PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Api Siluman


__ADS_3

Si Kucing Merah melompat tepat di depan Sungsang Geni yang terkapar, wajah pemuda itu dipenuhi darah tapi sikucing besar tidak akan bersimpati. Sekarang jubah kilatan naga mulai terlihat beberapa robekan di bagian dada.


Siluman itu memperlihatkan gigi-giginya yang setajam belati, lalu berniat mengunyah Sungsang Geni bulat-bulat dengan gigi-gigi itu. Tapi sebelum sempat dia melakukannya.


Bum...Sungsang Geni melepaskan energi mataharinya tepat mengenai wajah si Kucing Besar, kemudian sekali lagi melepasakan energi matahari kearah dada dan kaki, dan setelah itu Sungsang Geni segera menyingkir dari sana.


Terbakar? Tidak, siluman singa merah terlihat baik-baik saja, bahkan tidak satu helaipun dari kumisnya yang terbakar. Sungsang Geni terkejut melihatnya, sebelumnya tidak pernah ada yang bertahan dari api matahari miliknya, tapi nampaknya tidak dengan siluman itu.


“Ha...ha...hahhahah.” Siluman itu tertawa terbahak-bahak, hampir muntah saking bahagianya, “Apimu sangat dingin, apiku yang sangat panas.”


Setelah berkata demikian, dari mulut Siluman itu menggumpal energi berwarna merah darah kemudian dari energi itu, dia menyemburkan api yang lebih panas lgi ke arah Sungsang Geni. Sungsang Geni tidak berusaha menghindar, tepatnya tidak sempat menghindar.


Jadi yang dilakukan pemuda itu, menahan serangan Siluman Singa Merah dengan api dilengan kanannya. Benturan api memenuhi ruangan itu, membuat sebagian emas meleleh seperti es dan memenuhi ruangan.


Dor...Sungsang Geni terpental puluhan meter, menghantam tiang bangunan dan menghantam tiang bangunan yang lain, kemudian terhenti pada tiang yang paling besar di tengah ruangan.


Agh...pemuda itu terpekik, dadanya terasa sesak, serta bahu seakan bergeser sendinya. Api siluman itu berhasil membakar hampir seluruh lengan bajunya.


“Api miliknya lebih panas dari miliku, bagai mana bisa?” Sungsang Geni terbatuk beberapa kali.


Sekarang tidak banyak tenaga dalam yang tersisah di dalam tubuhnya, mungkin hanya cukup untuk mengeluarkan satu jurus tingkat rendah pedang awan berarak. Sedangkan api matahari, Sungsang Geni baru menyadari ternyata energi itu juga bisa habis.


Tidak ada rencana, tidak ada cukup tenaga untuk melawan. Lari...insting Sungsang Geni mengatakan demikian, ‘jika kau ingin selamat, lari’


Siluman Singa Merah mengaum dengan keras, suaranya bergema di dalam ruangan, tekanan suaranya bahkan mampu membuat retekan halus pada dinding ruangan.


Seakan mengetahui niat Sungsang Geni, siluman itu berusaha menerengkam mangsannya. Tidak ada rasa simpati, tidak ada ampun, dia akan memburu Sungsang Geni yang sekarang sedang melarikan diri, sampai dapat.


Sungsang Geni terbang tak beraturan, dia mulai kehilangan keseimbangannya. Mungkin karena ada banyak koyakan pada jubah kilatan naga, membuat laju terbangnya tidak dapat dikontrol, seperti burung yang kehilangan bulu-bulu pada sayapnya.

__ADS_1


Sekekali Sungsang Geni menabrak dinding ruangan, pada tikungan yang tajam. Membuat banyak darah berceceran dari luka yang dideritanya.


Setelah cukup lama mereka kejar-kejaran, seperti kucing dan tikus. Sungsang Geni tiba-tiba kehelingan siluman itu, dia tidak melihat Siluman Singa Merah mengejarya di belakang sana, tidak di kirinya atau di kananya.


Dengan kondisi seperti ini, Sungsang Geni tidak memiliki cukup waktu untuk merasakan energi Siluman itu, Dan.


Haum...entah dari mana asalnya, tapi Siluman Itu telah berada di depan Sungsang Geni. pemuda itu tidak sempat menghentikan laju terbangnya, membuat siluman itu dengan mudah mencabik tubuh pemuda itu dengan taringnya.


“Akgh........” Sungsang Geni terpekik keras, dia merasakan sebuah tusukan laksana tombak menghujam pahanya.


Setelah menggigit Sungsang Geni, siluman itu melempar pemuda itu dengan keras menembus beberapa dinding batu dan mendarat kasar pada ruangan yang lain.


***


Ini sudah lima jam, waktu yang ditentukan telah usai. Patih Mahesa didampingi dengan Senopati Rerintih sekarang sedang mengatur 200 prajurit yang tersisa untuk bersiaga di dekat Jurang.


