang bayang dia atas meja yang terbuat dari potongan kayu besar berwarna coklat mengkilat. Sebenarnya rumah ini sudah lama tidak terurus, terlihat dari banyak sarang laba-laba di setiap sisinya.


“Sebelum berlatih, aku harus menata tempat ini terlebih dahulu.” Gumam Sungsang Geni, kemudian bergegas membersihkan tempat itu dengan cepat.


Setelah terasa cukup nyaman, akhirnya pemuda itu mulai melepas sebuah simpul yang mengikat kitab itu.


Hal pertama yang terasa di telapak tangan Sungsang Geni adalah, bahan pembuatan sampul kitab adalah kulit seekor binatang. Sungsang Geni tidak tahu kulit binatang apa? Tapi yang jelas, kulit itu sangat tebal dan mengeluarkan minyak yang berbau khas.


Dia akhirnya mulai membuka setiap halaman demi halaman. Meskipun sangat tebal, tapi kitab itu ternyata tidak memiliki halaman yang banyak. Hanya ada 100 halaman.


Sungsang Geni bisa membaca setiap aksara yang tertulis di sana dengan cukup lancar. Beberapa memang seperti simbol-simbol tapi Sungsang Geni tetap bisa menterjemahkannya.


“Meski usianya sudah ratusan, tapi tulisan di dalam kitab ini masih terjaga.” ucap Sungsang Geni terpana.


Sekekali dia mengernyitkan keningnya ketika melmbaca tulisan yang menarik, tak jarang dia berhenti bernapas saking konsentrasinya saat membaca.


Umumnya yang dia lihat didalam kitab tersebut adalah gerakan-gerakan dari jurus bayangan serta penjelasan singkat. Tidak ada yang lain kecuali teknik pernapasan dan juga teknik penyerap energi kehidupan yang dia temukan pada halaman ke 20..


Namun ketika dia sudah berhasil membaca 60 % dari keseluruhannya, sekarang keterpukauan Sungsang Geni tidak dapat disembunyikan. Ini adalah bagian yang tidak diajarkan kepada murid pendekar pedang bayangan sebelumnya.


“Teknik ini, aku tidak percaya pernah ada!”

__ADS_1


Hai-hai teman-teman, terima kasih sudah meninggalkan like dan koment termanis kalian mengenai novel pdm ini. Mohon ma’af jika masih belum sempurna, Kangmas netizen. Hikhikhik.


Jangan lupa ya! Vote terus, siapa tahu novel ini menjadi salah 10 dari yang terbaik. Salah satu maksudnya. Oh ya, pdm suda ada versi audionya yang di suarakan oleh barata fm trenggalek, semoga suka.


__ADS_2