
Giantoro adalah pendekar terakhir yang mereka bunuh, kecuali Banduwati yang hingga kini belum menunjukkan batang hidungnya.
Guru Tiraka dibantu beberapa orang lainnya, membawa Sabdo Jagat yang sekarang ini sudah hilang kesadarannya. Pria itu telah menghabiskan seluruh energi yang ada, dalam serangan terakhir yang dia lakukan.
“Cari yang masih selamat!” perintah Guru Tiraka, “Kita tidak boleh meninggalkan siapapun di tempat ini!”
Sekitar 50 pendekar yang masih bisa bergerak, menuruti perintah wanita itu. Mereka menyusuri setiap reruntuhan, tapi tidak ditemukan orang yang masih selamat dari pertempuran itu. Alih-alih menemukan teman-temannya mereka malah menemukan para mayat hidup yang masih selamat.
Setelah beberapa saat, beberapa orang melaporkan, “Kami telah menyusuri setiap bangunan, rumah dan gedung, tapi tidak ada yang selamat...”
“Kita tidak bisa tinggal lagi di tempat ini... ” ucap salah seorang dari mereka, terlihat lesu setelah mendapati tidak ada satupun bangunan yang berdiri.
“Kita bisa tinggal dimanapun di tanah kita!” ucap Guru Tiraka, sambil menepuk pundak pria itu “Yang terpenting sekarang, bawa semua orang dari tempat ini, sebab mungkin akan ada pertarungan yang jauh lebih mengerikan dari ini....”
Sebuah tekanan maha dahsyat seketika memenuhi tanah lembah ular, mengejutkan Tiraka dan yang lainnya. Hampir membuat semua orang kesulitan berjalan.
Beberapa luka yang diderita mereka terasa lebih sakit dari sebelumnya. Guru Tiraka terpaksa bersandar dengan reruntuhan hanya untuk menyeimbangkan tubuhnya.
Hampir 2 menit lamanya, tekanan energi membuat semua orang kesulitan bergerak. Setelah dua menit berlalu, berangsur-angsur angsur tekanan itu mengecil dan lenyap.
“Cepat bawa mereka semua keluar dari sini! CEPATLAH!” Tiraka berteriak memerintahkan pasukannya, “Firasatku mengatakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi...”
***
Banduwati membuka matanya setelah berhasil memulihkan seluruh energi kegelapan di tubuhnya. Dia tahu persis tidak ada satupun orang yang memiliki cukup tenaga untuk melawan dirinya saat ini.
Hal yang cukup ditakutkan adalah kekuatan Cempaka Ayu dan Sungsang Geni, tapi kedua orang itu nampaknya sudah kehabisan seluruh tenaga dalamnya, atau mungkin tersisa sedikit. Hanya kibasan energi saja, mungkin semua orang akan mati dengan seketika.
“Kalian akan membalas semua ini!” Banduwati tersenyum kecil, lalu keluar dari ruangannya melewati atap rumah.
Wanita itu memandangi setiap sisi Lembah Ular, hampir tampak rata dengan tanah. Sekarang dia baru menyadari bahwa hanya ruangan miliknya yang masih terlihat utuh.
__ADS_1
Setelah melihat rombongan Tiraka membawa anggotanya yang terluka keluar melewati celah tembok, Banduwati tersenyum kecil. Tiraka nyaris saja pingsan setelah bertemu mata dengan wanita itu.
“Serangga kecil yang malang...” gumam Banduwati.
Dia melayang ke sisi lain, belum mempedulikan rombongan itu. Tujuannya jelas, pada bangunan yang masih dipenuhi dengan api yang membara.
Banduwati masih merasakan tenaga dalam seseorang lebih besar dari yang lainnya, tapi tentu lebih kecil dibanding dengan dirinya. Bahkan mungkin hanya seujung kuku. Wanita itu sangat percaya diri bisa mengalahkan pemuda itu dengan mudah.
Sungsang Geni menyadari Banduwati sedang pergi ke arahnya, dia kemudian menatap Cempaka Ayu dengan tenang lalu tersenyum kecil, “Pergilah dari sini! Dia datang untuk menuntut balas”
“Aku tidak akan meninggalkan dirimu....”
“Pergilah aku mohon! Atau semua ini akan terlambat!” potong Sungsang Geni.
Cempaka Ayu tidak bisa berkata apapun setelah mendengar permohonan itu, dia mengerti bahwa keberadaannya di tempat ini hanya akan mengganggu pertarungannya saja. Ditatapnya wajah pemuda itu lekat-lekat sebelum beranjak pergi.
“Kembalilah dengan selamat...” ucapnya pelan.
Sungsang Geni hanya mengangguk, tapi dia tidak dapat berjanji untuk memenuhi permintaan Cempaka Ayu.
