PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Menduduki Kadipaten


__ADS_3

Semua orang bergumam kecil, membuat perasaan Grilik Suing menjadi semakin buruk. “Diam...diam kalian semua, atau akan kubunuh!”


“Siapa kau yang bisa membunuh nyawa orang semaumu?” Terdengar suara seorang pemuda di atas atap rumah Adipati.


Jelas semua orang mendongak ke atas, melihat seorang pemuda dengan pedang bercahaya kuning. Grilik Suing juga berniat melirik pada sumber suara, tapi tiga pisau kecil melayang dengan cepat dan hampir membunuhnya, jika bukan karena dua pengawal pria itu menghalau serangan Sungsang Geni.


Salah satu pisau kecil hanya menggores manis pipi Grilik Suing sampai berdarah.


“Serang pria itu!” printah Grilik Suing.


Puluhan prajurit yang berada di sekitar lokasi segera menghunus golok, dua pengawal Grilik Suing terbang ke atas atap, melecutkan cambuknya ke arah Sungsang Geni. Pemuda itu dapat dengan mudah menghindarinya, sehingga lecutan ujung cambuk malah merusak atap bangunan.


Dua cambuk meliuk seperti ular, menyerang silih berganti. Sungsang Geni mendarat di permukaan tanah, hanya untuk sesaat sebelum ujung cambuk hampir saja mengenai wajahnya.


Di sisi lain, Grilik Suing hendak membantu tapi segera dihadang oleh pendekar suci yang datang bersama dengan Sungsang Geni.


“Kau penghianat terkutuk, nyawamu tidak layak diampuni. Mati seratus kalipun tidak bisa membalas perbuatanmu pada negri ini.”


“Dasar bodoh...kalian pikir bisa mengalahkan kami? Jangan mimpi?” timpal Grilik Suing.


Dua mantan sahabat itu bertarung dengan sengit. Dalam beberapa menit, pertarungan kedua orang itu menjadi lebih seru dibandingkan pertarungan Sungsang Geni. Tapi Grilik Suing mendapatkan dua kali tebasan yang menggores tipis dada dan lehernya.


Adipati palsu itu cukup terkejut, seingatnya kemampuan pendekar suci bertubuh kecil di hadapannya tidak terpaut jauh dengan dirinya. Tapi kali ini, entah kenapa dia merasakan kemampuan pria kecil itu jauh diatas dirinya.


“Grilik Suing, kau menjadi terkejut karena kemampuanku jauh diatas dirimu?”


“Rilang, kau berkata sombong hanya karena kemampuanmu meningkat sedikit. Tapi aku tidak akan gentar, ku buat ****** kau hari ini!”


Sebelum rakyat membubarkan diri, dengan wajah-wajah takut. Puluhan prajurit Grilik Suing menghunus tombak dan golok ke arah para warga. Mereka menggiring para warga ke sisi lain tempat itu, hingga tiba-tiba.


“Serang mereka!” terdengar teriakan dari kejauhan.

__ADS_1


Puluhan prajurit menoleh, melihat Adipati Lingga membawa dua ratus pasukannya mengepung bangunan utama Kadipaten Ujung Lempung. Berlari di depan Adipati Lingga, seekor srigala hitam besar menyunggingkan senyum bersiap menerkam.


Beberapa saat lagi sebelum terjadi bentrokan, tiba-tiba puluhan prajurit itu melepaskan tombak-tombak mereka. menjatuhkan diri meminta belas kasihan. Hal yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.


“Adipati Lingga...mohon ampuni nyawa kami...jangan bunuh kami...” meratap puluhan orang itu.


Panglima Ireng mengelilingi musuhnya yang mungkin berjumlah sekitar 80 orang, wajah-wajah mereka semakin pucat pasi ketika srigala itu mengenduskan moncong hitamnya. Beberapa orang memejamkan mata, tidak berniat menatap langsung sorot mata Panglima Ireng yang begitu buas.


Grilik Suing masih bertarung sengit melawan Rilang. Sekarang dia menjadi sedikit khawatir ketika menyaksikan semua pasukannya bertekuk lutut, tanpa melakukan perlawanan. Jauh di matanya, dia melihat Adipati Lingga tersenyum sinis.


“Kau menjadi lengah.” Rilang berhasil melepaskan satu tendangan ke wajah Grilik Suing, membuat pria itu terpental puluhan depa dan mendarat tepat di hadapan Panglima Ireng.


“Gerr...gerr...” geram srigala besar itu.


Grilik Suing tidak berkutik, matanya terbelalak, dadanya masih terasa panas karena serangan Rilang tapi kini semakin panas ketika taring Panglima Ireng mengintip dari balik bibirnya yang hitam.


