PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Pilihan Mahapatih


__ADS_3

Darma Guru berhasil menghadang ribuan musuh yang berusaha mengejar para prajurit yang sedang melarikan diri dengan luka parah dan hampir saja meregang nyawa.


Pak tua itu berdiri pada tanah yang sedikit membukit, dia memainkan pedang hitam dari tempat itu sementara musuh saat ini sudah membentuk lingkaran besar untuk mengalahkannya.


Pedang hitam melesat dengan cepat, bergerak melingkar melindungi tuannya. Setiap gerakannya berhasil menggores tipis leher lawan, tapi tidak sedikit pula yang tergores dalam hingga mengeluarkan darah merah.


Terlihat, setiap musuh yang telah berhasil dilukai -mencengkram batang leher dengan kuat, maksud hati mungkin ingin menghentikan pendarahan tapi tentu saja gagal.


Saat ini ada puluhan orang tergeletak di dekat Darma Guru, dan semakin banyak saja setiap menitnya. Umumnya yang mati adalah prajurit lemah yang tidak sempat menghindari serangan, tapi ada beberapa prajurit level kelas tanding memilih untuk mundur ke belakang.


Namun demikian, kecepatan serangan Darma Guru nampaknya tidak lebih cepat dari musuh yang berniat mengepung dirinya. Mereka mulai menaiki bukit kecil, memaksa Darma Guru menggunakan satu lagi pedang, dan mulai menggunakan teknik jarak pendek.


"Bunuh dia, Bunuh dia!" Teriakan prajurit Kelelawar Iblis seperti undangan dewa kematian, mereka berwajah bengis dengan senyum sinis serta sorot mata tajam menikam keberanian. "Dia adalah Mahapati Surasena, kita mendapatkan mangsa lezat."


Darma Guru tersenyum pahit, salah satu dari mereka berhasil menjangkau posisinya. Darma Guru memutar tubuhnya ke belakang, bersamaan dengan itu dia menebaskan pedangnya tepat di bagian perut. Prajurit itu mati seketika.


Namun secara bersamaan ada lagi seorang prajurit yang tiba di tempatnya saat ini, orang itu berhasil mengambil keuntungan dengan memanfaatkan kelengahan Darma Guru. Satu tebasan tipis berhasil menggores tubuh pak tua itu.


Darma Guru menoleh ke atas, tepatnya pada Ki Lodro Sukmo, dia berniat meminta bantuan, mungkin. Tapi, Ki Lodro Sukmo juga mengalami situasi yang tidak kalah buruk dengan dirinya.


Sesepuh Macan Putih itu melayang beberapa saat di udara, pada saat yang sama salah satu dari wakil komandan telah berada di atas tubuhnya, mendaratkan satu tendangan dengan tumit kaki.


"AHKK!" Ki Lodor Sukmo terpekik, dari mulutnya keluar cairan putih bercampur darah, lalu tubuhnya terhempas ke tembok Surasena, hampir saja jatuh jika saja cakar tangannya tidak mencengkram erat tembok itu.


"Pak tua, kau cukup kuat! Tidak banyak orang selamat setelah menerima serangan gabungan kami berdua, aku menghormatimu." Grahang Petak berkata pelan.


"Bodoh, kita tidak perlu menghormati musuh," menimpali Grahang Jegar sambil mengelus perut buncitnya. "Bunuh dulu dia, baru diberi penghormatan. Bukan...bukan tapi pemakaman." Keduanya lantas tertawa terpingkal-pingkal.


Ki Lodro Sukmo tersenyum pahit, dia bisa tahu tenaga dalam dirinya lebih kuat dibanding salah satu dari mereka. Buktinya dia masih bertahan hidup setelah menerima serangan demi serangan, tapi masalahnya mereka berdua memiliki kombinasi serangan yang cukup sulit ditebak. Teknik macan putih miliknya tidak sanggup menandingi ilmu beladiri mereka berdua.


Ki Lodro Sukmo dengan susah payah berhasil berdiri, dia memandang ke bawah pada Darma Guru yang berjibun dengan lawan-lawannnya. Terlihat begitu kesulitan, pedang hitam milik Mahapatih itu tidak secepat sebelumnya, mungkin karena pikiran pak tua itu terbagi saat ini.


