PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Prahara Swarnadwipa 6


__ADS_3

Sungsang Geni mengiring pelayan itu di ikuti seluruh teman-temannya, ya bahkan Panglima Ireng juga berjalan lebih congkak saat ini. Ketika dia berpapasan dengan hewan-hewan penjaga pintu Istana, srigala itu menggeram dengan keras membuat tiga ekor harimau ketakutan.


Bangga sekali dirinya bisa menciutkan wajah harimau itu, sementara para prajurit yang lain tidak berani menegur pemuda itu selain membungkukkan badan dengan sedikit heran.


4 pelayan menunggu Sungsang Geni di depan pintu masuk, kemudian beberapa Hulubalang dan juga Wira Mangkubumi.


“Aku tidak tahu, jika kau...” Wira Mangkubumi berkata.


“Aku juga,”potong Sungsang Geni kemudian tersenyum kecil. “Ngomong-ngomong bagaimana keadaanmu?”


“Tidak terlalu baik, aku belum mengucapkan terimakasih kepadamu.” Wira Mangkubumi lantas berjalan bersama Sungsang Geni dengan candaan dan cerita-cerita mereka.


Beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di kamar Saylendra. Beberapa orang tampak terkejut mendapati Srigala Besar dan Hitam juga berjalan melenggak di hadapan mereka. Sekali lagi, Panglima Ireng menggeram kecil, tapi sebenarnya dia sedang menyapa.


Sungsang Geni membukukan badan pada Raja Saylendra dan Rindang Sari yang duduk di atas dipan indah. Saylendra masih memandangi pemuda itu dari kepala sampai ujung kaki, penuh selidik dan sedikit tidak percaya.


Rindang Sari telah mengatakan semua yang telah ditunjukan Sungsang Geni, dan dia yakin dengan hati paling dalamnya, pemuda itu adalah putra bungsu mereka.


Namun tidak dengan Saylendra, pria itu juga tertarik dengan pemuda matahari itu, tapi ketertarikannya tidak terlalu jauh hingga menganggap Sungsang Geni adalah putranya. Tidak untuk saat ini.


Sungsang Geni tersenyum kecil, mengetahui apa yang sedang dipikirkan Raja itu. Tidak masalah, dia cukup sadar dengan posisinya. Selain perasaan yang saling terikat antara dia dan Ratu Rindang Sari, maka tidak ada bukti kuat yang menunjukkan dia adalah putra mereka.


“Apa kau punya bukti, bahwa kau adalah putraku?” tanya Saylendra.


Sudah diduga, Sungsang Geni kembali tersenyum kecil, “Tidak ada Yang Mulia” jawabnya datar.


Saylendra kemudian mengelus dagunya beberapa kali, alisnya sedikit naik kemudian memandangi Istrinya yang tidak mempedulikan tindakannya, dan hanya fokus dengan wajah Sungsang Geni.

__ADS_1


“Hem...ketika aku melihat Istriku telah sembuh aku sangat bersyukur, sekarang rasa syukurku bertambah besar ketika kau menyelamatkan aku dan cucuku sebagai penerus Swarnadwipa.” Saylendra lantas berpikir beberapa saat. “Sebagai imbalannya, apa yang kau inginkan? Aku pasti mengabulkan semua keinginanmu?”


“Tidak ada yang aku inginkan.” Sungsang Geni kemudian menoleh ke arah Cempaka Ayu, menoleh ke arah Panglima Ireng, baru kemudian melanjutkan ucapannya. “Aku ingin Yang Mulia mencukupi kebutuhan Rakyat Surasena dalam pengungsian mereka.”


Saylendra terdiam sesaat, dia mengira jika saja pemuda itu meminta sesuatu yang lain seperti harta benda atau juga pangkat di Istana, tapi rupanya dugaan pria itu keliru. Sungsang Geni tidak tergiur dengan semua itu.


“Geni? Jika saja aku mengumumkan kau sebagai anakku, dan pangeran di Swarnadwipa. Apakah kau ingin menggantikan posisiku, dan mengambil hak kekuasaan atas ponakanmu, Putra dari Windur Hati?”


“Tidak Yang Mulia Raja, itu tidak mungkin terjadi.” Sungsang Geni melirik Ibunya, nampak sekali kalau Rindang Sari berharap pemuda itu meng-iyakan perkataan Suaminya, tapi tidak, Sungsang Geni tidak berpikiran sesempit itu.


Dia sudah menghilangkan perasaan haus dengan dunia dalam hatinya, baginya tujuan dia dilahirkan di bumi ini tentu lebih besar dari hal itu. Jadi pemuda itu, tidak akan tergiur dengan harta benda sementara saudara-saudaranya tertindas di dataran java.


