
“Sudah kuduga akan terjadi bencana.” Salah satu prajurit Surasena memasang wajah khawatir, hampir saja dia kehilangan keseimbangan karena tanah yang bergetar.
“Apakah aliran magma akan mengenai kita?”
“Tidak, aku pikir tidak akan terjadi,” jawab Miksan Jaya. “ Di banding dengan arah yang kita tuju, arah utara memiliki permukaan tanah yang lebih rendah, magma akan mengalir ke sana.”
“Andai gunung itu lebih besar dan seperti gunung pada umumnya, kita mungkin akan terkena imbas dari ledakan.” Bergumam lagi salah satu prajurit.
“Jangan banyak bicara.! Mahesa akhirnya menimpali dengan raut wajah kesal. “Berlarilah sekuat tenaga! karena jika tidak kalian akan menjadi manusia panggang.”
Perkataan Mahesa berhasil memacu lari para prajurit. Siapa yang ingin menjadi panggangan daging manusia? Tidak ada. Hanya saja mereka kesal, Mahesa berkata demikian sementara dia sendiri berada di atas tandu pengungsi, diangkat oleh 8 orang prajurit. Mudahnya dia berkata begitu.
Ki Alam Sakti belum bisa melihat apakah pertarungan Sungsang Geni sudah selesai atau belum. Saat ini goncangan yang terjadi karena serangan Sungsang Geni membuat tiga orang itu terjaga dari laku duduk meditasinya.
“Aku harap prajurit kita tidak terluka.” Lakuning Banyu menatap ke arah lain, berpikir apakah prajurit Surasena telah pergi jauh?
“Mereka akan baik-baik saja, Tuanku.” Ki Lodro Sukmo cukup yakin dengan hal itu, dia tidak terlalu khawatir mengenai prajurit Surasena, tapi perasaannya tidak tenang setelah melihat ke arah Sungsang Geni.
Benar Topeng Beracun tidak ada di hadapan pemuda itu, tapi satu hal yang dirasakan Ki Lodro Sukmo, -dia mencium bau bahaya. Dan sialnya, pemuda matahari itu mungkin telah menggunakan energi cukup banyak untuk melepaskan serangan tadi.
Di sisi lain, Sungsang Geni masih berada di atas awang-awang. Nafasnya tersengal-sengal, dua tangannya masih mengarah ke langit. Di depan matanya, sebuah telaga kering yang tidak terlalu lebar tapi memiliki kedalaman yang sulit di kira.
Harusnya didalam telaga kering itu tubuh Topeng Beracun telah mati saat ini, semoga saja. Dan sekarang telaga kering mulai dialiri oleh cairan magma dari gunung yang telah meledakkan dua kali semburan isi perutnya.
Suasana benar-benar gelap, jangan ditanya lagi mengenai hal itu. awan hitam masih menyelimuti bumi, sekarang ditambah lagi dengan asap dari letupan vulkanik. Suhu di tempat itu mulai terasa panas, membuat tiga orang pendekar Surasena di tepi hutan merasa gerah, tapi tentu bukan masalah bagi Sungsang Geni.
Yang jadi masalah hanya debu vulkanik, karena itu Sungsang Geni pergi menjauh menuju tiga pendekar Surasena yang berdiri tepat di atas pohon.
“Apakah sudah selesai?” tanya Lakuning Banyu.
Sungsang Geni tidak yakin apakah pertarungannya sudah selesai, jika memang demikian harusnya langit saat ini tidak lagi diliputi dengan awan hitam. Benar, kenapa awan hitam masih menutupi langit jika musuh sudah mati. Ini mengganjal di pikiran Sungsang Geni.
Sepuluh Menit setelah letupan besar itu, tiba-tiba dari telaga yang tercipta dari serangan Sungsang Geni keluar tekanan luar biasa dahsyat. Tidak! tidak mungkin Topeng Beracun masih hidup.
Dua kali ledakan besar terjadi, hingga tiba-tiba sosok mahluk naik ke atas langit dengan tubuh yang nyaris hancur kecuali dua hal yang masih utuh. Dua hal itu adalah, topeng di wajahnya yang berwarna hitam, dan juga jantung yang bedetak kuat.
__ADS_1
“Tidak berhasilkah?” Ki Lodro Sukmo hampir jatuh dari atas pohon melihat mahluk itu kembali bangkit meski dengan tubuh yang 80% hancur.
