PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Wanita Iblis


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, gemuruh para prajurit Bayangkara memasuki Markas Petarangan dengan sorak gembira. Dari wajah-wajah mereka jelas saja sudah memenangkan pertempuran menghadapi Kelelawar Iblis.


“Semua pasukan Kelelawar Iblis sudah dilenyapkan.” Mahesa memberi laporan, dia lantas melihat beberapa mayat yang bergeletakan di sekitar tempat ini. “Sepertinya di sini juga sudah selesai.”


Hal pertama yang dilakukan Sungsang Geni adalah memeriksa semua pasukannya, ada sekitar 20 orang yang mengalami luka cukup berat, dan 5 orang tewas. Selebihnya hanya terluka kecil yang tidak seberapa.


Wajah Sungsang Geni terlihat murung, mendapati mayat lima orang yang berada di atas tandu dengan kepala yang tertutup baju, baju merah karena darah.


“Mereka mati dengan bangga.” Mahesa menepuk pundak Sungsang Geni. “kita akan memberi penghormatan terakhir di pemakaman mereka.”


Sungsang Geni mengangguk tanda setuju, beberapa prajurit lantas membawa 5 jenazah itu untuk di makamkan dengan hormat.


300 tawanan kemudian keluar dari persembunyian, wajah mereka sedikit gembira tapi sekaligus heran. Mereka terlihat seperti orang-orang linglung, ketika mereka mendekati Sungsang Geni gemerincingan suara rantai di kaki mereka menjadi irama memilukan.


“Tuan pendekar...”


Sungsang Geni menghentikan ucapan mereka dengan senyum kecil dan gelengan kepala pelan, kemudian meminta beberapa orang bawahannya melepaskan rantai mereka semua.


Di sisi lain beberapa padepokan terlihat ragu-ragu untuk berbicara dengan Pemuda itu, apa lagi setelah melihat pasukan yang dia bawa terlihat lebih kuat dari pada mereka semua, dan Srigala Besar hitam yang kerap kali menyunggingkan senyum manis.


“Geni siapa mereka ini?” Mahesa berbisik di telinga Pemuda matahari itu, tentu saja pria itu cukup berhati-hati dalam menyingkapi pendekar-pendekar dari Padepokan yang belum jelas latar belakangnya.


Mendapat pertanyaan itu , Sungsang Geni berjalan mendekati 4 Padepokan yang baru saja diselamatkannya, jumlah mereka seluruhnya tinggal 50 orang lagi.


“Kami akan memberikan kalian kebebasan untuk pergi dari tempat ini.” Sungsang Geni berkata pelan, tapi cukup didengar oleh perwakilan dari 4 padepokan itu.

__ADS_1


“Tuan, apakah kami boleh bergabung dengan pasukan kalian?” Seorang pria yang umurnya mungkin sudah setengah abad memberanikan diri untuk bicara. “Kami mungkin tidak sekuat pasukan yang kau pimpin, tapi kami siap berada di pasukan depan jika kau perintahkan.”


Sungsang Geni berpikir cukup lama tapi kemudian dia menyetujui permintaan mereka semua. “Dia!” Sungsang Geni menunjuk Mahesa yang sedang mengatur beberapa orang prajurit, “ akan menjadi pemimpin kalian, meski wajahnya seperti itu tapi dia memiliki hati yang baik.” Kemudian pemuda itu tertawa kecil, di ikuti pula dengan geraman Panglima Ireng.


“Tenang, tenang. Dia tidak akan menggigit,” ucap Sungsang Geni seraya mengelus kepala Srigala itu.


Pada akhirnya mereka merayakan kemenangan dengan melakukan makan bersama, memanggang 3 ekor kuda dan juga menanak sekarung beras. Tidak lupa pula 10 tong arak menjadi penutup dari kemenangan mereka.


Semua orang akhirnya tertidur pulas di tempat itu, hingga matahari berada tepat di atas kepala, tidak terkecuali pula Sungsang Geni.


Ketika terik matahari benar-benar menyilaukan mata, barulah satu persatu dari mereka membuka mata. Sungsang Geni menggerakkan beberapa kali tubuhnya, sedikit lebih lemah dari biasanya. Mungkin karena terlalu lelah, pikir pemuda itu.


Namun raut wajah Sungsang Geni menjadi buruk, mendapati beberapa puluh orang tua yang lemah tidak juga kunjung bangun. Dia sudah beberapa kali menggerakkan tubuh mereka, tapi semuanya hanya sia-sia.


“Mereka tidak mungkin mati?” Sungsang Geni terlihat begitu panik.


