PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Miksan Jaya


__ADS_3

Pasukan itu telah berjalan selama satu minggu tanpa berhenti kecuali untuk mengisi perut mereka. 100 gerobak besar berjalan di belakang pasukan itu, dikendalikan oleh kusir kuda yang kesemuanya adalah budak tahanan.


Wajah-wajah mereka begitu memprihatinkan, nyaris seperti tulang di balut kulit. Mereka tidak makan dan tidak minum, tapi tidak pula mati. Topeng Beracun memiliki kemampuan untuk menciptakan budak yang berguna sampai menunda kematian menjemput mereka.


Tentu saja mereka merasa lapar merasa haus dan juga merasa dingin dan panas, tapi tidak ada yang peduli dengan nasip orang-orang malang itu.


Tidak ada yang mengizinkan mereka makan dan minum meski saat ini ada 100 gerobak makanan yang mereka bawa. Bahkan ada yang lebih menyakitkan, mereka seolah tidak diizinkan untuk mati.


Napas mereka tinggal sepotong-sepotong, mata bendul yang sayu dengan kulit hitam seperti terbakar. Tiada baju dan celana, para budak hanya menutupi ******** mereka dengan pelepah daun pinang yang di ikat dengan rotan ataupun akar tumbuhan.


Ada beberapa garis panjang berwarna hitam di sekujur tubuh mereka, garis-garis itu tercipta dari cambuk yang setiap hari melecut dari tangan-tangan kasar para mandor. Bahkan tidak jarang mereka di siram dengan air panas hingga melepuh.


“Aku ingin mati, aku ingin mati...” rintih lirih keluar dari dalam mulut mereka, tapi tidak ada yang peduli, orang lemah tidak bisa menentukan bagaimana cara mereka bisa mati.


“Haus, beri kam minum...”


“Beri kami makan...” begitulah ucapan kecil yang keluar dari dalam mulut keriput, tapi tidak akan ada air yang bisa menghentikan dahaga mereka kecuali ketika hari hujan atau ketika air mata jatuh berlinang hingga menyentuh bibir-bibir kering merekah.


Tiba-tiba pasukan besar itu menghentikan laju jalan mereka, orang paling depan yang merupakan salah satu wakil Komandan meneriakkan sesuatu.


“Ada sungai luas di depan!”


“Sungai luas?” Jaka Balabala mengernyitkan kening. “Bodoh, kita tinggal menyebrangi sungai itu, apa sulitnya?”

__ADS_1


Nyai Siwang Sari menghentakan kakinya pada punggung gajah lalu melayang ke depan. Baru berhenti tepat di pinggir sungai yang berarus tenang dan luas. Ada pelabuhan di pinggir sungai itu, tapi tidak ada satu kapalpun tertambat di pelabuhan kecuali puing-puingnya yang telah tenggelam sebagian.


Semua kapal sudah dihancurkan oleh prajurit Surasena, mungkin saja. Atau mungkin ada beberapa pendekar liar yang melakukan hal itu.


“Berikan aku peta!” Nyai Siwang Sari berkata, kemudian salah satu dari wakil Komandan menyodorkan selebar kertas berwarna coklat. Wanita itu memperhatikan peta dengan teliti, dia menyusuri gambar sungai dengan ujung telunjuknya kemudian baru berhenti setelah menemukan sebuah gambar gunung. “Kurang ajar, kita tidak mungkin mengambil jalan memutar, jaraknya terlalu jauh.”


“Ada apa nimas?” Jaka Balabala baru saja tiba di sisinya, mengedipkan mata pada wakil komandan wanita itu beberapa kali lalu tersenyum genit, ya ampun dia memang tidak memiliki rasa malu sama sekali.


“Kita harus membuat kapal untuk bisa menyebrangi sungai ini.” Nyai Siwang Sari menatap jauh ke seberang sungai, mulai mengira lebar sungai itu dan berapa kapal yang harus merek buat.


Bagi pendekar yang memiliki ilmu meringankan tubuh, hal ini bukan menjadi masalah. Paling-paling kehabisan tenaga dalam setelah sampai di seberang sungai. Namun bersama dengan mereka ada lebih dari belasan ribu prajurit tidak menguasai ilmu meringankan tubuh dengan baik.


