
Wira Mangkubumi menatap Windur Hati beberapa saat sebelum pergi memenuhi permintaan Minak Singo. Jika wanita itu sudah sadar, mungkin dia akan mengatakan hal yang sama seperti yang di katakan Sungsang Geni.
Kemudian dia segera pergi, menunggangi kuda dan melaju cepat di antara kerumunan para rakyat yang sedang melakukan pesta. Tidak membawa apapun, tidak membawa tombak bahkan tidak pula membawa baju zirah perang yang biasanya selalu dia kenakan.
Dilain sisi, tiba-tiba tabib cantik yang melayani Ratu Rindang Sari buru-buru hendak melaporkan sesuatu, tapi dia sekarang mulai bingung akan melaporkannya pada siapa. Tidak ada lagi keluarga kerajaan yang dapat di percayainya, dalam situasi seperti ini.
“Tidak masalah, apa kau membawa kabar mengenai Ratu Rindang Sari?” tanya Sungsang Geni menangkap raut wajah tabib cantik itu.
Seorang wanita yang memiliki jabatan sebagai Hulubalang memberikan isyarat agar tabib itu memberi tahu Sungsang Geni.
“Ratu Rindang Sari sudah sadar, ini lebih cepat dari perkiraan kita.” Tabib itu kemudian segera berjalan lebih dahulu di iringi Sungsang Geni sementara Cempaka Ayu tidak bisa meninggalkan Windur Hati sendirian.
Kemudian tabib cantik itu melanjutkan kembali ucapannya, “Meski demikian, rupanya air kelapa yang di minum Ratu Rindang Sari menyerap seluruh energi di dalam tubuhnya, ini juga bisa berakibat fatal. Ratu akan mengalami kelumpuhan total karena hal itu.”
“Apa yang harus dilakukan?” tanya Sungsang Geni.
“Harus ada orang yang menyalurkan tenaga dalamnya untuk Sang Ratu, tapi sayangnya hanya Wira Mangkubumi di Kerajaan Ini yang memiliki tenaga dalam yang besar, tapi dia...”
Gadis itu tidak melanjutkan kembali ucapannya, menyadari bahwa Wira Mangkubumi mungkin sekarang sedang mengalami hal buruk di luar sana.
“Tenang saja, aku bisa menyalurkan tenaga dalamku untuk Sang Ratu.” Sungsang Geni menjawab kekalutan di wajah tabib itu.
Beberapa saat kemudian, tibalah mereka di ruangan Rindang Sari. Ratu itu tergeletak di atas pembaringan, dia terlihat membuka matanya tapi keadaan dirinya tidak lebih seperti orang tanpa tulang, begitu lembut dan tak bertenaga.
Beberapa tabib lain yang sedang merawat Rindang Sari tidak tahu harus melakukan apa. Wajah mereka semakin cemas seiring dengan kondisi kulit Sang Ratu yang semakin mengeriput.
__ADS_1
Ketika mereka berusaha menyentuh kulit Rindang Sari, energi mereka juga tersedot untuk wanita itu. Karena itulah, tidak ada tabib yang berani menyentuh bahkan hanya rambutnya saja.
Wajah Rindang Sari mulai peot, efek samping dari menggunakan air kelapa muda sudah menggerogoti seluruh energi tubuh tuanya. Sekarang dia tidak rubah seperti nenek-nenek yang berusia 80 tahunan.
Sungsang Geni bergegas meletakkan telapak tangannya di kepala Rindang Sari, pada saat yang sama Pemuda itu terkejut bukan main. Tenaga dalamnya tersedot dengan sangat cepat, bahkan saking cepatnya tangan kiri Sungsang Geni seperti keram dan mati rasa.
Dari telapak tangan Sungsang Geni keluar cahaya berwarna biru muda yang kemudian masuk kedalam tubuh Rindang Sari secara terus menerus. Cahaya itu bahkan menyelimuti setiap sudut ruangan.
“Ahkk...ahkkk...” Sungsang Geni mengeraskan rahangnya, dia merasakan tenaga dalamnya sudah berkurang sebesar 2 jule hanya dalam waktu beberapa menit saja.
Bersamaan dengan pijar cahaya yang masuk kedalam tubuh Rindang Sari, kulit di tubuh wanita itu perlahan mulai kembali seperti semula, wajah keriputnya mulai berisi, wajah pucat biru sekarang mulai terlihat segar.
Setelah hampir 10 menit melakukan itu, akhirnya cahaya biru berangsur-angsur lenyap. Sungsang Geni mengangkat telapak tangannya, tapi dengan bergetar di seluruh bagian jari-jemari.
