PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Menguasai Istana7


__ADS_3

Sungsang Geni menyiapkan banyak ranjau sepanjang jalan di dataran luas penuh rumput ilalang. Dia menebang banyak pohon kecil, meruncingi pohon-pohon itu dan menanamkannya ke tanah.


Jika saja ada empu pelak, menghabisi 2 ribu pasukan dengan bubuk setan bukan hal yang sulit. Jika pula Sungsang Geni memiliki kepandaian, tentu akan membuat kereta iblis yang bisa memuntahkan banyak anak panah dalam sekali serang. Itu akan sangat membantu.


Seharian panjang pemuda itu membuat ranjau di jalan, sementara Patih Siruyu Citro dibiarkannya duduk di bawah pohon besar melakukan semadi untuk menghimpun tenaga dalamnya.


Setidaknya pria itu memiliki kemampuan setingkat Sesepuh Sabdo Jagat, brangkali lebih tinggi patih ini, mungkin setingkat Ki Lodro Sukmo.


Namun hal tak terduga malah melewati ujung mata Sungsang Geni, seorang gadis dengan kuda hendak berjalan melewati ranjau yang telah dia buat. “Wulandari, kenapa gadis itu datang kemari?”


Sontak Sungsang Geni terbang cepat, dan berhasil menyambar tubuh Wulandari sementara kuda miliknya masuk ke dalam ranjau, jatuh terseok sepanjang tiga depa jauhnya dan mati setelah dua bilah ranjau menembus batang leher hewan itu.


Sungsang Geni membawa Wulandari ke bawah batang besar, tidak jauh dari mayat kuda milik gadis itu. Dengan nafas masih terengah-engah, Wulandari menatap wajah Sungsang Geni dengan perasaan bercampur aduk.


Ada senyum manis dan pahit di bibirnya yang imut, tentu ada banyak hal yang dia pikirkan saat ini. Hatinya begitu senang melihat wajah pemuda itu berada dekat dengan dirinya, bahkan untuk beberapa saat dia bisa merasakan detak jantung Sungsang Geni.


Namun di lain sisi, hatinya terasa sedih, nasip Cempaka Ayu dalam bahaya. Wulandari tidak mungkin mementingkan perasaannya, sementara ada gadis lain yang berjuang nyawa saat ini.


Menyadari hal itu, Wulandari bersegera menjauhi Sungsang Geni satu langkah. Memalingkan wajah untuk sesaat ke sisi lain, merapikan pakaiannya kemudian tersenyum pahit melihat kuda tunggangannya sudah tidak bernyawa.


“Apa yang kau lakukan di tempat ini, kenapa kau hanya sendirian?” tanya Sungsang Geni.


Wulandari tersenyum simpul, tidak berniat menatap wajah Sungsang Geni terlalu lama karena itu malah membuat hatinya semakin resah.


“Aku sengaja mencari dirimu...” ucap Wulandari masih tidak berniat menatap wajah Sungsang Geni. “Ada hal penting yang harus kau ketahui, mengenai kekasihmu itu. Cempaka Ayu.”


Sungsang Geni membuka matanya lebar-lebar, hampir berteriak karena kegirangan tapi di sisi lain wajah Wulandari semakin suram dan mungkin akan menangis, jadi dia benar-benar memalingkan wajah dan membelakangi Sungsang Geni.

__ADS_1


“Tapi nyawanya dalam keadaan kritis, aku menemukannya jatuh di halaman gubuk kami. Kami telah berusaha mengobatinya, memberikan ramuan dan mengerahkan tenaga dalam, tapi sayangnya semua hal yang kami lakukan tidak berhasil.”


“Apa maksudmu?”


“Apa kau sudah tuli? aku bilang nyawa kekasihmu dalam keadaan kritis, karena itu aku mencarimu berhari-hari, karena ku pikir mungkin hanya kekuatanmu yang bisa membantunya.”


“Bukan begitu...”


“Bukan begitu apanya? Sekarang ikut aku, butuh beberapa hari dari tempat ini agar tiba di rumahku.” Suara Wulandari terdengar serak tapi bernada tinggi, gadis itu sebenarnya sudah meneteskan air mata sejak tadi, bahkan ketika raut khawatir Sungsang Geni memikirkan Cempaka Ayu, hati gadis itu semakin sakit.


'Jikalah aku dalam posisi Cempaka Ayu, mana mungkin Geni bersikap seperti ini. Guru, kau benar, perasaanku terasa sakit.”


Sungsang Geni menghela nafas berat, tidak tahu harus melakukan apa atau mengucapkan kata-kata apa saat ini. Karena dia bisa membaca pikiran, jadi pemuda itu tahu apa yang ada dalam kepala Wulandari, hanya saja dia tidak pandai untuk bersikap.


“Aku akan ikut bersamamu, setelah menyelesaikan pertempuran ini.” Sungsang Geni menepuk pelan pundak Wulandari. “Ma'afkan aku karena menyakitimu, tapi saat ini dibalik Kabut Ilusi itu, Negri Tumenang dalam bencana, aku harus menghentikan Raja Prajamansara di tempat ini. Atau negri itu tidak akan pernah dapat ditolong lagi.”


