
Waktu yang telah ditentukan tiba pula, sekitar pukul 7 malam mereka bergerak mendekati sarang Komandan Kelelawar Iblis. Ketiga orang itu menunggang kuda, mereka juga menarik sekitar 10 ekor kuda untuk pelarian Empu Pelak dan bawahanya.Di malam hari, mereka menderu seperti rombongan srigala yang mengincar makanan sang raja Singa.
Sesampainya di jalur hitam, pergerakan mereka sedikit lambat, beberapa tiang lorong sedikit bergetar, dan itu tidak cukup baik. Jika sampai laju kuda mengenai salah satu tiang, lorong akan runtuh dan mereka akan terkubur hidup-hidup.
“Berhati-hatilah!” seru Sungsang Geni, “Lorong ini di rancang agar bisa mengubur orang yang melewatinya.”
Setelah melewati Jalur Hitam, sungsang Geni memacu kuda lebih cepat lagi, diiringi Cempaka Ayu dan diiringi guru Tiraka. Derap langkah kuda, menerobos gelapnya malam yang dingin dan hening.
Di atas bukit nan tinggi, Sabdo Jagat menatap ketiga orang itu dengan harap-harap cemas. Di ujung matanya, di balik gelap malam Sabdo Jagat tidak bisa membayangkan apakah rencana ini berhasil atau tidak?
Tapi tatapan pria itu tidak tertunduk dan selalu tajam seakan tidak terpengaruh oleh kegelapan malam, dia mengeratkan pegangan tongkat penghancur gunung, akan bersiap menyusul jika hal buruk menggagalkan rencana.
Sekitar 500 meter lagi atau mungkin kurang, Sungsang Geni mulai melambatkan laju kudanya. Dia kemudian terdiam sejenak, membuat Cempaka Ayu dipenuhi tanda tanya. Sekarangpun mulai timbul keraguan di benak Guru Tiraka.
“Geni, apa yang terjadi?” tanya Cempaka Ayu, wanita itu menoleh ke kiri dan ke kanan, mencoba menemukan sesuatu yang mungkin sekarang menggangu pikiran Sungsang Geni.
“Tunggu sebentar, kita berjalan pelan saja.” Jawab Pemuda matahari itu, dia membuka telapak tangannya lalu menghadapkan ke samping, “Angin berhembus ke arah mereka, membawa suara deru kuda yang kita tunggangi.”
“Dan kita akan ketahuan!” ujar Guru Tiraka, yang sekarang memahami tindakan Sungsang Geni, dia menyesal sempat meragukan pikiran pemuda itu. Disaat seperti ini, bukanlah hal bijak untuk saling curiga, atau semua akan berakhir buruk.
Sekitar 1 jam mereka berjalan pelan, setelah arah angin tiba-tiba saja berubah haluan. Sungsang Geni menepuk kudanya, dan melaju lebih cepat lagi.
Beberapa waktu kemudian mereka sudah melihat reruntuhan tembok, gemerlap lampu obor dan beberapa puluh orang yang berjaga di luarnya.
Sekitar jarak 200 meter, mereka turun dari kuda. Tidak berniat melaju lebih dekat, atau rentak kaki kuda akan terdengar. Lagipula, kuda-kuda itu terlihat gelisah saat mendekati Kelelawar Iblis.
__ADS_1
Mereka melayang pelan, Sungsang Geni yang baru saja berlatih meringankan tubuh sedikit kesulitan menyeimbangkan tubuhnya, tapi Cempaka Ayu berkata pelan kepadanya. “Fokus...dan tetap tenang!”
Sungsang Geni tidak mengerti kenapa gadis itu terlihat tidak takut memasuki wilayah Kelelawar Iblis, malah terlihat bersemangat. Berbeda dengan guru Tiraka, meski tidak dapat melihat wajahnya di keremangan malam, tapi Sungsang Geni yakin wanita itu merasakan ketakutan.
Cempaka Ayu mengangkat belasan kerikil di dekatnya. Dengan tubuh tetap melayang dan hanya sekali jentikan jarinya, belasan kerikil itu menyerang jantung belasan orang yang berjaga. Seketika mereka meregang nyawa tanpa sempat mengetahui siapa yang menyerang.
Belasan yang lain melihat rekannya tiba-tiba tewas tidak terduga, menjadi sedikit waspada. Mereka mulai berpencar dan pergi sedikit jauh dari rerutuhan tembok, tapi kesempatan ini segera digunakan Sungsang Geni untuk menebas kepala mereka.
“Benar-benar mayat hidup!” Guru Tiraka bergumam, dia mengais ceceran darah dengan sebilah ranting, “Sial, apa ini? Belatung?”
Sungsang Geni segera mendekati Guru Tiraka, dia menjentikan jari menciptakan api kecil pada telunjuknya, untuk melihat kebenaran yang diucapkan wanita itu.