Alih-alih menyeberangi sungai mereka mungkin jatuh di tengah-tengah karena kehabisan tenaga dalam.


***


Di seberang Sungai terlihat seorang pemuda memiliki mata tajam sedang memperhatikan pergerakan pasukan besar itu. Dia bersembunyi di balik-balik semak belukar. Bersama dengan dirinya seekor elang hitam bertengger di bahu kirinya.


Dia mengenakan getang kepala hitam, dengan baju bercorak coklat belang hitam. Tubuhnya tidak terlalu besar tapi berisi, memiliki sorot mata tajam dan dalam. Beralis tebal yang sedikit menyatu.


Ada sebuah pedang pusaka yang memancarkan aura kuat tersandang di belakang pria itu. Dari penampilannya, dia mungkin seusia dengan Sungsang Geni atau paling tua seusia Benggala Cokro.


Setelah beberapa lama dia memperhatikan pasukan Kelelawar Iblis, dia segera pergi. Pemuda itu tidak menggunakan kuda, tidak pula terbang di antara dahan-dahan pohon. Dia hanya berlari, tapi kecepatan larinya sulit di ikuti dengan mata.

__ADS_1


Dalam beberapa menit saja dia sudah berada di lembah bukit yang subur. Di tengah lembah itu ada sebuah goa tertutup tanaman rambat. Terlihat tidak ada yang menjaga goa itu kecuali burung-burung kecil dan beberapa kupu-kupu.


“Hamba menghadap Pangeran!” berkata pemuda itu sambil membungkukkan tubuhnya pada seorang pemuda yang tidak memiliki lagi satu lengan kanannya. “Aku sudah menghancurkan semua kapal, tapi pasukan Kelelawar Iblis terlalu banyak. Jumlah mereka mungkin puluhan ribu, aku yakin mereka akan melewati tempat ini besok malam.”


Dia tak lain adalah Pangeran Miksan Jaya dari Kerajaan Tumenang. Pemuda itu berhasil terselamatkan atas bantuan Nyai Bidara, pengawalnya yang paling setia. Pangeran Miksan Jaya adalah orang yang pernah di selamatkan Sungsang Geni, ketika pemuda matahari itu sedang mengawal Pangeran Dewangga menuju Kerajaan Surasena.


Duduk di batu hitam, seorang wanita tua berwajah angker sedang bersamedhi. Dia tak lain adalah Nyai Bidara. Sudah satu bulan wanita itu melakukan semadi, selama itu pula tidak ada yang berani mengganggu wanita itu.


“Informasi yang sangat baik, temanku.” Berkata dengan suara berat Pangeran Miksan Jaya. “Jika melihat pasukan mereka yang begitu besar, tujuan mereka sudah pasti Surasena. Akan terjadi perang besar beberapa hari lagi, menurutmu apakah kita harus terlibat untuk kali ini?”


“Tentu saja Pangeran, ini kesempatan kita membersihkan nama baik Pangeran yang dicap sebagai penghianat.” Pemuda itu lalu merendahkan tubuhnya sehingga menupang badan dengan satu lutut sambil memberi hormat. “Aku akan berjuang bersama Pangeran, hingga titik darah penghabisan.”


Miksan Jaya tersenyum kecil, dia segera berdiri dan mengangkat tubuh pemuda itu. “Kau terlalu menghormatiku, bukankah kita adalah teman?”


“Benar, Pangeran.” Jawab pemuda itu.


“Aku menyetujui usulmu, tapi kita tidak bisa pergi untuk saat ini. Nyai Bidara masih berusaha menembus batasan dirinya, aku harap dia bisa meningkatkan tenaga dalamnya hingga berada pada puncak tanpa tanding. Walau bagaimanapun, membuka seluruh cakra bukanlah hal yang mudah.”


Pemuda itu mengalihkan pandangan pada sosok Nyai Bidara yang tiada bergerak, duduk bersila dan mata terpejam.


“Menurut Pangeran, berapa lama lagi Nyai Bidara menyelesaikan semadinya?”


“Aku pikir mungkin satu minggu, tentu saja hanya perkiraan saja. Pada saat itu, kita akan segera menuju Surasena.” Miksan Jaya berkata mantap.

__ADS_1


__ADS_2