PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Menyelamatkan Cempaka Ayu2


__ADS_3

Cukup lama, Wulandari belum merasakan tanda-tanda jiwanya akan keluar dari raga. Ini lebih sulit dari yang dikatakan Pramudhita. Beberapa saat tadi dia melihat cahaya terang, berbentuk seperti bola energi berjalan-jalan di pandangannya. Namun tidak beberapa lama, bola bercahaya itu lenyap lagi, bergantin dengan gelap gulita.


Sungsang Geni melirik sesaat ke arah Pramudhita, menandakan bahwa Wulandari belum berhasil melakukan raga sukma.


“Bersabarlah...”bisik Pramudhita. “Ini adalah pengalaman pertama untuk gadis ini, dan merupakan pengalaman pertama bagi kita semua.”


Wulandari sekali lagi melihat cahaya terang seperti bola energi, muncul di hadapannya. Silau sekali melihat benda itu, dan juga terasa sedikit lebih hangat.


Jika dia sadar, cahaya itu merupakan pintu untuk keluar dari raganya. Namun sekali lagi, dalam keadaan seperti ini, Wulandari tidak bisa menggunakan akal pikirannya.


Ketika cahya itu perlahan-lahan hendak menjauh lagi, seperti sebelumnya, tiba-tiba wanita itu teringat dengan sosok Sungsang Geni. Entah kenapa dalam keadaan seperti ini, ketika pikirannya tidak berpungsi, pemuda itu masih saja mengusik dirinya.


“Aku melakukan ini karena pemuda itu, benarkan?” bisik batinnya sendiri. “Aku sudah siap untuk apapun, demi kebahagiaan Geni. Karena itu, aku harus berhasil menyelamatkan Cempaka Ayu...”


Perlahan tapi pasti, rasa sakit di dalam dada Wulandari berangsur lenyap seperti benda hilang ditelan danau. Perasaan gundahnya, kini berubah menjadi ketenangan dan kehangatan. Bahkan untuk saat ini, dia tidak merasakan ketakutan sedikitpun, seolah dia sudah siap untuk mati.


Pada saat yang sama, cahaya mirip bola energi membesar, terus mendekati dirinya. Hingga akhirnya lenyap sudah pandangan gelap gadis itu, berganti dengan cahaya putih terang dengan suasana hangat.


Tidak begitu lama, setelah melewati cahaya tersebut Wulandari dihadapkan pada dinding gedek bambu. Langit-langit ilalang kuning, dan.


Gadis itu menutup mulutnya, mendapati tubuhnya berada di bawah kakinya dalam keadaan terlentang. Dia bisa melihat Sungsang Geni masih mengalirkan energi panas tepat di kepalanya, kiranya inilah yang membuat gadis itu merasakan hawa hangat.


“Aku telah berhasil melakukan ilmu meraga sukma...” ucap gadis itu.


Sementara itu dia bisa melihat ada setitik cahaya terang yang berada tepat di tengah kepala Cempaka Ayu.


“Apakah itu merupakan jalan menuju alam bawah sadar Cempaka Ayu?” tanya Wulandari.

__ADS_1


Wulandari berniat meraba kening Cempaka Ayu, hanya untuk memastikan apakah cahaya putih di kening gadis itu nyata atau tidak. Namun sebelum jari-jarinya berhasil mendekati kening Cempaka Ayu, tiba-tiba dari cahaya putih itu keluar sebuah energi yang menghisap Wulandari dengan sangat kuat.


Gadis itu tidak berdaya untuk menahan tarikan energi itu, terpaksa dia masuk kedalamannya. Begitu cepatnya, sampai Wulandari tidak menyadari rupanya dia sudah berada di sebuah tempat yang sangat gelap.


“Dimana ini? apakah aku telah berada di alam bawah sadar Cempaka Ayu?”


Gadis itu memperhatikan tempat dia berpijak, seperti bebatuan keras yang amat gersang. Keadaan di tempat itu begitu gelap, tapi ada banyak bintang-bintang bertaburan di langit.


“Ayu, apakah kau ada disini?” tanya Wulandari. “Aku datang untuk membawamu kembali.”


Tidak ada sahutan dari siapapun, membuat gadis itu sedikit takut. Dia berjalan perlahan, menyelusuri tempat itu yang bahkan tidak tahu di mana ujungnya. Hanya saja, Wulandari tidak merasakan lelah, haus ataupun lapar.


Mungkin karena jiwa tidak butuh makanan, atau pula karena energi Sungsang Geni ikut mengalir kedalam jiwanya? Entahlah, Wulandari tidak terlalu tahu pasti, yang jelas dia akan mencari keberadaan Cempaka Ayu.


