PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Menguasai Istana8


__ADS_3

Dengan perlahan Sungsang Geni membangunkan Wulandari, tidak begitu tega memang, tapi situasinya mulai sedikit panas.


“Husttt...” Sungsang Geni menepuk pelan pundak gadis itu, memaksanya terjaga pula. “Musuh sudah datang.”


Patih Siruyu Citro baru pula menyadari ada seorang gadis tidur di balik pohon, untuk sesaat pak tua itu hanya mengernyitkan kening, menatap ke arah Sungsang Geni dengan penuh tanda tanya.


Hari masih dalam keadaan remang-remang saat ini, belum begitu mengenali gadis bersama Sungsang Geni, Patih Siruyu Citro kembali melirik ke arah musuh yang mulai menampakkan wujudnya. Ya, semoga saja tidak menjadi beban, pikir Siruyu Citro.


Sungsang Geni menimbun bara api unggun dengan tanah dan debu. Kemudian duduk berjongkok dengan pandangan tajam ke arah musuh. Benar yang dikatakan Telik Sandi, jumlah musuh sekitar dua ribu orang. Sekitar lima ratus penunggang kuda, sisanya pejalan kaki.


Di tengah barisan panjang itu, ada kereta kuda mewah berwarna hitam, mungkin saja. Sebab hari masih remang, apapun benda terlihat berwarna hitam kecoklatan. Kecuali bendera Tumenang yang jelas berwarna merah terkena obor prajurit.


Wulandari belum mendengar suara derap langkah kaki mereka, meskipun sudah bisa melihat bayangan hitam menunjukkan diri dari hutan menyelusuri jalan setapak. Ketajaman mata dan telinga gadis itu jelas tidak sama dengan Sungsang Geni.


“Sebaiknya kau tinggal di sini!” Patih Siriyu Citro mengingatkan Wulandari. “Atau pergilah cari tempat yang sedikit tinggi untuk berlindung,”


“Akut tidak takut melawan mereka.” Wulandari menghunus pedang hijau dari sarungnya, “Aku akan ikut bertempur.”


Patih Siruyu Citro mengernyitkan kening, tampak tidak senang jika ucapannya dibantah. Apalagi oleh seorang gadis. Tapi pria itu cukup terkejut, gadis itu memiliki senjata yang bercorak langka dan aneh. Dari tampilan pedang ditangan Wulandari, Patih Siruyu Citro bisa tahu jika senjata itu memiliki bisa yang sangat ganas, lagi tajam. Tidak banyak empu di dataran Java yang bisa membuat pusaka beracun.


Beberapa ratus langkah lagi, para pejalan kaki yang lebih dahulu akan masuk ke dalam ranjau yang diciptakan Sungsang Geni. Semakin matahari mulai menampakkan wujudnya, semakin dekat jarak prajurit Prajamansara dengan kematian.


Hingga akhirnya.


“AHHH....AHHKK....!”

__ADS_1


Mulai terdengar teriakan dari mulut-mulut mereka. Sungsang Geni bisa melihat ada puluhan orang yang terkena ranjau.


“Mundur-mundur!”berteriak para prajurit.


Melihat puluhan orang mati dengan bilahan kayu tajam, sontak saja membuat para prajurit yang masih selamat bergerak mundur. Tombak mereka mengarah ke depan, tubuh mereka sedikit menjongkok menjadi waspada.


“Apa yang terjadi!” pekik Prajamansara, kepalanya keluar dari jendela kereta kuda. “Kenapa tiba-tiba berhenti? Lanjutkan kembali perjalanan aku sudah tidak sabar berada didalam kereta ini.”


“Ma'af paduka raja, tapi ada orang lain memasang ranjau di tengah jalan.” Seorang pria menunggang kuda mendekati Prajamansara.


“Ranjau? Siapa orang yang berani menghalangi jalanku? Apa kalian melihat ada musuh yang menghadang?” tanya Prajamansara.


“Belum Paduka raja,”


“Belum? CEPAT CARI SIAPA ORANG YANG BERANI MENGAHALANGI JALANKU!” Pria itu berteriak bak orang kesetanan, suaranya hampir serak karena pekikakan itu.


Sementara itu tiga orang yang memiliki aura kuat hanya saling pandang di atas kuda paling besar yang berada tepat di depan kereta kuda Prajamansara. Tentu saja mereka adalah Tiga pendekar iblis malaka.


