
Setelah hari siang, seorang pelayan berjalan tergesa-gesa menuju kamar Dewangga, dia membawa kabar bahwa Raja Cakra Mandala memerintahkan seluruh Putra Mahkota untuk mendatangi acara makan pagi bersama keluarga Kerajaan Surasena.
Namun wajah pelayan itu sedikit panik, beberapa orang prajurit di belakangnya menunjukan wajah yang serupa.
Sebenarnya Dewangga menyadari, acara makan pagi yang disebutkan pelayan terasa janggal. Lebih dari itu, Dewangga mengetahui sesuatu telah terjadi di dalam istana.
“Baiklah paman, tunggu sebentar” ucap Dewangga, berusaha menepiskan pikirannya, ‘mungkin hanya perasaanku saja.’
Setelah dia membersihkan tubuhnya, Dewangga mengiringi pelayan menuju tempat penjamuan Kerajaan.
Seperti Dewangga, pelayan juga menjenguk kediaman Warkudara dan seorang Putra Mahkota yang sampai sekarang baik Dewangga maupun Warkudara belum Mengetahui wajah dan rupanya.
Dewangga hanya mengetahui namanya, Pangeran Nala Setya, yang memiliki kemampuan pendekar cukup tinggi berada di level Pendekar pilih tanding.
Namun mengetahui Nala Setya juga tiba di sini lebih awal dan sangat baik-baik saja, Sungsang Geni mengira pasti ada salah satu orang yang sangat sakti melindungi Pangeran Mahkota itu.
Namun beberapa rumor mengatakan, dia dilindungi oleh seorang gadis muda yang umurnya bahkan masih 20 tahun. Dikatakan gadis itu, memiliki kekuatan yang bahkan setara dengan Senopati Karang Dalo.
“Paman apakah aku boleh ikut?” Gading bertanya kepada Pelayan istana.
“Tidak, acara ini hanya untuk putra mahkota dan keluarga kerajaan, Raja Cakra Mandala akan membicarakan sesutau berurusan dengan politik.” Pelayan itu kemudian membungkuk, Gadhing terlihat kesal.
Tidak lama kemudian, seorang keluar dari kamarnya diikuti oleh seorang gadis cantik bercadar tipis. Sungsang Geni segera menebak itu adalah Pangeran Nala Setya dan tentu bersama pengawalnya.
“Kau tidak boleh ikut!” dua orang prajurit menyilangkan pedangnya, berusaha mencegah gadis muda yang bersikeras ikut mendampingi Nala Setya.
Gadis itu menatap kedua prajuirt, Sungsang Geni melihat gadis itu menjelitkan matanya dari balik cadar. Segera sesuatu terjadi pada kedua prajurit itu, mereka tiba-tiba saja menjadi tegang, bergetar dengan mata terjelit dan tubuh yang kaku.
Baik Sungsang Geni ataupun orang lain yang melihatnya sama-sama tidak mengetahui apa yang terjadi kepada kedua prajurit itu.
__ADS_1
Pelayan yang berada di dekat Nala Setya segera membungkuk, memohon ma’af. “Pangeran, saya mohon agar anda memerintahkan pengawal anda untuk berhenti melakukan itu...”
“Itu?” Sungsang Geni tidak mengerti maksud dari ucapan sang pelayan.
“Ajian Sukma Gila!” ucap Mahesa, dia nampak sudah pamiliar dengan kekuatan itu, atau setidaknya mengetahui sedikit mengenai kekuatan itu. “Tak kusangka akan melihatknya ditempat ini, ajian yang sangat langka sekali.”
“Sukma Gila?” tanya Sungsang Geni.
“Kau tidak mengetahuinya? Ajian itu dapat membuat seseoarang menjadi gila bangkai, kejang dan menjelit hanya dengan menyentuh lawannya. Tapi nampaknya gadis itu bahkan bisa menggunakannya hanya dengan tatapan mata saja. Seseorang yang memiliki tenaga dalam rendah tidak akan mempu menahan ajian itu.” Mahesa mengelus dagunya, sekekali dia melirik kearah gadis itu.
“Ajian yang mengerikan.”
“Bukan mengerikan, tapi merepotkan. Ajian itu tidak dapat membunuh lawannya, epek gila akan dialami selagi sang pengguna ajian berada didekat lawannya atau tidak menghentinkannya. Namun tentu saja, pengguna ajian bisa berlaku curang, ketika lawannya sedang terkena epek ajian Sukma Gila.”
