PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Pembual Ulung


__ADS_3

Kuda berlari cepat, hanya membawa tiga orang penumpang mengikuti sepanjang jalan pesisir. Kalaulah bisa kuda itu diberi sedikit tenaga dalam, pasti Sungsang Geni sudah melakukannya sejak pertama.


Sementara Cempaka Ayu dan Panglima Ireng berada didalam gerobak angkut, mengintip dari jendela kecil yang terbuka. Memperhatikan ombak putih yang bergulung berkejar-kejaran, atau juga memperhatikan beberapa orang melempar jala. Tampak lebih tenang dibanding dataran Java.


Sekekali Cempaka Ayu dan Panglima Ireng berbenturan ketika gerobak masuk kedalam jalan berlubang atau roda tersandung beberapa batu kerikil. Sungsang Geni bukanlah kusir kuda yang handal, terkadang roda gerobak melaju hingga keluar jalan utama.


Setiap perbatasan desa yang mereka lalui, terlihat bendera besar berkibar, berwarna biru dengan lambang matahari bersinar tepat di tengah bendera itu. Lambang kejayaan, kekuatan dan keadilan bagi kerajaan Swarnadwipa.


Sekilas lambang itu mirip dengan segel matahari yang ada di kening Cempaka Ayu, bahkan jika mereka menyadarinya ukiran bunga api yang mengelilingi matahri pada bendera mirip dengan tanda api di lengan Sungsang Geni.


Namun rupanya, Sungsang Geni menyadari hal itu. Entah apa gerangan? Tapi berada di tanah ini membuat dirinya tiba-tiba merindukan sosok ibu, merindukan rumahnya atau merindukan sesuatu yang membuat hatinya tiba-tiba berdebar kencang.


“Apa yang terjadi denganku?” Pemuda itu bergumam sambil meraba dadanya yang sesak. “Aku seperti pernah memijakkan kaki di tempat ini.”


Setelah berjalan seharian penuh, pemuda itu menghentikan kereta kuda di ujung desa. Tepat di pinggir sawah yang terhampar luas, dengan padi menguning siap panen. Beberapa orang terlihat mengusir burung pipit yang pergi dan datang silih berganti.


“Apa kita akan istirahat di sini?” Cempaka Ayu keluar dari kereta kuda, mendekati pemuda itu yang sedang sibuk mengikat tali kuda pada pohon kelapa yang berdiri tepat di sisi kiri mereka.


“Ya, kita akan istirahat sebentar disini.” Sungsang Geni masih sibuk mengurus kudanya. “Kita lepaskan waktu sore, dan melanjutkan kembali perjalanan setelahnya.”


“Geni, Kenapa kau menjadi gusar? Apa kau memiliki masalah.” Cempaka Ayu bertanya heran.


“Benarkah? Mungkin hanya perasaanmu saja.” pemuda itu menatap matahari senja yang membuat laut berwarna merah kekuningan. “Lihatlah kesana! Pemandangan seperti ini sangat jarang kita temui di dataran Java.”


Cempaka Ayu menatap ke ufuk barat dengan mata berbinar. Benar, ini adalah pemandangan langka yang tidak bisa dilihat setiap waktu di kampung halamannya. Demikian pula dengan Panglima Ireng, hewan itu berniat melolong saking senangnya, jika bukan menyadari situasinya yang tidak memungkinkan.


Setelah cukup lama, dan matahari mulai hilang, tenggelam di lautan luas, Akhirnya mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan.


“Geni bukankah hari sudah malam, apa tidak sebaiknya kita istirahat sebentar.” Cempaka Ayu berkata. “Karena kita membawa gerobak kuda, mungkin akan sulit untuk melihat jalan.”

__ADS_1


“Aku tahu, kita akan berjalan pelan. Lagipula aku masih bisa melihat dengan cukup jelas di keremangan malam.” Sungsang Geni lantas tersenyum kecil sambil menyentuh pipi gadis itu.


Kuda kemudian kembali melaju, kali ini tidak begitu cepat. Sementara Cempaka Ayu masih memikirkan Sungsang Geni yang menurutnya tidak sama seperti hari-hari biasanya.


Gadis itu melihat ada beban pikiran, atau mungkin beban perasaan di wajah pemuda itu. Jika itu berkaitan dengan rakyat dataran Java, lantas kenapa sikap Sungsang Geni berubah baru hari ini?


'Apa yang terjadi dengan dirinya?' Gumam batin gadis cantik itu.


Setelah beberapa lama berjalan, mereka melihat sebarisan panjang orang sedang mengantri di depan sana. Dari penampilan mereka, terlihat seperti pedagang yang membawa hasil ternak dan pertanian mereka.


