
Setelah tujuh hari berada di dalam laut dalam, kini tiba saatnya Sungsang Geni keluar ke permukaan. Tapi kali ini dia tidak bersama dengan Panglima Ireng, tidak dengan Cempaka Ayu dan tidak pula dengan Wulandari.
“Aku tidak bisa membawa kalian pergi ke permukaan untuk saat ini...” Sungsang Geni berpamitan kepada tiga temannya. “ Kondisi kalian belum pulih betul, lagipula akan terjadi perang.”
“Tapi kami bisa melakukan sesuatu untuk membantu...” ucap Cempaka Ayu.
“Tidak, untuk kali ini jika kalian ingin membantu, maka tetaplah berada di laut dalam. Akan lebih aman jika Dewi Bulan tidak pergi ke permukaan.”
“Yang dikatakan Sungsang Geni ada benarnya,” menimpali Pramudhita, di samping kiri pria itu Nogo Sosro berdiri tanpa mengucapkan satu patah katapun kecuali hanya menyetujui keputusan pemuda itu. “Kalian hanya akan menjadi beban, Sungsang Geni tidak akan bisa fokus dalam pertempuran jika kalian bertiga ikut.”
“Gerr...ger...” timpal Panglima Ireng.
“Tidak Ireng, kakimu saja masih belum bisa bergerak bebas, tidak mungkin aku membawamu ke atas.” Jawab Sungsang Geni.
“Jika demikian, aku harap kau bisa menjaga diri...” Wulandari hendak menangis, khawatir jika ini adalah pertemuan mereka yang terakhir kalinya, tapi bukan hanya dia wajah Cempaka Ayu tidak kalah sendu.
Setelah berpamitan, Sungsang Geni menaiki gelembung besar yang diantar oleh satu ekor naga. Gelembung itu di letakkan tepat di antara dua tanduk. Dengan begitu cepat, naga itu membawa Sungsang Geni ke permukaan.
Hanya beberapa puluh menit, sekarang Sungsang Geni sudah memijak tanah kering bercampur dengan pasir putih dan juga pohon kelapa yang melambai.
“Kami akan siap berperang jika kau memanggil kami...” Naga itu seperti sedang membungkuk, barangkali sedang memberi hormat sebelum kemudian kembali lagi ke laut dalam.
Sungsang Geni masih berdiri di pinggir pantai, melihat buih dan ombak kecil akibat tubuh sang ular siluman tersebut. Ketika sosoknya benar-benar hilang di tengah laut biru, pemuda itu segera berbalik badan.
“Dunia luar masih jauh lebih nyaman dari pada alam di bawah laut dalam...” ucap pemuda itu sambil memejamkan mata, merasakan panas matahari yang bersinar terang. Energi panas mulai terisi di lengan kanannya.
__ADS_1
Cukup lama pemuda itu bermandikan cahaya matahari, hingga kemudian dia melanjutkan perjalanan. Kemungkinan arah kakinya menuju Markas Petarangan, tapi sayang sekali pemuda itu tidak memiliki petunjuk pasti mengenai tempat itu saat ini.
Sang naga meletakkan dia pada pesisir pantai yang tidak dikenal. Tidak ada peta, kecuali pergerakan matahari, maka tidak ada pedoman pasti.
“Sekarang mungkin Markas Petarangan berada di sisi utara...” pemuda itu bergumam kecil, kemudian melompat dari dahan pohon ke dahan yang lain.
Setengah hari dia berjalan lurus ke utara, tapi Markas Peterangan tampak belum muncul di depan matanya. Benar-benar tersesat, pemuda itu mendesah kesal beberapa kali. Tidak ada satu orangpun yang ditemuinya -dengan dunia berada pada kondisi seperti ini- untuk bertanya petunjuk arah.
Namun setelah satu hari dia berjalan dengan ilmu meringankan tubuh, terdengar rentak kaki kuda melaju dengan cepat. Sungsang Geni buru-buru mendekati binatang itu, hingga dia bisa melihat satu orang pria dengan pakaian mirip konglomerat di kejar tiga kuda hitam yang ditunggangi oleh pria dengan tubuh besar dan topeng hitam.
Laju kuda pria berpakaian konglomerat berhenti setelah satu cambuk berhasil melilit lehernya. Tubuh pria itu tertarik mundur, sehingga kuda kehilangan penunggangnya dan terus maju kedepan, sedangkan tuannya sekarang terseok di antara akar-akar pohon besar dengan leher masih terlilit ujung cambuk.
