PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Pendekar Sumpit


__ADS_3

Keesokan harinya, Sungsang Geni ditemani dengan Siko Danur Jaya dan juga Dirga pergi ke utara menuju sebuah gunung aktif. Sementara itu selama mereka pergi, Mahesa akan memimpin pasukan itu.


Mereka menggunakan kereta yang ditarik dengan 6 ekor kuda, sementara itu Dirga adalah tukang kusir. Sungsang Geni tidak akan menaiki kereta, jadi dia bersama Panglima Ireng berjalan memimpin laju kuda.


Sekekali 6 ekor kuda meringkih sedikit takut memperhatikan Panglima Ireng yang menyembulkan gigi taringnya.


“Ireng apa kau ingin merusak perjalanan kita?” Sungsang Geni menepuk kepala srigala itu.


“Gerr...gerr...” Panglima Ireng menyunggingkan senyum terbaiknya, tapi tentu tetap saja menakutkan bagi para kuda.


Dua jam kemudian mereka menemukan perkampungan yang sudah lama tertinggal. Tidak ada satupun mahluk ditempat itu kecuali beberapa ekor tikus yang bekejar-kejaran di antara punging-puing bangunan.


Dirga memperhatikan sekelilingnya, ada palang nama yang terkulai di tiang gerbang. 'Desa Bojong Asih,' dia mengeja tulisan itu.


Kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan, tidak ada yang istimewa dengan Desa Bojong Asih selain hamparan sawah yang dipenuhi dengan rumput. Setelah 5 jam mereka berjalan, sekarang menemukan sebuah air terjun yang cukup deras.


Sungsang Geni kembali menghentikan langkah kaki Panglima Ireng. Mereka beristirahat sejenak di tempat itu, sambil membuka beberapa makanan untuk mengganjal perut yang keroncongan.


Cukup lama di sana, hingga akhirnya pemuda itu merasakan sosok orang sedang mengintai mereka dari atas tebing, tepatnya dari pangkal air terjun ini.


“Hustt...” Sungsang Geni meletakkan jari telunjuknya di bibir. “Ada orang lain di tempat ini selain kita bertiga.”


“Apa yang akan kita lakukan, Geni?” bisik Siko Danur Jaya, pemuda itu telah memasukkan dua tangannya ke dalam jubah, menarik 6 jarum, sementara itu Dirga mulai meletakkan jari-jemarinya pada gagang pedang.


“Bersikaplah sewajar mungkin, kita tidak tahu mereka adalah musuh atau juga teman.” Sungsang Geni kembali melanjutkan makannya, seolah tidak mengetahui kedatangan orang itu, tapi Siko Danur Jaya dan Dirga masih terlihat waspada.


5 menit kemudian, sekelebat bayangan kembali bergerak. Kali ini cukup dekat di belakang mereka bertiga. Siko Danur Jaya dan Dirga sekarang sudah bisa merasakan kedatangan beberapa orang yang sangat mencurigakan.

__ADS_1


Setelah 5 menit kemudian, Sungsang Geni berdiri dari tempat duduknya kemudian menyapukan pandangan lalu berhenti pada pohon jauh di hilir sungai. Pohon itu sedikit lebih gelap dan besar.


“Jangan mengeluarkan senjata kalian!” Sungsang Geni mengingatkan. “Ada lebih dari 10 orang saat ini, dan pemimpinnya mungkin berada disana!”


Menyadari lokasinya sudah diketahui Sungsang Geni, orang itu keluar dari balik pohon. Dia melompat 3 kali, dan Lompatan ke empat sudah tiba tepat di hadapan Sungsang Geni. Ilmu meringankan tubuh pria itu tidak terlalu buruk.


Dengan datangnya pria itu, maka muncul pula 12 orang, tidak! Tapi 15 orang pria kekar. Mereka mengenakan pakaian dengan bahan kulit binatang, menggunakan anting dari kuku harimau dan juga gelang dari duri landak.


Yang terlihat sebagai pimpinannya mengenakan ikat kepala dari tumbuhan rambat. Sungsang Geni bisa melihat peradaban mereka lebih tertinggal dari Perguruan Pedang Bayangan.


Senjata mereka sebuah bambu panjang berwarna kuning, tapi memancarkan aura yang sedikit aneh. Ada energi yang memancar dari tongkat itu.


“Siapa kalian bertiga, kenapa kalian memasuki wilayah kami?” Suara pria di depan Sungsang Geni nyaris seperti geraman Panglima Ireng. “Apa kalian mata-mata?”


Siko Danur Jaya bahkan tidak mengerti dengan bahasa yang diucapkan pria itu, sangat serak dan dalam. Kalimat demi kalimat yang dia ucapkan seperti gumaman.