“Yang Mulia, Patih!” Rerintih berkata, “Ini adalah prajurit yang tersisa setelah pertempuran besar di Pelabuhan Kerajaan Surasena. Menurutmu, kita bisa menahannya, Petaka itu?”


Mahesa tidak menjawab Rerintih, dia memperhatikan secarik kertas yang Sungsang Geni berikan sebelum memasuki Gerbang Zambala. Tulisan yang jelek, nampaknya Sungsang Geni terburu-buru menulisnya.


Tulisan itu berisi 20 daftar nama yang dipilihnya menggantikan pejabat kerajaan yang telah dieksekusi, serta 3 orang nama untuk menjadi Senopati. Lalau, printah Sungsang Geni kepada Rerintih untuk merekrut pemuda yang berminat menjadi prajurit, sebanyak-banyaknya.


Di kalimat terakhir kertas itu tertulis, ‘Aku akan pergi cukup lama.’


Mahesa meremas kertas lalu menatap Rerintih penuh makna, “apakah rakyat tahu tentang prihal ini?”


“Mereka mengetahuinya!” Rerintih berkata pelan, “Kami telah menutupi prihal Yang Mulia Sungsang Geni, tapi rakyat memiliki telinga yang sangat baik.”


Mahesa meremas keningnya yang terasa sakit, pandangannya tertuju pada Gerbang Zambala yang masih terbuka lebar. Semua orang mengharapkan hal yang sama, Sungsang Geni keluar dari sana dengan selamat.

__ADS_1


Jauh di dalam Istana Tombok Tebing, tepat di ruangan Sungsang Geni, batu bintang kemulung menunjukan reaksi yang tidak biasa. Bergerak, dan bergetar kemudian mengambang dengan pelan. Jika ada yang melihat benda itu melayang, mungkin orang itu akan pingsan saking terkejutnya.


Ngung...batu bintang kemulung terbang menuju jurang, kecepatannya setara dengan pedang hitam milik Mahapatih Surasena, Darma Guru. Benda itu mengeluarkan suara, seperti sekumpulan lebah yang menderu.


“Benda apa itu?” salah seorang prajurit yang melihatnya terpaku, memandangi batu bintang kemulung terbang cepat menuju mereka, tidak tapi menuju gerbang Zambala.


Belum jelas mereka melihatnya, batu bintang kemulung segera masuk kedalam Gerbang Zambala, lalu hilang.


“Batu hitam itu?” Mahesa bergumam, ‘tidak ada yang tahu batu apa yang selalu dibawa sungsang geni dari Surasena, tapi semoga saja bisa membantu.’


***


Siluman Singa Merah berjalan dengan sombong, dia menyunggingkan gigi-gigi tajam dari balik bibirnya, mungkin sekarang dia sedang tersenyum, atau sedang mengejek pemuda matahari di depannya.


Kukunya sekarang mulai mengeluarkan api, membuat apapun yang dipijaknya menjadi gosong. Setelah berhasil memakan darah Sungsang Geni, siluman itu nampaknya menjadi lebih panas lagi.


Meski dalam keadaan buruk, Sungsang Geni masih sempat menyadari kekuatan Siluman Itu terbentuk karena meminum darah. Dia bisa merasakan, setiap kali Siluman itu menjilat darahnya yang tercecer, energi mahluk itu semakin bertambah.


“Aku tidak bisa membiarkan Siluman ini keluar dari sini, atau dia akan bertambah kuat setelah banyak meminum darah manusia.” Gumam Sungsang Geni.


Silmuan Singa Merah, tiba tiba berhenti bergerak, matanya menatap liar kerah langit-langit ruangan , kemudian kembali menatap Sungsang Geni . “Manusia, ajalmu telah tiba, akan aku tunjukan kemarahan yang aku pendam ratusan tahun lamanya. Api yang ku simpan di dalam dadaku, dendam yang sangat lama kepada bangsa kalian. Kau akan merasakannya!”


Sungsang Geni merasakan tiba-tiba suhu ruangan menjadi panas luar biasa. Setiap benda yang di pijak Mahluk itu meleleh bagai air, setiap tetes air liur mahluk itu seperti lahar yang menghanguskan benda apapun.


“AKHHH......” Siluman itu membuka mulutnya lebar-lebar. Sangat besar, nyaris patah rahang. Hingga Sungsang Geni melihat sesuatu di dalam mulut mahluk itu, tepat di kerongkongannya.


Sungsang Geni terkejut, nyaris tidak percaya. “Itu adalah wajah manusia, bukan. Itu adalah wajah bangsa Sebaba, Si Anak Sulung.”


Mohon bagi teman-teman untuk mendukung Author terus menerus dalam bentuk apapun. Karena dukungan apapun itu, sangat berharga bagi Author. Dan semoga saja, authornya selalu sehat agar tidak ada hambatan untuk menyelesaikan tulisan ini hingga tamat.

__ADS_1


__ADS_2