Sungsang Geni turun dari kereta kuda lalu mendekati seorang pria tua yang membawa gerobak besar dengan muatan karung-karung dan ditarik dengan sapi putih.


“Kisanak, jika boleh tahu apa yang terjadi?” tanya Sungsang Geni.


“Sedang ada pemeriksaan tuan,” jawab orang itu.


“Pemeriksaan? Memangnya mereka sedang memeriksa apa?”


Cempaka Ayu hanya mengintip dari jendela gerobak, melihat Sungsang Geni tampak sedang berbicara dengan seorang manusia. Tidak beberapa lama dia melihat pemuda itu telah kembali lagi.


“Geni, apa yang terjadi disana?” tanya Cempaka Ayu.


“Itu adalah prajurit Swarnadwipa, mereka sedang melakukan pemeriksaan.” Sungsang Geni kemudian memberikan sesuatu kepada Cempaka Ayu. “Itu adalah lencana pemburu yang aku ambil, semoga saja itu bisa membantu kita melewati penjagaan mereka.”


“Bagaimana dengan Panglima Ireng?”


“Kita akan menjadikannya kunci memasuki penjagaan mereka.” Sungsang Geni kemudian kembali menaiki gerobak, dan mengikuti barisan panjang itu. “Ikatlah Ireng agar terlihat meyakinkan!”


Setelah hampir satu jam lamanya, kini akhirnya tiba pula giliran Sungsang Geni yang diperiksa.

__ADS_1


“Perlihatkan tanda pengenalmu!” salah satu penjaga itu berkata.


Sungsang Geni memberikan lencana kepada penjaga, orang itu beberapa kali memperhatikan wajah Sungsang Geni kemudian kembali memperhatikan lencana dan beralih pada gerobak besar di belakangnya.


“Apa yang kalian bawa?” tanya penjaga lagi.


“Begini tuan, kami adalah pemburu yang ditugaskan menangkap srigala yang akhir-akhir ini meresahkan para petani.” Sungsang Geni kemudian turun dari gerobak. “Kami berhasil menangkap seekor srigala pengganggu itu, jika tuan tidak percaya silahkan tua periksa sendiri.”


Mendengar perkataan Sungsang Geni beberapa prajurit yang lain memasang ekspresi tidak percaya, kemudian petugas yang melayani pemuda itu berjalan dengan gagah mendekati pintu gerobak.


“Tuan, sebaiknya jangan terkejut sebab srigala itu sangat ganas dan masih hidup.”


“Aku tidak takut dengan hewan seperti itu.”


Orang itu lantas membuka pintu gerobak, tapi belum sempat dia memandangi isi dalam gerobak yang cukup gelap, Panglima Ireng sudah mengejutkan dengan geraman besar, menunjukan gigi taring yang panjang dan moncong berwarna hitam.


“Ahkkk!” pemuda itu terpekik, setelah wajahnya nyaris saja bersentuhan dengan gigi-gigi tajam Panglima Ireng."Tutup pintunya! Tutup!"


“Tenanglah tuan, tenang!” Sungsang Geni segera mengangkat pria itu. “Sudah aku bilang srigala itu sangat besar dan ganas, aku berniat membawa tulang belulangnya saja. Tapi mengingat sebentar lagi ada pesta, salah atu pawang binatang memintanya untuk dijadikan pertunjukkan binatang.”


Orang itu masih diliputi rasa cemas, butuh beberapa waktu baginya bisa mengatur napas dengan baik.


“Jika kau tidak mengizinkan aku masuk, aku akan meletakkannya di tempat ini. pawang binatang mungkin akan mengambilnya lusa nanti....”


“Bodoh, jika dia lepas dari rantainya bagai mana? Kau ingin kami semua dalam bahaya?” orang itu kemudian meninggalkan Sungsang Geni dengan kesal. “Kau bawa hewan itu langsung menemui pawang binatang, mengingat sebentar lagi pesta besar mungkin pertunjukan binatang akan menjadi tontonan menarik.”


Sungsang Geni tersenyum kecil, kemudian menutup kembali pintu gerobak sambil mengedipkan mata kearah Panglima Ireng dan Cempaka Ayu yang tak begitu nampak di bayangan gelap.


"Ya, pembual yang ulung." Cempaka Ayu tertawa kecil.

__ADS_1


“Biarkan pemburu ini masuk!” orang tadi meminta beberapa prajurit menaikkan palang pembatas, lalu berteriak kepada orang di belakang gerobak Sungsang Geni. “ Selanjutnya! Kau apa yang kau bawa dalam gerobak besarmu itu?”


“Ini hanya cerita sederhana, semoga kalian suka. Luangkan waktu untuk like dan koment sebelum melanjutkan capter selanjutnya!” ucap Author yang mungkin di jawab kesal para pembaca. Jiahahahahha.


__ADS_2