
Setelah mendengar penjelasan dari mereka, Sungsang Geni menjadi sedikit lebih paham. Padahal sebelumya, dia mengira lembah hantu adalah tempat yang telah mencakup seluruh wilayah ini, tapi rupanya tidak. Memang ada tempat yang di sebut sebagai lembah hantu, tempat tertua dan pertama di Negri Tumenang.
Setelah ke esokan harinya, 8 orang prajurit yang sedang melakukan patroli membawa Ki Demang beserta Sungsang Geni menuju tempat yang bernama Lembah Hantu.
Setelah berada di tepi jurang dalam, mereka meniti jalan setapak menyisir permukaan jurang itu. Tanah di sana berwarna hitam dan kasar, dasar jurang tidak terlihat meski Sungsang Geni memiliki pandangan yang sangat jauh.
Sepanjang jalan, terdapat tali yang dijadikan sebagai alat untuk berpegang. Jika saja tidak hati-hati, pastilah akan jatuh kedalam jurang dalam tanpa dasar. Tubuh Ki Demang bergetar kecil setiap melihat ke bawah, rasanya akan sulit melewati jalan ini.
“Apa Ki Demang takut?” tanya Sungsang Geni, satu-satunya orang yang tidak menggunakan tali untuk berpegang.
“Tentu saja...”
“Ki Demang mau aku bantu?” tanya Sungsang Geni lagi, sambil menyunggingkan senyum kecil.
“Bagaimana caranya, apa kau akan menggendongku?”
Baru saja selesai mengatakan kalimat itu, Sungsang Geni mencengkram pundak KI Demang dan menjatuhkan diri ke dalam Jurang. “AHHHHH...!” terdengar pekik panjang dari mulut pak tua itu.
8 orang prajurit juga terkejut bukan kepalang, mereka menduga Pemuda asing itu memang berencana membunuh pak tua itu. Tapi kecurigaan mereka lenyap sudah, ketika di sisi lain Sungsang Geni sudah mendaratkan Ki Demang dengan selamat.
“Di...dia bisa terbang, cak?”
“Ini bukan mimpikah?”
Banyak gumaman yang keluar dari dalam mulut 8 orang prajurit itu. Ada banyak orang yang bisa meringankan tubuh di Negri ini tapi terbang adalah pengecualian. Seingat mereka hanya Nyai Bidara yang mampu terbang, tapi melihat kemampuan Sungsang Geni mereka yakin bahkan Nyai Bidara bukan tandingan pemuda itu.
Butuh banyak waktu untuk menunggu 8 orang prajurit sampai di pintu masuk Lembah Hantu. Ki Demang bahkan merasa bosan duduk saja, sementara 8 orang prajurit masih meniti jalan kecil yang terjal.
Ketika mereka tiba, nafas 8 orang itu terdengar terpenggal-penggal.
__ADS_1
“Tunggu...biarkan kami menghirup nafas.” Berkata salah satu dari mereka dengan tubuh membungkuk dan tangan mencengkram perut.
“Gerr...” Panglima Ireng menggeram kecil, terlihat kesal karena harus menggiring 8 orang itu.
Pintu masuk Lembah Hantu hanyalah lubang seperti goa pada umunya, tidak ada yang istimewa ataupun tanda yang mencolok. Satu-satunya yang membuat orang tidak mau ke tempat ini, karena harus melewati jalan setapak yang terjal.
8 orang prajurit berjalan lebih dahulu, memasuki lorong panjang yang cukup gelap. Setelah berjalan cukup jauh, mereka menemukan banyak lorong lagi. Ini adalah lubang hantu, tempat pendatang tersesat dan tidak akan kembali lagi ke permukaan.
“Lorong ini melindungi kalian dari kejaran musuh?” tanya Sungsang Geni.
Suara pemuda itu memantul-mantul di dalam lorong, kemudian di iringi seperti suara dengungan panjang yang membuat telinga menjadi sakit.
“Jangan berkata di dalam lorong ini!” Ki Demang Mengingatkan dengan berbisik di telinga Sungsang Geni. “Semakin keras suara kita, semakin pekak pula telinga, bahkan bisa membuat orang tuli dalam seketika.”
Wajah Sungsang Geni menjadi buruk, dari semua orang di sana dialah yang memiliki telinga paling tajam lagi sensitif, sudah jelas suara dengungan barusan membuat kepalanya menjadi sedikit sakit.
