
Sungsang Geni menatap para pendekar yang berjumlah 500 orang bergerak pelan meninggalkan kem Lembah Ular menuju Kelelawar Iblis. Mereka tidak melewati jalur hitam, jalur itu sudah ditutup Sungsang Geni.
Sebagai gantinya mereka menuruni bukit dengan dua utas tali besar yang dibuat oleh Empu Pelak dari anyaman ijuk pohon aren, tali itu mengangkut gerobak besar yang membawa sekitar 20 orang sekali turun dan juga beberapa ekor kuda.
Setelah mereka turun dari sana, tidak ada jalan lain untuk kembali, kecuali bagi mereka yang memiliki cukup tenaga dalam untuk terbang ke atas bukit.
“Kau akan memaksa kami bertarung hingga akhir anak muda?” Empu Pelak mengejutkan Sungsang Geni.
Pemuda itu tidak membantah, memang benar tujuannya adalah memaksa semua orang bertarung hingga darah pengabisan. Jika dia membuat jalan pelarian, semua orang tidak akan mengeluarkan kemampuan mereka, dan pada akhirnya mereka akan memilih mundur dan melarikan diri bagai pecundang, Sungsang Geni tidak ingin hal itu terjadi.
“Dari pada melarikan diri dan pada akhirnya mati, kenapa tidak berperang hingga akhirnya mati!” jawab Sungsang Geni, “Lagipula, aku tidak akan mengecewakan kalian, aku tidak akan mundur sampai berhasil mengalahkan pimpinannya.”
Empu Pelak terkekeh kecil dia memandang Sungsang Geni penuh makna, lalu mengalihkan muka pada pasukan yang sedang mendorong kereta iblis secara bergantian. “Menurutmu apa mereka menyiapkan strategi seperti kita?”
“Aku rasa karena pasukan mereka sangat banyak, Kelelawar Iblis tidak akan repot-repot mengatur strategi pertahanan.” Sungsang Geni menggelengkan kepala, “Lagi-lagi kita bertaruh kali ini.”
Pemuda itu lalu memegang pundak Empu Pelak, dan terbang menuju rombongan. Sekarang hari sudah petang, 1 jam lagi matahari akan terbenam seutuhnya, dan itu adalah tanda mereka bertempur.
Guru Tiraka telah pergi lebih dahulu menggunakan kuda melewati hutan rimba bersama 19 orang yang lainnya, hanya ada satu jalan poros menuju Reruntuhan Lembah Ular, dan mereka akan menunggu di sana. Sebagai tukang bersih-bersih.
Karena lahir dan besar di sini, sebenarnya mereka cukup unggul dalam menguasai medan. Jika dahulu Kelelawar Iblis tidak menyusup diam-diam, sudah dipastikan mereka akan kesulitan menembus Lembah Ular.
“Geni, kami sudah siap!” ucap Sabdo Jagat.
“Bergeraklah ke sisi kanan Paman Guru, diam, dan menghening. Suara ledakan pertama adalah tanda siap siaga, dan suara dua kali ledakan adalah tanda bertempur.” ucap Sungsang Geni.
__ADS_1
Sabdo Jagat beserta Gentar Bumi kemudian memisahkan diri dari rombongan, mereka berjumlah 12 orang menunggang kuda dan mengambil jalan sedikit memutar jauh.
“Apa kalian berdua takut?” Tanya Sungsang Geni kepada Ratih Perindu dan Siko Danur Jaya, yang dibalas angguk mereka berdua. “Kalau begitu sama, aku juga merasakan takut. Tapi kita tidak boleh dikuasai oleh rasa itu.”
Pemuda itu memperkirakan jumlah lawannya hampir mencapai sepuluh ribu orang. Tentu saja semuanya mayat hidup, hanya ada 500 orang yang asli manusia.
Apapun alasannya, pertaruhan ini sangatlah beresiko. Kemungkinan menang hanya 20% jika ditambah dengan bubuk setan, mungkin kemungkinan menang adalah 40%. Kesalahan sedikit saja, semuanya akan berakhir mengenaskan.
Sungsang Geni dan ketiga temannya segera mengambil jalur kiri. Meninggalkan Jelatang Biru dan Empu Pelak di tengah-tengah medan.
Jelatang Biru dan Empu Pelak memiliki pasukan paling banyak, tapi tidak ada yang terlalu kuat di rombongan ini meski jumlahnya 500 orang selain Guru Jelatang Biru.