Bukit kecil bebatuan dilewatinya, kemudian melewati lembah gersang yang juga dipenuhi batu. Beberapa tempat terlihat membeku, mungkin karena dingin yang teramat sangat.


Wulandari tidak tahu sudah berapa lama dia berada ditempat ini, barangkali hanya semenit atau mungkin satu tahun lamanya. Tapi perjalanan gadis itu belum selesai, belum ada tanda-tanda keberadaan Cempaka Ayu.


Di depan matanya, ada sebuah dataran dengan warna putih dan cukup terang. Mungkin ada matahari di sana, sehingga permukaan terlihat jelas. Dia bergegas berlari, melewati beberapa parit yang tersusun dari bebatuan.


Hingga akhirnya, tibalah dia di wilayah yang sangat terang. Disini barulah dia sadar tempat ini sebenarnya seperti apa.


“Apakah ini bulan?” tanyanya dalam ketidak mengertian.


Gadis itu melihat bola besar jauh berada di depan matanya, mengambang diantara bintang-bintang. Itu adalah bumi, wulandari cukup yakin dengan matanya. Bumi memang terlihat bulat dari gambaran yang dia baca di perpustakaan Negri Sembilan. Tapi dia tidak menyangka rupanya bumi lebih indah ketika dilihat dari bulan.


Berjalan lagi gadis itu menyelusuri dataran yang terpapar cahaya, yang diyakini Wulandari sebagai siang.

__ADS_1


Hingga terlihat sebuah kastil megah, dipenuhi dengan cahaya putih berdiri di ujung matanya.


“Istana siapa di tengah bulan ini?” tanya Wulandari, memasang wajah khawatir. “Mungkinkah Cempaka Ayu terjebak didalam istana itu?”


Meski dipenuhi dengan perasaan takut, gadis itu berjalan pula mendekati kastil bercahaya putih. Ketika pandangannya cukup jelas, dia bisa melihat sebuah patung wanita anggun dengan mahkota bersinar berdiri tepat di halaman bangunan.


Wanita itu terlihat sedang membawa sebuah bola, dengan wajah tersenyum kecil. Tidak tahu bola apa yang dibawanya.


Wulandari berjalan perlahan, merangkak pada bukit batu dan mengintip dari celah-celahnya. Jarak antara kastil itu sekarang cukup dekat, mungkin hanya beberapa ratus depa lagi.


Namun alangkah terkejut gadis itu, melihat sosok gadis sedang terbelenggu tepat di antara kaki patung wanita. Rantai dan kakinya terikat dengan banyak rantai, bajunya penuh dengan koyakan.


“Cempaka Ayu?” Wulandari hampir terpekik menyadari gadis itulah yang ingin dia selamatkan. “Apa yang terjadi denganmu?”


Wulandari hendak menghambur keluar, berlari cepat ke arah Cempaka Ayu tapi tidak jadi. Dia melihat ada beberapa mahluk bertubuh aneh berdiri tegap di sekitar patung wanita bersinar putih.


“Apakah itu adalah penjaga tempat ini?” tanya Wulandari.


Bentuk mereka beragam, beberapa menyerupai binatang dengan banyak tangan seperti laba-laba. Beberapa lagi berbentuk seperti manusia batu, dan sebagian lagi seperti prajurit dengan zirah perang.


Wulandari masih berjalan perlahan, mendekati cempaka Ayu dengan sangat hati-hati. Tentu saja tidak akan terlalu dekat, sebab puluhan penjaga akan menyergap dirinya.


“Sekarang aku tahu apa yang terjadi.” Gumam gadis itu.


Menurut Wulandari, tempat ini bukan benar-benar berada di bulan. Sebaliknya ini adalah alam bawah sadar Cempaka Ayu yang sesungguhnya. Namun menurut gadis tersebut, Dewi Bulanlah yang telah merubah alam ini seperti yang dia inginkan, dalam hal ini seperti di bulan.


Itu artinya, Cempaka Ayu telah berbagi alam bawah sadar dengan Dewi Bulan. Siapa yang lebih kuat, dia akan keluar dari alam ini. Cempaka Ayu bisa bertahan mungkin karena Dewi Bulan terkurung disini.

__ADS_1


“Untuk mengisi kebosanan, Dewi Bulan mengatur tempat ini seperti bulan. Tapi sayang sekali, dia berhasil bertukar posisi dengan Cempaka Ayu, membuat penjara kuat untuknya. Sekarang apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan dirinya?”


Bagi teman-teman yang menyukai genre yang sama, cobalah untuk membaca novel karya Andres yang berjudul Reinkarnasi Pendekar Phoenix.


__ADS_2