PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang Besar 11


__ADS_3

Melihat teman-temannya bertarung mati-matian, semangat Dewangga kembali terbakar. Dia mengangkat pedang dan berlari seperti orang gila menyerang dua orang sekaligus. Ini adalah batasan mereka, tapi semuanya sepakat akan melampaui batasan itu.


Dewangga memaksa otot tubuhnya, sehingga saat ini ketika dia bergerak rasa ngilu di tubuhnya telah berubah menjadi perasaan dingin. Serangannya sedikit lebih lambat, tapi semangat dirinya kian berkobar-kobar. Seolah mereka tidak akan mati.


“Menunduk...!” Pekik Wira Mangkubumi, memberi isyarat pada Dewangga, ketika kepala pemuda itu menunduk, dengan cepat Wira melepaskan tombak. Tombak lewat hanya satu jari dari rambut Dewangga, menancap pada pria besar di belakangnya.


Dewangga menelan ludah pahit, jika sampai terlambat sedikit saja kepalanya pasti telah hilang dari badan.


Di belakang Wira Mangkubumi, Gadhing dan Rerintih bekerja sama untuk membunuh tiga orang lawan. Tarian ular sendok Rerintih menjadi sedikit lebih gesit daripada sebelumnya. Ada banyak luka yang menyayat tubuh pemuda itu, dan itu terlihat menyedihkan.


“Berputar ke samping!” pekik Rerintih, Gadhing tidak tahu apa yang akan terjadi tapi dia segera berputar ke samping. Dua anak panah hampir saja membunuh dirinya.


“Sekarang!” pekik Rerintih.


Gadhing tidak tahu apa yang dimaksud dengan sekarang, tapi setelah dia menoleh ke samping, rantai Rerintih berhasil menjerat satu kaki lawannya. Tidak tinggal diam, Gadhing melompat seperti kodok, seketika menikamkan pedangnya tepat di dada lawan yang terlentang karena lilitan rantai.


Setelah satu jam lamanya berjibun dengan maut, lima orang itu berhasil melumpuhkan musuh-musuh mereka. Satu pria terakhir berniat berlari, tapi Gadhing menangkap dirinya dan meletakkan pedang di batang leher. Musuh itupun mati mengenaskan.


“Aku hampir kehabisan nafas...” Gadhing mengeluh, nafasnya terlihat tidak beraturan. Ada banyak darah di wajahnya, sementara itu 4 luka tipis berada di pundak dan satu luka cukup dalam berada di pangkal paha. “Kakiku hampir mati rasa...kurang ajar, kita bisa mengalahkan mereka.”


Tidak ada yang luput dari luka. Hanya saja, Wira Mangkubumi memiliki luka yang lebih besar dari pada empat orang yang lain. Tusukan pedang di pundaknya tadi tidak terasa sakit, tapi setelah berhasil mengalahkan musuh, sakit di bagian pundak mulai terasa. Wira merasakan seolah bahunya lumpuh.


“Beri dia obat, ikat lukanya dengan pakaian!”


Dirga bersegera merobek pakaiannya, mencari obat yang dia simpan di dalam saku. “Bertahanlah sedikit, ini akan sakit!”

__ADS_1


Wira menggigit bibir bawahnya, ketika ramuan berbentuk cairan itu menempel di lubang luka. Rasanya lebih sakit dari pada ketika dia tertikam senjata.


Dalam radius 10 depa, tiada ada prajurit musuh yang mendekati mereka. Ini memberikan waktu untuk memulihkan tubuh sesaat, hanya sesaat!


***


Empu Pelak berada pada barisan paling belakang, memimpin pasukan panah. Sekarang tidak ada lagi bubuk setan yang dimiliki pria itu. Di atas kereta kuda, pria itu bersama dengan Cawang Wulan membantu sekuat yang mereka bisa.


Di sisi lain lagi, beberapa ratus prajurit Surasena mulai terdesak oleh pasukan lawan. Bukan hanya kuat, jumlah lawan seperti tiada habis-habisnya.


Pada saat yang begitu pelik, ketika para pendekar Surasena terkena pukulan. Musuh menguasai medan pertempuran.


Sebuah pertolongan tiba-tiba menderu dari jauh. Ribua pasang mata menatap dengan penuh tanda tanya.