4 jule tenaga dalam sudah hilang, Sungsang Geni tidak percaya hal itu. Dengan 4 jule tenaga dalam, dia bisa mengeluarkan murka naga bayangan untuk menghancurkan 1/4 Istana besar ini.
***
“Aku mohon jangan sakiti cucuku...” Saylendra merengek di hadapan Minak Singo, ketika Senopati Legam menggantung bayi mungil itu di salah satu dahan pohon, sementara pedang Minak Singo mengayun-ayun untuk menebasnya.
“Biarlah aku yang kalian bunuh, tapi aku mohon jangan lakukan apapun kepada cucuku.” Sambung Saylendra.
“Oh lihatlah, sekarang kau seperti pecundang menyedihkan Yang Mulia Raja Saylendra, pemimpin dataran Swarnadwipa merengek seperti bayi kecil.” Minak Singo terkekeh kecil dengan sekekali menampar wajah tua raja itu. “Kemana amarahmu tadi? Sudah aku katakan, kau tidak dalam posisi bisa mengancam, Saylendra.”
Tidak beberapa lama kemudian, deru kuda mulai terdengar mendekati tempat itu. Minak Singo tersenyum kecil, sementara Senopati Legam meraih bayi kecil dan meletakkannya di ujung mata pedang.
__ADS_1
“MINAK SINGO?” teriak Wira Mangkubumi di kejauhan. “Aku datang! Aku datang , Minak Singo!”
“Oh, sang harimau sudah mulai menggeram!” ucap Minak Singo kepada Senopati Legam.
“Kita lihat apakah dia memiliki taring atau tidak, Pangeran?” Senopati Legam terkekeh kecil, membayangkan Wira Mangkubumi bahkan mungkin lebih merengek lagi dibandingkan Saylendra.
Setelah beberapa detik kemudian, Wira Mangkubumi sudah ada di depan mata mereka. Wajahya terlihat sangat murka, rahang yang keras dan pandangan mata yang tajam. Namun Minak Singo tidak takut sedikitpun.
Memang jika harus bertarung secara langsung, Minak Singo akan kalah telak menghadapi orang paling hebat di dataran Swarnadwipa itu. Tapi pertarungan tidak harus selalu menggunakan otot, pertarungan juga bisa dilakukan dengan otak.
Wira Mangkubumi melihat putranya tepat di ujung mata pedang, kemudian mertuanya duduk di akar kayu dengan ratusan lilitan rantai memenuhi tubuhnya. Tidak jauh dari Saylendra ada pula orang sedang duduk dengan kepala tertutup kain hitam, dengan ikatan rantai yang lebih sedikit dari Saylendra.
“Lepaskan ankku, Minak Singo!” ucap Wira Mangkubumi, berjalan perlahan mendekati pangeran Negri Sembilan itu. “Aku akan menuruti semua keinginan dirimu, tapi jangan sakiti keluargaku.”
Minak Singo tersenyum kecil, dia menuangkan air dari kendi labu pada cawan usang yang dia temukan di dalam rumah lalu memberikannya kepada Wira Mangkubumi.
“Jangan tergesa-gesa Mangkubumi, minumlah ini adalah arak yang enak!” Minak Singo kemudian meminum arak dalam kendi labu. “Rencanaku sebenarnya hanya ingin menculik putramu saja, kemudian memberikannya kepada Raja Renggolo dan dengan sedikit sentuhan otakku, kalian akan berperang hebat. Tapi...”
Minak Singo terkekeh kecil, “aku tidak tahu kenapa Raja Renggolo tidak membuka pintu untukku, jadi aku memutar sedikit otakku dan memutuskan untuk menculik Raja Saylendra dan putramu dengan bersamaan. Kau ingin tahu kenapa aku bisa melakukan hal itu?”
Wira Mangkubumi meremas cawan arak di telapak tangannya, tidak ingin mendengar omong kosong yang keluar dari mulut beracun Minak Singo.
“Kau buka tutup kepala pria itu!” Perintah Minak Singo kepada salah satu prajuritnya. “Agar orang ini tahu, bahwa aku bukanlah penjahat yang sekejam orang itu.”
Segera ketika penutup kepala pria itu terbuka, Wira Mangkubumi menggeram sambil mengepalkan telapak tangannya menahan amarah. “Hulubalang, bagaimana mungkin kau menghianati Rajamu sendiri?”
__ADS_1
Note: Hulubalang adalah nama lain dari penjaga, atau juga Senopati didalam bahasa melayu.