PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Pergerakan Kegelapan


__ADS_3

Gemuruh tanah bergetar, aura dingin merayap pelan bersama kabut hitam dan awan tebal menyelimuti langit siang. Seolah tiada lagi harapan bumi mendapat sinar dari sang surya. 30 ribu pasukan berjalan dengan gajah-gajah dan badak besar sebagai pembuka jalan. Ratusan pohon tentu tumbang, rumput kecil dan semak belukar menjerit, terinjak dan layu seketika.


Pada puluhan prajurit itu, berkibar bendera kekuasaan Kelelawar Iblis, melambai-lambai seolah itu adalah tangan dewa kematian. tidak kurang seratus gajah dan badak di barisan paling depan, sebagai pembuka jalan agar 30 ribu pasukan bisa melaju tanpa halangan. Di belakang seratus gajah, ribuan penunggang kuda menyuarakan seruan yang sama.


"HIDUP KELELAWAR IBLIS, TAKLUKAN DUNIA!" Kalimat itu benar-benar menggema di udara, menyatu dengan tumbangnya rimba raya.


Semua orang menggunakan zirah perang berwarna hitam dengan topi baja dan topeng hitam. Senjata mereka lengkap dari tombak sampai dengan pisau. Alangkah hancurnya lawan terkena serangan mereka untuk kali ini. Itu adalah pasukan terkuat dan tersisa yang dimiliki Topeng Beracun.


Burung-burung di hutan segera terbang ketakutan, tapi ketika mereka melaju kearah timur menghirup kabut hitam, sekawanan burung mati seketika. Hingga pada saat itu, banyak burung jatuh dari langit.


Tidak ada lagi yang berani mendekati mereka, mulai dari binatang melata sampai dengan binatang berkaki empat, semua tunggang langgang menjauh. Lebar barisan itu mungkin 50 depa, tapi panjangnya hampir tidak dapat dilihat ujungnya.


Mereka mulai berjalan sejak kemarin siang, membawa malam dan menyingkirkan siang. Jika keadaan sesuai dengan perkiraan, mereka akan datang satu bulan lagi ke Markas Petarangan.


Tapi sialnya, sebelum sampai tiga kerajaan yang dahulu pernah menyongsong kelompok ini mungkin akan di sapu rata, jadi kemungkinan mereka tiba di Markas Petarangan lebih dari 30 hari lagi.


Kali ini kelompok itu tidak akan tergesa-gesa, mereka berjalan rapi dan menyisir semua tanah yang ada di dataran Java tanpa terkecuali. Hutan, bukit dan lembah tidak ketinggalan. Mereka akan memeriksa semua tempat, dan menghancurkannya jika ditemui jejak-jejak kehidupan.


"Tidak ada yang boleh selamat kali ini, siapapun mereka!" ucap Lemah Abang. Sifat pria itu benar-benar mirip seperti dua Komandan yang lainnya. Dia duduk pada gajah besar yang berbulu lebat.


Gajah itu dikendalikan oleh lima orang prajuritnya, dan dia duduk pada singasana kebesaran sebagai Komandan. Gading gajah luar biasa panjang, diselimuti dengan logam yang memiliki gerigi. Ya, semua gajah dan badak memiliki logam bergerigi di bagian gading dan tanduk mereka. Jikalah manusia terkena dengan benda itu, barangkali akan menjadi beberapa bagian karena tajam dan kuatnya hewan itu.


Di tengah pasukan itu, dengan gajah yang paling besar dari semua gajah yang ada, Topeng Beracun duduk dengan bangga, seolah telah melihat kemenangan di tangannya. Masa depan kelompoknya terlihat jelas di depan mata, mungkin saja.

__ADS_1


"Mungkarna!" ucap pria itu menoleh pada Komandan Pertamanya yang duduk dengan badak besar di sebelah gajahnya. "Bagaimana tiga raja yang melarikan diri dari Istanaku?"


Komandan Pertama yang ternyata bernama Mungkarna membungkuk memberi hormat. "Dua Raja Sudah mati tuan, tapi prajurit belum menemukan keberadaan Wururia?"


"Wururia, pak tua itu?" sorot mata Topeng Beracun menjadi dingin lagi tajam. "Kita hancurkan semua kerajaan di depan kita, tidak ada yang harus disisakan. Semua orang berkhianat pada akhirnya, sedangkan Surasena akan menjadi menu utama."


"Kita akan menemukan negri Siranda di sisi timur dalam lima hari kedepan..." ucap Mungkarna.