500 orang itu dibagi menjadi 3 bagian, bagian paling depan adalah yang paling hebat diantara yang lainnya, menggunakan pedang dan tombak dan menjadi ujung pertahanan kelompok ini. Bagian kedua adalah pengguna panah dengan bubuk setan, bagian ini mengincar titik-titik penting lawan seperti menara pengintai.
Dan pada bagian terakhir, kelompok ini hanya berjumlah 20 orang yang bertugas mengendalikan Kereta Iblis, serta bubuk setan. Empu Pelak adalah pemimpin dari kelompok ini.
***
Setelah sinar senja mulai remang di ufuk barat, berganti suara nyaring dari jangkrik hutan yang saling sahut menyahut. Sungsang Geni meminta Cempaka Ayu untuk mengeluarkan satu bubuk setan dan menembakannya di atas langit Kelompok Kelelawar Iblis.
Suara ledakan pertama terdengar keras, itu adalah pertanda untuk bersiap dan juga pertanda bahwa Sungsang Geni sedang menganalisa keadaan. Akan ada ledakan susulan kelak berjumlah dua, menandakan penyerangan sudah dimulai.
Semua orang menunggu ledakan susulan berjumlah dua, tapi Sungsang Geni belum melakukannya. Memang terlihat di ujung matanya, Kelompok Kelelawar Iblis mulai terlihat berhamburan.
Cempaka Ayu kembali menatap Sungsang Geni, “Siap menunggu perintah, Geni!”
__ADS_1
“Serang! Sekuat Tenaga!” ucap Sungsang Geni pelan, lalu pemuda itu secepat kilat lebih dahulu menyerang reruntuhan meninggalkan ke tiga orang temannya.
Siko Danur Jaya menelan ludah beberapa kali, melihat tindakan Sungsang Geni. Sebelumnya dia sempat berpikir pemuda itu hanya akan memberi perintah dari belakang layar, pada titik teraman dan juga kemungkinan melarikan diri yang besar.
Tapi tanpa diduganya, pemberi perintah malah terjun lebih dahulu ke medan pertempuran.
Dua ledakan besar dari bubuk setan yang dilancarkan Cempaka Ayu menandakan pertempuran dimulai. Kemudian gadis itu, tanpa menunggu lama segera bergerak cepat menyusul Sungsang Geni, dengan ratusan batu kerikil yang ikut bersama dirinya.
“Kakang Siko!” Ucap Ratih Perindu, “Jangan mati, aku mohon!”
Siko Danur Jaya mengecup kening kekasihnya, “Meskipun aku mati hari ini, aku akan tetap mencintaimu sampai tujuh kehidupan selanjutnya.”
Lalu pria itu berteriak keras , dan berlari menuju Sungsang Geni dan Cempaka Ayu yang sekarang telah bertempur dengan sengit. “Tunggu aku sialan, aku akan membunuh kalian semua, sial, sial. Tubuhku tidak berhenti bergetar!”
Di sisi lain, Empu Pelak yang dari tadi memainkan anak panah tiba-tiba mengarahkannya kedepan dengan salah satu mata dipicingkan. “Serang, bumi hanguskan musuh tanpa tersisa! Tunjukkan pada mereka, kekuatan kalian, berteriaklah!”
'Sayang, kau lihat. Suamimu ini akan membalaskan dendam kematianmu.' Batin Empu Pelak bergumam.
Semua orang berteriak keras, menggema dan meraung di angkasa raya bersamaan puluhan anak panah yang membawa bahan peledak. Gelegar, suara menggema di angkasa raya, Empu Pelak Tertawa bak orang kesetanan, tapi matanya sangat tajam dan menakutkan.
Di sisi lain lagi, Sabdo Jagat dan Gentar Bumi telah meremukan puluhan mayat hidup yang mulai berdatangan menyerang mereka. Tongkat penghancur gunung bergetar hebat, seakan terbakar emosi dalam pertempuran ini.
***
Dalam kobaran api yang membumbung tinggi dan ledakan bubuk setan yang menderu, Sungsang Geni menebas belasan mayat hidup tanpa ampun. Dia lalu menaiki pada salah satu bangunan tertinggi di tempat itu, matanya tajam mencari lawan sepadan.
__ADS_1
“HAAAAAAA...!” pemuda itu berteriak keras, suaranya bagai auman singa yang sendang berburu mangsa.
“Astaga pemuda itu!” ucap Empu Pelak terkejut, “Suaranya membuat manusia di dalam sana ketakutan, tidak buruk. Dia bahkan bisa menciptakan rasa putus asa pada lawannya, dan semangat pada sekutunya.”