PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Bayangkara


__ADS_3

“Apa nama kelompok kita?” Tanya Senopati Dirga.


“Apa?” Sahut Mahesa.


“Kita harus punya nama yang bisa di ingat,” Dirga melanjutkan. “Semua orang punya nama, kita akan meninggalkan Tembok membosankan ini, dengan nama baru.”


Mahesa merenung sejenak, meski terdengar konyol tapi usulan itu sangat baik.


“Bayangkara!” Sungsang Geni melanjutkan. “Itu nama kelompok kita.”


“Bayangkara, ya?” Dirga tampak mengernyitkan kening, kemudian wajahnya segera sumringang. “ Nama yang bagus, mulai hari ini kita adalah anggota bayangkara. Dan Kau Yang Mulia, adalah pemimpinnya.”


Tidak beberapa lama kemudian, seorang bocah kecil datang mendekati pemuda itu dengan kecapi kecil di tangannya. “Tuanku pendekar, aku akan mengikutimu berperang,” ucapnya polos. “Aku akan membalaskan kematian negriku!”


Mahesa melirik ke arah Sungsang Geni dengan wajah mengkerut, tampak tidak percaya jika pemuda itu berteman dengan seorang bocah.


“Kau tidak boleh ikut!” Sungsang Geni berkata datar.


“Kenapa tidak boleh?”


“Karena ini bukan mainan, kau harus tetap disini, berlatih mengendalikan kecapimu.” Sungsang Geni memetik senar kecapi itu, tapi suaranya tidak sebagus ketika Bentara memainkannya.


“Tapi....”


“Biar kami yang membalaskan dendam negrimu...” Mahesa menarik kerah baju Bentara lalu meletakkannya cukup jauh. “Kau harus berada disini, kau adalah generasi penerus setelah kami. Jadi jangan sia-siakan usiamu, aku tahu kau berani tapi..,..keberanian saja tidak cukup untuk saat ini.”


Bentara terlihat kesal sekali, tapi pada akhirnya dia pergi meninggalkan tempat itu dengan raut wajah merah.


***


Cempaka Ayu mendatangi Sabdo Jagat di iringi oleh Ratih Perindu dan Siko Danur Jaya. Tujuan mereka untuk meminta izin, tidak! Bukan meminta izin tapi kedatangan mereka hanya sebuah pernyataan saja.


Diizinkan atau tidak, mereka bertiga tetap akan meninggalkan tempat ini.


“Apa kalian semua serius?” Sabdo Jagat begitu terkejut mendengar permintaan adiknya itu.

__ADS_1


Beberapa minggu lalu saja, dia begitu khawatir Cempaka Ayu memutuskan mengikuti Sungsang Geni ke Swarnadwipa, dan hari ini mereka akan pergi meninggalkan tembok pengungsi.


“Kami sudah memikirkan hal ini matang-matang, Kakang Sabdo. Kami akan memilih jalan kami sendiri, dan aku harap kau mau merestui kami bertiga.”


“Siko Danur Jaya? Kenapa kau ingin pergi berperang bersama Sungsang Geni?” Jelatang Biru bertanya kepada murid satu-satunya itu. “Kau sudah paham betul, bukan? Setelah kalian keluar dari tembok ini, tidak ada jalan kembali lagi kecuali kalian membuang rasa malu kalian.”


Siko Danur Jaya membungkukkan badan sebanyak 3 kali, yang menunjukkan kebulatan tekatnya. Sementara Guru Gentar Bumi, dia berjalan mendekati Ratih Perindu kemudian menepuk pundak wanita itu sambil tersenyum kecil.


'Terima kasih Guru.” Rindang Sari memberi hormat.


Di sisi lain, Sungsang Geni mendatangi Eyang Gurunya Ki Alam Sakti. Tidak banyak komentar yang keluar dari mulut orang tua itu, kecuali menyetujui niat muridnya.


“Aku tidak bisa mencegah badai yang akan datang, tidak pula bisa menghadang lajunya sungai, Geni,” ujar Ki Alam Sakti. “Semoga kau bisa memenuhi tugasmu, Muridku.”


***


120 ekor kuda menderu meninggalkan tembok pengungsi. Satu di antara pasukan itu memimpin dengan menunggangi seekor srigala besar.


Sungsang Geni, ya siapa lagi. Dia memutuskan kembali menaiki punggung Srigala itu, daripada harus menaiki seekor kuda.


Kemudian tidak beberapa lama, Siko Danur Jaya melaju secepat mungkin. “Ada banyak ranjau di tengah hutan, aku akan memimpin jalan,” ucap Pria itu.


