
Semakin cemas keadaan musuh saat ini dengan hilangnya nyawa sang pemimpin. Sekarang mereka tidak tahu harus melakukan apapun.
Dalam keadaan panik seperti itu, antara melarikan diri atau mematikan api, mereka tidak tahu harus memilih yang mana. Mereka seperti orang tanpa arah.
Dalam situasi seperti ini, raungan prajurit yang di bawa Sungsang Geni meledak beriring letusan bubuk setan di malam sunyi. Mereka menumbangkan semua orang yang berniat melarikan diri.
"Jangan biarkan mereka pergi dari tempat ini!" Teriakan salah satu prajurit memberi ketakutan kepada musuh.
Sungsang Geni segera melesat pada sebuah rumah yang digedor dari dalam. Rumah itu terkunci dengan rantai besar dan gembok yang juga besar.
Dengan satu ayunan pedang, rantai itu terpotong dengan mudahnya. Tapi keterkejutan pemuda itu tidak dapat ditutupi. Dia melihat ada 70 orang tawanan pria yang kondisinya benar-benar miris.
"Ini, biadab mereka semua!"
Hampir seperti binatang, tanpa pakaian dan dibiarkan tidur di lantai tanah yang kumuh. Tubuh-tubuh mereka sangat kurus, padahal ladang padi terhampar berbidang-bidang yang setiap hari mereka urus.
“Tuan, apa kau datang untuk menyelamatkan kami?” Salah satu dari orang tua yang memiliki kumis jarang berjalan merangkak mendekati Sungsang Geni.
Tubuhnya nyaris tulang di balut kulit, mata hitam jendul dan bibir pecah. Rambutnya kusut berantakan, sekusut musuh yang membudak mereka.
'Tolong kami, tuan pendekar...” rintih orang tua itu. “Bagaimana caranya kau harus mebebaskan kami dari derita ini, tidak masalah jika kau menancapkan pedangmu, mungkin itu lebih baik daripada kami seperti ini.”
Sungsang Geni tidak tahu harus bersikap seperti apa? Marah dan kasihan bercampur di dalam benaknya.
“Kami akan membawa anda keluar dari tempat ini, bertahanlah!”
Seakan meminum air dingin di musim panas, wajah orang-orang disana terlihat kembali memiliki pancaran hidup.
Kemudian 13 orang pendekar datang membantu.
Sangat sulit untuk membawa orang-orang tua dan lemah seperti mereka. Jangankan berjalan, merangkakpun kepayahan. Beberapa anak-anak terpaksa dibopong, yang muda membantu yang tua.
Ketika mereka melewati pintu rumah, orang tua itu kembali berkata pelan sambil menunjuk pada tempat yang cukup besar di ujung jalan.
“Itu adalah tempat para wanita disekap!” ucapnya. "Bantulah pula mereka, tuan..."
__ADS_1
"Tentu saja, kami datang untuk mengambil segalanya dari tangan mereka."
Mendengar hal itu, Siko Danur Jaya -tanpa menunggu instruksi dari Sungsang Geni- segera berlari ke rumah yang dituju.
Sementara Ratih Perindu tidak henti-hentinya menghajar setiap prajurit kelelawar Iblis yang dia temui. Wajah wanita itu terlihat marah sekali.
Tapi ada yang paling membuat musuh itu ketakutan. Sikuku hitam yang berkilat di malam hari, Panglima Ireng. Dia melolong keras di tengah malam, mengundang dewa kematian.
Cakaran Panglima Ireng merobek daging-daging di tubuh, kaki dan tangan. Dia mencengkram, kemudian melempar musuhnya dengan mudah.
Ketika dia melangkah pelan dengan tatapan tajam, satu persatu musuhnya jatuh lunglai tanpa memberi perlawanan.
"Jangan....jangan mendekatiku, pergi sana, Tolong, TIDAK!"
"GERR..." Geram mahluk itu.
Dua kali serangan, akhirnya pintu terbuka. Tapi Siko Danur Jaya segera kembali menutup pintunya. “Apa yang terjadi?” Ratih Perindu mendekati kekasihnya itu.
“Aku akan menyerang di sisi lain, kau ajak para wanita untuk mengurus mereka.” tiga detik setelah mengatakan hal itu, Siko Danur Jaya bergerak lebih brutal dari biasanya.
Di dalam rumah itu, masih ada beberapa orang Anggota Kelelawar Iblis yang terlelap dengan cawan-cawan arak di tangan mereka. Meledak pula kemarahan Ratih Perindu, dia dengan kuat menyeret hampir 8 orang pria hidung belang keluar dari tempat itu.
