PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Lawan Tangguh


__ADS_3

Di dalam hutan dua Komandan Kelelawar Iblis mengeraskan rahangnya, menatap ratusan pasukannya bergelimpangan dalam kobaran api.


"Rupanya mereka sudah menyiapkan penyambutan yang menarik," kata Jaka Balabala, sambil melirik beberapa kereta iblis yang menarik perhatiannya. "Senjata itu cukup kuat, pasukan pertama kita bisa di hancurkan dengan cukup mudah. Cuih, menjengkelkan sekali."


"Biarlah mereka menikmati kemenangan sesaat..." Menimpali Nyai Siwang Sari, dia masih tenang meski ada banyak anak buahnya yang berjatuhan, mati dengan belasan panah di tubuh. "Pasukan sekutu sudah selayaknya menjadi tumbal. Tapi pasukan inti Kelelawar Iblis akan melenyapkan mereka semua."


Jaka Balabala tertawa kecil dengan menutup mulutnya menggunakan jari-jari keriput yang lentik.


Di depan mereka -pasukan sekutu- menjerit histeris. Teriakan menggema di udara. Ada beberapa orang dari ribuan pasukan itu, berlari tunggang langgang, niat hati untuk menyelamatkan diri. Namun panah yang keluar dari selongsong kereta iblis menyapu semuanya.


"Jangan panik! Tetap dalam barisan perang! Kalian akan mati jika berpencar, angkat tameng dan lindungi diri!" Pemimpin pasukan itu berteriak - teriak mengingatkan para prajuritanya, tapi tidak ada yang peduli.


Seperti angin lalu, atau mungkin karena tidak terdengar oleh yang lainnya, hingga salah satu panah berhasil menembus kaki kirinya, ucapan Pemimpin pasukan Sekutu Kelelawar Iblis tidak di patuhi bawahannya.


hanya dalam beberapa jam saja, pasukan itu cerai berai.


"Habisi mereka semua!" Berteriak lagi Ki Lodro Sukmo. "Jangan sisakan satu orangpun selamat!"


"Maaf Sepuh, kita sudah kehabisan anak panah..." Salah satu dari prajurit yang bertugas mengendalikan kereta iblis berkata gagap. "Ji...Jika kita sudah seperti ini, se...sebaiknya kita mundur."


Wajah Ki Lodro Sukmo seketika menjadi merah, dia hendak menampar pria itu saking kesalnya, tapi Darma Guru segera mengingatkan. "Kita bertahan beberapa saat lagi...."


Perkataan pak tua itu tidak bersambung melainkan sebuah jeritan tertahan, tidak berhenti di sana, tubuhnya tiba-tiba melayang jauh dan terhempas ke tengah markas.


Pada Saat yang sama Ki Lodro Sukmo bisa melihat sekelebat bayangan bergerak di samping kirinya, sebelum Darma Guru terpental jauh.


Belum pula menguasai diri, Ki Lodro Sukmo mengalami hal yang sama, dia terpental puluhan meter dan terhempas tepat ke arah tenda Perguruan Macan Putih.

__ADS_1


Darma Guru berusaha bangkit, dadanya terasa panas, bahkan saat ini ada cap telapak tangan yang membekas di bajunya hingga berlubang.


Pandangan pak tua itu menjadi sedikit buram, serangan tadi membuat dia meneteskan darah merah dari ujung bibirnya yang keriput.


Ada dua orang berdiri di atas tembok, terlihat seperti manusia-manusia kekar, mungkin saja. Darma Guru tidak bisa memastikan pandangannya saat ini. Tapi yang jelas, dua orang itu mulai menghempaskan kereta-kereta iblis.


Alat perang itu berhamburan laksana kapas berterbangan. Bukan hanya itu saja, mereka juga membunuh para pengendali kereta iblis.


Bahkan salah satu dari prajurit Surasena itu melayang pula ke arah Darma Guru, nyaris saja menghantam tubuhnya.


"Ma...maha...Se...senopati." Berkata lirih prajurit itu tepat di hadapan Darma Guru sebelum ajal memutus kehidupannya.


Seketika pak tua itu merasakan tubuhnya bergetar, wajahnya merah serta rahang keras. Dia mengeraskan jari telunjuknya, pada saat yang sama pedang hitam yang masih tertancap di parit berminyak, bergerak dengan cepat.


Swing...pedang hitam nyaris mengenai lawan, kemudian pedang itu kembali berbelok arah dan berhasil memotong beberapa helai rambut lawannya.


