
Prajamansara menyembunyikan kepalanya kembali ke dalam kereta kuda mewah, seperti kepala seekor kura-kura. Meringkuk bersama dengan dua pelayan cantik, bersembunyi seperti bayi di bawah ketiak mereka.
Pria itu sebenarnya tidak memiliki cukup kemampuan untuk bertarung. Hanya saja, dia memiliki otak yang cukup cerdik, dan di lindungi oleh orang-orang yang hebat.
Dia sama sekali tidak pernah menyangka, dua ribu pasukannya dikalahkan oleh satu orang pemuda dan satu pria tua. Dua dari tiga pendekar iblis dari malaka, yang membuat dia merasa aman kini telah tewas ditangan pemuda itu.
Satu lagi mungkin akan menyusul, tapi bagian terburuknya adalah Patih Siruyu terbang cepat ke arah Prajamansara dengan pedang terhunus. Dengan sekali tebas, atap kereta kuda terbuka lebar, melayang dan jatuh ke tanah.
Terlihatlah dengan jelas, wajah Prajamansara bersama dua pelayannya.
“Apa yang kau lakukan di dalam sana?” tanya Siruyu Citro. “Keluar dari sana secepatnya, atau kupenggal kepala licik dari batang lehermu.”
Prajamansara menoleh dengan raut wajah sayu, senyum pahit jelas tersungging di bibirnya. Perlahan dia meninggalkan dua pelayan, berjalan dengan leher diancam pedang.
“Aku...aku tidak berniat melarikan diri, jadi bisakah kau menurunkan pedangmu...” Meski bertingkah seperti bocah sekalipun, Patih Siruyu Citro tidak akan lengah. Prajamansara pintar bermulut manis, karena itu Tumenang jatuh ke tangannya, tapi untuk hari ini tidak ada yang akan tertipu lagi.
Sementara itu, di tengah padang ilalang Sungsang Geni masih berdiri tepat dihadapan Malaka Lime. Pedangnya belum hilang, masih bersinar terang tapi aura panas sudah mulai lenyap di tubuh dan senjata pemuda itu.
Sisa prajurit memilih melepaskan senjata, menyerahkan diri adalah solusi terbaik saat ini. Mereka sadar, tampaknya pemuda dengan pedang energi tidak akan membunuh siapapun yang menyerahkan diri.
Beberapa puluh orang yang masih nekat masuk ke dalam hutan, sekarang sedang menemui takdir lain. Ya, sejak para prajurit melarikan diri kedalam hutan, untuk menghindari aura panas Sungsang Geni, Wulandari mengejar mereka semua.
“Lakukanlah dengan cepat, kami sudah kalah...kau sudah membunuh semua teman-teman seperguruanku...” Malaka Lime bergumam lirih.
Sungsang Geni belum bertindak, tapi sorot mata masih saja menakutkan. Butuh beberapa waktu bagi pemuda itu untuk memutuskan hal apa yang akan dilakukannya. Hingga akhirnya...
__ADS_1
“Aku tidak akan membunuhmu, kami sudah mendapatkan pimpinan kalian!” Sungsang Geni memalingkan wajah ke arah Prajamansara yang digiring oleh Patih Siruyu Citro dengan pedang. “Tapi untuk memutuskan segala perkara, tentu saja bukan kebijakanku.”
Malaka Lime terkekeh kecil, menatap wajah Sungsang Geni dengan sayu, masih terkekeh kecil kemudian bergumam lagi. “Jika kau tidak bisa membunuhku, maka mereka yang akan membunuhku. Apa bedanya, aku akan tetap mati.”
“Kita bisa membicarakan itu...”
Sungsang Geni bergerak cepat, tapi sayang Malaka Lime tidak bisa dihentikan. Dia memilih mengakhiri kehidupannya, dengan menusukkan satu mata panah tepat ke bagian jantung. Dari mulutnya keluar darah merah yang kental.
“Ini adalah pilihanku, kematian akan datang menghampiri semua orang tapi aku tidak mati ditangan lawan...” dengan tersenyum bangga, dia roboh ke depan tepat di kaki Sungsang Geni.
Pemuda matahari itu hanya menghembuskan nafas berat, kemudian pedang di tangannya lenyap menjadi butiran debu laksana kunang-kunang. Dia berjalan gontai menuju sekerumunan prajurit yang berdiri dengan dua lutut mereka.