Belasan kepala tergeletak dengan mulut mengangga, mengeluarkan bau menyengat. Ya, darah mereka tidak lagi merah, tapi menjadi lebih hitam lebih kental dan lebih busuk.
Sungsang Geni hampir-hampir tidak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya. Dia kemudian membalik kepala salah satu dari mereka yang dia tebas, dan terlihat ratusan belatung berkerumum, kemudian ia menutup hidung. “Mereka pasti telah lama mati, hanya saja jasad mereka masih dalam kendali Kelelawar Iblis.”
“Sekarang ayo bergegas!” Sungsang Geni menjagakan lamunan mereka berdua.
Hanya ada 3 cara membunuh manusia yang telah menjadi budak Kelelawar Iblis, memenggal kepalanya, menusuk jantungnya atau membakar tubuh mereka, yang manapun itu tidak akan mudah dilakukan bagi pendekar level kelas tanding sekalipun.
Sungsang Geni menyarankan Guru Tiraka untuk menunggu di luar tembok, menunggu kedatanga Empu Pelak, dan melarikan diri. Pemuda itu tidak dapat memaksakan wanita itu untuk masuk kedalam pagar, tidak setelah melihat wajah Tiraka yang terlihat pucat.
“Baiklah, aku setuju!” ucap Guru Tiraka dia menyadari kelemahannya, “Lagipula, aku tidak akan banyak membantu saat ini.”
Seseorang tiba-tiba saja mendekati mereka, tapi Guru Tiraka dengan kemampuannya segera mengunci pergerakan orang itu hingga seketika dia mengejang dan mati tak terduga. “Aku akan menghabisi semua orang yang ada di luar sini!” lanjut Guru Tiraka.
__ADS_1
‘Mengunci detak jantung!’ batin Sungsang Geni berkata, ‘Guru Tiraka memiliki kemampuan yang mengerikan. Membunuh tanpa menyentuh.’
Sungsang Geni bukan tidak percaya dengan kekuatan Guru Tiraka, tapi pada saat musuh menyerang bersamaan seseorang yang memiliki tekat hanya setengah hati akan mati lebih dahulu. Butuh sedikit tekat lebih banyak, tapi Sungsang Geni yakin wanita itu akan menjadi pembunuh paling misterius yang pernah ada.
Sungsang Geni berjalan mengendap-ngendap, dia menekan tenaga dalamnya pada titik tak terdeteksi oleh lawan. Di belakang pemuda itu, Cempaka Ayu melakukan hal yang sama, beberapa kali wanita itu ingin membunuh tapi Sungsang Geni bergegas menghentikannya.
“Kita datang untuk menculik Empu Pelak,” Sungsang Geni meletakan jari telunjuk di bibirnya, “ kita terpaksa harus menghindari keributan, atau rencana ini akan sia-sia.”
Cempaka Ayu terlihat kesal tapi terpaksa menganggukan kepala setelah melihat senyum di wajah Sungsang Geni. Dengan menekan tenaga dalam artinya dia tidak bisa menggunakan kemampuannya. Selanjutnya hanya menggunakan kekuatan pisik, gadis itu benci menggunakan kekuatan pisiknya yang lemah.
Ini adalah bagian pinggir dari Lembah Ular, tekanan kegelapan terasa tidak terlalu kuat. Sungsang Geni memperkirakan para penjaga di sini berada pada pendekar level 1 dan 2. Sedikit lebih tinggi, mungkin kelas tanding.
“Pusat Lembah Ular terletak sekitar 200 meter dari sini!” ucap Cempaka Ayu, napasnya terdengar tak ber-aturan.
“Kita harus bergerak cepat!” ucap Sunsang Geni, “Kita berjalan lewat atap, gunakan saja ilmu meringankan tubuh.”
Cempaka Ayu tersenyum ketika mendengarnya, dari tadi dia sudah tidak tahan bergerak seperti ini. Jadi sekarang mereka segera berjalan lewat atap, tapi...
“Tunggu!” ucap Sungsang Geni, dia menunjuk sekumpulan orang, “Lihatlah di sana! Bukan disana, tapi Di sana!”
Cempaka Ayu hampir tidak percaya dengan pemandangan di depannya, puluhan bocah kecil tampak sedang membawa tombak. Mereka jelas pasukan Kelelawar Iblis, bocah –bocah itu telah mati, lebih jelasnya mereka sudah dipasangi susuk membuat tubuh mereka bisa di kendalikan sampai mati.
Pemuda itu menyadari dengan mencabut susuk di tubuh mereka, maka bocah itu akan terbebas. Tapi bukan berarti akan selamat, jika di pikirkan ruam hitam telah menjalar di seluruh tubuh mereka, menandakan tubuh itu telah diambil alih.
“Aku akan membebaskan jiwa-jiwa mereka!” gumam Sungsang Geni.
__ADS_1
“Benar, tapi tidak saat ini.” Sambung Cempaka Ayu, gadis itu terlihat lebih marah dari biasanya.
Makasih udah pada like dan comen serta vote, author ucapkan terima kasih.