Perkataan Mahesa membuat Gadhing, Durada dan yang lainnya tidak berniat berurusan dengan gadis itu.
Mungkin itu sebabnya, Pangeran Nala Satya berhasil tiba ditempat ini dengan selamat. Pikir Sungsang Geni.
“Baiklagh Yang Muliya, printahmu adalah kewajiban bagiku. Aku akan selalu menunggumu dengan senang hati, karena aku mencin....”
“Cukup Barakuna. Sudah ku bilang aku tidak menyukai laki-laki. Dan jangan buat aku malu ditempat ini!” Nala Setya terlihat kesal.
Baik Sungsang Geni ataupun teman-temannya sama-sama terkjut. Tidak mereka sangka, gadis cantik menggunakan cadar putih ternyata seorang pria. Tidak, tepatnya seorang banci.
Penampilan Barakuna bahkan lebih cantik dari beberapa gadis yang mereka temui di pinggir jalanan Surasena. Wajah putih, mata bulat dengan bulu mata lentik. Dan tentu saja, tonjolan besar di bagian dadanya, membuat Barakuna benar-benar terlihat seperti wanita.
“Apa itu karena menggunakan ajian Sumka Gila, hingga membuat otak dan tingkah lakunya menjadi wanita.” Tanya Gadhing, dia adalah laki-laki yang paling terkejut mengetahui kebenaran Barakuna.
“Tidak, aku tidak mendengar hal seperti itu?” Mahesa menimpali.
__ADS_1
Setelah kepergian Putra Mahkota Nala Setya, Barakuna bergegas masuk kedalam kamarnya. Sebelumnya, dia sempat bertatap mata dengan Sungsang Geni, namun lekas memalingkan wajah. Nampaknya dia tidak tertarik dengan Sungsang Geni, membuat pemuda matahari itu menelan ludah beberapa kali.
“Baiklah aku akan pergi sebentar!” ucap Sungsang Geni.
“Aku akan menemanimu!”
“Tidak Mahesa, aku hanya akan melihat-lihat saja. Setelah aku puas, aku akan segera kembali.” Setelah berkata demikian, Sungsang Geni segera keluar dari lingkungan penginapan tetamu kerajaan.
Sungsang Geni berniat mengetahui lebih banyak tentang Surasena. Apalagi melihat para pelayan yang menemui para Putra Mahkota dengan berwajah tegang.
Dia menyusuri jalanan Istana yang lebar. Matahri yang cerah, membuat beberapa batu yang menjadi penghias bibir jalan berkerilipan seperti intan berlian.
Beberapa prjurit yang ditemui Sungsang Geni terlihat curiga melihat kedatangannya, tapi kecurigaann mereka segera sirna menyadari jubah yang dipakai Sungsang Geni bukanlah dari bahan biasa.
“Jubahnya terlihat sangat berkelas, tidak mungkin manusia biasa mampu memiliki jubah semacam itu.” Gumam salah satu prajurit.
“Dia pasti keluarga kerajaan, mungkin juga seorang pangeran?” beberapa yang lainnya menimpali.
Mendengar ocehan mereka, Sungsang Geni hanya tesenyum, dia terus melangkahkan kaki melihat-lihat keadaan istana yang memukau.
Langkah kakinya tiba-tiba saja berhenti, dia mendapati sebuah sungai kecil mengalir dihalaman belakang istana Surasena. Sungai itu berasal dari bawah istana, seperti ada mata air yang keluar dari bawah bangunan istana itu.
Dengan beberapa pohon pinus dan beberapa aneka bunga yang menghiasi tepian aliran sungai, membuat pemandangan itu terlihat asri sekaligus aneh.
Sungsang Geni melanjutkan langkahnya, menyusuri aliran sungai kehilir yang membawanya pada sebuah gubuk kecil yang berdiri ditepi sungai.
Asap keluar dari dalam gubuk itu, seseorang nampaknya sedang memasak sesuatu di dalam sana.
‘kenapa ada gubuk kecil di lingkungan istana ini? Bukankah harusanya Istana Surasena tidak membiarkan bangunan itu berdiri?’ batin Sungsang Geni bergumam.
Dia berjalan pelan menuju tempat itu, tidak ada hal yang menarik disana tapi itulah yang membuatnya menjadi menarik.
__ADS_1
“Anak Muda?” seseorang tiba-tiba saja keluar dari dalam gubuk, pria tua yang dipenuhi uban diseluruh rambutnya. “Siapa yang telah menyuruhmu datang ketempat ini? Apa kau berniat mati?”