“Apa itu?” Lakuning Banyu menunjuk ke sisi lain, seorang datang dengan kecepatan tinggi sekarang tiba di dekat Topeng Beracun. “Apakah dia itu?”
“Tidak mungkin...” Sungsang Geni membuka matanya lebar-lebar, nyaris tidak percaya dengan pandangan di depan matanya. “Aku pikir dia sudah lama mati, apa yang dia lakukan sekarang?”
“Apa kau mengenalnya?”
“Ya, dia adalah Komandan Ke Tiga, Asura.”
Asura tersenyum kecil ke arah Sungsang Geni, kemudian kembali menatap tubuh Topeng Beracun dengan penuh kebencian. Sebelum tubuh mahluk itu benar-benar kembali utuh seperti sedia kala, Asura dengan secepat kilat mencabut jantung Topeng Beracun hingga seluruh urat-urat yang terhubung putus.
“Apa yang...kau...lakukan?” Topeng Beracun sekarang menjadi panik luar biasa. Satu urat besar masih terhubung di jantungnnya, tapi sekarang sudah hampir putus. Dia tidak bisa melakukan apapun, karena tubuhnya belum utuh.
“Apa yang akan kulakukan?” Asura terkekeh kecil. “Jika bukan untuk mengambil kekuatanmu, lalu apa lagi yang akan kulakan?”
“Darimana kau...” perkataan Topeng Beracun terhenti setelah jantung besar miliknya lepas dari organ dada. Mata merah mahluk itu terbelalak tak percaya, jika dia saat ini memiliki satu tangan saja, tentulah akan merebut bagian paling penting dalam tubuhnya itu.
Tapi tidak, Topeng Beracun kehilangan kekuatan, tubuhnya berhenti melakukan regenerasi. Dan pada akhirnya, topeng yang mirip seperti kulit diwajahnya dicengkram kuat oleh Asura, ditarik dengan paksa hingga lepas dari wajahnya.
Topeng Beracun hendak memberontak, tapi tidak berhasil. Dia jatuh seperti setumpuk daging kering, kemudian hancur di dasar tanah.
Sedikit balik beberapa bulan yang lalu. Setelah gagal melindungi Banduwati, Asura harus menerima hukuman berat dari Topeng Beracun. Dia ditikam 99 paku hitam tepat di hadapan kegelapan. Darahnya menjadi makanan untuk kegelapan itu sendiri. Singkatnya, Asura di tumbalkan oleh Topeng Beracun.
Tubuh Asura tidak bisa lepas dari paku yang menancap di sekujur tubuhnya. Sementara itu, darah dari tubuhnya terus saja mengalir tanpa henti, menjadi makanan kegelapan di alam gelap yang dalam dan mengerikan.
Tapi sesuatu tak terduga telah terjadi, Asura tidak mati karena hal itu. Tubuhnya terus hidup, meski selama belasan bulan dia tersiksa oleh hukuman. Bahkan seperti sebuah hukuman panjang, dia tidak kehabisan darah meski terus saja di hisap kegelapan. Atau seolah dia memang ditakdirkan menjadi makanan abadi bagi kegelapan.
Ketika Topeng Beracun berhasil mendapatkan 75% kekuatan Dewi Bulan, Kegelapan yang berada di alam gelap dan dalam berhenti menghisap darahnya. Ada kemungkinan hal itu terjadi terjadi karena satu hal.
Kegelapan sebenarnya sudah tidak ada lagi di alam gelap dan dalam, karena telah menyatu dengan tubuh Topeng Beracun. Perlu di ingat, Topeng Beracun sebelumnya hanya wadah yang di siapkan untuk menampung kekuatan Kegelapan. Jadi dengan perginya kegelapan di alam gelap dan dalam, maka tidak ada lagi mahluk yang melahap darah Asura, dan dia bisa bebas.
“Apa yang akan dia lakukan?” Lakuning Banyu berhenti berkata, dia sekarang tahu apa yang akan dilakukan oleh Asura. “Tidak mungkin, dia akan melakukannya.”
***
__ADS_1
Asura memperhatikan jantung Topeng Beracun yang masih berdetak kuat di tangan kanannya, kemudian topeng hitam yang dingin di tangan kirinya.
