
Pancur Lara masih menatap Sungsang Geni, dia memikirkan hal yang sama dengan kebanyakan orang yang bertemu dengan pemuda matahari itu untuk pertama kalinya. Kehangatan, dan persahabatan.
Hanya saja Pancur Lara tidak menemukan sumber aura yang terpancar dari Sungsang Geni.
Dilain sisi, Jawapri merasa terbantu atas informasi yang diberikan Sungsang Geni. Dia selaku kepala Telik Sandi Surasena, hampir beberapa hari ini tidak dapat melanjutkan investigasi mengenai pembunuhan 5 Putra Mahkota, jadi informasi yang diberikan Sungsang Geni sangat banyak membantu dirinya.
‘seperti yang aku harapakan, pemuda ini bukan hanya berilmu tinggi tapi pandai meyakinkan orang lain’ Darma Guru hanya tersenyum.
“Jadi sekarang langkah apa yang harus kita tempuh?” tanya Datu Wenda. “Kita tidak punya banyak waktu, sebagian rakyat mulai khawatir, mereka memaksa Pangeran Lakuning Banyu untuk segera mengisi tahta.”
“Tentu saja hal itu belum bisa kita lakukan, sebab keris panca dewa sekarang sudah raip. Kita tidak bisa melakukan ritual pengangkatan, tanpa keris itu.” Jawapri memberi tanggapannya. “Apa lagi mengenai hilangnya keris itu belum diketahui oleh rakyat Surasena, kita masih berusaha menutupi, tapi sampai kapan?”
Mereka tahu persis keadaan Surasena dalam keadaan yang tidak baik, jika Kerajaan dibawah kekuasaan Surasena mengetahui prihal hilangnya keris itu, bukan tidak mungkin mereka berani memisahkan diri dari Surasena.
Selain Darma Guru dan ribuan pasukannya, keris panca dewa diyakini menjadi salah satu dalang dibalik kekuatan terbesar Surasena. Meski belum pasti, beberapa pendekar hebat mempercayai keris itu bisa memanggil bencana alam jika penggunanya mampu menguasainya. Meski sejauh ini, bahkan Darma Guru belum mampu menguasai keris maha dahsyat tersebut.
“Ma’afkan saya jika lancang Aki Mahapati,” Sungsang Geni menundukan kepala, “Alangkah baiknya, Pangeran Lakuning Banyu segera diangkat menjadi raja yang baru, meski tanpa keris panca dewa. Yang saya takutkan, dengan terlalu banyak mengulur waktu akan menimbulkan curiga beberapa pihak, mungkin seperti Kelelawar Iblis.”
‘Kelelawar iblis.’ Sungsang Geni tersentak, dia sendiri hampir melupakan kelompok itu, dan baru mengingatnya ketika dia selesai mengatakannya. ‘Bisa jadi ada kaitannya Karang Dalo dengan kelompok itu.’
Darma Guru memainkan janggut putihnya mendengar perkataan Sungsang Geni, Danu Wenda mengernyitkan keningnya, dan Jawapri, dia yang terlihat lebih risau dari yang lainnya. Tugas Jawapri akan semakin banyak, beberapa minggu kedepan.
“Baiklah, hal pertama yang kita lakukan adalah segera melakukan acara penobatan pangeran Lakuning Banyu menjadi Raja.” Ucap Darma Guru, dia menunggu beberapa saat, kalau saja ada yang tidak setuju, tapi semuanya mengangguk. “Besok pagi, kita lakukan ritual itu.”
****
__ADS_1
Diruangannya, Lakuning Banyu masih berduka cita. Setelah acara pemakaman Raja Cakra Mandala selesai, dia mengurung diri diruangannya. Beberpa pelayan tidak berani untuk masuk kedalam, begitupula Ibunda dan kedua adiknya.
“Paman Mahapatih!” Ratu Sedap Sari bergegas menghampiri Darma Guru, ketika kakek itu berjalan mendekati ruangan Lakuning Banyu bersama seorang pemuda.
“Nanda, ada apa? Kenapa wajahmu begitu tegang?” tanya Darma Guru dengan heran.
“Nanda Lakuning Banyu, setelah pemakaman Kang Mas Cakra Mandala, dia mengurung diri didalam kamarnya.” Ucapan Ratu Sedap Sari terdengar parau, terlihat jelas raut kesedihan meliputi wajahnya. “Saya takut, terjadi sesuatu dengan dirinya!”
Darma Guru menggelengkan kepalanya, kemudian bergegas membuka pintu ruangan secara pakasa.
“Nanda Lakuning Banyu!” ucap Darma Guru, menemui cucunya sedang menegak arak dalam jumlah banyak, “Hentikan perbuatan bodoh ini!”