Dipandanginya lagi beberapa orang prajurit Surasena yang berhasil menyelamatkan diri. Lalu dia melirik ke arah pasukan musuh, terlihat setengah dari musuh sudah memasuki Markas sementara setengah lainnya masih berbaris rapi di kejauhan.


Sepintas pandangan Ki Lodro Sukmo bertemu dengan Darma Guru. Mahapatih Surasena itu mengerlitkan mata penuh makna, kemudian tersenyum kecil sambil menyapu pandangan pada beberapa tong-tong yang sudah di letakkan di berbagai sisi.


"Pak tua itu berniat mati ditempat ini..." Ki Lodro Sukmo bergumam kecil, wajahnya tiba-tiba saja menjadi sendu. "Apa dia yakin?"


Ki Lodro Sukmo kembali memandangi dua musuhnya Sepasang Tapak Setan, dia berpikir sejenak tapi tidak menemukan satu carapun untuk membunuh pasukan itu kecuali meledakkan tong minyak. Namun sayang seseorang harus tetap berada disini untuk melakukan hal itu.


Tentu saja jika keadaannya berjalan sesuai dengan rencana, tidak akan ada satu orangpun yang harus berkorban. Tapi sekali lagi, rencana yang dibuat tidak pernah berjalan seperti semestinya.


Ki Ldoro Sukmo Mulai berpikir untuk mundur, jadi dia segera meninggalkan Dua Tapak Setan dan melayang ke arah Darma Guru.


"Apa yang kau lakukan?" Bertanya Darma Guru. "Kenapa kau malah datang ke sini, aku akan meledakkan tong minyak, tapi jangkauan seranganku tidak sejauh sebelumnya jadi tidak ada cara lain kecuali aku tetap berada di tempat ini dan mati bersama dengan mereka."


"Apa kau yakin, kita mungkin bisa mencari solusi lain." Ki Lodro Sukmo melepaskan serangan berbentuk cakar pada 10 orang prajurit yang berniat menyerang mereka berdua. "Pasti ada cara lain untuk bertahan hidup."

__ADS_1


Darma Guru tersenyum kecil, itu membuat Ki Lodro Sukmo menjadi jengkel. Di sela-sela pertarungan ini, mereka berdua tampak seperti sahabat sejati. Saling memikirkan nasip satu sama lain, hal yang tidak pernah terjadi selama mereka bertemu.


"Aku sudah tua, tubuhku sudah lemah dan tenaga dalamku tidak sekuat dahulu lagi." Darma Guru melepaskan serangan pada pintu gerbang yang terbuka, posisi pintu gerbang itu tergantung, ada dua utas tali besar menahan benda itu. Ketika pedang Darma Guru mengenai dua utas tali itu, pintu gerbang segera jatuh dan menutup.


Sekitar 5 ribu orang berada di dalam gerbang, terkurung tanpa ada jalan keluar.


Nyai Siwang Sari menyipitkan matanya di kejauhan, ada yang tidak beres pikir wanita itu. beberapa menit kemudian, dia menggerutu tidak karuan.


"Itu adalah jebakan, ada sesuatu didalam markas itu..."


"Apa yang kau katakan Nimas?" Jaka Balabala bertanya heran. "Meskipun ada jebakan, pasukan kita tidak akan mati semuanya, Da Tpak Stan di atas tembok akan menghabisi orang di dalam sana."


Di sisi yang lain, Darma Cokro menatap dengan mata berlinangan. Pria itu sudah mengetahui jika ayahandanya, Darma Guru berniat mati di medan pertempuran. Hal itu sudah dikatakannya dua hari yang lalu.


Kala itu, dua malam berturu-turut Darma Guru bermimpi bertemu dengan mendiang istrinya yang sudah lama ditinggal pergi. Bahkan kematian sang istri tidak sempat di ketahui oleh Darma Guru, akibat terlalu sibuk mengurusi Surasena.


Semenjak mimpi itu, perasaan Darma Guru menjadi lemah. Seolah dia mengetahui bahwa ajalnya tidak akan lama lagi. Hanya saja, pak tua itu berniat menentukan sendiri kematiannya dan tampaknya ini adalah waktu yang tepat.


"Nak mas, Darma Cokro..." Ki Alam Sakti menepuk pundak pria itu pelan. "Bersabarlah!"


Darma Cokro bukan orang satu-satunya yang mengetahui rencana Darma Guru, rupanya hal itu juga sudah di ketahui oleh guru Sungsang Geni, Ki Alam Sakti.