“Jangan-jangan!” Sungsang Geni tersentak, bagaimana mungkin dia begitu ceroboh. “Ini adalah racun.”


“Yang kau katakan benar!” Tiba-tiba suara seorang gadis mengejutkan mereka semua, ya dia adalah Wulandari yang ditemani dengan Saraswati. “Semua air di tempat ini sudah diberi racun.”


Mendengar hal itu, Cempaka Ayu sangat geram bukan kepalang, dia kemudian menggerakkan jari-jemarinya bertujuan untuk memberikan pelajaran kepada Wulandari. Namun yang terjadi.


“Aku tidak bisa menggunakan tenaga dalamku?” Gadis itu begitu terkejut, mendapati tidak ada hal apapun yang terjadi saat ini. “Kau, racun apa yang telah kau berikan kepada kami?”


Wulandari tertawa kecil, dia berjalan mendekati Sungsang Geni dengan pedang hijau yang sudah keluar dari sarungnya. Di sisi lain, Cempaka Ayu berniat menghalangi gadis itu tapi dengan sangat mudah mendapat tamparan hingga dia jatuh terseok di tanah.

__ADS_1


“Jika kau bantu dia, aku akan membunuhnya!” Ancam Wulandari ketika Sungsang Geni berniat membantu Cempaka Ayu.


5 menit kemudian situasi menjadi riuh. Tidak ada yang menyangka mereka semua kehilangan tenaga dalam saat ini. Tidak ada racun seperti itu di Dataran Java, jadi jelas racun itu datang dari Negri Sembilan.


Mahesa mengepalkan telapak tangannya, berniat memberikan pelajaran terhadap wanita iblis itu tapi yang terjadi adalah; dia memuntahkan darah segar dari mulutnya. Mahesa merasakan seolah-olah ada beban berat yang menghimpit dadanya, terasa begitu sempit dan sesak.


“Cukup!” Sungsang Geni membentak Wulandari. “Apa yang kau inginkan saat ini? dimana penawar racun itu?”


Wulandari berpura-pura berpikir, dia mengerlitkan matanya ke atas beberapa kali kemudian menepuk pelan bibirnya dengan ujung telunjuk. “Dimana penawarnya? Sayang sekali aku tidak memiliki penawarnya,hikhikhik.”


“Wanita iblis!” teriak Mahesa. “Apa kalian begitu pengecut hingga harus menggunakan racun?”


“Aku tidak menyukai pria kasar seperti dirimu.” Wulandari memasang wajah masam, kemudian segera berpaling ke arah Sungsang Geni. “ Racun Kunci Jiwa, racun itu tidak akan berfungsi jika kalian tidak menggunakan tenaga dalam. Tapi bagi orang yang tidak memiliki tenaga dalam, racun itu akan menyerang syaraf mereka. Efeknya akan seperti orang mati, tapi jika selama 40 hari tidak diberi penawar mereka akan benar-benar mati karena tidak makan dan minum.”


“Jika kau tidak memiliki penawarnya, lebih baik aku akan membunuhmu dan mati bersama-sama!” Mahesa berteriak kesal, tapi sekali lagi darah merah keluar dari dalam mulutnya.


“Kakang Mahesa, tenangkan dirimu!” Rerintih segera menyambar tubuh pria itu ketika terhuyung ke belakang, nyaris terhempas di permukaan tanah. “Tenangkan dirimu, Kakang! Racun ini tidak akan membunuh kita.”


Sungsang Geni menarik napas berat, kemudian berjalan mendekati Wulandari dengan tatapan sayu. Dia meminta penawar racun itu dengan baik-baik, misalnya Wulandari tidak memiliki penawar di tangannya, tapi gadis itu pasti memiliki penawar di suatu tempat, Sungsang Geni yakin hal itu.


“Pemimpin Bayangkara rupanya tidak bodoh, tentu saja ada penawar racun itu.” Wulandari kembali menepuk bibirnya dengan ujung telunjuk. “Tapi, letakanya ada di Markas Utama Sekutu Kelelawar Iblis. Aku akan mengambilnya untukmu, asalkan kau...”


“Asalkan apa?” Sungsang Geni merasa curiga. “Aku tidak akan bergabung dengan Kelelawar Iblis meskipun harus mati.”


“Bukan itu, aku akan memberimu penawar asalkan kau mau menuruti permintaanku.”

__ADS_1


M’af ya bagi para teman-teman, author sedang tidak bersemangat ngetik hari ini, jadi hanya satu capter dulu. Mungkin malam minggu author ganti, semoga ada kemakluman.


__ADS_2