
Sungsang Geni kembali dari reruntuhan Tombok Tebing dengan wajah sedih dan lesu. Semua orang yang melihat keadaannya hendak bertanya, tapi tidak ada yang berani.
Pemuda itu menghempaskan tubuh di salah satu akar kayu yang menjorok keluar, kemudian meminum air dari kendi labu yang tergantung di pinggangnya. Dia minum banyak sekali, membuat air minum mengalir hingga membasahi dadanya yang bidang.
“Tuanku pendekar...” Bentara mendekati Sungsang Geni, selain bocah kecil itu tidak ada lagi yang berani mendekatinya. “Apa yang terjadi denganmu?”
“Ah...” Sungsang Geni menyeka air yang bercecer di bibirnya, dia memandangi bocah itu dalam-dalam kemudian kembali memandangi para pengungsi. “Tidak ada, aku hanya sedikit kesal melihat Istana Kerajaan Tombok Tebing yang sudah hancur.”
“Apa perlu aku mainkan sebuah lagu untukmu, tuanku.” Ucap Bocah itu lagi.
“Tidak perlu, aku baik-baik saja.” Sungsang Geni kemudian kembali beranjak. “Sebaiknya kita segera bergerak, jika tidak salah kita mungkin akan tiba di jalur kelabang dalam beberapa hari lagi.”
"Ma'af pendekar, aku tidak begitu tahu kenapa kau sangat peduli dengan Tombok Tebing, tapi yang kudengar Patih Mahesa berhasil membawa hampir 1000 orang lebih." Brewok Hita berbicara sedikit pelan, takut jika pemuda itu malah semakin kesal.
"Bgitukah?"
"Benar pendekar."
Mendengarnya sontak wajah risau Sungsang Geni kembali bercahaya. Dia begitu senang mengetahui Mahesa baik-baik saja dan berhasil mengungsikan 1000 rakyatnya.
"Paman Brewok kita lanjutkan kembali perjalanan!"
Brewok Hitam tidak membantah perkataan pemuda itu, jadi dia mengatur lagi barisan pengungsi dan berjalan lebih dahulu. Sejauh ini perjalanan mereka cukup aman, tidak lagi bertemu dengan para bandit atau juga prajurit Kelelawar Iblis yang sedang berpatroli.
5 hari berjalan akhirnya mereka tiba di jalur kelabang. Sekarang jalur itu tidak seramai ketika Sungsang Geni melewatinya. Ada banyak tumpukan benda yang terbakar, Sungsang Geni yakin itu adalah tumpukan mayat manusia.
Jika terus berjalan lurus, maka Sungsang Geni bisa melihat kerajaan Majangkara yang hanya tinggal puing-puing bangunan. Tapi mereka tidak mengambil jalan lurus, mereka belok ke kiri pada pertigaan.
“Kita akan menyusuri pesisir pantai Jaka.” Ucap Sibondol. “Setelah melewati pesisir pantai kita akan memasuki wilayah cukup aman, sebab ada banyak pos penjaga yang serikat Pendekar letakkan disana.”
“Berapa lama lagi kita akan tiba di pesisir pantai?” tanya Sungsang Geni.
“Mungkin satu minggu perjalanan lagi.” Jawabnya.
Setelah tiba di zona aman, Sungsang Geni berniat pergi lebih dahulu menuju titik pengungsian. Dia tidak memiliki banyak waktu, mendengar luka yang diderita Eyang Gurunya Ki Alam Sakti selalu membuat perasaannya risau.
__ADS_1
Pemuda itu berharap pada ramuan obat yang diberikan Tabib Nurmanik dapat membantu memulihkan kondisi gurunya. Itu mungkin satu-satunya cara.
Namun tidak beberapa lama ketika mereka mulai menjauh dari jalur kelabang, sekawanan srigala tiba-tiba datang menghadang. Ini adalah hal yang tidak pernah di prediksi oleh mereka semua, sebelumnya Brewok Hitam tidak menemukan sekawanan srigala ini.
“Apa yang terjadi?” tanya Sungsang Geni ketika para rakyat mulai berteriak histeris, dan balik haluan.
“Srigala tuan...srigala.”
“Srigala?” tanya Sungsang Geni, pemuda itu segera meluncur ke depan dan mendapati hampir 30 ekor serigala sedang menggeram kearah Brewok Hitam dan teman-temannya.
Sungsang Geni menarik napas berat, dia ingat salah satu kelebihan dari ajian ciung wanara yaitu bisa juga menaklukkan bangsa binatang. Jadi dia mencoba merapalkan ajian tersebut.
Setelah selesai, semua orang terkejut bukan kepalang sebab muncul asap tipis dari dalam tanah menimbulkan ledakan kecil. Asap itu lama-kelamaan menjadi sangat tebal lalu muncul sesosok orang tidak dikenal.
