PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang Surasena 2


__ADS_3

Tinggalkan dahulu pertarungan Darma Cokro melawan Krangka Ireng yang tiada tahu kapan berakhirnya. Sekarang pertarungan yang dilakukan oleh Sesepuh Ki Lodro Sukmo dan Bangau Putih dalam menghadapi 10 orang pendekar pilih tanding dan 4 orang tanpa tanding.


Rupanya kekuatan Ki Lodro Sukmo bukan hanya omong besar belaka. Tangannya yang berselimut sapu tangan macan benar-benar membuat lawan-lawannya kewalahan.


Hanya dalam hitungan menit saja, 10 orang tanpa tanding di hadapannya terlihat seperti cicak kecil diperlakukan orang tua ini.


Semuanya mati mengenaskan dengan luka yang hampir sama, remuk di bagian leher. Cakar macan miliknya tidak dapat di bendung oleh prajurit-prajurit rendah. Jadi 4 pendekar Tanpa Tanding segera ambil posisi untuk mengalahkan macan tua itu.


“Jangan ganggu pertarunganku!”Ki Lodro Sukmo membentak Bangau Putih, ketika temannya itu berniat ikut campur. “Aku bisa mengalahkan 4 orang ini sekaligus, baiknya kau habisi semua musuh yang lain saja!”


Bangau Putih tidak berkata, dengan wajah kesal dia pergi mencari seseorang yang layak untuk di hadapi. Benar sekali, semua pendekar-pendekar hebat sudah mendapatkan lawan-lawan yang sepadan, kecuali dirinya.


Bangau Putih melayang beberapa saat pada kerumunan musuh, menyapu lawan-lawannya tanpa kesulitan berarti. Jurus Bangau Mematuk Bumi menjadi andalan pria tua berambut dan janggut putih itu.


Sekitar 5 menit dia telah menghilangkan hampir seratus prajurit di pihak musuh, hingga akhirnya dia tanpa sadar melihat pertarungan yang dilakukan Ki Alam Sakti. Guru Sungsang Geni itu menghadapi sekitar 8 orang Pendekar Tanpa Tanding sekaligus.


Dia memperlihatkan permainan pedang yang begitu apik, gesit dan mematikan. Ini adalah pemandangan baru bagi Bangau Putih. Dia belum pernah bertarung secara langsung melawan Ki Alam Sakti, tidak pula pernah melihat Guru Sungsang Geni itu menggunakan Teknik Awan Berarak. Kecuali hari ini.


Tanpa berpikir panjang, Bangau Putih masuk ke dalam pertarungan antar Ki Alam Sakti melawan musuhnya.


“Tua bangka, aku akan membantumu.” Bangau Putih mendaratkan 4 tendangan ke wajah salah satu lawannya.

__ADS_1


Ki Alam Sakti berhenti sejenak, sedikit terkejut melihat Bangau Putih.


“Jangan hanya melihat saja, ilmu kanuragan yang kumiliki tidak sehebat dirimu.” Bangau Putih kembali berujar setelah di serangan 8 orang lawan secara bersamaan. 'Edan, 8 orang ini rupanya sangat kuat. Bagaimana tua bangka Alam Sakti bisa bertarung imbang melawan mereka?'


“Setiap dari kita akan melawan 4 orang.” Ki Alam Sakti berujar, lalu memisahkan 4 orang dari 8 orang itu untuk melawan dirinya saja, sementara bagian lain berhadapan dengan Bangau Putih.


Dua menit kemudian, pertarungan mereka menjadi semakin sengit. Suara dentingan senjata yang beradu antara pedang Ki Alam Sakti dan lawannya acap kali terdengar, menciptakan gelombang kejut bertekanan rendah, menghempaskan debu-debu di sekitar mereka.


Tenaga dalam 8 orang itu sebenarnya hanya 2 jule, paling besar mungkin 3 jule. Tapi mereka semua memiliki teknik bertarung yang cukup mumpuni. Bangau Putih harus bergerak lebih lincah dari biasanya.


Dua tiga kali Bangau Putih mendaratkan serangan, jarinya membentuk seperti paruh bangau yang mematuk bagian-bagian rawan di daerah tubuh lawannya, leher dan pangkal tekiak adalah bagian yang paling sering diserang oleh pak tua itu.


Setiap serangan jurus Bangau Mematuk Bumi memiliki aliran tenaga dalam yang cukup besar. Pendekar pilih tanding akan segera menemui ajal terkena serangan di pangkal lehernya.