Tidak ada senjata lagi, semua sudah dibuang. Baju zirah perang bahkan ditanggalkan, membuktikan mereka benar-benar menyerah. Kesemuaan prajurit mungkin tinggal tiga ratus orang, mungkin tidak sampai.
Beberapa menit kemudian, Wulandari keluar dari dalam hutan dengan tubuh penuh darah. Tampaknya dia telah berhasil membunuh belasan prajurit sendirian.
“Kau benar-benar hebat...” ucap Sungsang Geni menyunggingkan senyum kecil, membuat Wulandari senyum tersipu malu.
“Patih, mengenai tawanan ini aku serahkan semuanya kepada dirimu, tapi jika boleh aku beri saran, alangkah baiknya tidak memberi hukuman mati kepada mereka.”
Patih Siruyu berpikir beberapa saat. “Yang kau katakan benar anak muda, kita tidak bisa membunuh mereka, tentu saja akan ada hukuman tapi hem....” Patih itu kembali berpikir sejenak. “Sudahlah, nanti kita pikirkan kembali. Yang terpenting saat ini adalah, pria brengsek ini harus mendapatkan hukuman yang setimpal.”
“Mengenai Prajamansara, aku memiliki sebuah rencana.” usul pemuda matahari itu, dan ini terlihat buruk bagi Prajamansara.
***
__ADS_1
Setelah kembali lagi ke Istana Tumenang, situasi rupanya telah memanas. Adipati Lingga telah memimpin pergerakan untuk menghancurkan Istana, bukan hanya itu d ibelakang pasukan itu ada ribuan rakyat membawa alat-alat pertanian. Tampak akan berperang besar melawan pemerintah.
“Kalian datang tepat waktu...” Senopati Mangku Anom bergegas memberi hormat kepada Patih Siruyu Citro. “Dan nampaknya, dedemit ini,” Pria itu memberi satu pukulan ke arah perut Prajamansara, “berhasil kita tangkap.”
“Paman Senopati, mungkin ini sudah saatnya kita melakukan hukum mati terhadap Prajamansara.” Sungsang Geni memberi usul, mendengar hal itu Prajamansara hendak memberontak, hendak pula berteriak tapi sayang mulut dan tangannya terikat.
“A....u...a...u...” hanya itu yang terdengar dari mulut pria itu.
Tidak selang beberapa lama, seorang telik sandi datang menemui mereka. “Adipati Lingga datang dengan pasukan besar dari arah utara, bukan hanya itu tiga adipati lain terlihat bersama dengan rombongan tersebut, dan juga.”
“Dan juga?”
“Seekor Srigala besar.” Pria itu bergidik memikirkan hewan tersebut.
Wulandari tersenyum riang mendengar hal itu, jelas pula dia kenal dengan srigala hitam besar tersebut. Panglima Ireng siapa lagi, pikirnya.
“Berapa lama lagi?”
“PRAJAMANSARA!” Terdengar teriakan dari luar pintu Istana yang selalu tertutup. “Kami sudah mengepung tempat ini, sebaiknya kau dan pasukanmu menyerahkan diri, sebelum kami membakar tempat ini bersama dengan kalian.”
Itu adalah teriakan dari Adipati Lingga. Sejujurnya, pria itu mulai ragu saat ini, ada banyak pertanyaan di benaknya. Mungkinkah rencana mereka akan berhasil? Sebab yang dia ketahui, Prajamansara masih berada di luar kabut ilusi. Dengan semua orang bersama dengan dirinya, siapakah gerangan yang berani menjadi Prajamansara.
Bagian terburuknya adalah, jika tidak ada orang yang menyamar sebagai Prajamansara atau lebih buruk lagi semua kenaikan upeti adalah hasil rekayasa dari Senopati Mangku Anom, maka bukan hal mustahil mereka akan dibunuh oleh rakyat saat ini juga.
Pintu Istana tiba-tiba berbunyi, bergetar kecil dan mulai terbuka pelan-pelan. Semua rakyat dan prajurit dibawah tiga Adipati selain Adipati Lingga mengangkat senjata, bersiap siaga untuk bertempur.
__ADS_1
Tapi kemudian, semua orang menjadi terkejut, parang dan golok yang terangkat tiba-tiba turun kembali. Prajamansara di giring keluar dari dalam istana Oleh Senopati Mangku Anom beserta beberapa belas orang pasukannya.
“Ke...kenapa Senopati Mangku Anom telah berada di sana?” salah satu Adipati bertanya heran kepada Lingga.