Topeng Beracun mengernyitkan kening, tidak menduga ada pasukan lain yang membantu Surasena. Bukan hanya musuh, bahkan Surasenapun tidak menduga akan ada bala bantuan besar yang bergerak seperti angin dari arah pesisir laut.


Ratusan prajurit Surasena hampir saja jatuh pingsan, setelah ratusan ular itu keluar dari dalam tanah dan mulai menyerang, melilit, dan menggigit lawan.


“Mereka sudah datang rupanya!” Sungsang Geni merasa sedikit lega, bantuan dari laut dalam sudah di tunggu dari tadi oleh pemuda itu.


Lima Ekor Naga setingkat Darma Cokro, atau paling tidak setingkat Ki Lodro Sukmo.


Tapi hal yang mengagumkan adalah, Siluman itu memiliki bisa racun yang memiliki jangkauan luas. Sekali sembur racun dari mulut Nogo Sosro, hampir seratus orang terkena bisanya.


Bisa Nogo Sosro benar-benar hebat. Zirah perang musuh terbuat dari jalinan rantai besi, tapi dihadapan racun, besi itu memuai seolah terkena magma yang panas.

__ADS_1


“Lepaskan pakaian kalian!” pekik musuh.


Puluhan orang bukan hanya terkena pakaian, tapi racun juga mengenai wajah mereka. Seketika topeng yang mereka kenakan meleleh, bersama dengan biji mata mereka. Teriakan kesakitan bergema di udara, kedatangan pasukan laut dalam benar-benar berhasil menekan musuh.


Bukan hanya serangan dari lima ekor naga, serangan dari ular-ular kecil juga patut di perhitungkan. Mereka masuk ke dalam pakaian, menggigit di dalam baju, bahkan beberapa ular masuk ke dalam mulut.


Pada dasarmya, siluman laut dalam hanya mampu bertahan selama satu jam dengan wujud silumannya ketika berada di alam manusia. Lain lagi jika mereka keluar pada saat malam hari, mereka bisa bertahan hingga menjelang fajar.


Namun nasip rupanya cukup berpihak kepada Surasena, karena sekarang langit menjadi gelap seperti malam. Awan hitam menutup matahari, jadi siluman dari laut dalam bisa bertahan hingga dua sampai tiga jam lamanya. Setelah itu mereka akan menjadi mahluk halus, dan kembali lagi ke alam lelembut.


Dua jam merupakan waktu yang cukup lama, itu akan menjadi bantuan luar biasa.


“Apa yang terjadi?” Topeng Beracun menggeram keras. “Kenapa ada mahluk dari alam lelembut datang membantu Surasena? Apa yang mereka pikirkan?”


Nogo Sosro tidak berniat melawan orang dengan kemampuan luar biasa itu. Meski dia berwujud menjadi naga, tapi dia tidak cukup bodoh melawan mahluk yang di dalam tubuhnya bersemayam kegelapan.


“Kalian tidak akan bisa mengalahkan kami, meski dibantu oleh siluman ular...” Komandan Pertama tertawa kecil, menilai tindakan Surasena adalah kesia-siaan belaka.


“Siapa bilang hanya siluman ular?” tanya Sungsang Geni, pemuda itu melirik sekali lagi ke sisi lain.


“Serang!” Teriakan keras bergema di kejauhan, sekitar satu ribu pasukan datang dipimpin oleh Miksan Jaya dan Nyai Bidara.


“Bagaimana mungkin?”


“Tidak ada yang tidak mungkin,” ucap Sungsang Geni sambil tersenyum kecil, hari ini semua mahluk bersatu padu untuk mengalahkan kalian. “Dan lihatlah, pasukan yang paling kuat akan segera tiba.”

__ADS_1


Baru saja mengatakan hal itu,aura lelembut dua kali lebih dahsyat tiba-tiba datang dari sisi lain. Semua orang menoleh ke atas, ketika bayangan gelap berubah menjadi sosok mahluk tak dikenal.


Ya, hanya Sungsang Geni yang mengenal dua orang dengan pedang hitam. Di belakang dua orang itu lima ratus pendekar dengan pedang hitam terhunus dan beraura berat.


__ADS_2