PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Geni vs Pendekar Pemabuk 3


__ADS_3

“Sepertinya kau sudah mulai kehabisan tenaga dalam?” Pendekar Pemabuk alias kakek segala tahu berkata, dia menggelengkan kepala beberapa kali berusaha bersikap kasihan. “Aku bisa merasakan ketika mendaratkan Pukulan di dadamu.”


Sungsang Geni hanya tersenyum pahit, tidak membantah apa yang dikatakan orang tua itu. Sebelumnya tenaga dalam yang dia miliki memang belum kembali sepenuhnya.


“Kunyuk Jahanam, sebaiknya kau menyerah saja lalu bergabung bersamaku, kau akan mendapatkan posisi yang lebih baik dengan berada di sisiku... AHKK!”


Kalimat terakhir yang diucapkan Pendekar Pemabuk adalah pekikan panjang. Dia menoleh ke belakang, dimana Sungsang Geni sudah berada disana dengan pedang energi yang telah berlumuran darah.


“Jurus Tarian Dewa Angin, Api Penyucian.” Sungsang Geni menoleh kearah Pendekar Pemabuk dengan pandangan tajam yang mengoyak-ngoyak keberanian. “Oi Pak tua bermulut besar, kenapa kau jadi lengah?”


Semua orang bawahan Pendekar Pemabuk tidak melihat serangan berkecepatan tinggi itu. Bahkan salah satu dari mereka tidak bisa menutup mulutnya saking terkejut dengan teknik Pedang Awan Berarak yang dilakukan pemuda itu.


“Gerakan apa itu tadi?” salah satu dari bawahan Pendekar Pemabuk tidak sadar melontarkan pertanyaan.


“Seperti kilat cahaya.”


“Sialan, pemuda itu memiliki kemampuan mengerikan.”


“Tolol kalian semua, jangan terpukau dengan kekuatan musuh.” Jambon Barat membentak teman-temannya. “Guru Pendekar Pemabuk tidak akan kalah dengan luka itu, itu hanya luka...”


Perkataan Jambon Barat tidak berlanjut, setelah memperhatikan Pendekar Pemabuk meringis kesakitan. Luka yang didapat tepat di bagian dada tidak henti-hetinya mengeluarkan darah, padahal dia sudah mengerahkan tenaga dalam untuk menghentikannya.


Dan sialnya, luka itu sekarang menjadi terasa panas. Orang tua itu berniat mencengkram dadanya, berusaha menghentikan pendarahan tapi nampaknya tidak berhasil.


“Kau sudah menyempurnakan teknik terkutuk itu!” Pendekar Pemabuk menoleh kearah Sungsang Geni dengan penuh kebencian. “Teknik Awan Berarak, tarian dewa angin. Kau sudah menyempurnakannya? Jadi begitu, kau memang sengaja menerima seranganku agar aku bisa melemahkan kewaspadaan. Kau ******** keparat...”


Sebenarnya Sungsang Geni memang tidak bisa menghindari serangan Pendekar Pemabuk barusan. Artinya pemuda itu memang benar-benar terkena pukulan, dan bukan sesuatu yang di sengaja. Bahkan dada pemuda itu terasa terbakar setelah menerima pukulan maha dahsyat itu.

__ADS_1


Tapi pemuda itu juga tidak bisa membantah jika teknik Pedang Awan Berarak miliknya sudah sempurna, diapun terkejut mengetahuinya. Tampaknya pertarungan inilah yang membuat teknik itu menjadi lebih hidup dan bernyawa.


Sungsang Geni sudah beberapa kali berusaha menyempurnakan teknik itu, tapi tidak pernah berhasil. Dia memang selalu menggunakan jurus tarian dewa angin, tapi gerakan jurus itu -dimata dirinya dan juga di mata Gurunya belum berada pada titik terkuatnya. Belum sempurna.


Hingga saat ini, Jurus Tarian Dewa Angin benar-benar hidup dan keluar menunjukkan taring tajam yang sesungguhnya.


Sial sekali, tenaga dalam yang digunakan Sungsang Geni dalam jurus itu hanya 1 jule -itu adalah tenaga dalam terakhir yang dia miliki. Jika saja mengerahkan sekitar 2 jule tenaga dalam, mungkin luka yang didapatkan Pendekar Pemabuk lebih parah lagi, mungkin juga bisa membawa nyawa.


Di satu sisi, pendekar Pemabuk mencari sesuatu lagi di dalam saku bajunya -obat peredam rasa sakit yang lain, tapi dia tidak menemukan benda yang dia cari. Sementara wajah orang tua itu semakin memprihatinkan.


