PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Prahara Swarnadwipa2


__ADS_3

Sungsang Geni tidak menduga rencana Minak Singo dilakukan secepat ini. Ini tidak sama dengan apa yang dipikirkannya. Bukan hanya putra Wira Mangkubumi, tapi Saylendra juga menjadi sasaran mereka.


Tidak beberapa lama, Pramudhita muncul di hadapan pemuda itu secara gaib. Sungsang Geni mencari tempat aman untuk berbicara, sementara kerumunan orang sedang membantu kondisi Windur Hati.


“Geni, aku sudah menyekap Raja Renggolo di dalam kamarnya, tapi peristiwa ini sama sekali tidak kita duga. Menurutmu apakah mereka menangkap langsung Saylendra dan cucunya?”


“Entahlah Paman, aku tidak menyangka situasinya seburuk ini.” Kepala Sungsang Geni terasa sakti saat ini. “ Nampaknya Minak Singo memiliki banyak rencana cadangan, mungkin saja ada pesuruhnya yang menyelinap atau....?”


“Atau apa, apa kau mencurigai seseorang?”


“Atau mungkin salah satu dari Hulubalang adalah penghianat, apa menurutmu itu terdengar masuk akal, Paman?” Sungsang Geni mengelus dagunya beberapa kali.


Pramudhita nampak berpikir, pengamanan Sang Raja tentu sangat ketat. Tidak mungkin ada orang sembarangan yang bisa menyentuh dirinya, ada banyak prajurit dan Hulubalang yang menjaga raja itu.


Tapi jika pelakunya adalah salah satu dari Hulubalang itu sendiri, maka situasi seperti ini mungkin saja terjadi.


“Kita harus kembali ke ruang makan, pasti ada petunjuk yang bisa kita dapatkan di sana?”


Sungsang Geni buru-buru kembali ke ruang makan, dimana darah masih berceceran sementara para mayat sudah di angkut oleh beberapa prajurit untuk dikuburkan.


Sejauh ini, para rakyat belum ada yang tahu mengenai situasi yang terjadi di dalam Istana. Informasi seperti ini tidak boleh bocor untuk sekarang, atau akan menimbulkan masalah-masalah baru.


Sungsang Geni mulai mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk, setelah beberapa puluh menit dia menemukan sebuah bubuk putih berhamburan di kaki salah satu meja makan.


Pramudhita segera mencium bubuk itu dengan hidung tajamnya, kemudian dia beresin beberapa kali. “Ini adalah bubuk tidur, aku sangat yakin itu. Mereka mungkin memasukannya ke dalam air minum, atau digunakan sebagai penutup mulut.”

__ADS_1


“Jadi mereka belum membunuhnya?” gumam Sungsang Geni, kemudian berjalan perlahan pada sebuah jendela kaca yang bening. “Tidak mungkin orang itu melewati jendela kaca, karena ada ratusan rakyat yang akan melihatnya.”


Jika tidak lewat jendela lalu lewat mana? Sungsang Geni berpikir berat mengenai hal itu, keningnya mengernyit menojolkan urat-urat seperti cacing di balik kulitnya.


Tidak beberapa lama kemudian, Wira Mangkubumi beserta 2 Hulubalang datang. Mereka juga sedang mencari petunjuk, salah satu dari Hulubalang nampaknya sedikit lebih pintar dan teliti.


“Bagaimana kondisi Istrimu?” tanya Sungsang Geni.


“Kondisinya sudah membaik, luka yang dia dapatkan nyaris saja mengenai organ vitalnya.” Wira Mangkubumi memandangi Sungsang Geni dengan banyak pertanyaan di benaknya. “Kenapa kau mengetahui hal ini? Siapa sebenarnya dirimu?”


Sungsang Geni mengerti saat ini, Wira Mangkubumi sedang mencurigainya. Itu wajar saja, sebab tidak ada yang tahu mengenai hal ini selain pemuda matahari itu beserta teman-temannya.


Tapi kecurigaan Wira Mangkubumi tidak beralasan, itu lebih seperti pelampiasan kesal, amarah yang tidak tahu harus mencurahkannya kepada siapa.


“Aku mendengar orang yang bernama Pangeran Minak Singo merencanakan penculikan terhadap putramu.” Sungsang Geni kemudian menjelaskan semua informasi yang dia dapatkan ketika berada di rumah makan bubur jamur.