“Geni! Kenapa kau baru memanggilku sekarang?!” bentak orang itu yang tak lain adalah Pramudhita.
“Ma'af paman, sebenarnya aku tidak berniat memanggilmu.” Ucap Sungsang Geni sambil tertawa kecil. “Aku hanya tidak sengaja membaca mantra itu.”
“Apa kau sedang mempermainkan aku?” Pramudhita berteriak sambil memaki-maki.
“Jangan terlalu marah. Kau bisa cepat tua.” Goda Sungsang Geni, membuat raut wajah Pramudhita semakin merah. “Aku berniat menjinakkan mereka semua dengan ajian ciung wanara, tapi malah kau yang muncul.”
“Apa yang kau lakukan paman?” ucap Sungsang Geni, ketika melihat mulut Pramudhita sedang komat kamit membaca mantra.
“Aku merapal ajian ciung wanara.” Tutup Pramudhita setelah selesai.
Hanya dalam beberapa menit saja, sekawanan srigala itu mundur perlahan-lahan dan kemudian serentak berlari terbirit-birit karena ketakutan.
“Berhenti!” ucap Pria kekar itu.
Sungsang Geni dibuat tidak berkutik, setelah melihat sekumpulan srigala itu menuruti perintah Pramudhita. Mereka berhenti seketika, dan membalik badan seakan menunggu periantah pria itu selanjutnya.
“Astaga paman! Kenapa aku tidak bisa melakukan hal seperti itu? padahal aku juga merapalkan ajian ciung wanara sama seperti dirimu.”
Pramudhita tertawa kecil, dia sekarang merasa berada diatas angin sebab bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh Sungsang Geni.
__ADS_1
Dia menjelaskan sedikit mengenai ajian ciung wanara yang nampaknya tidak diperhatikan oleh Sungsang Geni. Selain digunakan membuat perjanjian dengan lelembut, ajian ciung wanara juga memiliki kegunaan lain.
Ya, menaklukkan bangsa binatang. Tapi masalahnya, manusia tidak bisa menaklukkan bangsa binatang dengan ajian itu.
Dengan kata lain, ajian cung wanara yang diperuntukan bagi binatang hanya berfungsi jika bangsa lelembut yang menggunakannya.
Sedangkan bagi manusia, ajian ciung wanara digunakan untuk bangsa lelembut. Cukup adil sebenarnya, tidak mungkin bangsa lelembut bisa menggunakan ajian ciung wanara untuk bangsanya sendiri?
“Geni apa kau mau melihat sesuatu yang menarik?” tanya Pramudhita.
“Apa itu?”
Pramudhita menepuk kedua telapak tangannya tiga kali, dan pada tepukan ketiga seekor srigala hitam keluar dari semak-semak dan berjalan tenang mendekati Sungsang Geni.
“Panglima Ireng?” ucap Sungsang Geni. “Apa kau...”
“Ger...gerr...” ucap Panglima Ireng kemudian menyodorkan moncong hitamnya ke tubuh Pemuda itu.
“Aku merindukan dirimu, Ireng.” Sungsang Geni segera memeluk srigala itu dengan erat, bahkan mereka berdua jatuh berguling.
“Gerr...gerr...”
“Jadi kau mengikutiku selama ini? kenapa aku tidak sadar?”
“Ger...Ger...”
Pramudhita tersenyum kecil. “Ternyata ajian ciung wanara berpengaruh terhadap Panglima Ireng, dan mengembalikan semua ingatan yang sempat hilang darinya.”
Pramudhita menemukan Panglima Ireng berniat menyerangnya di pinggir hutan ketika pria itu menjelma menjadi seekor srigala pula. Menunggu Sungsang Geni yang tidak kunjung memanggil dirinya, membuat Pramudhita memutuskan keluar dari alam lelembut mewujud menjadi binatang.
Pramudhita sempat bertarung dengan Panglima Ireng, hingga pada akhirnya dia merapalkan ajian ciung wanara membuat binatang itu berhenti bergerak.
“Apa itu sebuah keajaiban?” Sungsang Geni menggeleng-gelengkan kepala. “Aku tidak begitu tahu kenapa bisa seperti itu, tapi sekarang aku sangat senang.”
Panglima Ireng bergeram beberapa kali, kemudian memalingkan wajahnya pada rombongan srigala yang mulai ketakutan menatap dirinya. Dia menunjukkan gigi-gigi tajam di balik bibirnya, membuat sekumpulan srigala itu menundukkan kepala.
__ADS_1
“Wow...srigala betinaku benar-benar menakutkan.” Ucap Sungsang Geni, seraya mengelus kepala Panglima Ireng. “Aku punya rencana, kenapa tidak membiarkan mereka membantu para pengungsi hingga zona aman?"
“GERRR...!”