PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Pertarungan di Pelabuhan 5


__ADS_3

Darma Guru terpaksa mundur 3 langkah kebelakang, ketika pedangnya beradu dengan keris panca dewa ditangan Raja Puntura. Tangannya bergetar, dan aura dingin mulai menjalar kearah bahunya, tapi Darma Guru segera mengalirkan hawa hangat untuk meredam aura dingin keris panca dewa.


Puntura tersenyum bangga mendapati orang terkuat di Kerajaan Surasena terpundur tiga langkah. Ini adalah pencapaian terbesar dirinya selama dia memimpin Tombok Tebing.


2 tahun yang lalu Puntura bahkan tidak sanggup mendekati Darma Guru, dalam sesi latih tanding yang di gelarkan Surasena empat tahun sekali. Puntura kala itu, masih berada pada level pendekar pilih tanding.


Namun saat ini, Raja Tombok Tebing itu, berhasil naik ke level pendekar tanpa tanding. Meski cakra dalam tubuhnya masih terbuka satu saja, tapi dengan keris panca dewa ditangannya, setidakanya dia mendekati pendekar pilih tanding yang mampu membuka 5 cakra dalam tubuhnya.


Puntura mengarahkan keris panca dewa pada Darma Guru, kemudian dari ujung mata keris berkelok 9 itu, sebuah energi bening menuju Darma Guru, dengan cepat.


Darma Guru nyaris saja terkena serangan itu, jika saja dia tidak sempat menghindarinya tepat waktu.


Energi bening itu, kemudian menghantam kapal di belakang Darma Gruru dan terus melaju hingga 2 kapal di belakangnya.


Kapal berlobang rapi sebesar roda kereta kuda, Darma Guru bahkan belum pernah menggunakan keris itu sehebat Puntura. Jadi dia menjadi kaget.


“Kekuatan yang hebat!” Puntura tertawa terbahak-bahak, menyadari bahwa tidak ada orang yang saat ini bisa menandingi dirinya.


Keris dengan berwarna emas, dengan Corak Ular Naga berkepala 5 yang digenggam Puntura, merupakan lambang dari kekuatan elemen air dan angin. Tusukannya mampu melobangi bangunan besar, tapi tebasan keris panca dewa tidak kalah mengerikan dengan tusukannya.


Darma Guru memandangi tepat pada kapal yang berlobang besar, jika energi itu mengenai dirinya, mungkin bukan mustahil dia akan tewas seketika.


Semenjak pertarungannya dengan Puntura, sudah lebih 10 kapal yang mengalami nasip sama, tapi ada 3 rumah yang luluh lantah terkena imbasnya.


“Menyerah saja Maha Patih Darma Guru!” ucap Puntura, “Kau tidak akan saggup mengalahkan keris ini, bahkan jika seluruh orang-orang mu yang lemah itu bersatu...”


Puntura memalingkan pandangannya, melihat pada orang-orang Darma Guru yang dia maksud baru berkurang seperempatnya, tapi orang-orang dipihaknya yang tersisah sekitar 20% lagi dari jumlah keseluruhannya.

__ADS_1


Semua orang prajurit miliknya habis terbantai, Puntura mendengar teriakan prajurit Surasena dengan suara lantang, sambil mengiringi seorang pemuda yang bekerja seorang diri.


Dia mendengar, “Pukul mundur Tombok Tebing, ikuti sang pahlawan!”


Semua teriakan Prajurit Surasena membuat Puntura menjadi geram. Dia sekali lagi mengarahkan kerisnya kepada Sungsang Geni yang terlihat sibuk membantai pasukannya.


“Kemana matamu tertuju?” ucap Darma Guru.


Setelah berkata demikian, pedang hitam milik Darma Guru melesat dengan cepat melukai bahu kanan Puntura. Dia berniat melukai lengan kanan Puntura yang memegang keris panca dewa, tapi gerakan Puntura berhasil membuat serangannya meleset, dan hanya menggores dangkal bahu kanan Puntura.


“Sialan kau kakek tua, menyerang saat diriku tidak siap!” maki Puntura, dia terlihat meringis menahan sakit yang dihasilkan dari ketidak waspadaannya.


“Kenapa pula kau memalingkan wajahmu dari lawanmu, raja Puntura?” jawab Darma Guru, setelah kemudian pedang hitamnya kembali menyerang Puntura berulang kali, membuat raja Tombok Tebing itu kerepotan.


****


Pedang ditangan pemuda itu, sekarang berwara merah darah, tapi terasa belum sempurna warnanya sebelum berhasil menikam Karang Dalo. Jadi Sungsang Geni secepat mungkin menyingkirkan prajurit Tombok Tebing yang mencoba menghalangi jalannya.


