
Duduk termenung Sungsang Geni di atas batu besar, untuk sesaat tatapan pemuda itu kosong. Di depan dirinya, ratusan prajurit sedang berlatih menggunakan pedang dan tombak, di sisi lain agak ke arah air terjun, empat pendekar suci berlatih pedang bersama dengan Adipati Lingga.
Seorang datang mengejutkan pemuda itu, menepuk pundaknya dari belakang. “Pendekar muda, aku lihat wajahmu begitu murung. Apa kau sedang memikirkan sesuatu saat ini?”
Sungsang Geni menoleh sesaat, membetulkan tubuhnya dan bersikap sebaik mungkin. “Ki Demang...”ucapnya gagap.
“Pendekar muda, apa yang sedang kau pikirkan?”
“Tidak ada, Ki.” Jawab Sungsang Geni, tentu saja dia berbohong. Saat ini, ada banyak hal yang dipikirkan pemuda itu.
Untuk orang yang sangat cepat, Sungsang Geni adalah orang yang paling lambat. Ya, ada banyak masalah yang selalu menghalangi jalannya. Pemuda itu sekarang sedang memikirkan nasib Cempaka Ayu, dimanakah dia gerangan? Baik-baik sajakah kondisinya? Entahlah. Pemuda itu memikirkan hal itu sepanjang waktu.
“Tidak masalah jika kau tidak mau bercerita...” Ki Demang menepuk pundak Sungsang Geni sekali lagi, tersenyum kecil kemudian berlalu meninggalkan pendekar muda itu.
“Ireng...” Sungsang Geni menoleh ke arah Srigala Hitam besar yang berselonjor di belakangnya. “Menurutmu, bagaimanakah keadaan Cempaka saat ini?”
“Gerr...gerr...” Panglima Ireng tertunduk lesu.
“Ya...aku harap dia baik baik saja,” ucap Sungsang Geni. “Kemana kita harus mencarinya? Dunia ini begitu luas, seperti sedang mencari jarum di tumpukan jerami.”
Panglima Ireng tidak menggeram melainkan melolong kecil, suaranya mengejutkan orang-orang di tempat itu. Ki Demang menoleh kembali ke arah Sungsang Geni, dia yakin ada hal yang mengganggu pikiran pemuda itu. Sementara itu, 4 pendekar suci berhenti sejenak, tapi tidak berlangsung lama sampai mereka berlatih kembali.
Beberapa jam kemudian, ketika semua orang sedang istirahat, empat pendekar suci masih berlatih di dekat air terjun, mereka berdiri pada pancang kayu untuk melatik kuda-kuda.
Sungsang Geni tidak berniat mengganggu mereka, untuk sekarang semua gerakan mereka sudah berkembang cukup baik, meski masih jauh dari kata sempurna.
Pemuda itu segera mendatangi Adipati Lingga, berniat menanyakan semua hal mengenai Kadipaten Ujung Lempung, dan niatnya untuk menyerang penghianat yang menguasai tempat itu.
“Tuan pendekar...bukan aku tidak percaya dengan kekuatan anda, tapi musuh mendapat bantuan dari pihak lain?”
__ADS_1
“Pihak lain?”
“Benar, tuan pendekar...”wajah Adipati Lingga menjadi lesu.
“Kelelawar Iblis beserta sekutunya?” terka Sungsang Geni.
“Ya...mereka sebelumnya tinggal di istana Tumenang, tapi kabarnya ada pasukan tambahan yang datang ke negri ini.” Adipati Lingga mengepalkan tinjunya, bergeram pelan dengan wajah merah. “Andaikan aku memiliki cukup kekuatan, tidak mungkin kami mengungsi ke Lembah Hantu.”
Sungsang Geni menggaruk dagunya, berpikir cukup lama.
“Kenapa kalian tidak mempelajari kitab pusaka yang ada dibalik dalam air terjun itu! Bukankah itu bisa membuat kalian kuat?”
“Andaikan kami punya hak, tentulah kitab itu sudah kami ambil sejak dulu, tapi...” Adipati Lingga menghela nafas panjang. “Kitab itu hanya diperuntukan oleh garis keturunan asli, darah ningrat, artinya Pangeran Miksan Jaya.”
“Begitu rupanya.” Sungsang Geni menggaruk kepalanya. “Ya, jika demikian tiada cara lain, kecuali aku sendiri yang menyerang Tumenang bukan?”
“Jangan khawatir, aku cukup mampu untuk melawan musuh, masalahnya bagaimana cara mengembalikan kesadaran para rakyat Tumenang? Pikiran mereka terlanjur di cuci oleh paham-paham Kelelawar Iblis.”
