PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Di meja makan


__ADS_3

Sungsang Geni dan Cempaka Ayu kembali ke Istana Swarnadwipa sekitar 1/4 malam awal, kala itu pesta besar yang melibatkan semua rakyat sedang berlangsung meriah.


Sekarang mereka bisa melihat ada banyak pertunjukan yang sedang di adakan, tarian para gadis, sirkus hewan dan masih ada banyak lagi.


Acara ini sebenarnya sudah berlangsung semenjak pagi tadi. Di tempat itu, semua orang bisa menikmati berbagai macam makanan dan minuman secara gratis. Ya, Saylendra akan mengganti kerugian pedagang yang berjualan.


“Hem...acara yang meriah.” Sungsang Geni menyapu pandangan beberapa saat, kemudian bergegas menuju pintu belakang Istana yang di jaga sekitar 10 orang prajurit.


Meski begitu meriah, tapi tidak ada yang bisa masuk ke dalam Istana tanpa izin, itu adalah pelanggaran keras. Bahkan prajurit yang tidak memiliki kepentingan juga dilarang untuk memasukinya.


“Kami ingin bertemu dengan Raja Saylendra!” ucap Sungsang Geni.


Penjaga gerbang terlihat ragu, mereka saling melirik satu sama lain kemudian mengalihkan pandangan ke arah Sungsang Geni yang berpakaian compang-camping. “Pengemis, jika kau ingin makanan sebaiknya ambil saja di sana, itu geratis. Tapi kau tidak bisa diizinkan memasuki Istana!”


“Kami bukan pengemis dan kami tidak datang untuk makanan.” Cempaka Ayu terlihat kesal.


“Begini tuan, kedatangan kami ke sini untuk memberikan buah kelapa yang di sayembarakan oleh Raja Saylendra.” Sungsang Geni menunjukkan sepintas buah kelapa yang dia balut dengan pakaiannya . “Bagaimana apa kalian mengizinkan kami!”


Mendapati hal itu, salah satu penjaga itu berlari dengan buru-buru kedalam Istana. Butuh sekitar 20 menit lamanya hingga terlihat Saylendra itu sendiri datang di ikuti oleh seorang Hulubalang yang perkasa.


Tidak lupa pula seorang tabib muda, gadis berwajah manis, mengekor di belakang mereka. Ketika gadis itu melihat wajah Sungsang Geni, dia tersenyum manis.


“Kenapa kalian membiarkannya duduk diluar?” Saylendra berkata berat kepada semua penjaga pintu Istana. “Anak muda, mari masuk! Ma'afkan aku karena terlambat menyambutmu.”


Sungsang Geni tersenyum kecil, sedangkan Cempaka Ayu terlihat kesal menunggu lama di luar Istana dan di perlakukan kurang baik oleh para prajurit penjaga.


Sebelum memasuki Istana, Hulubalang merentangkan telapak tangannya. “Ma'af Yang Mulia, tapi aku ingin melihat kelapa yang di bawa oleh pemuda ini.”

__ADS_1


Pemuda matahari itu lantas menyerahkan buntelannya, Saylendra memperhatikan beberapa saat buah itu kemudian menyerahkannya kepada tabib muda di belakangnya.


Cukup lama, gadis itu membolak-balik posisi kelapa beberapa keli, kemudian dia terkejut bukan kepalang.


“Ada apa?”tanya Saylendra.


“Ini benar-benar kelapa gading, energinya tiba-tiba saja keluar hingga membuatku terkejut.”


Rasa bahagia lalu menyelimuti wajah Raja itu, dia lantas membawa Sungsang Geni dan Cempaka Ayu dengan buru-buru. Raja itu memerintahkan beberapa dayang untuk melayani mereka berdua, memberi dua buah kamar yang megah lengkap dengan pemandian dan baju ganti.


Dua orang dayang berwajah cantik membawa keduanya pada lantai tertinggi di Istana Ini. Hanya anggota kerajaan yang di izinkan untuk berada di lantai itu, sedangkan tamu kehormatan berada di lantai sebelumnya.


Semua orang yang memperhatikan pakaian Sungsang Geni, jelas tidak menyangka bahwa pemuda itu berhasil mendapatkan kelapa gading, yang bahkan semua prajurit di Negri ini tidak sanggup melakukannya.


Bukan hanya prajurit, pendekar dari Negri tetangga juga pernah berniat memenuhi sayembara yang di adakan Saylendra satu bulan sekali. Tapi tidak ada yang kembali dengan selamat.


