
Sang Pelayan membuka tangannya, meminta uang sebagai bayaran, tapi pria tua itu menggelengkan kepala, karena tidak punya.
“Jika tidak punya uang, jangan singgah disini! Dasar tua bangka miskin!” pelayan menghardik pria tua itu.
“Tapi saya lapar...” Pria tua berkata lirih.
“Bukan urusan saya, jika anda mau makan silahkan bayar terlebih dahulu!” Pelayan itu mendorong pria tua hingga terjatuh ditanah. “Ingat jangan menginjakan kakimu ditempat ini, ada banyak orang sepertimu setiap hari kesini berpura-pura lapar atau berpura-pura cacat, kalian para penipu membuat usaha tuanku menjadi bangkrut.”
Memang ada banyak orang yang mengaku pengemis di Kota ini, pekerjaan mereka hanya meminta-minta dari rumah kerumah warga. Hampir setiap hari, penginapan Bunga Mawar menghadapi para pengemis. Terkadang dari mereka, bukannya berterima kasih tetapi malah minta tambah jatah makan. Alasan inilah membuat pelayan itu menghardik pria tua.
Sungsang Geni yang dari tadi merasakan tenaga dalam besar berasal dari pria tua itu, bergegas melerai, dia tidak ingin sesuatu terjadi dan membuat pria itu marah.
Beberapa pengunjung yang lain saling berbincang, dan nampaknya tidak keberatan dengan kelakuan sang pelayan.
“Pelayan, berikan sekendi arak kepada Aki ini?” kemudian Sungsang Geni memberi 2 keping emas kepada pelayan, “Dan juga makanan.”
“Te...tapi tuan muda?”
“Berikan saja!” ucap Sungsang Geni ketus.
Kakek tua melihati Sungsang Geni dari bawah hingga keatas, kemudian dia tersenyum penuh makna.
“Aki, ayo masuk kedalam, aku akan menemani anda makan.” Sungsang Geni segera memapah tangan Pria itu, namun sekali lagi dia merasakan tenaga dalam yang sangat besar bergejolak didalam tubuhnya.
Mereka memesan tempat paling sudut dan sedikit menjauh dari para pengunjung yang lain, selain sepi, Sungsang Geni tidak ingin jika tiba-tiba pria tua ini bertingkah aneh dan membahayakan pengunjung yang lain.
“Ini tuan muda, pesanan anda!” sang Pelayan membawa senampan makanan dengan berbagai macam lauk pauk yang nikmat. Tak lupa pula, dia menyodorkan sekendi arak.
“Silahkan dimakan Ki!” uacap Sungsang Geni.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, pria tua menyantap makanan yang terhidang didepan matanya. Kedua tangannya bergantian meraih makanan, memasukan makanan kedalam mulut hingga penuh.
Sungsan Geni menaksir pria tua ini seumuran dengan eang gurunya Ki Alam Sakti, mungkin juga kekuatan mereka sepadan. Karena sejauh ini, Sungsang Geni merasakan tenaga dalam yang berusaha disembunyikan oleh pria tua itu, bergejolak. Bahkan nyamuk tidak berani mendekati tubuh keriputnya.
Beberapa pelayan yang melihat cara makan pria tua seperti akan muntah karena jijik, namun segera mereka merubah sikap ketika mendapati wajah Sungsang Geni menoleh kepada mereka.
Hammpir satu jam, akhirnya makanan diatas meja telah habis, masuk kedalam perut pria tua, yang tersisa hanya remah nasi dan beberapa tulang ayam yang berhamburan dilantai.
“Minumlah Ki , ini adalah arak terbaik ditempat ini?” Sungsang Geni menuangkan arak kedalam gelas, lalu menyodorkannya pada pria tua.
Pria tua kembali mengernyitkan keningnya, menatap Sungsang Geni dengan mata menyipit. Namun karena napsu minumnya tak terbendung, akhirnya dia segera mengambil arak yang berada didalam kendi.
“Yang didalam gelas untukmu saja!, yang didalam kendi ini miliku seorang,” pria tua berucap, kemudian bersendawa keras, mengeluarkan aroma arak.
Melihat napsu minumnya yang sangat besar, Sungsang Geni memesan 1 kendi arak lagi.
“Aku melihat napsu minummu sangat besar Ki, jadi aku memasan satu kendi arak lagi untukmu!” ucap Sungsang Geni.
