PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Apa Kita Pernah Bertemu?


__ADS_3

Gadis yang dipanggil Nona Wulandari tersenyum kecil, dia kemudian menyapu pandangan pada semua orang yang berada ditempat ini.


Tapi entah kenapa, dia kemudian berhenti ketika menatap wajah seorang pemuda yang sedang duduk di sudut ruangan sambil tertunduk, seakan tidak terlalu kagum dengan kecantikannya.


Saat itu, Sungsang Geni menyadari jika Pemimpin dari Markas Petarang itu sedang memperhatikan dirinya. Jadi pemuda itu bergegas memperbaiki sikap, tersenyum kecil dan bersikap seperti prajurit bodoh di depannya.


Nona Wulandari lalu melangkah meninggalkan lantai pertama, menuju lantai ketiga dimana semua makan sudah disediakan dengan rapi, di meja-meja indah dan kursi yang nyaman.


“Dia begitu cantik, bukan?” Prajurit yang tadi bersama Sungsang Geni menelan ludahnya beberapa kali. “Tapi sayang, tidak ada pemuda yang berani mendekati dirinya.”


“Memangnya kenapa?” Sungsang Geni penuh selidik.


“Memangnya kenapa? Kau tidak tahu dia itu pemimpin di Markas Petarang. Dia itu adalah putri dari Maha Senopati yang dikirim Negri Sembilan untuk membantu Kelelawari Iblis menaklukkan Surasena. Kenapa hal seperti itu saja kau tidak tahu, apa jangan-jangan...” pria itu mulai menaruh curiga.


“Ah, kau benar kenapa aku melupakan hal semacam itu.” Sungsang Geni berbicara sedikit gagap. “Apa kau ingin tahu sebuah rahasia yang kumiliki?Aku memiliki penyakit yang tidak bisa di sembuhkan, aku tidak bisa menghapal nama-nama orang.”


Prajurit jangkung mengelus dagunya beberapa kali, memikirkan perkataan Sungsang Geni barusan. “Penyakitmu benar-benar aneh, pantas saja kau tidak kenal siapa Nona Wulandari.”


Sungsang Geni sekali lagi menggaruk rambutnya yang tidak gatal, sekarang dia atau orang di depannya terlihat sama-sama bodoh bin gendeng.


Di lantai tiga, Nona Wulandari duduk sendiri menghadapi hidangan yang luar biasa banyak. Tentu saja tidak akan dihabiskan dirinya sendiri. Ini sudah biasa setiap harinya, makan sendiri kecuali ditemani dengan pengawalnya yang setia, seorang wanita berambut putih.


“Nona, aku mendapat kabar bahwa markas Brangasan menemukan jejak Surasena di ujung dataran Java.” Wanita berambut putih, yang bernama Saraswati berkata.


Wulandari tidak menjawab perkataan wanita itu, dia hanya diam semenjak tiba di ruangan ini. Hal yang jarang sekali terjadi ketika melihat gadis itu melamun.

__ADS_1


“Nona, apa kau mendengarkan aku?” Sarasawati menepuk pundak gadis itu pelan sekali, menjagakan dirinya dari lamunan.


“Ah ya, aku mendengarnya.” Wulandari kemudian memilih beberapa makanan untuk di letakkan ke dalam piring putih. “Baguslah jika Markas Brangasan menemukan jejak mereka, kita sudah kesulitan selama ini untuk mencari petunjuk persembunyian Surasena.”


“Kau baik-baik saja, Nona?” Saraswati kembali bertanya.


Wulandarai menghela napas berat, entah kenapa nafsu makannya tidak begitu baik hari ini. Padahal dia sudah berhasil menangkap 4 padepokan yang selalu membuat resah markas Petarang.


Dan jika beruntung, 4 Padepokan itu akan menjadi bagian dari pemerintahan Kelelawar Iblis, tapi jika tidak mereka akan menjadi budak yang sangat berguna. Ada banyak budak dari prajurit dan pendekar hebat di dalam markas ini.


Seperti yang sudah dijelaskan, Kelelawar Iblis membuka peluang sebesar-besarnya bagi semua kalangan untuk menjadi bagian revolusi yang mereka ciptakan.


Pendekar hebat ataupun prajurit akan mendapatkan tempat yang layak, dan mendapat upah yang besar di dalam negri yang mereka bangun.


Wulandari menoleh ke luar jendela-jendela besar yang terbuka lebar, kemudian dia kembali menemukan pemuda yang tadi duduk di pojok keluar dari rumah makan beserta pria jangkung yang terlihat selalu mengajaknya berbicara.