“Prajamansara? Aku mengenal nama itu, jika tidak salah Tiga Pendekar Iblis Malaka berada dibelakang pria itu.”


“Ya, tiga pendekar iblis malaka memiliki kemampuan paling hebat dibawah komando ayahku. Mereka mungkin tidak sekuat Komandan Kelelewar Iblis, tapi jika mereka bertarung bersama, tiga pendekar Iblis Malaka bisa dikatakan setingkat dengan Komandan pertama Kelelawar Iblis.”


“Sekuat itukah?” gumam Sungsang Geni. Sejauh ini dia belum melihat kecuali hanya mendengar sebagian kecil kekuatan Komandan Pertama Kelelawar Iblis, bagaimana rupanya dan juga bagaimana kemampuannya, semua masih misterius.


Tapi jika Tiga Pendekar Iblis Malaka sekuat Komandan Pertama, ini akan menjadi pertempuran yang cukup sulit. Sungsang Geni meminta Wulandari untuk menceritakan semua kemampuan mereka bertiga, senjata yang mereka gunakan dan juga cara dan gaya bertarung.


Wulandari meski masih dalam keadaan hati tersayat sembilu, menjabarkan segala informasi mengenai tiga pendekar itu sebanyak yang dia ketahui. Tapi tidak terlalu rinci, sebab Wulandari belum pula pernah melihat kekuatan sebenarnya dari tiga pendekar itu.


“Aku akan membantumu...” tutup Wulandari.

__ADS_1


“Tapi ini sangat bahaya, kau mungkin akan terluka dalam pertempuran.”


Wulandari tersenyum kecil, ketika melihat raut wajah Sungsang Geni sedikit khawatir, hati gadis itu malah menjadi berbunga-bunga. Rupanya Sungsang Geni juga mengkhawatirkan keselamatannya, pikir Wulandari.


“Aku tidak bercanda, kenapa kau malah senyum-senyum sendiri. Tadi kau menangis kini malah tersenyum.”


Wulandari tidak peduli, dia menggoyang-goyangkan tubuhnya menggigit bibir bawah dengan wajah merah merona. “Aku akan tetap bertarung, memang aku tidak sekuat kekasihmu itu, tapi jika melawan sepuluh atau dua puluh keroco, aku jelas saja sanggup.”


Sungsang Geni menggelengkan kepala, tidak berniat melanjutkan perdebatan ini karena dia tahu, wanita akan memenangkan setiap perdebatan.


Pemuda itu terbang melayang pada kuda yang tewas di tengah jalan, membersihkan semua ranjau dan noda darah. Dia merapikan lokasi itu seperti sedia kala, menguburkan kuda di dalam hutan.


Setelah hari mulai petang, Sungsang Geni dan Wulandari terbang ke tempat Patih Siruyu Citro Citro. Pak tua itu masih menutup matanya, duduk bersila di bawah pohon.


Wulandari hendak menanyakan siapa gerangan pak tua itu, tapi Sungsang Geni meletakkan jari telunjuk di bibir mengisyaratkan untuk tidak mengganggu semadinya.


Ketika malam hari, Wulandari duduk di seberang Sungsang Geni pada sepotong kayu, menghadap ke arah api unggun. Di tengah api unggun itu, ada seekor kelinci dipanggang oleh Sungsang Geni.


Jelas saja kelinci panggang itu untuk Wulandari, karana Sungsang Geni tidak akan menyantap daging. Sibuk meniup api unggun, sibuk pula Wulandari mencuri-curi pandang ke arah pemuda itu.


“Ini mengingatkan aku saat pertama kali berteduh dibawah langit malam bersama denganmu.” Wulandari tersenyum kecil. “Barangkali kau sudah melupakan hal itu, tapi ingatan itu akan kukenang sampai mati.”


“Apa yang kau bicarakan, tidak ada yang pernah melupakan semua hal yang pernah ku lalui bersama denganmu, dan juga Ireng.” Sungsang Geni meniup daging kelinci beberapa kali, kemudian menyodorkan daging itu kepada Wulandari. “Kau sudah banyak membantuku, mana mungkin aku lupa.”


Setelah obrolan kecil mereka berlalu, Wulandari tidur dengan pulas, perjalanan gadis itu sangat jauh, sudah barang tentu letih dan payah. Sungsang Geni melepaskan jubah tebal miliknya, menyelimuti Wulandari dengan hati-hati.


Dia lantas duduk bersila memejamkan mata sambil menajamkan semua indra miliknya dan menyatu dengan alam.

__ADS_1


Ketika hari baru saja beranjak pagi, sayup-sayup Sungsang Geni menangkap suara gemuruh kaki kuda berlari lambat. Ada banyak rentak kaki kuda, menandakan itu adalah musuh yang sebentar lagi akan datang.


Serentak Patih Siruyu Citro berdiri bersama dengan Sungsang Geni. “Musuh sudah mendekat...”


__ADS_2