Pak tua itu sudah mengerahkan banyak sekali tenaga dalam untuk menghentikan pendarahan, tapi entah kenapa darah yang keluar tidak kunjung berhenti. Pendekar Pemabuk pernah mendapatkan serangan dari Ki Alam Sakti, Jurus Tarian Dewa Angin pula tapi pendarahan yang terjadi tidak separah ini.


“Luka itu akan terasa panas, karena itulah darah tidak akan berhenti.” Sungsang Geni menjawab kerisauan di benak Pendekar Pemabuk. “Pedangku bukan tercipta dari tenaga dalam seperti yang kau pikirkan, bukan seperti milik Yunirda. Energi ini berasal dari sana.” Sungsang Geni menunjuk matahari yang bersinar terang di langit biru, tepat di atas kepala.


Sesaat Pendekar Pemabuk menoleh ke langit biru dan matahari terang, dia mengumpat serapah. Kemudian berpaling lagi ke arah Sungsang Geni dengan tatapan tajam.


Beberapa menit kemudian situasi menjadi mencekam. Bagi pendekar yang memang berasal dari Kelelawar Iblis sudah memaklumi keadaan seperti ini, tapi bagi para pendekar yang berasal dari Negri Sembilan -Sekutu Kelelawar Iblis, merasakan kegelisahan yang tak terkira.


Matahari hilang seketika terturup tirai gelap nan kelam. Kilatan ungu berpedar di balik-balik awan hitam, seolah menggertak dunia dengan kekuatan.


“Energi kegelapan?” Sungsang Geni bergumam pelan. “Ya, sudah barang tentu orang tua ini juga memilikinya.” Sungsang Geni lantas menoleh kearah Saraswati yang masih terpaku tak mengerti. “Cepat pergilah ke atas tembok, Wulandari sedang berada disana! Pertarungan sebenarnya baru saja dimulai, kalian akan melihat seperti apa Kelelawar Iblis yang sesungguhnya.”


Tanpa menunggu lama lagi, Saraswati segera melayang dengan cepat menuju tembok Kayu dimana Wulandari berada dan bersembunyi. Jambon Barat hendak mencegah wanita itu, tapi Sungsang Geni segera menghadangnya.


“Sebaiknya kau tetap berada ditempat ini, dan kau akan menyaksikan siapa gerangan gurumu ini.”


Jambon Barat meremas kepalan tinju beberapa saat, tapi kemudian dia menyerah untuk mengejar Saraswati. Dipandanginya wajah Sungsang Geni dengan kesal, hingga akhirnya dia dikejutkan dengan kilatan ungu yang datang dari langit kelam.

__ADS_1


Kilatan ungu itu menyambar bagian tengku Pendekar Pemabuk, membuat tubuh orang tua itu menyala seperti lampu ungu dan terangkat beberapa depa dari permukaan tanah.


Kemudian datang lagi kilatan lain yang menghantam di bagian pundak sebelah kanannya, lalu di pundak sebelah kirinya.


Sungsang Geni mencoba mengganggu ritual Pendekar Pemabuk dengan melepaskan pedang energi, tapi yang terjadi pedang itu malah kembali lagi ke arahnya.


Situasi semakin lama semakin mencekam saja, tiga kilatan ungu yang menghantam tubuh Pendekar Pemabuk serasi dengan teriakan yang melengking dari mulut orang tua itu.


“Apa yang terjadi dengan komandan kita?” Salah satu dari bawahannya bergidik, tengkuknya terasa dingin.


“Kalian akan melihat iblis sebentar lagi.” Sungsang Geni menjawab pertanyaan pemuda itu.


“Iblis?”


“Jangan berdusta pendekar muda, tidak mungkin hal itu terjadi. Kau hanya ingin....”


Sungsang Geni terdiam, pemuda itu tidak melanjutkan ucapannya. Ratusan pasang mata hanya terbelalak setelah menyaksikan tubuh Pendekar Pemabuk berwarna hitam dengan rambut keras dan mata hitam yang dingin.


Aura kegelapan memancar menggebu-gebu dari dalam tubuh orang tua itu. Pandangannya segera tertuju ke arah Sungsang Geni.


“Kau harus mati hari ini juga!” Suaranya terdengar berat dan menggelegar. “Kau adalah musuh kegelapan.”


Sungsang Geni tidak menjawab perkataan itu, sejujurnya dia juga merasa ketakutan untuk beberapa saat. Energi kegelapan pak tua itu jelas sekali tidak terkira, seperti yang pernah terpancar dari tubuh Banduwati.


'Aku hanya memiliki Energi Alam saat ini, itupun tidak terlalu banyak.' Sungsang Geni bergumam kecil dalam hatinya.


Akankah Sungsang Geni menjadi mahluk bersayap emas seperti saat dia menghadapi Komandan Banduwati di perguruan Lembah Ular? Entahlah.

__ADS_1


__ADS_2