“Itu adalah kelompok Kelelawar Iblis...” gumam Kecil Sungsang Geni menatap dari balik dahan kayu tanpa disadari mereka. “Siapa pak tua dengan pakaian mewah itu?”
“Setelah kau datang kepada tuan kami, kau pergi begitu saja? Jangan mimpi kau bisa kembali dengan selamat,” ucap salah satu dari tiga orang penunggang kuda itu.
“Aku...aku...” ucapnya terbata-bata.
“Alah, bunuh saja dia!” pekik salah satu temannya.
Terlihat sangat setuju, lilitan tali cambuk lebih erat lagi, membuat mata pria itu mendelik keatas. Namung pada akhirnya sebelum mereka berhasil mencabut nyawa tawannya, tiga orang itu terpental jauh ke belakang, tali cambuk putus menjadi beberapa bagian.
“Siapa itu?” pekik salah satu dari mereka, meraba dadanya yang terasa ngilu kemudian memperhatikan luka akibat ranting kecil yang baru saja menghantam tubuh.
“Siapa aku?” Sungsang Geni terkekeh kecil, melompat dari atas dahan dan turun tepat di antara Kelompok Kelelawar Iblis dan pria berpakaian mewah. “Tidak penting siapa aku, sekarang aku akan tanya kalian bertiga. Kenapa kalian ingin membunuh orang ini?”
__ADS_1
“Apa urusannya denganmu, pemuda tengik?” tanya mereka dengan wajah bengis. “Kami mau membunuh, menyembelih atau pula menguliti tubuhnya, itu adalah hak kami.”
“Hak kalian?” Sungsang Geni menaikkan alis sambil menyunggingkan senyum kecil merendahkan. “Memangnya siapa kalian yang punya hak atas hidup seseorang? Dewa?!” pemuda itu terkekeh kecil.
“Dia adalah Raja Wururia, dia beserta beberapa raja yang lain telah membentuk Kelelawar Iblis, tapi kini dia malah melarikan diri.”
“Prabu Wururia dari Kerajaan Limanjang?” Sungsang Geni jelas pernah mendengar hal itu, negri itu adalah satu dari lima negri yang mempelopori terbentuknya Kelompok Kelelawar Iblis.
Pemuda itu melirik sekali ke arah Wururia, tatapannya kini menjadi sedikit tajam dan penuh kebencina. Ingin sekali dia menghajar orang itu hingga babak belur, tapi saat ini situasinya tidak tepat.
“Jika kau sudah mengerti sebaiknya pergi dari hadapan kami...”
Mendengar perkataan itu Sungsang Geni melepaskan satu sarangan dengan cepat, begitu cepatnya tiga orang tersebut tidak sempat menghindar dan terhempas sekali lagi pada pohon tinggi di belakang mereka. Musuh dengan level pilih tanding jelas bukan tandingan pemuda itu.
Tiga orang itu mengeluarkan darah segar dari semua lubang di kepalanya, bahkan darah merah juga keluar dari mata mereka. Topeng hitam yang menyelimuti setengah wajah terpecah menjadi serpihan kecil.
Baru saja sungsang Geni hendak menghajar sekali lagi, tiga orang itu segera menemui ajal dengan tubuh tengkurap tanpa sempat mengatakan kalimat terakhir.
“Anak muda...anak muda...” Wururia berjalan membungkuk kemudian mengeluarkan lencana kerajaan Limanjang. “Karena kau sudah menyelamatkan nyawaku, sekarang aku memintamu mengantarkan aku ke Negri Limanjang. Kau akan mendapatkan imbalan setelah sampai di negri itu.”
Sungsang Geni tersenyum kecil, hingga akhirnya dia mencekik batang leher pria itu. “Kau pikir Negri Limanjang bisa membeli harga diriku dengan lenca usang ini? Karena orang-orang seperti dirimualah dunia ini menjadi kacau?”
“Apaa...apa yang kau lakukan?” ucap Wururia dengan mata mendelik, kali ini tubuhnya terangkat beberapa jengkal dari tanah. “Siapa kau sebenarnya?” ucapan pria itu tergagap dengan nada tertekan dan suara serak.
“Namaku Geni, kebetulan sekali kau bertemu denganku.” Pemuda itu tersenyum kecil. “Sekarang kau harus di bawa ke Surasena, ajalmu akan ditentukan di sana.”
__ADS_1
Terima kasih atas saran teman teman atas obat sakit giginya. Sekarang sudah lebih baik, meski pipi masih bengkak. maaf gak bisa balas satu satu komentnya, tapi author ucapkan banyak terima kasih atas informasinya. semoga besok keadaan sudah sembuh total, jadi bisa update seperti biasnya.