Bukan hanya itu saja, pedang watu kencana juga menghisap setiap hawa panas yang berada di sekitar Sungsang Geni. Mendadak, suasana tiba-tiba menjadi dingin, kayu-kayu yang menjadi arang seketika padam.
“Energi ini belum cukup untuk mengembalikan api di lenganku...” gumam Sungsang Geni.
Dia menyadari tenaga dalamnya mungkin tersisa hanya 20% saja sementara energi api di lengannya mungkin sekarang sudah mencapai 50% tapi itu tidaklah cukup untuk melawan Banduwati. Sungsang Geni bernapas berat, jika saja dewa berniat menurunkan keajaiban mungkin inilah waktunya? pikir Sungsang Geni.
Beberapa saat kemudian, Sungsang Geni bisa melihat sosok Banduwati melayang dengan senyum sinis tersungging di bibirnya.
“Hanya ada kau?” tanya Wakil Komandan Kelelawar Iblis itu, “Tidak masalah, setelah membunuhmu aku akan memburu mereka semua, dan menjadikannya boneka mainanku.”
“Tidak ada yang berniat menjadi boneka mainanmu!” ucap Sungsang Geni, “Tidak ada satupun, aku akan menghentikan dirimu disini, meski harus segala cara kulakukan.”
__ADS_1
“Berambisi! Tidak banyak orang memiliki sifat seperti dirimu.” Sambung Banduwati, “Tapi....”
Sekejap mata, Banduwati hilang dari pandangan Sungsang Geni lalu tiba-tiba saja mendaratkan pukulan energi tepat di wajah pemuda itu.
Sungsang Geni terhempas puluhan meter, menghantam puluhan dinding bangunan, tapi sebelum tubuhnya terhenti Banduwati kembali menyerangnya dengan tendangan keras.
Kecepatan gerak Banduwati seperti kilat, bahkan mungkin lebih cepat dari pukulan energinya sendiri. Membuat Sungsang Geni sulit mengikutinya dengan tenaga dalamnya saat ini.
Wanita itu entah sejak kapan berada di atas kepala Sungsang Geni, mencengkram kepala pemuda itu dengan jari-jarinya yang kuat. Dia berniat meremukkan kepala itu seperti dia meremas busa.
Tapi kali ini Sungsang Geni berhasil memberi perlawanan, dia melayangkan pedangnya dan berhasil membuat Banduwati melepaskan cengkraman.
“Wanita itu? kekuatannya lebih besar dari terakhir kali kami bertarung...” gumam Sungsang Geni.
Pemuda matahari itu memutuskan untuk menyerang terlebih dahulu, dia menduga meski kecepatan Banduwati sangat hebat tapi setidaknya ada jeda sebelum dia bergerak lagi.
Dan dugaannya benar, Banduwati tidak bisa bergerak cepat terus menerus tapi ada sedikit waktu yang diperlukannya untuk kembali bergerak. Sebuah mantra, yang harus diucapkan.
Ketika wanita itu mengalami jeda, dan membaca mantra, Sungsang Geni melesat dengan segenap kemampuannya dan berhasil melukai wanita itu.
Lukanya tidak terlalu dalam, serangan Sungsang Geni masih dapat dihindari Banduwati meski memang tidak berhasil sepenuhnya.
Dari luka yang ditorehkan Sungsang Geni di pundak Banduwati, sekarang mengeluarkan darah hitam yang berbau busuk. Tubuh yang sangat kuat, jika itu tubuh wakil komandan meski hanya sedikit, harusnya bisa terbakar. Aturan itu nampaknya tidak berlaku bagi Banduwati.
“Luka ini sangat kecil, tapi kenapa darahnya tidak mau berhenti?” Banduwati menjadi sedikit khawatir, “Jika hanya luka fisik sekecil ini, harusnya aku bisa menyembuhkannya dengan cepat?”
Banduwati melihat Sungsang Geni setelah dia memandangi lukanya, dia menjadi geram. Kemudian sebuah pukulan energi berwarna ungu menyerang Sungsang Geni dengan cepat, membuat pemuda itu sekali lagi terhempas puluhan meter.
“Ahk!” Dari mulut Sungsang Geni keluar darah segar, beberapa besi bangunan juga turut melukai tubuh bagian belakannya.
Dia berusaha berdiri dengan sekuat tenaga, tapi beberapa tulang rusuknya mungkin sudah patah. Butuh usaha keras agar dia bisa berdiri kembali.
__ADS_1
Padahal Sungsang Geni sudah melindungi tubuhnya dengan seluruh tenaga dalamnya, tapi tidak berpengaruh. Kekuatan dirinya tidak cukup kuat untuk melawan kegelapan dari Banduwati.
“Jika seperti ini terus, aku tidak memiliki kesempatan...” Rintih Sungsang Geni, “Aku harus melampaui kekuatanku.”