PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Kekuatan Energi Alam


__ADS_3

Wulandari tidak memalingkan pandangannya dari wajah Sungsang Geni, dia ingin melihat saat terakhir wajah pemuda itu hingga kematiannya datang menjemput.


Sebuah batu berbentuk kapak, melayang dengan cepat kearah leher gadis itu, tapi bagi Wulandari waktu tiba-tiba berjalan begitu lambat. Begitu lambatnya hingga dia bisa melihat lalat-lalat di depan wajahnya mengepakan sayap.


Lalu kemudian, BOMM. Ledakan terjadi, dua pedang melesat dengan kecepatan luar biasa mematahkan kapak batu mahluk kerdil, dan membuka kerangkeng Panglima Ireng.


“Itu...” Wulandari dapat melihat Sungsang Geni yang melakukannya, pemuda itu masih saja terpejam tapi entah mengapa dia bisa menyelamatkan nyawa gadis itu tepat waktu.


Kerangkeng yang membelenggu pemuda itu juga telah lenyap.


Ledakan energi kedua terjadi lagi, kali ini tekanannya cukup untuk membuat semua mahluk kerdil disekitar Sungsang Geni melayang berhamburan. Setelah ledakan kedua, tidak ada lagi ledakan selanjutnya.


Sungsang Geni masih duduk bersila, dengan tubuh melayang dan cahaya hijau putih dan merah membentuk seperti riak air yang mengelilinginya. 5 menit hal tersebut berlangsung seperti itu, hingga semua cahaya hilang di dalam tubuhnya.


Sungsang Geni membuka mata, dengan wajah lega dia menghembuskan napas. Ada asap tipis keluar dari mulutnya, berwarna kebiruan tua.


Hal pertama yang dilakukan Sungsang Geni adalah melayang mendekati Wulandari dan temannya, Panglima Ireng.


“Ma'afkan aku karena membuat kalian khawatir.” Pemuda itu tersenyum kecil. “Sekarang mereka tidak akan lagi dapat melukai kita.”


Wulandari menarik napas lega, 1 detik saja Sungsang Geni terlambat menyelamatkan dirinya maka kapak batu sudah tentu memotong batang lehernya.


“Gerr...” Panglima Ireng menggeram kecil. “Gerr...”


“Aku mengerti teman, kau sudah berjuang dengan keras bukan.” Sungsang Geni menepuk moncong Panglima Ireng pelan sekali, tapi dalam waktu bersamaan energi alam yang ada di dalam tubuh Sungsang Geni menjalar cepat ke dalam tubuh srigala itu.


“Aku telah menyalurkan energi alam kepada kalian berdua.” Ucap Pemuda itu setelah selesai menepuk pundak Wulandari. “Untuk beberapa saat, racun di dalam tubuh kalian tidak akan bereaksi. Kita harus mendapatkan penawarnya sebelum pergi dari tempat ini.”

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Sungsang Geni melayang mendekati pemimpin mahluk kerdil.


“Aku membutuhkan penawar racun untuk teman-temannku.” Pemuda itu berkata tepat di hadapan pemimpin mahluk berjali terbalik itu.


“Sebab...sebaba..,.” jawabnya panik.


“Jadi kau tidak ingin memberikan penawar itu?” Sungsang Geni mengeluarkan pedang energi dari lengan kanannya, pada saat itu terjadi dia juga menjadi sangat terkejut. Pedang energi biasanya berwarna kuning cerah, tapi sekarang memiliki motif hijau, dan putih di antara matanya.


“Sebaba...sebaba....” Ucapnya, beberapa detik setelah dia mengatakan hal itu, 50 mahluk kerdil menyerang pemuda itu dari segala sisi. Sungsang Geni hanya tersenyum kecil, dia memperhatikan semua orang yang bergerak lambat di pandangannya.


Serangan mereka bisa dihindari dengan sangat mudah, sehingga kapak-kapak batu hanya menyerang angin. Pemuda itu bahkan merasakan waktu seperti berjalan lambat, dia tidak butuh usaha berat untuk menghindari semua serangan.


Tapi di mata Wulandari, gerakan pemuda itu begitu cepat, gesit dan lentur.


“Kalian tidak akan bisa mengalahkanku, jadi sebelum terlambat sebaiknya serahkan penawar racun itu untuk teman-temanku!” pemuda itu lantas berdecak kesal. “Baiklah, kalian benar-benar memaksaku untuk melakukannya.”


