PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Munculnya Dewi Bulan


__ADS_3

“Cempaka!” Sabdo Jagat berteriak keras, berlari secepat mungkin untuk melihat kondisi adiknya, tapi kemudian semua orang di sana menjadi ketakutan, semuanya tanpa terkecuali. Bahkan Lakuning Banyu, yang di dalam tubuhnya ada Roh Panca Dewa, berkeringat dingin.


Sabdo Jagat tidak jadi mendekati Cempaka Ayu, dia hampir saja memaku karena tak tahu harus melakukan apa. “Segel matahari di kening Cempaka Ayu sudah pecah, karena serangan wanita tadi.”


“Apa maksudnya, Sabdo?” tanya Darma Cokro, dia tidak begitu paham dengan segel atau apapun jenisnya, tapi melihat raut wajah ketakutan yang tampak dari Sabdo Jagat, dia cukup tahu situasi saat ini tidak terlalu baik.


“Di dalam tubuh Cempaka Ayu terdapat kekuatan maha dahsyat, yang dinamakan Dewi Bulan.” Sabdo Jagat menjelaskan secara garis besarnya.


“Sekarang pertanyaannya, ketika Dewi Bulan muncul, berada di pihak manakah dia?” Darma Cokro memalingkan wajah pada cahaya putih yang tiba-tiba muncul dari gumpalan asap yang menyelimuti tubuh Cempaka Ayu.


“Menurutmu, kenapa Sungsang Geni menyegelnya?”


“Sial, jika begitu dia tidak akan memihak kepada siapapun.” Darma Cokro hampir berniat mengajak Dewi Bulan untuk bergabung, tapi segera urung setelah menyadari bahwa Cempaka Ayu belum bisa mengendalikan kekuatannya.


Cahaya terang semakin memancar keluar dari dalam tubuh Cempaka Ayu, membawa gadis itu terangkat ke angkasa. Pada saat yang sama, semua benda yang ada di sekitar tubuhnya terangkat pula, mengelilingi tubuhnya seperti cincin raksasa.


Pohon-pohon tercabut, kecuali mayat semuanya terangkat. Bahkan Ki Alam Sakti mencengkram erat Pedang Cercaran Air yang akan ikut ditarik oleh wanita itu.


8 orang wakil komandan terdiam cukup lama, wajah-wajah mereka menjadi tegang, mata mendelik ke atas seolah saat ini sedang melihat dewa kematian menebar maut.


“Serang dia selagi sempat!” berteriak Singo Gurung.


Serentak 8 wakil komandan melepaskan pukulan energi ke arah cahaya putih di atas langit. Namun tidak ada yang terjadi, seolah seperti benda yang masuk ke dalam danau.


“Serangan kita tidak berpengaruh?” Singo Gurung berkata terbata-bata. “Apa yang harus kita lakukan?”


Belum ada yang menjawab, Jaka Luruhilo sudah menghilang dari pandangan. Pria itu sadar kekuatan Cempaka Ayu bukan tandingan, oleh karena itu melarikan diri adalah jalan satu-satunya.

__ADS_1


Tapi apa yang terjadi, mata bersinar putih milik Cempaka Ayu menoleh ke sisi lain kemudian dia menaikkan jari telunjuknya, seketika belasan pedang yang mengelilinginya melesat cepat dan menancap ke tanah.


“Bagai...bagaimana mungkin?”


Mula-mula hanya muncul darah, kemudian sebuah dada manusia lantas beberapa menit kemudian muncul seutuhnya tubuh Jaka Luruhilo yang sudah tertikam belasan senjata. “Bagaimana mungkin kau bisa melihatku?”


Cempaka Ayu tidak menjawab kecuali senyum sinis yang menakutkan.


“Jangan bergerak...” Sabdo Jagat memberi peringatan, “atau kita akan dianggap sebagai musuh.”


“Apa kau yakin?” Darma Cokro terlihat ragu.


“Hanya Dugaanku!”


Roh Panca Dewa di dalam tubuh Lakuning Banyu tidak dapat bergerak untuk waktu beberapa lama. Dia dapat melihat sosok asli yang bersemayam di dalam tubuh Cempaka Ayu.


Dewi Bulan adalah wanita pemarah yang hidup ribuan tahun yang lalu, dari bangsa para bidadari, setidaknya itulah yang diyakini oleh Panca Dewa.


Menurut kepercayaan Roh Panca Dewa, Dewi Bulan dulunya berhati baik dan lembut serta bijaksana. Diteranginya malam gelap gulita dengan cahaya putih, dihiasinya malam gelap dengan keindahan.