“Apa kau ingin kami menemanimu tuan pendekar?” salah satu dari dayang cantik bertanya.


“Apa? Tidak, tidak, aku bisa melakukan semuanya sendiri.” Sungsang Geni kemudian tersenyum kecil, membuat dua dayang yang bersama dirinya tersipu malu.


“Kalau begitu, kami akan pergi. Bersantailah dengan nyaman!” kedua dayang membungkukkan badan, lalu malu-malu meninggalkan pemuda itu.


Setelah dia telah selesai membersihkan tubuh, dan mengenakan pakaian yang nyaman, terdengar ketukan pintu diluar kamarnya.


“Cempaka?” Sungsang Geni menemukan gadis itu berdiri dengan anggun, mengenakan pakaian dan selendang berwarna hijau, matanya yang bulat dengan bibir tipis seakan berpadu padan dengan pakaiannya. “Kau sangat cantik...oh bukan, maksudku kenapa kau datang ke kamarku malam-malam begini?”


“Tuan pendekar, Raja Saylendra mengundang kalian berdua makan bersama.” Rupanya ada dua orang dayang bersama dengan Cempaka Ayu berdiri di balik pintu, dengan wajah sedikit kesal.

__ADS_1


Dua dayang itu sedikit iri dengan kecantikan Cempaka Ayu, mereka tidak menyangka gadis itu akan terlihat sangat anggun dengan pakaian yang dikenakannya. Seolah pakaian itu memang di tempa untuk tubuhnya.


Sungsang Geni dan Cempaka Ayu kemudian tiba di ruang makan yang luar biasa besar, dengan menu-menu yang terhampar di atas meja mewah yang dilapisi dengan emas.


Di sana sudah ada beberapa orang seperti Raja Sayelendara, putrinya yang sedang menimang anakanya dan juga Wira Mangkubumi. Kemudian ada lebih banyak pelayan makanan dan beberapa prajurit dan Hulubalang.


“Duduklah!” ucap Saylendra, wajah Raja itu terlihat berbinar-binar, Sungsang Geni dapat menebak bahwa Sang Ratu baru saja meminum air di dalam kelapa gading yang dia bawa.


“Arak?”


“Tidak!” jawab pemuda itu. “Ini, aku akan hanya meminum air putih.”


“Ah, kau harus mencobanya sekekali! Tabib bilang, nyawa istriku tidak akan bertahan lama lagi jika obat itu tidak di dapatkan. Aku hampir berputus asa, kami semuanya terbentur dengan pikiran sempit. Ada banyak orang hebat di tempat ini, tapi tidak...,.tidak ada yang berhasil.”


“Hingga kau akhirnya membawa buah itu, sekarang Sang Ratu sedang tertidur pulas. Di situasi berisik seperti ini, beliau bahkan dapat tertidur nyenyak.” lanjut Windur Hati, putri dari raja Saylendra.


Windur Hati rupanya masih cukup muda, sekitar umur 20 tahunan. Meski sudah memiliki seorang putra, tapi wajahnya masih terlihat berseri. Saylendra memang memutuskan untuk menikahkan putrinya lebih cepat, berharap garis keturunan Swarnadwipa cepat di dapatkan.


Sementara itu, Wira Mangkubumi mungkin seusia Pramudhita. Di mata Sungsang Geni, mereka berdua tampak serasi, Wira Mangkubumi tidak merasa segan untuk menyuapi Istrinya di depan Sungsang Geni dan Cempaka Ayu.


Tabib mengatakan bahwa efek dari air kelapa gading akan bereaksi selama 2 hari lamanya, selama itu pula Ratu Rindang Sari tidak akan terjaga. Namun demikian penyembuhan bisa saja lebih cepat, jika tubuh Rindang Sari cukup kuat menahan efeknya.


Ketika mereka semua sedang asyik makan, tiba-tiba Wira Mangkubumi menegur Sungsang Geni yang terlihat sangat risau. “Tuan pendekar, apa kau tidak menyukai makanan yang kami hidangkan?”


“Benar, kenapa kau terlihat tidak begitu bersemangat.” Sambung Windur Hati. “Juru masak kami akan membawa makanan lain, jika ada yang kau inginkan.”


“Tidak, aku memiliki sebuah informasi yang sangat penting. Aku harap kalian tidak akan terkejut mendengarnya.”

__ADS_1


__ADS_2