Mendapati hal itu, tubuh pemimpin mahluk kerdil bergetar hebat. Puluhan mahluk lain terlihat waspada, tapi tidak ada yang cukup bodoh untuk bertindak gegabah. Dengan isyarat kecil, akhirnya mahluk itu menyerahkan satu botol kecil yang terbuat dari bambu, berisi ramuan penawar racun.


“Terima kasih banyak.” Sungsang Geni tersenyum kecil, kemudian segera menghampiri Wulandari dan juga Panglima Ireng. “Minumlah, setelah itu kita akan pergi dari tempat ini.”


***


Mereka mulai meninggalkan pulau itu, Sungsang Geni tidak lagi menaiki sampan jadi dia melayang di udara mengikuti sampan kecil yang berisi Wulandari dan Panglima Ireng. Setelah menelan penawar racun, tubuh mereka berdua terlihat lebih segar dan bertenaga.


Hanya saja, luka-luka yang diderita mereka berdua tidak akan pulih dalam waktu dekat. Sungsang Geni sudah mencoba beberapa kali untuk menyalurkan energi alam, agar tubuh mereka berdua kembali seperti dirinya saat ini, tapi rupanya tidak bisa.


Energi alam bisa menyembuhkan luka yang diderita pemiliknya, seperti saat ini Sungsang Geni sudah terbebas dari segala racun dan luka fisik. Dia bahkan mulai merasakan tenaga dalamnya kembali beransur-ansur.

__ADS_1


Belum tahu apa yang terjadi jika tenaga dalam dan energi alam berada dalam satu tubuh, semoga saja tidak berdampak buruk, pikir Sungsang Geni. Karena untuk saat ini, mungkin karena tenaga dalamnya mulai kembali lagi, jadi ada perasaan aneh di dalam tubuhnya.


Setibanya lagi di dataran Java, Sungsang Geni segera membantu Panglima Ireng menuruni sampan. Kaki depannya yang patah sudah di perban dan mendapat pengobatan dari mahluk kerdil sebelum mereka meninggalkan pulau, ya tentu dengan sedikit gertakan agar mereka mau menunjukkan obatnya.


“Geni! Kenapa kau bisa mengerti bahasa mereka, dan mereka juga mengerti bahasa yang kau katakan padahal kalian memiliki bahasa yang berbeda?” Wulandari bertanya, dari tadi dia memikirkan hal ini, dan belum memiliki kesempatan untuk menanyakannya.


“Setelah racun yang kau gunakan lenyap dari dalam tubuhku, aku mendapatkan kembali kekuatanku. Aku bisa merasakan perasaan mereka, juga mengetahui sediktit pikiran orang lain.”


“Kekuatanmu benar-benar mengerikan.” Wulandari tersenyum simpul. “Semua orang tidak akan memiliki rahasia lagi ketika berhadapan denganmu.”


Sungsang Geni tidak menjawab melainkan dengan anggukan kecil, tapi seketika wajah Wulandari menjadi merah. Ada beberapa hal yang dia sembunyikan, dan menjadi rahasia yang tidak ingin diketahui orang lain.


Tentu saja Sungsang Geni bisa mengetahui rahasia gadis itu, jika dia ingin. Tapi pemuda itu lebih memilih untuk tidak menggunakan kemampuan itu kepada semua orang, kecuali ketika dia sedang bertarung.


Untuk mencairkan suasana, Sungsang Geni mengalihkan pembicaraan.


“Mahluk kerdil itu, mereka sebenarnya ketakutan ketika manusia datang ke wilayahnya. Mereka pernah mempercayai manusia, menjadi teman dekat dan saling membantu hingga suatu hari, salah seorang manusia tidak sengaja membunuh keluarga mereka.”


“Rupanya, setiap kejahatan selalu didasari dengan masa lampau yang kelam.” Wulandari tanpa sadar mengatakan kalimat itu.


“Ya, tapi jika semua mahluk bisa saling memaafkan, permusuhan dan pertarungan akan berhenti. Aku mendambakan situasi dimana semua orang bisa saling duduk berdampingan, meninggalkan senjata-senjata mereka, menyampingkan ras dan suku.” Sungsang Geni menatap Wulandari beberapa saat, sebelum akhirnya dia duduk bersila di sebuah pohon. “Mungkin pertemanan kita bukan sebagai musuh, tapi sebagai kerabat dekat atau mungkin lebih dari itu.”


“Yang kau katakan benar, mungkin semua orang tidak akan memiliki masalalu yang kelam.”


**karena besok hari kemenangan umat islam, author ucapkan minal adzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin.


besok mungkin tidak akaan post, atau jika sempat mungkin waktunya sedikit terlambat**.

__ADS_1


__ADS_2