PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Gunung Para Dewa


__ADS_3

Sungsang Geni tidak berniat mengambil tumbuhan yang memiliki energi kehidupan, setiap kali mereka menemukannya.


Dia tidak ingin terlalu serakah, tumbuhan itu pasti lebih berguna bagi peningkatan tenaga dalam pendekar di sini dari pada dirinya.


Setelah cukup lama melewati hutan, Sungsang Geni melewati lumpur ber asap, berbau busuk dan bergelembung-gelembung.


Panglima Ireng beresin beberapa kali, karena bau yang menggelitik moncong hitamnya. Srigala itu terlihat sangat kesal, jadi dia berjalan lebih dahulu menjauhi lumpur berbau menyengat itu.


Sekarang mereka sudah berada pada vegetasi berbeda, batuan terjal tanpa tumbuhan. Kaki kanannya mulai memijak batuan terjal, di ikuti dengan Panglima Ireng yang masih mengusap hidungnya karena bau belerang.


Ini tidak bagus, beberapa batu tidak tertanam dengan kokoh di dalam tanah berpasir, jadi bisa saja menggelinding ketika mereka pijak.


Bukankah Sungsang Geni bisa terbang? Tentu saja, tapi pemuda itu memutuskan melakukan perjalanan bersama dengan Panglima Ireng tanpa meninggalkannya di daratan.


Lagipula, Resi Irpanusa berpesan, untuk menerima setiap langkah perjalanan mereka sebagai latihan kesabaran.


Dari tempat mereka berada, tidak terlihat puncak gunung semeru, itu karena awan putih dan tebal menutupi bagian tersebut.


Selangkah dua langkah, akhirnya mereka mulai merayap di tubuh puncak gunung semeru. Cuacanya sangat panas, Panglima Ireng terlihat sangat kelelahan berbanding terbalik dengan Sungsang Geni.


“Ayolah teman! Kau harus bisa menahan panas ini, atau mungkin kau bisa melepaskan bulu-bulu tebalmu itu!” goda Sungsang Geni.


“Gerr...”


“Hahahaha...berjuanglah lebih keras lagi!”


Semakin tinggi mereka berjalan, medan gunung semakin sulit. Sekarang tempat itu menjadi sedikit berdebu karena pasir coklat dan kerikil kecil mulai bertebaran tertiup angin, pandangan mereka menjadi terbatas.


Suara angin yang menderu laksana ucapan selamat datang yang disalamkan oleh gunung itu. Sungsang Geni bahkan menyumbat telinganya karena suara itu mulai mengganggu pendengaran.


Setelah berjalan lebih kurang 4 jam lamanya, mereka mulai melihat puncak gunung dibalik awan putih.

__ADS_1


Panglima Ireng memberi isyarat meminta air minum pada kendi labu yang tergantung di pinggang Sungsang Geni.


“Jangan dihabiskan!” Sungsang Geni menuangkan air langsung ke dalam mulut Panglima Ireng. “Aku tidak terlalu banyak menggunakan air, tapi tetap saja kau harus mengirit air ini, karena kita tidak memiliki cadangan lain.”


“Gerr...” ucap Panglima Ireng mengerti.


“Baiklah, sekarang matahari sudah mulai condong ke barat, kita harus tiba di puncak gunung sebelum malam, atau sesuatu yang buruk akan terjadi.”


Sesuatu yang buruk di maksud Sungsang Geni adalah, badai gunung. Resi Irpanusa berpesan, bahwa puncak gunung semeru selalu menyimpan sesuatu yang berbahaya yang sulit di predeksi, seperti badai atau sambaran halilintar di tengah kawah berapi.


Setelah melakukan perjalanan beberapa jam, akhirnya mereka berdua memijakan kaki di atas puncak gunung yang disebut Mahameru. Permukaan dipenuhi dengan batu dan debu vulkanik, bau belerang jelas tercium menyesakan dada Panglima Ireng.


Sekitar ratusan meter jaraknya sekarang, antara Sungsang Geni dengan Jonggring Saloka, sebutan kawah berapi yang selalu mengeluarkan asap tebal dari kejauhan. Pada jarak ini, sebenarnya bau belerang semakin menyengat.


Panglima Ireng tidak berniat berjalan lebih jauh lagi mendekati Jonggring Saloka, dia sedikit takut. Sungsang Geni menyadari ketakutan Panglima Ireng pasti beralasan, sebab energi kuat mulai terpancar dari sekitar kawah tersebut.