Siko Danur Jaya memilih rute sedikit memutar, semua orang di pengungsian tahu bahwa rute itu belum di pasangi dengan ranjau.


Di tengah pasukan itu, Empu Pelak menaiki kereta kuda yang ditarik oleh 4 ekor kuda dan ditemani 2 orang prajurit. Di dalam kereta itu, ada satu tong bubuk setan.


Kehilangan Empu Pelak sepertinya akan menjadi pukulan besar bagi Surasena. Tapi tentu saja, tidak ada yang paling baik mengeluarkan potensi kekuatan bubuk setan selain Sungsang Geni.


“Berhati-hatilah di sisi kanan kalian!” Teriak Siko Danur Jaya, menunjuk akar tali yang yang terpasang sedikit menggantung di permukaan tanah. “Atau kuda kita akan mendapat hujan panah dari sana!” Dia menunjuk satu pohon, dimana ada puluhan busur yang siap melepaskan anak panah jika saja ada yang menyentuh 'sedikit saja' tali itu.


Setelah berhasil melewati hutan itu, Sungsang Geni berada tepat di pertigaan jalan yang yang nyaris berbentuk huruf 'Y'.


Jalan itu hampir hilang karena beberapa tumbuhan dan rumput ilalang mulai tumbuh sepanjang badan jalan.


“Geni, kami akan menuruti keputusanmu entah itu melewati jalan kiri atau jalan kanan...” Mahesa baru saja memeriksa dua jalan di depan mereka.

__ADS_1


“Berikan aku sebuah peta!” pinta pemuda itu.


Kemudian dia membuka peta itu lebar sekali di tengah jalan, Mahesa memperhatikan dengan seksama semua yang dikatakan pemuda itu.


“Tujuan kita merebut kampung ini!” Sungsang Geni melingkari sebuah desa di dalam peta, yang jaraknya mungkin 3 hari dari tempat mereka saat ini. “Desa ini paling subur diantara yang lainnya, para tawanan pasti dipekerjakan di kampung ini sebagai buruh tani.”


“Tapi aku yakin desa ini dipegang oleh pasukan yang cukup banyak.” Dirga berkata.


“Kita akan mempelajari situasainya ketika berada di wilayah itu.” Sungsang Geni tersenyum penuh arti. “Tempat itu merupakan pemasok beras bagi desa-desa lain yang dikuasai Kelelawar Iblis.”


“Mengurangi jatah makan mereka, sama dengan mengurangi kekuatan musuh.” Empu Pelak terkekeh kecil, satu satunya orang yang mengerti maksud Sungsang Geni.


Tentu saja yang dikatakan Empu Pelak adalah benar. Di dalam perang, musuh yang tak bermartabat akan mati tanpa makanan, tapi tanpa makanan orang bermartabat tidak akan mati.


Kuda kembali melaju dengan cepat menyelusuri jalan itu. Rumput-rumput yang tumbuh sepanjang badan jalan terpaksa harus layu setelah dua jam kaki kuda mematahkan mereka.


Sekekali Sungsang Geni melirik pasukan yang dia pimpin, menanyakan pada diri sendiri akankah yang dia lakukan benar.


Tapi kemudian kemantapan di dalam jiwanya kembali bergelora, ketika saat ini mereka menemukan puluhan mayat yang mulai mengurai bergelempangan di pinggir jalan.


“Apa ini mayat rakyat?” Sungsang Geni bertanya.


Dirga turun dari kudanya, memeriksa jasat itu satu dua kali, kemudian menemukan sebuah lencana hitam yang bentuknya sedikit mengerikan.


“Ini adalah kelompok Kelelawar Iblis dan para sekutunya, Mungkin.”


“Mereka tidak mati karena kelaparan, mereka mati karena serangan.” Sungsang Geni melihat beberapa anak panah masih tertancap di tulang tengkorak mereka. “Ada orang lain selain kita, ini menarik. Rupanya kita bukan orang pertama yang melancarkan serangan.”


Tidak beberapa lama Panglima Ireng tiba-tiba mengenduskan hidung, lalu menggeram dan seketika melompat ke dalam semak dengan cepat nyaris saja membuat Sungsang Geni jatuh dari punggungnya.


Tidak beberapa lama, seorang wanita mengenakan penutup pada wajahnya keluar setelah hampir berhasil melarikan diri. Seluruh pakaiannya hijau tua, nyaris mirip seperti daun, mengenakan busur panah sebagai senjata.


"Siapa sebenarnya wanita ini?" Dirga bergumam pelan.


Semoga Kalian Suka....

__ADS_1


__ADS_2