Suasana di dalam remang-remang, tidak begitu gelap karena cahaya dari batu dan jamur menyala. Setelah berjalan cukup jauh, barulah mereka bisa melihat cahaya bersinar terang dari ujung lorong.
Sungsang Geni dibuat sangat takjub setelah berhasil melewati lorong hantu. Pemandangan indah menyambut dirinya. Air terjun besar berada di ujung mata, menciptakan pelangi besar.
Aliran air jatuh lagi ke jurang dalam tanpa batas. Menurut Ki Demang ada sungai yang mengalir di dalam tanah, dan langsung menembus ke dalam laut. Mungkin saja, sebab tiada orang yang pernah melihat dasar jurang, apakah air benar-benar mengalir ke laut atau pula mengalir ke luar negri ini.
Sungsang Geni melompat ke atas batu besar, tidak jauh dari dirinya beberapa belas tenda darurat berdiri. Dia yakin, salah satu diantar tenda itu pasti dihuni oleh Adipati Lingga.
Ukuran lembah hantu tidak seluas yang dia pikirkan.
Tempat itu dikelilingi oleh cadas tinggi yang ujungnya tidak terlihat, karena hal itu suasana di tempat ini selalu remang-remang kecuali ketika matahari berada di atas kepala pada tengah hari. Itu artinya panas di tempat ini hanya beberapa waktu saja, selebihnya akan terlihat remang-remang.
“Tempat ini dipenuhi dengan jamur dan lumut.” Ki Demang menjelaskan. “Ya, udaranya juga terasa sangat dingin dibanding di permukaan.”
__ADS_1
Sungsang Geni bisa melihat bayak pohon-pohon yang ditumbuhi lumut hijau, atau juga akar-akar panjang. Ketika pemuda itu menyentuh air, rasanya seperti menyentuh bongkahan es, karena dinginnya.
“Aku tidak cocok di tempat ini...” bergumam Kecil Sunsang Geni. “Suasananya, membuat aku ngantuk.”
Delapan Prajurit membawa Ki Demang dan juga Sungsang Geni menemui Adipati Lingga. Hanya butuh beberapa waktu saja, akhirnya mereka berdua sudah tiba di tenda darurat pimpinan itu.
Ada banyak prajurit di sana, mungkin sekitar dua ratus orang, mengenakan pakaian ala kadarnya dan golok sebagai senjata. Sungsang Geni bisa merasakan mereka semua berada di level Pendekar Kelas Tanding, beberapa mungkin berada di level pilih tanding.
“Kami datang membawa informasi!” membungkuk delapan orang itu setelah seorang pemuda dengan banyak luka di tubuhnya keluar dari dalam tenda.
Salah satu bekas luka membelah keningnya, membuat wajahnya terlihat menjadi lebih buruk. Adipati Lingga tersenyum kecil, terlihat sangat ramah.
“Ki Demang?” ucapnya segera buru-buru mendatangai pak tua di sampig Sungsang Geni. “Perjalanan anda pasti sangat melelahkan, ya...kami harus kembali ke desa lama untuk berlindung sementara waktu.”
Ki Demang terbatuk beberapa kali sebelum akhirnya berucap lirih. “Ya, sudah lama kita tidak berkumpul di tempat ini, dari sini semua berawal dan mungkin kita harus mengulanginya.”
Adipati Lingga kemudian memalingkan wajah kepada Sungsang Geni, wajahnya mengernyit untuk sesaat membuat goresan luka di keningnya semakin ketara.
“Hamba adalah Sungsang Geni.” Membungkuk pemuda matahari itu memberi hormat. “Pemuda asing yang tersesat ke dalam negri ini.”
“Gerr...gerr...” Panglima Ireng melompat dari belakang tepat di samping pemuda itu, sebelumnya dia menghilang untuk mencari makanan.
“Srigala!”Pekik semua orang di tempat itu. “Ambil tombak, jangan biarkan binatang ini mengoyak tubuh kalian.”
“Tenang...tenang...” ucap Ki Demang. “Srigala ini bernama Ireng, dia adalah teman dari pendekar muda, tidak berbahaya. Di perjalanan aku menunggangi pundaknya.”
Wajah Adipati Lingga belum membaik, dia kembali menatap Srigala itu kemudian menatap Sungsang Geni secara bergantian, hingga akhirnya pandangan pria itu jatuh tepat pada Ki Demang.
Pria itu berbisik kecil di telinga pak tua renta itu. “Apakah dia dapat dipercaya?”
__ADS_1