"Kematiannya tidak akan sia-sia, itu adalah pilihan..."


Belum habis kalimat yang dikatakan oleh Ki Alam Sakti, tiba-tiba ledakan besar terjadi disusul dengan ledakan lain, dan ledakan lain lagi. Letupan itu lebih besar dari dugaan semua orang, seperti ledakan yang ditimbulkan oleh bubuk setan.


"Sial, mereka menjebak kita!" Terpekiklah Sepasang Tapak Setan, ketika tepat di hadapannya membumbung api yang berkobar.


"Kita harus mundur!" berkata Gerahang Petak.


"Kau akan mati bersamaku..." tiba-tiba seseorang muncul dihadapan mereka berdua, dengan seluruh api yang berkobar menyelimuti tubuhnya. Itu adalah Darma Guru, dia belum mati meski api telah menyala dan menghanguskan kulitnya sebelum membawa lawan mati bersama-sama.


"Kau...!" Terkejut bukan main Gerahan Petak, ketika tubuhnya dicengkram dengan kuat dan di paksa terjun ke dalam kobaran api yang menyala-nyala.


Grahang Jegar berniat meraih tubuh Gerahang Petak, tapi apa daya dia hanya mampu menarik ujung jari pria itu hingga akhirnya tubuh temannya hilang dilahap si jago merah.


"Kita akan bertemu lagi, dan akan kupastikan nyawamu akan melayang." Berkata dengan suara berat sesosok pria tua dengan lengan terbakar, Ki Lodro Sukmo. "Ini belum berakhir, kita akan berjumpa lagi."


Setelah mengatakan hal itu, Ki Lodro Sukmo melayang dengan cepat meninggalkan tempat itu yang kini sudah dipenuhi dengan kobaran api yang membara.


Di kejauhan, dua Komandan Kelelawar Iblis menggeram menahan amarah. Ini adalah hinaan. Pasukannya terbakar tepat di depan mata.


"Ada orang pintar di antara mereka." Nyai Siwang Sari berkat geram, wajah cantik nenek itu seketika menjadi merah, semerah api dihadapannya. "Kita terlalu meremehkan musuh, kita sudah kehilangan ribuan orang sementara musuh mungkin hanya ratusan."


"Pengecut, akan aku kuliti siapapun wanita yang kutemui kelak..." Menimpali pula Jaka Balabala, "Tidak...tidak...aku juga akan menguliti para lelakinya, huhuhu..." pria itu menangis membayangkan para lelaki yang akan dikulitnya.


Tidak lama setelah itu, Gerahang Jegar datang dengan wajah sedih. Matanya masih merah, sedangkan air masih pula berlinangan di pipinya. "Aku kehilangan...kehilangan Gerahang Petak. Pak tua itu membunuh saudaraku..."

__ADS_1


Nyai Siwang Sari segera mendekati pria itu, "Kau harus membalas dendam, harus! Sekarang berapa orang yang mati dipihak musuh?"


"Hanya 1, dan 9 orang prajurit rendahan. Aku...aku telah meremehkan musuh...aku muak, ingin membunuh mereka semua."


Nyai Siwang Sari sebenarnya tidak kalah marah dibandingkan Gerahang Jegar, pasukannya hancur hampir 5 ribu tapi di pihak musuh hanya 10 orang saja. Ini benar-benar penghinaan, bagaimana dia bisa terima hal seperti ini.


"Aku melihat dia terbang ke arah sana!" Berkata lagi Gerahang Jegar, sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah utara tapi sedikit menjorok ke timur pada bukit yang dipenuhi dengan hutan belantara. "Mereka semua pasti bersembunyi di sana, kita bergerak sekarang juga."


Baru dua langkah Gerahang Jegar pergi, Nyai Siwang Sari segera menarik pundaknya. "Jangan bertindak bodoh, mereka mungkin memiliki cara licik yang lain, ranjau dan jebakan pasti sudah mereka siapkan untuk menyambut kita."


"Ni Mas, apa kau takut? Aku tidak?" Menimpali Jaka Balabala, kemudian dia menangis lagi. "Huhhuhu...malang sekali nasipmu, Gerahan Jegar. Kau sudah kehilangan saudaramu yang berharga, tapi tenang saja kau boleh memintaku untuk menggantikan posisinya malam kelak."