“Jikaulah kalian benar-benar menganggap aku sebagai putra, maka kebahagiaan yang tidak terkira akan aku rasakan.” Ucapnya. “Tapi hidupku seperti aliran sungai, mana mungkin terhenti pada ceruk lubuk yang dalam sebelum tiba di muara. Tugasku bukan di sini, Yang Mulia. Jika memang disini, kenapa Dewa matahari membawaku ke dataran Java?”


Terdiam semua orang mencerna perkataan pemuda itu, sementara Cempaka Ayu begitu lega mengetahui bahwa pemuda yang dicintainya akan tetap berada di dataran java, setidaknya sampai prahara di negrinya berakhir.


“Kemarilah Geni, biarkan orang tua ini memeluk tubuhmu.” Saylendra membuka telapak tangannya lebar-lebar, dengan tetesan air mata mengalir di pipinya.


Sungsang Geni belum melakukan tindakan, dia tidak pernah memeluk sosok ayah sebelumnya, jadi tidak begitu tahu persis bagaimana rasanya kehilangan atau juga mendapatkan kembali seorang ayah.


Tapi dia kemudian berjalan selangkah demi selangkah, menaiki titian lantai yang mirip seperti tangga pendek dimana letak Saylendra sedikit lebih tinggi.


Pemuda itu lantas melirik Cempaka Ayu sesaat, gadis itu tampak mengangguk, kemudian Sungsang Geni segera merapatkan tubuhnya di dalam pelukan Saylendra.


“Oh, syukurlah, sekarang aku bisa memelukmu Putraku.” Saylendra berkata dalam isak tangisnya. “Istriku, kemarilah!” Kemudian mereka bertiga berpelukan, di depan puluhan orang yang menyaksikannya.


Wajah-wajah semua orang berbeda-beda menanggapi kejadian itu, ada yang menangis tapi ada pula yang berkata dalam hati. -Beruntungnya pemuda itu-.

__ADS_1


Malam ini Sungsang Geni di minta untuk tinggal di dalam Istana, bersama dengan temannya juga bersama dengan Surailarang.


Surailarang seperti bermimpi di siang bolong, tidak pernah menduga akan tidur di atas kasur empuk dan tebal di Istana.


Ketika kelak dia kembali ke Rumah makan miliknya, dia akan menceritakan semua pengalamannya kepada sanak pamili. Ada terlintas dalam benaknya untuk menikahkan putrinya kepada Sungsang Geni, tapi tentu hanya mimpi belaka di siang bolong.


Sementara itu, Cempaka Ayu tidur di kamar Windur Hati. Gadis itu sudah terlanjur betah dengan bayi mungil yang menggemaskan. Lagipula, bayi itu juga menyukainya. Ketika semua dayang tidak bisa meredakan tangis bayi itu, ditangan Cempaka Ayu malah tertidur pulas.


“Kau memiliki tangan yang lembut, Cempaka.” Windur Hati bertutur ketika malam ini Cempaka Ayu menggendong putranya yang cerewet. “Adiku, Sungsang Geni bisakah kau menceritakannya padaku? Aku belum terlalu mengenalnya kecuali dari cerita Kakang Wira tadi siang.”


“Dia adalah pemuda yang bertanggung jawab.”


“Syukurlah, Apa dia pemarah?”


“Hem..kepadaku? Tidak, dia hanya marah kepada musuh-musuhnya.” Cempaka Ayu tersenyum kecil sambil sekekali berkata 'Hus...hus...' di telinga sang bayi. “Tapi, jika dipikirkan lagi, wajah kalian berdua memang mirip, itu ketika wajahnya masi seperti dahulu.”


“Maksudmu?”


“Wajahnya tidak seperti itu, ketika kali pertama aku melihatnya. Tapi kemudian dia menghilang dan kembali, dengan rahang yang sedikit keras tapi matanya tidak berubah sedikitpun. Tajam seperti elang.”


Cempaka Ayu menceritakan mengenai pemuda itu secara garis besar, wajah Windur Hati berubah-ubah menanggapinya. Tapi yang bisa disimpulkan dari cerita itu, Sungsang Geni adalah pria yang menjunjung tinggi nilai kebenaran.


Tapi, kemudian kedua orang itu tertawa kecil, nampaknya begitu pula dengan sang bayi.


“Kau pernah memukulnya?” ucap Windur Hati seraya menahan perban diperut yang terasa sakit saat tertawa. “Aku juga, Kakang Wira Mangkubumi juga pernah mengalaminya ketika kami baru bertemu.”


Kalaulah boleh dukung terus pdm dengan cara like dan vote. terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2