“Aku menyerah!” salah satu dari prajurit Tombok Tebing di depannya mengangkat bendera putih dari sobekan bajunya sendiri, “Jangan bunuh aku, aku menyerah!”


Sungsang Geni menyipitkan pandangannya, dan sekali lagi dia seakan memasuki alam pikiran prajurit itu, mebuatnya terkejut dan memaku.


‘apa ini? apa jangan-jangan...?’


“Kalian semua, biarkan orang ini hidup.” Ucap Sungsang Geni, memberi printah kepada belasan prajurit yang mengikutinya.


Para prajurit itu terlihat ragu, tapi memandangi Sungsang Geni yang sangat yakin dengan keputusannya, mereka akhirnya membiarkan prajurit Tombok Tebing itu hidup.

__ADS_1


Setelah melucuti semua senjata orang itu, mereka mengikat kedua tangan dan kakinya. “Ingatlah, jika kau berbuat bodoh, maka kami akan membunuhmu.” Salah seorang prajurit Surasena berkata, “Berterima kasihlah kepada Pahlawan kami, sebab mau mengampuni nyawamu.”


Sungsang Geni menggarut kepalanya, mendengar kata ‘pahlawan’ keluar dari mulut prajurit Surasena. “Terserahlah kalian.”


Sungsang Geni kembali menyapukan pandangannya, mencoba mencari keberadaan Karang Dalo. Tapi pandangannya menjadi berbinar, mendapati pasukan Surasena berhasil menguasai medan pertempuran.


Diujung matanya, Senopati Pancur Lara memimpin pasukannya melawan pasukan Tombok Tembing yang mulai kocar-kacir.


Setelah cukup lama memperhatikan situasinya, akhirnya Sungsang Geni menemukan sosok manusia yang dia cari bersembunyi didalam sungai, dibalik puing-puing kapal yang mengambang seperti gangang air.


Tanpa membuang waktu lagi, Sungsang Geni melesat menuju sosok itu, menjambak rambutnya yang menyembul di permukaan air, kemudian melemparnya kedaratan.


Karang Dalo terseok, beberapa tulang rusuknya patah dan luka dibeberapa bagian. Dia mulai merangkak menjauhi Sungsang Geni yang melayang di belakangnya, tangannya yang penuh luka menapak tanah dengan gemetar.


“Ampuni aku, aku mohon!” dia berbalik badan, menatap pemuda matahari itu yang sekarang menggenggam sebilah besi panjang, “Tolonglah jangan bunuh aku, aku mempunyai istri dan anak-anak yang menungguku pulang. Jika kau tidak mengasianiku, setidaknya kau mengasiani keluargaku. Aku tahu kau bukanlah orang yang begitu kejam, jadi aku mohon dengan sangat. AGHHHH.”


Karang Dalo terpekik keras, Sungsang Geni menancapkan bilah besi pada pergelangan kaki Karang Dalo hingga terpasak ditanah.


Mantan Senopati Surasena itu, meringis kesakitan, air matanya beruraian menahan sakit yang teramat sangat. Tidak disangkanya, pemuda yang selalu tenang didepannya, sekarang lebih terlihat seperti monster tanpa rasa kasian.


“Kau pikir aku percaya dengan perkataanmu itu?” Sungsang Geni tersenyum kecil, tapi matanya terlalu tajam, mengoyakan semua keberanian Karang Dalo.


“Kau ingin mengulur waktuku, dengan bualan mu itu?” ucap Sungsang Geni lagi, “ Padahal kau menyiapkan senjata rahasia dilengan kananmu, senjata dengan racun kelajengking perak. Bukankah seperti itulah caramu mengalahkan Nyai Bidara, pengawal pangeran Miksan Jaya.”


“Ba...bagai mana kau tahu?” Karang Dalo telah terkejut mengetahui Sungsang Geni dapat mebaca rencananya, tapi lebih terkejut lagi ketika pemuda itu bahkan tahu mengenai racun kelajengking perak.


Sungsag Geni terseyum kecil, sebenarnya dia pun tidak begitu tahu pastinya. Tapi sekali lagi, dia seolah-olah berada di dalam pikiran Karang Dalo untuk beberapa saat.

__ADS_1


“Kau tidak layak, diberi kehidupan.” Ucap Sungsang Geni, kemudian segera menanggalkan kepala pria itu, membuat semua orang yang melihat perbuatan Sungsang Geni, hanya terjelit dan terpaku.


__ADS_2