Masih dalam keadaan terlentang, Grilik Suing menoleh ke arah Adipati Lingga dengan senyum pahit.


“A...adipati...Aku...aku...”


“Dimana pemuda itu?” tanya Adipati Lingga.


“Masih bertarung di sisi lain.” Jawab Rilang, menunjuk ke halaman belakang bangunan utama Kadipaten Ujung Lempung.


***


Dua pengawal Grilik Suing mungkin sudah berada pada level pendekar tanpa tanding dengan satu jule tenaga dalam atau dua cakra yang terbuka. Cukup hebat, tapi bukan tandingan Sungsang Geni.


Sekarang dua orang itu sudah terseok di permukaan tanah, dengan darah merah keluar dari mulutnya. Salah satu dari mereka terlihat lebih buruk dari temannya, ada luka besar yang membelah dada pria itu, membuatnya tidak bisa berdiri lagi.


Dua cambuk panjang telah menjadi potongan tali tidak berguna. Sungsang Geni belum melepaskan satu serangan menggunakan pedang energi, kecuali ketika dia menemukan satu pedang usang untuk melawan mereka.

__ADS_1


Satu diantara dua orang itu mencoba bangkit, tapi Sungsang Geni mematahkan pedang usang miliknya dan melempar patahan pedang hingga menancap pada setiap sendi di tangan dan kaki.


“AHKKK!' terdengar suara pekikan.


Pria itu terpasak di batang pohon, satunya lagi sudah tewas karena kehabisan darah. Yang tersisa mungkin tidak akan lama lagi menemui ajal.


“Kau setan alas...” berkata terbata-bata pria itu, masih sempat menghardik Sungsang Geni dan meludahkan darah dari mulutnya. “Kau tidak tahu akan melawan siapa? Pemuda bodoh sepertimu akan mati dengan mu...”


Satu cakaran menghentikan perkataan pria itu, rupanya Panglima Ireng yang baru saja melakukannya. Karena serangan itu, leher pria itu terkoyak besar. “Gerr...gerr...” panglima Ireng menggeram kesal.


Sungsang Geni menarik napas berat, dia tidak menyalahkan tindakan yang dilakukan Panglima Ireng. Ya, srigala itu masih kesal karena tidak ada lawan yang mengajaknya bertarung.


Tidak beberapa lama, Adipati Lingga datang pula bersama dengan empat pendekar suci. Dikiranya Sungsang Geni masih bertarung melawan dua orang pengawal Grilik Suing. Tapi ketika melihat dua mayat sudah tergeletak bersimbah darah, Adipati Lingga menggelengkan kepala.


“Dua orang inilah yang membuat kita kerepotan, kekuatannya sangat besar bukan?” tanya Adipati Lingga kepada 4 pendekar Suci.


“Ya, tapi bukan tandingan pemuda itu,” timpal Rilang. “Menurutmu sekuat apa pemuda ini?”


“Lebih kuat dari Nyai Bidara,” menjawab Ki Demang dari belakang mereka.


"Benar, lebih kuat dari Nyai Bidara."


Setelah penyerangan itu, Kadipaten Ujung Lempung dapat dikuasai lagi. Semua prajurit Grilik Suing sang penghianat ditahan untuk beberapa waktu, Adipati Lingga belum menjatuhkan hukuman yang setimpal untuk mereka.


Sementara itu, Grilik Suing sekarang berada di dalam penjara sempit di bawah tanah. Penjara itu hanya muat untuk satu orang saja dengan posisi berdiri. Tiada pencahayaan di dalam penjara kecuali lubang kecil untuk mengintip, dari lubang itulah cahaya dapat masuk mengenai wajahnya.


Ini adalah pertempuran paling cepat yang pernah Sungsang Geni rasakan. Ya, tidak ada korban jiwa yang tewas dalam pertempuran ini di pihak Sungsang Geni.


"Karena hati para prajurit masih diliputi keraguan, jadi tidak ada yang berniat bertarung sampai mati." gumam Sungsang Geni.


“Aku tidak bisa mengatakan apapun saat ini, kecuali ucapan terima kasih...” ucap Adipati Lingga datang mendekati Sungsang Geni.

__ADS_1


Sungsang Geni hanya menganggukkan kepala. “Ini hanyalah permulaan saja, musuh sebenarnya ada di Istana Tumenang. Kita akan menyerang mereka, setelah semua pasukan siap.”


Adipati Lingga tidak berkata apapun selain menelan ludah pahit. Dia sepertinya belum siap untuk melawan Istana secara langsung, tentu saja. Itu karena orang yang ada dibelakang raja penghianat, adalah 3 orang pendekar hebat dari Negri Sembilan.


__ADS_2