“Jantung adalah kekuatannya, topeng adalah kelemahannya?” Asura tidak kuasa menahan tawa setelah memperhatikan dua benda di tanganya. “Lucu sekali, tapi aku tidak akan menggunakan topeng ini, karena daripada memakainya lebih baik aku menghancurkannya. Hanya mahluk bodoh yang membiarkan kelemahan di lihat musuh.”
Dengan sekali remas, topeng hitam di tangan Asura hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu yang menyatu dengan debu vulkanik.
Setelah benda itu hancur, jauh di tempat lain, gerbang kegelapan yang berada di kastil hitam tidak bisa di tutup untuk selamanya.
Sungsang Geni terkejut bukan kepalang, kenapa dia begitu bodoh hingga melupakan hal yang paling penting itu. Minak Singo telah mengatakan bahwa, untuk mengalahkan Topeng Beracun hanya dengan menutup sumber kekuatannya.
Gerbang kegelapan adalah pintu yang membuat energi kegelapan keluar dari alamnya dan mensuplai kekuatan Topeng Beracun. Dan Sekarang gerbang itu tidak bisa di tutup lagi, karena kuncinya -topeng- telah hancur.
“Kalian pikir topeng beracun adalah kegelapan itu?” Asura berkata, ucapannya jelas mengarah pada Sungsang Geni dan tiga orang yang lain. “Tidak, kegelapan itu belum muncul sepenuhnya karena satu hal.”
Asura melirik ke arah Sungsang Geni dengan senyum sinis dan merendahkan, seolah mengatakan alangkah bodohnya pemuda matahari itu jika tidak menyadari satu hal penting.
“Dewi Bulan...” Asura kembali tertawa. “Jika Dewi Bulan tidak berhasil di serap sepenuhnya, maka kegelapan tidak akan muncul sepenuhnya. Kau pasti menyadari hal itu bukan, Pendekar Matahari?”
“Apa yang coba kau katakan?” tanya Sungsang Geni.
Asura menaikkan alisnya, kemudian meletakkan jantung Topeng Beracun di dada bagian kiri. Perbuatan itu membuat semua orang menjadi terkejut, bahkan sekali lagi Ki Lodro Sukmo hampir jatuh dari atas pohon.
Teriakan keras dari Asura menggema memecah kelamnya dunia. Tubuh pria itu tampak sedang menahan sakit yang teramat sangat. Dia menggeliat, dengan mata melotot yang berangsur-angsur merah bak darah.
“Celaka dia berniat menyatukan kekuatan.” Sungsang Geni melepaskan serangan pedang cahaya dari surga. Tapi seperti dilindungi sesuatu yang tak kasat mata, pedang Sungsang Geni beralih jalur seperti mengenai karet kuat tak kasat mata.
“Tidak berhasil ya?” Lakuning Banyu berkata tak percaya.
Untuk beberapa lama Asura berteriak seperti kerasukan setan, hingga setelah beberapa menit lamanya, dari tubuh pria itu muncul aura hitam yang mencekam, kemudian urat-urat besar keluar dari sekujur tubuhnya, membentuk struktur tubuh yang baru.
Asura menjadi mahluk besar yang tingginya mungkin tiga kali dari Sungsang Geni. Wajahnya begitu sangar, mirip seperti singa hanya saja tanpa di penuhi dengan bulu. Tatapan mata merahnya liar seperti sedang mencari sesuatu. Jari tangan penuh dengan kuku tajam seolah siap mencabik benda apapun di depannya.
“Tubuh ini belum sempurna...” Suara Asura bergema.
Kemudian pria itu mengeluarkan sesuatu dari balik celananya yang kekecilan, bahkan terkesan tidak muat untuk mahluk sebesar dirinya. Sebuah batu hitam dengan aura yang sangat menekan. Bahkan aura itu mungkin memiliki energi setingkat pendekar awal iblis.
__ADS_1
“Apa kau tahu benda ini?” Asura menatap ke arah Sungsang Geni yang memasang wajah panik. “Ya...ya...kau sudah tahu benda ini bukan, ini adalah susuk peninggalan Banduwati yang fungsinya untuk menyerap Dewi Bulan.”
“Apa maksudmu?” Sungsang Geni menahan amarahnya. “Jangan Bilang kau?”