Sungsang Geni memberi hormat, kemudian mulai berkata pelan. “Kami adalah pengembara tuan, tujuan kami adalah gunung di sana! Ada sesuatu yang harus kami ambil dari gunung itu.”


“Tidak boleh!” bentak orang itu, mengejutkan Siko Danur Jaya. “Tidak ada yang boleh datang ke gunung keramat milik kami, sebelum aku marah, lebih baik kalian tinggalkan tempat ini!”


Sungsang Geni terdiam beberapa saat, pemuda itu berpikir cukup lama sementara kedua temannya seperti tidak bisa lagi menahan emosi. Tidak ada yang menyukai pria yang suka membentak.


Untung saja hari ini tidak ada Cempaka Ayu, jika gadis itu ada dan mendapat perlakuan seperti ini, tidak ada jalan lain kecuali bertempur.


“Begini Kisanak, kami hanya mengambil sufur dari gunung itu, kami tidak akan mengambil apapun, kecuali benda itu.” Sungsang Geni kemudian memberi contoh segenggam sufur yang dia bawa. “Benda ini tidak akan berguna untuk kalian, bukan?”


Tapi siapa menduga, melihat hal itu orang itu malah semakin marah. Dia mundur 10 langkah ke belakang, diikuti semua bawahannya, kemudian senjata yang dikira Sungsang Geni sebagai tongkat itu diletakkan di mulut dan ditiup ke arah langit.

__ADS_1


“Ini adalah sumpit?” Sungsang Geni memberi peringatan kedua temannya. “Senjata itu dirancang untuk menikam jantung lawannya, berhati-hatilah!”


10 detik kemudian, 16 jarum sumpit melayang ke langit lalu mulai menyebar dan mengarah ke jantung Sungsang Geni dan kedua temannya. Hanya binatang yang tidak terpengaruh dengan mata sumpit itu.


Siko Danur Jaya melompat beberapa kali ketika 5 jarum mengarah ke jantungnya, pada saat yang sama dia juga melepaskan 5 jarum kecil kearah orang-orang berpakaian aneh itu.


Tapi serangan Siko Danur Jaya dapat dihindari dengan mudah, kemudian pemuda itu kembali melepaskan satu jarum berukuran kecil dan sekali lagi mereka bisa menghindarinya.


Jarum Siko Danur Jaya menancap di beberapa batang, tapi jarum sumpit mereka bisa berbelok arah dan kembali menyerang.


“Kau tidak akan bisa menghindari mata sumpitku, ini adalah ajian Tarian Jarum Kematian.” Pemimpin kelompok itu terkekeh kecil melihat lawannya kesulitan menghindari jarum sumpit, tapi kemudian wajahnya menjadi sedikit tegang menyadari Sungsang Geni hanya bergerak malas untuk menghindari jarum sumpitnya.


“Kau boleh juga,” Ucap pria itu, lantas melepaskan kembali serangan ke udara, semua bawahannya melakukan hal yang sama, dan sekarang targetnya hanya Sungsang Geni seorang.


Tapi keterkejutan mereka tiba-tiba tidak dapat disembunyikan, mata sumpit berhenti satu jengkal dari tubuh Sungsang Geni. Jarum-jarum kecil itu tidak bisa melaju lagi, seperti ada penghalang tidak kasat mata yang melindunginya.


Dengan satu hentakan kaki, seluruh mata sumpit itu hancur.


Orang itu membuka matanya lebar-lebar, tidak pernah menduga mata sumpit kesayangannya hancur tepat di depan matanya. Dia tersedak napasnya sendiri, kemudian tanpa berpikir panjang melarikan diri.


15 orang yang lain mengikuti pemimpinnya, tapi salah satu dari pria itu mendapat serangan dari Siko Danur Jaya di bagian kaki, membuat dia jatuh di bebatuan antara sungai dan daratan.


“Jarum milikku tidak harus mengenai jantung untuk membunuh.” Siko Danur Jaya mendekati pria itu, dia menunjukkan 3 jarum diantara jarinya berjaga-jaga kalau saja pria itu akan melarikan diri.


“Kami memiliki pengetahuan dibidang racun.” Pria itu berkata geram. “Racun pada jarummu belum seberapa, tidak akan bisa membunuhku.”


Kemudian Dirga melompat tepat di hadapannya, mengeluarkan sebilah pedang sambil tersenyum sinis. “Lalu apa yang bisa membunuhmu? Kau tidak bisa melarikan diri?”

__ADS_1


Hai teman, bagaimana apa kalian suka? Jangan lupa dukung PDM, dengan like koment dan vote sebanyak-banyaknya. Dukungan kalian adalah pendorong imajinasi Author.


__ADS_2