"Ya...kita hancurkan negri itu tanpa tersisa..."


***


Di Padepokan Pedang Bayangan, saat ini sedang mempersiapkan segala sesuatu guna membantu Sungsang Geni menghadapi musuh-musuhnya. Tidak ada yang begitu pintar dalam taktik berperang, tapi jika hanya membunuh mereka semua tentu ahlinya.


Sementara itu beberapa orang yang memiliki tenaga dalam sebesar 4 jule lebih, sekarang berlatih menghimpun energi alam. Semenjak segel tiga kristal suci lenyap, tidak ada lagi tanaman dengan energi kehidupan tumbuh di tempat ini.


Sikembar setelah mengetahui bahwa lawan mereka akan lebih kuat dari ketika mereka melawan Sriyu Kuning, berlatih lebih giat lagi. Dua gadis itu pernah merasakan kekalahan ketika berhadapan dengan Sriyu Kuning. Jika tidak berlatih dengan keras, bukan mustahil mereka akan menjadi beban saja.


Semenjak kembali dari Istana Laut Dalam, Resi Irpanusa beserta Pramudhita memutuskan untuk bersemadi selama 7 hari 7 malam lamanya. Mereka harus mencapai level pendekar iblis dalam waktu tujuh hari itu.


Dari cerita yang di jelaskan Sungsang Geni, akan ada dua komandan yang memiliki kemampuan sangat kuat. Mereka berada pada puncak pendekar iblis, jadi setidaknya pada saat perang, baik Resi Irpanusa atau pula Pramudhita bisa mengalahkan satu dari dua komandan itu.


Mereka tidak tahu padahal sudah ada satu komandan lagi yaitu Lemah Abang.

__ADS_1


Kekalahan telak Pramudhita adalah bukti bahwa kekuatan pria itu sangatlah lemah. Meski telah dibantu oleh siluman para naga, buktinya Pramudihita tidak bisa mengalahkan Jaka Balabala kala itu.


Sementara itu, Tabib Nurmanik meracik banyak sekali ramuan. Dia beserta tabib-tabib muda mungkin tidak akan berhadapan secara langsung melawan Kelelawar Iblis, tapi keberadaan mereka akan sangat membantu.


Satu perpustakaan bertingkat berhamburan dengan buku-buku. Nurmanik selalu mencoba menemukan resep ramuan agar penyembuhan bisa berjalan lebih cepat dari sebelumnya.


"Gunakan tumbuhan serat naga..." wanita tua itu berucap pada salah satu muridnya. "Campurkan dengan kuntum biru, dan juga minyak ular."


Tiga bahan bersatu dalam kuali besar, bau anyir jelas tercium sangat menyengat. Lima detik setelah ramuan itu bercampur, kuali besar meledak. Seluruh isinya berceceran di lantai.


"Ramuan ini bertolak belakang..." ucap Tabib Nurmanik. "Barangkali Kuntum Biru." Tumbuhan berduri yang mirip seperti kubis. " Tidak bisa dicampurkan dengan minyak ular sanca."


"Bagaimana jika diberikan satu sendok garam?" ucap muridnya.


"Patut di coba..." jawab Nurmanik tidak patah semangat.


Ketika kuali kedua kembali di isi, semua ramuan dipanaskan di atas tungku. Tabib itu mulai menaburi garam halus kedalam air mendidih. Cukup lama wanita tua itu menunggu, tidak ada tanda-tanda akan terjadinya ledakan.


"Baunya masih anyir, tapi reaksi dari empat ramuan tampaknya telah seimbang..." ucap Tabib Nurmanik.


Setelah ramuan mendingin, Tabib itu adalah orang pertama yang menguji ramuan tersebut. Dia melukai telapak tangannya dengan pisau, luka di telapak tangannya cukup besar sehingga darah menetes menodai lantai perpustakaan.


"Lihat guru..." ucap salah satu muridnya, setelah satu tetes ramuan itu menyentuh tepi luka di telapak tangan. "Kita berhasil menciptakan obat yang sangat mujarab, ini adalah obat luka terbaik yang berhasil kita buat."

__ADS_1


"Benar, selagi nyawa masih berada di kandung badan, kita sebagai tabib akan terus menyelamatkan mereka yang terluka."


Uthor tidak sempat ngetik banyak, listrik mati soalnya. Oh ya, author punya kontrak 60 ribu kata per bulan dari noveltoon, jadi meskipun hari ini hanya satu capter, tentu author tetap menggenapi 60 ribu kata pada hari lain. Semoga kalian memahami.


__ADS_2