PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Kembali


__ADS_3

“Resi, aku ingin mengatakan sesuatu.” Pramudhita berkata pelan, dia berkata sedikit gugup.


“Kau sudah memilih jalanmu, Pramudhita. Mungkin sudah saatnya kita membuka diri dan berteman dengan bangsa manusia. Jadi aku akan mengizinkan dirimu pergi menemani Geni.” ucap Resi Irpanusa. "Tapi sebagai bangsa lelembut, kita memiliki tradisi yang harus dilakukan, apa kau mengerti yang kumaksud Pramudhita?."


“Hamba mengerti Resi.” Sekali lagi Pramudhita menundukkan kepala.


Sungsang Geni menyodorkan kitab pedang bayangan dia tidak membutuhkan kitab itu lagi, sebab sekarang dia sudah memiliki salinan atas kitab itu .


“Kau memenuhi janjimu, Geni.” Resi Irpanusa lantas mendekati pemuda itu sambil menepuk pelan pundaknya. “Semoga kau selalu di beri keselamatan.”


Setelah mendapat restu dari Resi Irpanusa, Sungsang Geni berjalan sendirian pada tempat dimana terdapat dua buah pura berwarna putih yang dinamakan gerbang alam yang terletak di sebelah wihara Siwa.


Meski sudah mendapatkan izin, Pramudhita tidak serta merta langsung ikut dengan Sungsang Geni. Ada beberapa hal yang harus dia lakukan sebelum keluar dari alam lelembut.


Lagipula Pramudhita tetap akan datang ketika Sungsang Geni memanggilnya. Dan juga Pramudhita tidak membutuhkan gerbang alam, untuk keluar dari dunia gaib.


Ketika Sungsang Geni memanggilnya, Pramudhita akan segera muncul di dekat pemuda itu apapun yang terjadi, itu adalah buah perjanjian yang mereka sepakati.


Ritual perpisahan sedang dilakukan saat ini, menabur bunga warna-warni menghiasi jalan dan menghujani tubuh Sungsang Geni.


“Ini seperti waktu itu? Ketika sedang mengawal Putra Mahkota Majangkara, Pangeran Dewangga,” gumam Sungsang Geni. “Apa mereka baik-baik saja?”


“Jika sempat berkunjunglah ke sini lain kali pemuda asing!” teriak salah satu dari gadis penabur bunga.


“Kami akan selalu menunggumu!”


“Dan terima kasih telah membebaskan kami dari belenggu cristal suci!” Para pendekar yang mengantar kepergian Sungsang Geni berteriak-teriak.


Setelah tiba di depan gerbang alam, terlihat tabib Nurmanik sedang menunggu pemuda itu bersama dengan beberapa muridnya yang lain. Wanita tua itu tersenyum hangat ke arah Sungsang Geni.


Memang hubungan mereka tidak terlalu akrab, tapi setiap tindakan yang dilakukan Sungsang Geni selalu memberi kesan yang dalam bagi Tabib Nuramanik.


“Geni, ini adalah hadiah terakhir untukmu.” Sekali lagi tabib Nurmanik memberikan sesuatu berupa botol batu kuning, yang di dalamnya terdapat ramuan obat cair. “Ramuan ini bisa menyembuhkan penyakit apapun, gunakanlah dengan bijak!”

__ADS_1


Sungsang Geni awalnya merasa ragu, sebab sejauh ini wanita tua itu sudah sangat banyak memberinya obat-obatan yang luar biasa.


“Jangan ragu!” sambung Tabib Nurmanik. “Kau sudah membebaskan alam kami dari belenggu kristal suci, jadi pemberianku ini belum ada apa-apanya dibandingkan denganmu.”


“Terima kasih, Nyai Tabib.” Sungsang Geni menundukkan kepalanya memberi hormat. “Terima kasih pula, karena kau sudah menyelamatkan nyawaku. Semoga jasamu di balas dengan kebaikan oleh Sang Hyang Widhi.”


Tabib itu tersenyum kecil, “Pergilah anak muda! Tuntaskan tugasmu!”


Sungsang Geni pada akhirnya memasuki gerbang alam. Awalnya dia menduga akan merasakan sesuatu yang sedikit mengejutkan, tapi rupanya sama sekali tidak.


Ketika kaki kanannya melangkah masuk, dan seketika dia telah berada di pinggir hutan rimba. Hanya sekejap mata Sungsang Geni telah keluar dari alam lelembut. Ini lebih mudah dari pada ketika dia berusaha masuk ke sana.


