
Sungsang Geni membuka matanya ketika matahari mulai berada tepat diatas kepalanya. Cahaya matahari terang menerpa seluruh tubuhnya yang dipenuhi luka, membuat dia meringis kepedihan. Dia mengira pertempuran itu baru saja selesai beberapa jam yang lalu, tapi kenyataannya, Sungsang Geni telah 2 hari tak sadarkan diri.
Pemuda itu spontan beranjak ketika suara mendengus berada di dekatnya. Dia mundur beberapa langkah, sementara ada gerakan di balik rumput ilalang yang membentuk gelombang dan bergerak menuju dirinya.
Namun keterkejutan itu segera sirna setelah melihat 3 ekor brang-brang menampakan diri. Melihat Sungsang Geni, hewan pemakan ikan itu memutar arah dan masuk kedalam danau. Danau luas yang ber air biru.
Lengan kanannya mulai menyerap energi matahari tanpa disadari pemuda itu. Dia baru sadar setelah lengannya memancarkan warna keemasan.
Sungsang Geni terkejut lengan kannya sedikit berubah. Masih berbentuk lengan memang, tapi kulitnya terlihat sedikit transparan, memperlihatkan urat-urat yang yang dipenuhi energi berwarna kuning kemerahan.
“Apa yang terjadi dengan tangannku?” ucap Sungsang Geni, dia berusaha menciptakan sebuah api, tapi sayangnya tidak ada yang terjadi dari jentikkan jarinya. “Ini aneh? kenapa menjadi seperti ini? perasaanku seperti sedang bermimpi ketika mengejar Banduwati.”
Sungsang Geni meraba seluruh tubuhnya yang dipenuhi luka, sekarang sudah mulai berhenti berdarah, tapi ketika Sungsang Geni bergerak lebih agresif luka-luka di sekujur tubuhnya kembali terbuka.
"Ini sangat buruk!" gumamnya.
Rasa haus yang sangat, menuntun dia untuk berjalan mendekati Danau. Butuh beberapa menit untuk tiba di bibir danau dengan kondisi tubuhnya sekarang. Sungsang Geni meminum beberapa tegakkan, dia juga sedikit membasuhi wajahnya.
3 sayatan luka pedang, terlihat olehnya di bayang air yang jernih. 3 sayatan yang membuat matanya nyaris saja pecah, karena salah satu sayatan membelah pelipis mata hingga kelopak bagian bawah. Dan dua sayatan yang lain membelah dari tengah kening hingga telinga kanannya.
Dia berpikir sejenak, mungkinkah orang akan masih mengenalnya dengan luka seperti ini? Sungsang Geni memutuskan duduk di tepi danau, sekarang dia tidak bisa berbuat banyak sebab energi fisik dan tenaga dalamnya belum kembali pulih.
Satu-satunya energi yang ada adalah, api di lengan kanannya tapi sekarang dia bahkan tidak bisa membuat percikan dari jentikan jari telunjuk.
"Penyebabnya pasti roh pedang itu!" dia kembali menatap lengan kanannya yang sekekali menyala redup "Aku harus mencari sesuatu untuk menutup lengan ini, atau akan menjadi perhatian semua orang."
__ADS_1
Bahkan setelah dipegang, tekstur kulit lebih keras dari sebelumnya. bukan hanya keras tapi juga sedikit licin, tekstur lengan ini nyaris seperti pedang watu kencana.
Dalam ketermenungan pemuda itu, sebuah benda jatuh dari saku bajunya yang berlubang. Benda berwarna hitam dengan tulisan 'Bayangan'.
“Ini adalah lencana dari pendekar itu.” Yang dibayangkan Sungsang Geni adalah Yunirda, wakil komandan Kelelawar Iblis yang dapat menggunakan teknik pedang bayangan, “Apakah ini adalah kaki gunung Semeru?”
Sungsang Geni lekas memperhatikan peta dibalik lencana itu, peta dengan ukiran kecil dan halus, jika bukan karena mata pemuda itu sangat tajam, dia tidak akan bisa membacanya.
Titik pertama adalah lingkaran besar, Sungsang Geni membandingkan itu dengan danau di depan matanya, yang dikelilingi dengan bukit-bukit yang cukup tinggi.
“Jadi ini adalah danaunya? entah kebetulan atau takdir tapi pertempuran kami membawa aku ke tempat ini.” Sungsang Geni memperhatikan peta dan kembali memperhatikan danau.
Danau itu sangat luas memang, Sungsang Geni tidak bisa menemukan satu benda di ujung seberang selain hamparan bukit yang cukup tinggi. Bukit hijau nan indah.