Beberapa saat kemudian, Pria tua kembali menatap Sungsang Geni. Kepalanya sedikit condong ke kiri, mungkin karena mabuk membuat lehernya sudah tidak mampu menopang kepala yang dipenuhi dengan uban, dan janggut berwarna putih. Janggut yang panjang, terlihat seperti ekor kuda.
“Kenapa kau begitu baik padaku?” tanya Pria tua itu.
“Kenapa Aki bertanya seperti itu?” Sungsang Geni terseyum.
“Kau pemuda lucu, orang bertanya malah balik nanya!” Pria tua terkekeh, lalu dia tersenyum penuh makna, kemudian dia memandang kearah prajurit yang berada sedikit jauh dari penginapan Bunga Mawar.
Dia kembali mengernyitkan keningnnya, dia berpikir bahwa Sungsang Geni memberi dia makan dan minum karena takut, tapi rupanya karena memang keinginannya saja, buktinya dia juga memberi 2 kendi arak kepada para prajurit.
“Siapa namamu anak muda?” tanya pria tua.
__ADS_1
“Sungsang Geni?” jawab Sungsang Geni, “Kalau boleh tahu siapa nama Aki?”
“Aku dijuluki Pendekar Pemabuk, karena hampir setiap hari kerjaku hanya meminum arak.” Pria Tua yang bernama Pendekar Pemabuk mengangkat kendi labu dipinggangnya, menggoncangnya beberapa saat lalu meletakannya diatas meja.
“Kenapa Aki Pemabuk berada ditempat ini?” Sungsang Geni bertanya, dia memang sedikit heran ada orang yang hebat berada diwilayah kecil sepeti ini.
“Ah ceritannya sangat panjang, aku bahkan tidak begitu ingat detailnya.”
Pendekar Pemabuk mulai menceritakan garis besarnya kepada Sungsang Geni, dimana beberapa hari ini dia sedang berusaha menjinakan lesung batu yang dapat melayang diudara.
Setelah dia mampu menaiki lesung batu, dia pikir telah mampu menjinakkannya tapi ternyata lesung batu menjatuhkan dirinya tepat di kota kecil ini.
“Lesung Batu?” tanya Sungsang Geni heran, dia tidak pernah mendengar benda semacam itu di tempatnya
“Itu adalah lesung sakti, yang dapat terbang sendiri. karena aku tidak bisa terbang, jadi aku berniat menguasai benda itu.” Pendekar Pemabuk kemudian meraih arak yang tersisah, meminumnya lalu membanting diatas meja. “Rupannya dia mempermainkan aku, jika dia tidak tunduk aku akan menghancurkannya menjadi batu kerikil.”
Sungsang Geni hanya terdiam, ‘ternyata selain jubah pusaka yang kupakai, ada satu benda lagi yang dapat membuat orang dapat terbang’.
“Terkadang Dunia ini tidak adil?” Pendekar Pemabuk menjadi murung, “aku telah berlatih seumur hidupku untuk menguasi ilmu meringankan tubuh, tapi tidak berhasil.”
“Kenapa demikian Aki, bukankah harusnya kau dengan mudah menguasainya dengan tenaga dalam sebesar itu?” tanya Sungsang Geni.
“Karena aku pemabuk, jadi ilmu meringankan tubuhku tidak terkendali.” Tiba-tiba pendekar pemabuk berhenti berkata, dia menyipitkan matanya menatap Sungsang Geni dengan tajam. “Aku telah menyembunyikan tenaga dalamku, tapi kau masih mengetahuninya, siapa sebenarnya kau ini?”
Melihat tatapan Pendekar Pemabuk yang tajam, Sugsang Geni hanya terseyum penuh makna. “Aku hanya prajurit biasa?”
“Prajurit biasa, apa kau mata-mata Surasena yang ingin membunuhku?” tanya Pendekar Pemabuk tegas?”
“Bukan aku hanya prajurit...”
__ADS_1
“Sebenarnya dari tadi aku ingin tahu siapa kau yang telah memakai jubah pusaka itu. tapi karena aku tidak merasakan tenaga dalammu, aku jadi berpikir jubah itu palsu. Namun sekarang, sudah jelas bahwa kau juga pendekar, dan mungkin sedang mengincar kepalaku.” Pendekar Pemabuk kemudian mengeluarkan tenaga dalamnya, dia tidak berniat menyembunyikannya lagi.
Suasana dirumah makan menjadi sedikit berat, aura membunuh tiba-tiba keluar dari dalam tubuh Pendekar Pemabuk.