“Mengenai itu, aku belum memiliki rencana," ratab Adipati Lingga.
***
Ke esokan harinya, Sungsang Geni keluar dari dalam Lembah hantu bersama dengan salah satu pendekar suci. Tujuan mereka adalah Kadipaten Ujung Lempung yang sekarang sudah diduduki musuh. Hanya berdua saja, sisa pasukan mengiring di belakang.
Butuh cukup banyak waktu, akhirnya tiba pula dua orang itu di depan Kadipaten Ujung Lempung. Kebetulan sekali, saat ini sedang di adakan acara eksekusi terhadap belasan orang di depan halaman bangunan utama.
Seorang sedang duduk diatas singasana kebesaran Adipati, dengan tertawa terbahak-bahak melihat belasan orang yang siap di hukum gantung. Sungsang Geni masuk kedalam kerumunan orang-orang.
“Ini adalah pelajaran untuk kalian semua, siapapun yang berani menentang kami, hukumannya adalah kematian.” Berkata orang yang duduk diatas kursi tersebut.
__ADS_1
“Dia adalah si penghianat, salah satu pendekar suci, Grilik Suing,” ucap pendekar suci yang bersama dengan Sungsang Geni. “Sekarang dia menjadi Adipati, menggantikan Adipati Lingga. Chhh...kekuatan dia lebih lemah dibanding kami berempat, tapi lihatlah!”
Pria itu menunjuk dua pengawal Grilik Suing yang berdiri dengan tatapan kejam. Wajah mereka tidak kalah buruk dengan Grilik Suing, bermata jendul dengan alis nyaris tiada dan kening lebar. Rambutnya hanya sedikit saja. Mereka mengenakan senjata berupa cambuk yang terlilit di pinggang seperti ikat.
'Dari auranya, mereka bukan anak buah Kelelawar Iblis, mungkin saja prajurit dari Negri Sembilan.' Gumam Sungsang Geni.
“Siapkan tali gantung!” Grilik Suing berteriak, dia meraih beberapa apel di ranjang buah yang terlihat lezat, mengunyah kemudian melemparkan potongan buah itu tepat mengenai salah satu dari tawanan. “Sekali lagi aku katakan, tunduk dibawah kekuasaan Raja Priambule dan mengakui bahwa Topeng Beracun adalah Dewa kalian.”
“Sampai matipun aku ora sudi, kami tidak akan mengakui Prajamansara sebagai Raja dia hanya mahluk berhati iblis yang menyengsarakan rakyat.” Berkata wanita tua dengan nada tegas, seolah tiada akan menyesal dihukum mati di tiang gantung.
“Kalian semua bodoh, bunuh wanita ini lebih dahulu!” perintah Grilik Suing.
Dua orang kekar menyeret nenek tua itu, menaiki tangga dimana simpul tambang berada menggantung tepat diatas kepalanya. Kepala wanita tua itu dipaksa masuk kedalam lubang simpul.
“Sang Heyang Widhi, aku tidak menyesal...” ratab nenek tua itu.
Grilik Suing berdiri dari kursi kebesaran Adipatinya, berjalan dengan sedikit congkak. Ketika dia berada tepat di bawah sang nenek, sekonyong-konyongnya wanita tua itu meludah tepat di wajah pria itu.
“Setan alas, kutu kupret, pergilah kau ke alam baka!” Grilik Suing menendang pijakan kaki, tapi sebelum tali menjerat leher wanita tua itu, Sungsang Geni dengan secepat kilat menangkap tubuhnya, memutuskan tambang gantung bahkan memotong semua tiang gantung menjadi dua.
Pemuda itu hinggap di sisi berbeda, meletakkan tubuh nenek tua di rerumputan kering. “Tenanglah Ni, kau akan baik-baik saja. Kau sungguh berani, akan ku beri pelajaran mereka sebagai balasan atas keberanianmu.”
Wanita tua itu tidak berkata apapun kecuali meraba lehernya yang sudah terbebas dari jerat kematian. Ketika tubuhnya ditinggalkan Sungsang Geni, wanita tua itu masih belum percaya bahwa dirinya masih hidup.
“Te...terima kasih...anak muda.” Lirih wanita itu menatap Sungsang Geni terbang lagi ke arah halaman rumah Adipati.
Di sisi lain, Grilik Suing murka bukan main. Dia mengupat panjang pendek, mencaci maki di depan semua orang. Dua pengawalnya juga tidak bisa melihat dengan jelas bayangan yang baru saja menggagalkan acara di panggung eksekusi.
Semua mata rakyat menjadi berbinar untuk sesaat, berharap bahwa kelebatan cahaya emas tadi akan kembali menolong hidup mereka.
__ADS_1