“Guru, pemuda disana! Apa dia prajurit baru kita?” Wulandari tampak keheranan.


“Nona, aku yakin kau sudah sangat kelelahan.” Saraswati kemudian meminta beberapa pelayan membereskan semua makanan. “Ada lebih 2000 orang di tempat ini, mana mungkin kita menghapal semua wajah-wajah mereka. Mungkin saja, Nona baru sadar setelah melihat wajahnya. Aku akui dia memang sedikit lebih tampan dibanding dengan prajurit lain.”


Wulandari terlihat tidak senang mendengar ucapan gurunya itu, tapi dia tidak akan membahas masalah ini lebih lanjut. Ditolehnya Sungsang Geni untuk sesaat, tapi pemuda itu sudah hilang ditelan keramaian.


5 menit kemudian di jalan utama markas tersebut, datang sekitar 60 orang pendekar yang seluruh tangan dan kakinya dirantai. Itu adalah 4 padepokan yang berhasil mereka tangkap, selebihnya tentu saja menjadi mayat.


“Masukan mereka kedalam tahanan!” Wulandari memerintahkan dua orang prajurit yang berdiri di depan pintu ruang makannya. “Aku memiliki rencana untuk pembrontak itu.”

__ADS_1


Di sisi lain, Sungsang Geni berpapasan dengan para pendekar yang telah dirantai tangan dan kakinya. Beberapa orang terlihat membawa luka yang tidak ringan, sehingga kesulitan berjalan.


“Mereka sudah beberapa kali berniat memberontak kita.” Pria jangkung tadi kembali membuka suara. “Hingga akhirnya, Nona Wulandari beserta Gurunya Saraswati turun langsung untuk menaklukkan mereka.”


“Akan diapakan mereka?” Sungsang Geni kembali bertanya. “Kau tahu, bukan hanya sering lupa nama orang, terkadang aku juga lupa dengan berbagai pekerjaan. Aku tidak sepintar dirimu.”


Mendapat pujian itu, wajah pria jangkung tampak berseri-seri. Tidak banyak orang yang pernah memuji dirinya pintar kecuali ibunya dan juga mantan istrinya, sebelum akhirnya mereka bercerai lalu kata 'bodoh' keluar dari mulut mantan istirinya itu.


“Mereka akan menjadi budak jika tidak patuh.” Dia mulai menjelaskan garis besarnya, kemudian menatap Sungsang Geni kembali. “Apa sekarang kau sudah mengingatnya, apa aku harus mengulanginya lagi?”


“Tidak-tidak, aku akan mengingat semua perkataanmu.” Sungsang Geni tersenyum kecil. “Aku akan mencari tempat tinggal, sekarang aku juga lupa di mana aku harus tidur. Sialan sekali.”


“Prajurit emas biasanya tidur di sana.” Pria jangkung menujukkan bangunan besar dan bertingkat yang terletak di tengah Markas ini, kemudian bangunan itu berhimpitan pula dengan 4 bangunan lain, dan salah satu bangunan itu adalah kediaman Pemimpin Markas Petarangan serta pejabat Markas ini.


'Ini seperti sebuah Kadipaten' Gumam Sungsang Geni. 'Apa mereka benar-benar ingin menciptakan sebuah negara yang adil? Tidak mungkin, aku yakin ini hanya kulit luarnya saja.'


Sungsang Geni akhirnya di ajak oleh pria jangkung pergi ke tempat kediamannya, letak rumah pria itu memang sedikit ke pusat markas, melewati taman kecil yang memanjang dan juga kolam buatan.


Ketika melewati kolam itu, sekali lagi Sungsang Geni berpadu pandang dengan Wulandari yang berjalan diikuti dengan hampir selusin prajurit. Energi para prajurit itu ditaksir setingkat sesepuh Lembah Ular, atau bahkan sesepuh Pedang Emas.


Kali ini Wulandari berhenti tepat di tengah jalan sambil menatap wajah Sungsang Geni dengan penuh selidik. Beberapa orang yang melihat kejadian itu hanya terdiam tidak berkutik. Pria jangkung lekas membungkuk memberi hormat, kemudian dia memaksa kepala Sungsang Geni untuk menunduk pula.


“Ma'afkan kami telah mengganggu perjalananmu, Nona...” pria jangkung berucap.


Tapi gadisi itu tidak peduli dengan ucapan pria jangkung, dia malah berjalan pelan sambil mendekati Sungsang Geni. “Kau, apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

__ADS_1


__ADS_2