Beberapa orang waras yang mendengar perkataan pria itu hampir muntah darah karena jijik.


***


Sementara itu Ki Lodro Sukmo kembali dengan wajah sendu, meski tidak ada air mata yang keluar dari bola matanya, tapi jelas terlihat perasaan pak tua itu terguncang begitu hebat.


"Dia menyerahkan ini..." Ki Lodro Sukmo memberikan potongan pedang hitam milik Darma Guru kepada Darma Cokro. "Pak tua itu melepaskan semua kekuatan dari pedang hitamnya, untuk memicu ledakan."


Darma Cokro memperhatikan potongan pedang hitam, air matanya jatuh menetes pada gagang pedang.


Di sisi lain, Lakuning Banyu jatuh tersungkur. Tentu saja itu adalah pukulan berat untuk dirinya. Selain jabatan Mahapati, Darma Guru merupakan paman dari Ayahnya alias kakek baginya.


Bukan hanya itu, semenjak kematian Raja Surasena, Darma Gurulah yang paling sering melindungi Lakuning Banyu.


"Paduka Raja..." Dewangga segera menangkap tubuh kakak iparnya. "Bertahanlah, ini adalah pilihan Aki Darma Guru, bagaimanapun dia sudah berjasa besar hingga saat ini."


"Saudara iparku, bagaimana tidak bersedih. Eyang Darma Guru sudah melakukan segala hal demi Surasena, dia meninggalkan keluarganya hanya untuk kejayaan Surasena, dan saat ini dia juga telah mati karena Surasena."


Lakuning Banyu terisak menahan tangis. "Apa yang diberikan Surasena kepadanya hanyalah penderitaan, bahkan ketika dia matipun tidak membawa apapun bahkan tanganku tidak bisa menyentuh jasadnya."


Dewangga tidak berkata lebih banyak kecuali tetap mendampingi Lakuning Banyu. Sementara itu, Wira Mangkubumi mendekati Darma Cokro.


"Kita akan membalasnya..." Wira Mangkubumi mencengkram tombaknya dengan tangan bergetar karena menahan emosi. "Teman, perang ini bukan hanya mengenai Surasena atau mengenai Serikat Pendekar, perang ini lebih dari Dataran Java, perang ini melibatkan dunia. Aku Wira Mangkubumi, bersumpah akan tetap berjuang melawan Kelelawar Iblis, sampai darah penghabisan."


Wajah Darma Cokro seketika menjadi merah bara, wajahnya yang tadi sendu saat ini mulai menunjukkan sisi angkernya. Dia mencengkram pedang pusaka dengan begitu erat.


Bersamaan dengan itu pula, semua orang terlihat mulai terbakar amarahnya. Mendengar perkataan Wira Mangkubumi, seperti mendengar kidung yang menggetarkan emosi. Jiwa-jiwa mereka bergetar menahan luapan marah.


"Aku juga bersumpah akan melakukan hal terbaik, tidak akan mundur hingga darahku kering dari tubuh ini."


Tiba-tiba aura dingin merayap di tempat itu, mengejutkan semua orang. Hampir-hampir tidak ada yang tahu asal muasal dari aura dingin itu, kecuali setelah melihat Lakuning Banyu bersifat sedikit liar.


Raja Surasena itu kemudian berkata serak. "Aku Raja Lakuning Banyu, tidak akan mundur satu langkahpun. Kita tidak akan mengungsi, tidak pula melarikan diri, perang hari ini akan menjadi awal kehancuran Kelelawar Iblis." Suara raja itu terdengar bukan seperti miliknya, tapi seperti suara lima orang yang berkata bersamaan.


"Keris panca dewa!" Terkejutlah Ki Alam Sakti setelah melihat di bagian leher Lakuning Banyu muncul sisik-sisik biru, kemudian salah satu dari mata pria itu memiliki pupil berwarna hijau, mirip seperti pupil seekor ular.

__ADS_1


"Tenang saja, aku masih sadar." Lakuning Banyu kembali berkata berat. "Ini memang terasa sedikit aneh, aku belum pernah merasakan hal seperti ini, tapi roh keris Panca Dewa tidak akan mengambil alih tubuhku, dia sudah berjanji pada seseorang."


Ya, orang yang dimaksud adalah Sungsang Geni.


__ADS_2