Suatu Hari ada seorang manusia gagah perkasa nan tampan rupawan. Dewi Bulan jatuh hati, dia turun ke bumi dengan sosok gadis cantik. Sehingga mereka berdua menjadi pasangan serasi.


Tapi sayangnya, Dewi Bulan tidak bisa menemani sang suami di siang hari, atau tubuhnya akan melemah itu bisa saja membawa maut kepadanya.


Namun suatu ketika, tiada yang menduga Sang Suami bertarung melawan musuh bebuyutan dan mati mengenaskan. Dewi Bulan bersedih hati, sehingga purnama malam menjadi gerhana merah. Dia datang menuntut balas, membunuh semua orang yang menjadi musuh suaminya.


Dia pergi ke kayangan, meminta roh suaminya untuk dikembalikan tapi sayang dewa takdir tidak setuju. Dewi Bulan murka, tapi tidak cukup kuat untuk melawan dewa takdir, karenanya dia pergi dengan amarah meluap-luap dan menghancurkan semua orang.

__ADS_1


Tapi sayang, kegelapan memanfaatkan situasi itu untuk mempengaruhinya, Dewi Bulan tidak lagi lembut seperti dahulu, dia menjadi sosok bidadari berhati keras bahkan gemar membunuh. Ya sekali lagi itu adalah kepercayaan Roh Panca Dewa, semua orang boleh percaya atau tidak.


“Tidak penting apakah ucapanmu benar atau tidak.” Menyahut Ki Lodro Sukmo. “Tapi jika dia juga menganggap kita musuh, situasi buruk tidak akan terelakkan.”


“Kita haru bersiap atas segala kemungkinan.” Ki Alam Sakti menatap langit malam, dimana Dewi Bulan masih berpedar di atas sana. “Jika mungkin, kita harus bertarung melawan dirinya.”


Sabdo Jagat menelan ludah dan senyum pahit. Dewi Bulan memang sering muncul untuk beberapa kali, tapi tidak sekuat saat ini.


***


Sungsang Geni sudah tiba di lautan, tepatnya di tengah pulau kecil tak berhuni. Dia hinggap di atas gunung kecil yang terjal, tidak selang beberapa lama datang pula Jaka Balabala dan Nyai Siwang Sari.


“Tempat yang baik untuk mati.” Nyai Siwang Sari bergumam.


Sungsang Geni tidak menjawab melainkan melepaskan serangan demi serangan ke arah mereka berdua. Pedang bercahaya terang bertemu dengan selendang dan kipas besar. Gunung kecil itu sekekali bergemuruh akibat hantaman energi kedua belah pihak.


Tidak lama kemudian, Pramudhita muncul membantu Sungsang Geni. Meski kemampuan pria itu tidak lebih hebat dari Sungsang Geni, tapi beberapa hari ini dia sudah berusaha untuk membuat dirinya menjadi kuat dengan bantuan para Naga.


“Tunggulah beberapa saat lagi.” Pramudhita berkata disela-sela pertarungannya. “Akan ada bantuan datang.”


“Aku melihatmu lebih kuat dari sebelumnya, paman.” Sungsang Geni tersenyum kecil, menggoda pria itu adalah kebiasaan buruknya. “Apa kau menemukan teknik baru setelah mengawini naga cantik itu?”


Wajah Pramudhita menjadi merah bara, sedikit malu mungkin, atau pula sedikit marah. Tapi tidak salah yang dikatakan Sungsang Geni, beberapa hari ini dia berhasil meningkatkan kekuatannya, meski hanya sementara.


“Ah, rupanya pernikahan bisa membuat dua energi bersatu padu.” Sungsang Geni terkekeh kecil. “Kau meminjam kekuatan bibi Sancani bukan?”


“Tutup mulutmu pemuda tengik, kau harus tahu aku ini tetap kakak seperguruanmu.” Pramudhita berdecak kesal bukan kepalang, dia menggerutu beberapa kali, mengupat panjang pendek dan bersumpah serapah.

__ADS_1


Sungsang Geni hanya tersenyum kecil melihat hal itu, tapi kemudian wajahnya mendadak menjadi serius. “Gawat segelku sudah pecah, dewi bulan muncul di saat seperti ini.” pemuda itu mengetahui energi yang dia letakkan di kening Cempaka Ayu telah hilang.


“Paman, kita harus cepat!” ucap Sungsang Geni.


__ADS_2