Dia menyapukan pandangannya, melihat kebelakang tapi padepokan pedang bayangan sudah tidak ada lagi. Yang ada hanya hamparan hutan rimba, dimana suara burung-burung kecil dan serangga saling bersautan.


“Rupanya aku sudah kembali.” Pemuda itu tersenyum kecil lalu pergi meninggalkan tempat itu.


***


Siring besar akibat pertarungannya dengan Banduwati 1 tahun yang lalu masih terlihat jelas.


Karena sekarang sudah di isi dengan air, siring itu sekarang dipenuhi dengan ikan mujair dan belasan ekor katak.


Di pinggir danau pemuda itu berhenti sesaat. Bukan karena lelah, tapi dia tidak mengetahui petunjuk kemana dia harus pergi.


“Apa mungkin aku harus kembali ke kerajaan Tombok Tebing?” tanya Sungsang Geni. “Atau melihat Lembah Ular? Aduh, kemanapun itu aku tidak tahu arahnya!”


Sungsang Geni membasuh seluruh tubuhnya, sekarang yang terpenting baginya adalah mencari pakaian ganti. Baju dan celana yang dia kenakan sekarang terbuat dari kulit domba pemberian Pramudhita.


“Pakaian ini terlihat sangat mencolok.” Sungsang Geni bergumam pelan. “Semoga aku menemukan beberapa orang di perjalanaku kelak.”


Dia akhirnya melanjutkan perjalanan lagi, tujuannya adalah matahari tenggelam. Pemuda itu sekekakli terbang saat menemui jalan yang sulit di lalui.


Tapi dia tidak ingin menggunakan kemampuan tersebut secara terus menerus, sebab dapat menguras tenaga dalamnya.

__ADS_1


Setelah melakukan perjalanan sekitar 3 jam lamanya, dia mendapati sebuah perkampungan yang baru saja habis dilahap si jago merah. Pemuda itu lekas buru-buru, melihat jika saja ada orang yang masih selamat.


“Tidak ada siapapun ditempat ini?”


Sungsang Geni sudah melihat setiap rumah yang masih tersisa, tapi tidak ada tanda-tanda mayat yang terbakar ataupun manusia yang selamat.


“Apa mereka sengaja membakar rumahnya sendiri?”


Setelah beberapa lama, Pemuda itu menemukan pakaian yang masih utuh tanpa sempat terjilat si jago merah. Meski sedikit kekecilan, tapi itu lebih baik dari pada pakaian kulit binatang yang dia pakai sekarang.


Sungsang Geni kembali melanjutkan perjalanan, tanpa sempat menemukan satu orangpun di reruntuhan perkampungan yang habis terbakar.


Setelah 2 jam berlalu, pemuda itu melihat perkampungan yang bernasib sama dengan kampung sebelumnya. Sungsang Geni segera bergegas untuk mencari siapapun yang mungkin masih selamat, tapi rupanya tidak ada.


“Apa mereka semua baru saja diserang oleh orang-orang jahat?” tanya Sungsang Geni.


Setelah beberapa lama, sayup-sayup dia mendengar rentak kaki beberapa ekor kuda yang datang mendekat. Pemuda itu segera bersembunyi di atas pohon tinggi tidak jauh dari perkampungan penduduk.


Lima menit kemudian, pasukan berkuda itu mulai menunjukkan wujudnya. Ada sekitar 12 orang mengenakan pakaian dengan lambang kepala burung elang di belakang jubah yang mereka kenakan.


“Sepertinya mereka sudah pergi meninggalkan desa!” ucap salah satu dari penunggang kuda tersebut.


“Sukurlah, semoga saja perjalanan mereka tidak mendapat serangan dari prajurit Kelelawar Iblis.” balas salah satu temannya.


Mendengar pekataan mereka, Sungsang Geni dapat memastikan bahwa orang-orang tersebut berbudi baik. Tanpa berpikir panjang, Sungsang Geni segera turun dari atas pohon.


Perbuatan Sungsang Geni mengejutkan orang-orang itu, mereka secara spontan menarik pedang dan menunjukkan perlawanan.


“Tunggu kisanak.” Sungsang Geni mengangkat tangannya. “Aku bukan musuh kalian.”


“Jika kau bukan musuh, kenapa kau bersembunyi di atas pohon, kau pasti mata-mata?” jawab mereka tak percaya.


Ingat ya komentar ter gokil dan likenya author tunggu.

__ADS_1


__ADS_2