“Apa ini?” Dia menemukan sesuatu, cukup aneh. Disapunya pandangan menyusuri pinggir danau tapi tidak menemukan sesuatu yang tertulis di peta, “Aku harus mencarinya, jika peta ini benar, harusnya dia ada disebelah utara sekarang.”
“Air pasang mungkin penyebabnya, hingga mengikis tugu ini.” Pikir pemuda itu.
Dia kembali menatap peta, ada garis lurus dari tugu kecil yang memotong ¼ danau dan berhenti pada sebuah Bukit paling kecil tapi juga paling gersang diantara bukit yang lainnya yang berhutan lebat.
“Garis terhenti di bukit itu.” Ucap Sungsang Geni, pemuda itu kembali menatap petanya, tapi ukiran yang terlihat sebagai jalan, tidak berasal dari bukit disana, atau juga tugu kecil di dekatnya.
“Ini aneh sekali, kenapa garis lurus ini di buat, apa fungsinya? Dan kenapa tidak ada hubungan garis lurus dengan jalan yang akan dilewati.” Ucap Sungsang Geni merasa ragu, “Apakah dia membohongiku? tidak aku yakin dia berkata jujur. Mungkin saja....”
Perkataan pemuda itu terhenti setelah menyadari sesuatu. Dia memicingkan mata melihat dari balik tugu kecil ke bukit gersang, dan akhirnya menemukan sebuah petunjuk.
__ADS_1
“Bukit itu adalah pintu masuknya, garis ini menunjukkan bahwa bukit itu adalah titik perjalanan pertama.” Ucap Sungsang Geni sedikit bergembira, sebab bisa memecahkan teka-tekinya.
Jika bukit adalah sebuah pintu atau titik awal dari perjalanan, dimana letak pintunya? Ini tidak sama dengan gerbang zambala yang terlihat nampak karena dikelilingi dengan kabut ilusi. Pintu yang dimaksud peta tidak ada di....
“Pintu itu ada disana!” Sungsang Geni terpaku, dia bahagia bisa memecahkan teka- tekinya, tapi juga sedikit sedih menyadari bahwa dia tidak memiliki kemampuan berenang, “Pintu itu ada didalam danau, bagaimana caranya agar aku bisa sampai di pintu itu?”
***
Berita mengenai penyerangan Kelelawar Iblis ke Perguruan Lembah Ular menjadi topik hangat selama sepekan lamanya. Beberapa perguruan kecil menjadi sedikit takut menghadapi ancaman dari kelompok kriminal itu.
Mereka harus merencanakan sesuatu, tentu saja. Jika Perguruan sebesar Lembah Ular saja bisa kewalahan menghadapi Kelelawar Iblis apa lagi dengan perguruan kecil lainnya?
Beberapa orang menyayangkan kecerobohan yang dilakukan Lembah Ular sampai membuat Negri mereka dalam kejatuhan. Tapi yang paling menarik perhatian mereka, adalah Raja Muda yang membantu Lembah Ular.
Dua hari setelah berita itu tersebar, beberapa perguruan kecil berniat merapatkan barisan dengan Perguruan Bukit Emas. Selama ini setiap perguruan hampir berjalan sendiri-sendiri.
Perguruan nomor 2 paling besar sekarang ini setelah posisi Lembah Ular lengser, Macan Putih, juga mulai menunjukkan responnya dengan memenuhi undangan yang di adakan perguruan Bukit Emas.
Karakter mereka sedikit lebih keras dari Lembah Ular tapi dengan datangnya mereka memenuhi undangan Bukit Emas, menunjukkan bahwa mereka juga mengkhawatirkan hal yang sama.
Perguruan yang pertama kali bertandang adalah Lembah Ular, tentu saja mereka. Sebab Lembah Ular akan tinggal di wilayah Bukit Emas, hingga kondisi dunia sedikit membaik. Itu artinya, Bukit Emas secara tidak langsung akan mendapatkan bantuan kekuatan dari Lembah Ular.
Beberapa orang berpandangan bahwa Darma Cokro memanfaatkan keterpurukkan Lembah Ular demi keuntungannya saja, politik memberi hanya untuk mendapatkan lebih banyak lagi.
Tapi tentu saja mereka bebas beranggapan seperti apa, yang terpenting adalah sekarang Lembah Ular sedikit terlindungi dari ancaman musuh-musuhnya.
__ADS_1
“Pimpinan Lembah Ular, Sabdo Jagat...” Ucap Darma Cokro, menyambut kedatangan para Pendekar Lembah Ular, “Selamat datang di tanah kami, Bukit Emas.”
Sebelum Sabdo Jagat menjawab perkataan Darma Cokro, beberapa kelompok tiba-tiba saja datang dari arah belakang sambil mengejek. “Sekarang Lembah Ular kehilangan taringnya!”