“Kalian semua carikan pakaian untuk mereka!” Teriak Ratih Perindu meminta semua pendekar wanita untuk bergerak cepat. “Para ******** ini tidak layak untuk diberi kehidupan, aku akan membuat mereka menderita sebelum mati.”
Orang-orang yang dimaksud Ratih Perindu masih belum terjaga, sangat mabuk berat. Jadi gadis itu menekan mata kapaknya pada paha mereka. Hingga mereka terjaga.
"AHKK!" Teriak mereka. "Apa yang kau lakukan dasar wanita kurang ajar?"
Cempaka Ayu tersenyum sinis, "Tentu saja, membunuh kalian."
Dari kejauhan Sungsang Geni bisa menangkap hal apa yang telah di temui temannya di dalam rumah tahanan itu. Jadi dia tidak melarang dengan apa yang akan dilakukan Ratih Perindu kedepannya.
Di sisi lain, Cempaka Ayu bersama Senopati Rerintih bertugas menghadang jalan keluar desa ini. Mereka yang di bawah pimpinan Cempaka Ayu adalah pendekar yang memiliki kemampuan jarak dekat dan jarak jauh secara seimbang.
Tugas mereka hanya satu, memastikan tidak ada satu orangpun yang keluar hidup-hidup dari desa kecil ini, atau juga memastikan tidak ada orang yang bisa ke tempat ini.
__ADS_1
“Cempaka...” Rerintih berteriak, dia melihat seseorang mungkin mata-mata baru saja melarikan diri. “Tangkap dia, jangan biarkan dia merusak rencana kita!”
“Aku mengerti.” Cempaka Ayu melesat dengan cepat, melayang di gelap malam, masuk di ladang jagung yang terletak di sisi timur tempat ini.
Sekekali orang itu melepaskan serangan dengan cara melemparkan pisau kecil, tapi percuma saja. Jangankan melukai tubuh gadis itu, pisau kecil yang dia lemparkan malah balik menyerang dirinya.
Pria itu berhasil menghindar, cukup cepat pula meski dia hanya berlarian di antara batang-batang jagung. Seperti seekor tikus.
Namun hal itu tidak lama terjadi, Cempaka Ayu menjentikkan jarinya, lalu hampir seluruh buah jagung melesat cepat menjadi senjata mematikan.
Satu dua serangan mungkin bisa dihiindari oleh orang itu, tapi Cempaka Ayu adalah wanita terkuat yang pernah ada di wilayah Surasena. Tidak ada kesempatan orang itu bisa lolos.
Satu pokol jagung berhasil menembus paha kanannya, kemudian dua pokol lain menembus bagian betis.
“AHKKKK!” orang itu berteriak kesakitan.
Cempaka Ayu melayang di udara, -pria itu tahu meski dalam remang malam- tatapan gadis itu begitu tajam. Tanpa rasa kasihan, seperti bukan seorang gadis muda yang identik dengan kelembutan. Pria itu lupa, ini adalah perang.
“Meski kau berlari sampai ujung wilayah ini, seranganku akan tetap menjangkau dirimu.” Cempaka Ayu kemudian membuka telapak tangannya ke arah langit, dan seketika bersamaan dengan terangkatnya tangan gadis itu, pria itu melayang tanpa bisa bergerak sedikitpun.
“Kau belum boleh mati hari ini, ada banyak hal yang harus kami ketahui mengenai kalian.”
"Bunuh, bunuh saja aku..." rintih pria itu, dia meringis kesakitan, darah membanjiri seluruh paha hingga betisnya.
"Orang lemah tidak bisa menentukan bagaimana cara dia mati."
***
Bumbungan api sudah melalap seluruh uma padi, sangat disayangkan memang. Empu Pelak terkekeh kecil, tapi dia sedikit kesal sebab stock bubuk setan dalam tong gerobaknya tinggal sedikit lagi.
Ketika selesai dengan tugasnya Joko Sewu lantas mendekati Empu Pelak dan puluhan pendekar yang menemaninya.
“Orang itu, apa dia seorang pendekar dari aliran putih?” Jaka Sewu bertanya.
Empu Pelak kembali terkekeh kecil, “Tidak, kita tidak lagi putih dan hitam, anak muda. Disini yang ada baik dan jahat, kau bisa memilih berada di pihak mana dirimu, baik atau jahat?”
__ADS_1