Lakuning Banyu tidak menghiraukan ucapan Darma Guru, entah karena dia sudah mabuk atau memang tidak peduli, dia tetap meminum arak ditangannya hingga habis. Ketika dia hendak meraih satu kendi arak lagi, Sungsang Geni menjentikan jarinya membuat seluruh arak diruangan itu hancur berhamburan.
Seperti Lakuning Banyu, Ratu Sedap Sari beserta pelayan yang berada ditempat itu sontak memandang Sungsang Geni. Pikiran dibenak mereka berbeda-beda menilai Sungsang Geni.
Demikian dengan Darma Guru, Mahapatih itu tidak menduga Sungsang Geni melakukannya, tapi baginya hal itu bukan sebuah masalah. Sedari kecil Lakuning Banyu selalu dimanja, ini adalah kali pertamanya ada seseorang yang berani kepadanya.
Mendengar suara pecahan kendi didalam ruangan Lakuning Banyu, kedua adiknya segera menghambur menuju kamar kakaknya.
“Ibunda Ratu, apa yang terjadi?” Putri Rambut Emas segera mendekati Ratu Sedap Sari, yang terpaku melihat Sungsang Geni berjalan mendekati Lakuning Banyu.
“Siapa pemuda itu!” tanya putri Lalatah Sari, gadis kecil itu merasakan ketakutan, tubuhnya tiba-tiba saja mengeluarkan keringat dingin. Lain dengan orang yang merasa aura hangat yang terpancar dari tubuh Sungsang Geni, Lalatah Sari malah merasakan aura panas yang seakan membakar tubuhnya.
“Apa yang kau lakukan pangeran bodoh?” Sungsang Geni bertanya dengan nada dingin. “Apa kau pikir, setelah kehilangan ayahmu, dunia ini telah berakhir? Suasana hatiku sedang buruk, temanku-temanku tewas, pangeran Dewangga ditahan, aku dipenjara dan salah satu temanku kehilangan lidahnya karena berada ditempat ini. Sekarang sebagai Putra Mahkota Surasena, kau berbuat semaumu, meninggalkan tanggung jawab.”
__ADS_1
Lakuning Banyu menatap Sungsang Geni dengan tajam, berusaha mengintimidasi pemuda matahari itu dengan statusnya sebagai Pangeran Surasena. Kemudain dia tersenyum sinis, dia beranjak dari tempatnya kemudian mendaratkan pukulan tepat diwajah Sungsan Geni.
Sungsang Geni tidak bergeming dari tempatnya, melihatnya Lakuning Banyu berteriak keras kemudian mendaratkan lebih banyak pukulan diwajah Sungsang Geni.
“Kanda, apa yang kau lakukan?” ratap Putri Rambut Emas, dia melihat kakanya seperti orang kesetanan.
Salah satu pukualan Lakuning Banyu akhirnya dihentikan Sungsang Geni dengan mudaha, dia lalu menarik tangan pangeran itu dan melemparnya pada lemari hias yang terletak disudut ruangan.
Lemari itu pecah berhamburan, Lakuning Banyu tersedak dan memuntahkan seluruh arak yang ditegaknya.
“Jangan karena kau Putra Mahkota Surasena, lalu berpikiran bisa melakukan sesuatu semaumu! Aku tidak takut dengan dirimu, jika pangeran sepertimu bertingkah seperti ini...” Sungsang Geni berhenti sejenak, “Tidak pantas menjadi pemimpin!”
“Apa yang kau ketahui tentang seorang pemimpin?” Lakuning Banyu menyeka kotoran di wajahnya, “Bagiku pemimpin ialah, dia yang memiliki kekuatan, dengan begitu dia mampu menundukan seluruh musuhnya. Tapi aku...aku tidak bisa menjadi pemimpin karena diriku ini lemah.”
“Aku memeng tidak mengerti apa yang kau maksud, tapi meski kau tidak memiliki kemampuan bertarung, aku yakin kau memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.” ucap Sungsang Geni.
“Perkataan pemuda ini benar Nanda Banyu, meski kau tidak pandai bertarung, tapi tidak ada diistana ini yang dapat mengalahkan kecerdasanmu.” Sedap Sari menghampiri anaknya, dengan air mata beruraian, “Kau adalah penerus tahta Surasena.”
Suasana yang sedikit tegang, akhirnya berangsur tenang, meski semua orang disana masih menatap Sungsang Geni dengan tanda tanya.
Kemudian 5 orang datang, semua orang disana membuka jalan ketika lima orang itu mendekati Lakuning Banyu.
“Kerajaan kalian boleh membebaskan diri!” ucap Lakuning Banyu dengan wajah tertunduk, meski sebenarya hal yang dia ucapkan tidak semudah membalikan telapak tangan.
“Masalah itu kita pikirkan nanti saja, tapi saat ini kami akan mengejar Karang Dalo, untuk membalaskan kematian teman-temanku.” Salah satu dari lima orang itu berkata dingin.
__ADS_1