Setelah perjalanan mereka menemani Maha Senopati Lemah Abang urung ke Negri Sembilan, tiga pendekar iblis malaka kembali lagi melanjutkan pekerjaan mereka. Mengawasi Kerajaan Tumenang dari serangan Surasena.


Sementara itu Sungsang Geni sudah mulai bergerak, dia berdiri di seberang ranjau yang cukup jauh. Untuk prajurit biasa, akan kesulitan melihat sosok pemuda itu dibalik rumput ilalang berbunga yang tingginya hampir menutupi kepala.


Sedangkan Siruyu Citro berada di sisi lain, pada tempat yang sedikit lebih tinggi, sehingga pak tua itu bisa melihat dengan cukup jelas lawan-lawannya. Tinggal Wulandarai, gadis itu harus terpaksa berdiri di tempatnya semula. Sungsang Geni berusaha keras agar dia mau menurut.


Ketika para rombongan prajurit kembali bergerak maju dengan perasaan was-was, Sungsang Geni melepaskan satu bilah pedang ke arah mereka. Teknik pedang emas di gunakan, tempat ini sangat cocok untuk teknik itu.

__ADS_1


Dengan gerakan jari telunjuk, pedang meluncur melewati helaian rumput ilalang. Tidak terlalu tinggi, Sungsang Geni tidak mengincar leher mereka, tapi mengincar bagian perut.


Dari tempat Siruyu Citro, bisa melihat sekelebat cahaya kuning melaju dan menyerang puluhan prajurit barisan depan. Serangan itu seperti sangat cepat, ilalang yang dilewati menjadi gosong seketika.


“Pemuda ini, apa dia berasal dari Perguruan Bukit Emas?” gumam Siruyu Citro. “Benar, itu adalah teknik pedang emas, tapi senjata apa yang dia gunakan? Pusaka? Auranya panas, benar-benar pemuda yang misterius.”


Belum kering air liur Siruyu Citro, jeritan para prajurit kembali bergema. Mereka mendadak jatuh ke tanah, berguling di antara rumput Ilalang dengan tangan mencengkram perut. Belum selesai disitu, musuh kembali tumbang, Sungsang Geni terlihat memainkan jari telunjuknya menyerang agak ke arah barisan dalam.


“APA yang terjadi!” Kepala Prajamansara kembali keluar dari dalam kereta kencana.


“Ada ranjau yang bisa terbang!” salah satu orang berteriak di barisan depan.


“Bodoh, ranjau,ranjau ranjau saja yang kalian katakan!” Geretakkan gigi Prajamansara terdengar, terlihat sangat marah sekali. “Cari orangnya, bunuh! Penggal kepalanya!”


“Yang mulia, apakah kami harus bergerak?” salah satu dari tiga pendekar iblis malaka bertanya.


Prajamansara menghentikan makian, menoleh ke arah tiga pendekar yang sebenarnya memiliki status yang lebih tinggi di hadapan Kelelawar Iblis. “Kalian tenanglah sebentar, jika para prajurit bodohku tidak bisa menanggulangi hal seperti ini, kalian boleh bertindak.”


Malaka Tige dengan tombak bermata duanya, mendesah nafas berat. Gigi-gigi gelapnya bergeretak, kembali dia meminum arak dari kendi besar di pinggangnya. Kemudian menoleh kearah Malaka Due dan Malaka Lime. “Perhatikan posisi di sekitar kita, musuh tentu memiliki kecerdikan, kita harus tetap waspada. Raja bodoh dibelakang kita, tak bisa jadi pedoman.”


Malaka Lime dengan perut bak genderang perang tertawa cekikikan, dia membawa banyak potongan daging di atas kuda hitam miliknya. Ketika dia tertawa, perut besarnya bergoyang ke atas dan ke bawah.


“Kita punya musuh cukup berani, mungkin hari ini bisa bertarung setelah cukup lama tidak menggunakan senjata.”


Malaka Due, yang memiliki wajah paling tua diantara dua temannya hanya menggaruk kepala. Tubuhnya yang kecil, tidak serasi dengan kuda tunggangannya yang besar. “Mungkin pemuda itu bisa menjadi hadiah ulang tahunku ke 41. Hikhikhik...” dia tertawa kecil, kemudian di ikuti oleh Malaka Lime sambil menggerakkan perutnya yang besar.

__ADS_1


Hanya malaka Tige yang tidak tertawa, entah kenapa dia merasakan suatu energi yang sangat kuat.


__ADS_2