"Tidak terlalu buruk." Pria tua yang merupakan lawan Darma Guru tersenyum sinis. "Pedangmu sangat cepat, kau bisa saja membunuh puluhan pendekar hebat dengan pedang itu, Darma Guru."


Pada saat itu, dua kekuatan berbenturan di atas tembok Surasena. Menciptakan gelombang kejut bertekanan sedang. Hasil dari benturan itu seperti suara percikan api.


Hingga kemudian, pedang hitam milik Darma Guru mental dan hampir saja menancap di leher Ki Lodro Sukmo, jika sedetik saja Sesepuh Perguruan Macan Putih itu tidak bergeser ke kiri.


Pedang menancap di batu cadas, tertanam cukup dalam.


"Dasar edan, apa yang kau lakukan!" Ki Lodro Sukmo terpekik, matanya nanar menatap Darma Guru, lantas berpaling pada dua orang yang berdiri di atas tembok, mereka tertawa kecil.


"Lihatlah wajah pak tua itu, dia ketakutan!" Salah satu dari wakil komandan tertawa mengejek.

__ADS_1


"Benar-benar menyedihkan, aku tidak menduga Sesepuh dari Perguruan Macan Putih begitu lemah."


"TUTUP MULUT KALIAN, AKU AKAN MENYUMPALNYA DENGAN KEMATIAN!" Seperti orang kesetanan, Ki Lodro Sukmo menyerang dua orang itu sendirian.


Tentu saja dua wakil komandan Kelelawar Iblis tidak tinggal diam, mereka menyambut cakaran macan hanya dengan telapak tangan.


Ki Lodro Sukmo terpental lagi, tapi kali ini tidak terlalu jauh, hanya dua atau tiga depa. Saat tubuhnya hampir saja jatuh dari tembok, oak tua itu mengaitkan kakinya pada celah kayu, dan berhasil bertahan di atas tembok.


Lawan dari Ki Lodro Sukmo merupakan wakil Komandan yang dibawah kepemimpinan Nyai Siwang Sari.


Mereka berdua dijuluki sebagai Sepasang Tapak Setan. Julukan itu di berikan secara langsung oleh pemimpin Kelelawar Iblis, Topeng Beracun.


Grahang Petak, adalah orang yang memiliki tubuh kecil dengan kumis panjang yang dijalinnya sedemikian rupa hingga membentuk sebuah simpul. Pria itu memiliki sorot mata yang sangat tajam, alis tebal dan telinga keras yang bertindik.


Grahang Jegar adalah orang yang memiliki tubuh bulat dan perut buncit. Berbeda dengan Grahang Petak, pria itu tidak memiliki bulu-bulu di wajahnya, bahkan dia tidak memiliki sehelai rambut di kepalanya alias botak.


"Hem bagaimana rasanya? Apa kau yakin mau mengalahkan kami hanya sendirian?" Gerahang Jegar bertanya mengejek, kemudian tertawa lepas membuat perut bulatnya yang tidan tertutup sehelai benang bergoyang.


"Ilmu cuman seupil, berlagak seperti pendekar tangguh." Gerahang Jegar kembali tertawa lepas, kali ini dia menepuk perut bulatnya yang mecuat.


"Apa tidak sebaiknya kau melarikan diri!Itu lihatlah, semua orang sudah melarikan diri bagai pengecut." Grhang Petak menunjuk beberapa orang yang masih bertahan dari serangannya, melarikan diri kedalam tembok, kemudian melayang menuju cadas landai ke arah Swarnadwipa.


Baru saja selesai berkata, pasukan Kelelawar Iblis mendobrak gerbang markas hingga hancur. Mula-mula hanya puluhan orang melewati tempat itu, kemudian ratusan orang lalu sekarang sudah ada sekitar 2 ribu pasukan musuh masuk kedalam Markas.


"Mereka bersembunyi di atas bukit itu! " Grahang Petak menunjuk cadas landai di sisi paling barat, merupakan kaki pegunungan Kerakatau. "Cari mereka, tumbangkan dan hancurkan tempat kumuh ini!"


"Jangan bermimpi bisa mengejar mereka!" Berkata Darma Guru seraya berusaha mengendalikan pedangnya yang masih tertancap di batu cadas.

__ADS_1


Pedang itu bergerak perlahan-lahan, hingga akhirnya terlepas pula dan melayang cepat melewati batang leher prajurit Kelelawar Iblis.


note, author sedang sibuk banget, ada banyak kerja di alam nyata yang memaksa author kehilangan waktu menulis. Author belum dapat memastikan kapan rilis tiap capter secara normal seperti biasnya, tapi author usahakan untuk tetap update meski agak terlambat.


__ADS_2