Hari mulai menutup, berganti malam dengan rembulan sabit seperti menggantung tepat di ufuk barat. Pada saat yang sama, Panglima Ireng berdiri pada salah satu batu besar yang menjorok ke luar dan melolong keras di sana.


“Kau sepertinya sangat risau!” ucap Sungsang Geni mendekati Panglima Ireng yang menyunggingkan gigi taring ke arahnya. “Aku akan selalu menjadi tema dan menjagamu, jadi tidak perlu khawatir.”


“Gerr...”


“Aku tahu kau juga merasakannya,” ucap Sungsang Geni. “Tempat ini di penuhi dengan aura yang aneh, bukan?”


Sungsang Geni mendapatkan informasi dari Resi Irpanusa bahwa gunung ini adalah tempat para dewa bersemayam.


Atau juga, tempat seseorang bertemu dengan para dewa. Itu artinya, tempat ini sangat keramat, yang menghubungkan alam dunia dengan alam nirwana.


“Apa menurutmu ini adalah jalur menuju ke atas sana?” tanya Sungsang Geni, menunjuk pada langit yang dipenuhi bintang-bintang kecil. “Jika demikian, mungkin kita sudah sangat dekat dengan kematian!”


“Ger...ger...” Panglima Ireng menjadi lebih risau lagi, longlongannya semakin keras saja saat ini, membuat Sungsang Geni terpaksa menyumbat lubang telinganya dengan kedua telujuk.

__ADS_1


“Tenanglah, aku akan kesana sendirian!” ucap Sungsang Geni, berjalan mendekati Jonggring Saloka, dimana kawah berwarna merah bergelora di gelap malam.


“Ger...” Panglima Ireng menarik baju Sungsang Geni, berusaha mencegah perbuatan bodoh pemuda itu, dia bahkan sangat berusaha keras tidak mengizinkan teman manusianya menaruhkan hidup mendekati kawah berapi.


“Sudah aku bilang, aku akan baik-baik saja!” ucap Sungsang Geni, berusaha membuat Panglima Ireng paham, “Kau tahu, setelah hari mulai beranjak terang, kau harus meninggalkan tempat ini, udaranya tidak cocok untuk bulumu yang tebal.”


Panglima Ireng tidak terima dengan keputusan Sungsang Geni, tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Ini adalah batas terakhir dirinya menemani perjalanan pemuda itu.


Panglima Ireng tidak bisa pergi lebih jauh lagi mendekati Jonggring Saloka atau aura panas akan membakar seluruh bulu-bulu hitamnya.


Pada akhirnya, dia melepaskan gigitan di baju Sungsang Geni dengan sedikit kecewa.


Sungsang Geni meletakkan ibu jarinya tepat di kening Panglima Ireng, kemudian cahaya terang keluar dari ibu jarinya dan menciptakan sebuah simbol bermotif matahari.


“Dengan ini, tidak ada binatang yang berani melukai dirimu!” ucap Sungsang Geni, kembalilah setelah matahari mulai terbit besok pagi, dan tunggu aku di hutan kehidupan.


Setelah mengatakan hal itu, Sungsang Geni berjalan mendekati Jonggring Saloka seorang diri.


Setelah beberapa puluh menit, dia akhirnya tiba pula tepat di bibir kawah berapi, asap putih sudah merusak penciuman pemuda itu.


Sungsang Geni menyapu setiap sisi kawah itu, tapi tidak menemukan sesuatu yang berbentuk goa seperti yang dibicarakan para pendekar pedang bayangan.


Seluruh permukaan dinding kawah berwarna merah bara, tentu saja. Sungsang Geni bahkan tidak sanggup jika harus jatuh kedalam kawah itu, meski dia memiliki kekuatan menyerap panas.


“Dimana tempat itu?” tanya Sungsang Geni. “Apakah letaknya bukan di kawah ini? Apa mungkin kitab itu terletak di suatu sisi di puncak gunung?”


Pemuda itu mulai berpikir sejenak, dia memutuskan untuk menjauhi bibir kawah dan duduk bersila, sesuatu mungkin sudah dilewatkannya.


Nama lain dari gunung Semeru adalah gunung para dewa, Sungsang Geni tidak paham kenapa di juluki demikian? Apakah tempat in ini terhubung ke atas sana pada langit yang dipenuhi bintang? Entahlah Sungsang Geni tidak tahu jawabnya.


“Apakah tiga kristal suci merupakan penyimbolan dari Trimurti, Batara Brahma, Wisnu dan Siwa?” gumam Sungsang Geni.

__ADS_1


Sebelum lanjut membaca, Tinggalkan like dan comen termanis kalian!


__ADS_2