“Aku akan membunuhnya, tentu saja aku akan meremuk mereka semua.” Wira Mangkubumi mengumpat serapah.


“Tunggu...” Sungsang Geni mencoba mencegahnya. “Kita tidak bisa terburu-buru tanpa rencana, mereka memiliki puteramu dan juga Raja Saylendra.”


Namun apapun yang dijelaskan Sungsang Geni bagai angin lalu, pria itu pergi dengan tombak panjang di iringi puluhan prajurit menuju kamar Minak Singo.


Suara dobrakan kemudian terdengar, pintu kamar Minak Singo terbelah menjadi dua. Tapi sekarang tidak ada siapapun lagi di ruangan itu, kecuali sebuah catatan yang tergores dengan menggunakan darah di dinding kamar.


Isi catatan itu mengatakan Wira Mangkubumi harus datang ke suatu tempat di ujung Ibu Kota Kerajaan Swarnadwipa sendirian, tanpa pasukan dan tanpa senjata. Jika hal itu tidak di indahkan maka kedua orang yang ditawan mereka akan kembali tanpa nyawa.

__ADS_1


“Aku akan ke sana...” Wira Mangkubumi melepaskan tombaknya.


“Tunggu, aku yakin mereka sudah menyiapkan rencana buruk kepadamu.” Sungsang Geni untuk kesekian kali memperingatkan pria itu. “Mereka akan memanfaatkan situasi ini untuk mengendalikan dirimu.”


“Pemuda asing! Aku tidak memiliki pilihan lain, dan aku tidak butuh nasehat dan peringatan dari dirimu. Sekarang putraku dan juga Raja Saylendra dalam masalah, menurutmu apa aku harus berdiam diri, lalu menunggu kematian datang kepada KELUARGAKU?” Suara Wira Mangkubumi menaik, sekarang semua yang dia lakukan sepenuhnya dipengaruhi oleh emosi, dan itu bukanlah hal baik.


Sungsang Geni beberapa kali melihat orang bertindak seperti yang Wira Mangkubumi lakukan, dan hasilnya tidak akan berjalan baik. Tapi seperti yang pria itu katakan, Sungsang Geni adalah orang asing yang tidak memiliki hak untuk ikut campur.


Dalam benak Sungsang Geni terdengar suara Pramudhita yang terkekeh kecil. “Biarkan dia pergi, aku akan mengikutinya.”


***


Tangisan bayi terdengar memekakkan, kalau bukan karena bayi itu adalah kunci dari rencana yang mereka bangun, sudah dari lama Minak Singo melemparkannya ke dalam Sungai.


“Bawa bayi ini menjauh dariku!” perintah dia kepada salah satu prajuritnya. “Beri dia apapun agar diam, suaranya membuat telingaku sakit.”


Sekarang di tempat itu hampir semua prajurit dari Negri Sembilan telah berkumpul di rumah tua yang letaknya paling jauh dari pemukiman penduduk. Di belakang Rumah itu mengalir deras muara sungai yang beradu dengan gelombang air laut.


Ini adalah rumah salah satu penduduk yang sudah lama di tinggalkan, tapi demikian bentuknya masih terlihat kokoh. Berdiri di dataran tinggi, dimana lautan luas mulai mengikis dataran itu.


Senopati Legam menyiram wajah Saylendra dengan segentong kecil air, menjagakan Raja itu dari tidur lelapnya. Matanya masih berat untuk dibuka, kepalanya masih terasa sakit dikarenakan pengaruh bubuk tidur.


Hingga berapa saat pria itu terjaga, bahwa dirinya sekarang sudah berada di dalam sarang harimau. Pria itu meronta, berusaha melepaskan rantai yang melilit seluruh tubuhnya , tapi percuma saja rantai itu sudah dialiri tenaga dalam agar bisa menekan tenaga dalam Saylendra.


“Apa kau tahu apa yang akan terjadi karena perbuatanmu ini?!” Saylendra menahan suaranya karena geram. “Kalian akan menjadi musuh Swarnadwipa, bahkan meski jika aku mati. Sebelum terlanjur jauh, sebaiknya kau....”

__ADS_1


“Hahahaha....Hahahaha!!” Minak Singo tertawa terbahak-bahak lalu mendaratkan sebuah tamparan keras di wajah Saylendra. “Kau tidak dalam posisi bisa mengancam Saylendra, nyawamu tidak berharga bagiku, tapi dia akan melakukan apapun demi nyawa putranya.”


__ADS_2