Pandangan pria tua itu jatuh pada sosok Ki Alam Sakti yang baru saja membersihkan mata pedangnya. 4 orang lawannya sudah menemui ajal dengan luka yang sama, luka di pangkal tenggorokan.


Padahal pedang yang di gunakan Guru Ki Alam Sakti hanyalah besi tua biasa, yang tidak terlalu tinggi tingkat kekerasannya.


“Jangan Lengah!” Ki Alam Sakti berkata, menunjuk ujung pedang pada 4 lawan Bangau Putih yang bergerak menyerang.


Hampir saja Bangau Putih terkena sabetan pedang jika sedetik saja tidak melompat ke belakang. “Menyerang ketika lawan tidak siap, itu adalah perbuatan memalukan.” Pria tua itu mengupat panjang pendek.

__ADS_1


Lantas dia melepaskan sebuah serangan jarak jauh, Sayap Bangau Mengipas Rumput. Seketika dari telapak tangan Bangau Putih keluar hembusan angin yang begitu kencang. 4 orang lawannya tidak bisa mendekatinya, alih-alih mendekati mereka ber 4 malah terpundur beberapa depa jauhnya.


Dalam keadaan seperti itu, Bangau Putih bergerak cepat. Musuh belum menguasai diri sepenuhnya, dan dia sudah mendaratkan serangan jarak dekat yang memang menjadi andalan.


Dua orang tewas seketika, ketika jari berbentuk paruh bangau itu mendarat tepat di kening samping, di ujung pelipis mata. Dua orang itu mati dengan mata mendelik, dan darah keluar dari lubang telinga.


Tinggal dua orang lagi, yang menatap Bangau Putih dengan perasaan khawatir. Tanpa menunggu lama dua orang itu memutuskan untuk melarikan diri, mencari musuh yang memiliki ilmu kanuragan lebih rendah, tapi niat orang itu tidak kesampaian.


Tidak setelah sekelebat bayangan berwarna putih bergerak cepat melewati tubuh mereka berdua. Ki Alam Sakti telah melakukan serangan, tapi orang tua itu segera pergi meninggalkan lawannya, khawatir jika Bangau Putih malah tersinggung.


Bangau Putih berdecak kesal, tentu saja dia tahu orang tua itu baru saja menghabisi bagiannya. Di dunia persilatan, hal seperti itu dianggap sebagai penghinaan. Tapi rasa kesal di hatinya segera terobati, melihat 2 orang yang baru saja di tebas oleh Guru Sungsang Geni tadi masih berdiri.


“Tua Bangka itu tidak berhasil menebas batang leher mereka.” Bangau Putih tersenyum kecil. “Rupanya dia tidak terlalu tepat, hanya sekedar cepat saja. Sekarang kalian berdua harus mati di tanganku!”


Baru saja berdiri, -menyeka darah yang mengalir dari luka di dada akibat tebasan Ki Alam Sakti, Bangau Putih segera mematuk kepala mereka hingga mati.


Ki Alam Sakti tersenyum kecil di kejauhan, ah dia sengaja tidak membunuh mereka berdua agar Bangau Putih tidak merasa kecil hati atau, tidak terlalu terhina. Sudah cukup perselisihan selama ini hanya karena beranggapan -siapa paling hebat dari siapa?


Bangau Putih meludah dua kali, orang tua itu lalu menyapukan pandangan di sekitarnya mencoba menemukan Ki Alam Sakti tapi tidak berhasil.


Kemudian senyum kecil tersungging di bibirnya yang peot dan berkerut, lalu semenit kemudian terkekeh. “Sekarang aku mengakui, dia lebih hebat dariku. Tua bangka Alam Sakti itu, sudah sepatutnya namanya di kenal di seluruh dunia Persilatan di tanah Java.”

__ADS_1


Bangu Putih kembali memasuki kerumunan pertempuran. Dia bergerak cepat, melawan orang-orang yang terlihat cukup kuat. Orang tua itu juga membantu beberapa prajurit yang sedang dalam kesulitan, mengulurkan tangan untuk mengangkat tubuh-tubuh mereka yang terluka.


“Bertahanlah, jangan dulu mati! Kalian akan menjadi anak durhaka, jika sampai mati mendahului aku.” Bangau Putih kemudian mengupat serapah pada lawan-lawannya.


__ADS_2