
Selama 3 hari Sungsang Geni menunggu jika saja ada pasukan Kelelawar Iblis yang datang. Tapi selama itu juga dia tidak menemukan tanda-tanda bala bantuan susulan. Pemuda itu terbang beberapa kali, mengelilingi hutan gambut bahkan sampai tiba di pesisir pantai.
Selama dua hari itu, Sungsang Geni membakar setiap bangunan yang sempat berdiri di titik zona aman. Pemuda itu tidak meninggalkan satu jejakpun yang terlihat mencurigakan, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menyusul rombongan pengungsi.
Kelelawar iblis akan bertindak cepat? Tentu saja, Sungsang Geni memprediksi mereka akan tiba ditempat ini 3 minggu lagi dengan berkuda dari pusat pemerintahan Kelelawar Iblis, dengan catatan mereka memang sudah mengetahui tempat ini.
Namun saat ini mereka belum siap dalam pertempuran, jadi pihak Sungsang Geni harus mengulur sedikit lebih banyak waktu. Salah satu cara adalah menghilangkan jejak. Bagaimana caranya? Sungsang Geni sudah meminta Brewok Hitam untuk berjalan di tengah sungai hingga ke hulu, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke titik pengungsi.
Hal itu memang akan membuat perjalanan para pengungsi sedikit sulit, tapi dengan cara itulah jejak kaki mereka bisa dihilangkan.
“Aku berharap turun hujan dengan deras, dengan begitu semua jejak pertempuran mungkin akan hilang.” Sungsang Geni bergumam, kemudian segera pergi meninggalkan tempat itu.
Dia melintasi beberapa titik hutan rimba, kemudian beberapa titik lainnya hingga akhirnya setelah terbang selama 5 jam dia dapat menemukan rombongan Pengungsi sudah menyebrangi sungai berair deras dan lebar.
Pemuda itu segera mendarat di dekat Siko Danur Jaya, “Apa semuanya baik-baik saja?”
“Semuanya sesuai rencana, lalu bagaimana dengan musuh kita?”
“Mereka tidak datang, tapi tentu saja mereka akan mencari pasukan yang tidak pernah kembali itu.” Sungsang Geni mengelus dagunya. “Masih punya waktu untuk mengatur rencana dan strategi.”
Mendengar perkataan Sungsang Geni, Siko Danur Jaya juga tampak sedang berpikir keras. Sungsang Geni memberi tempo beberapa minggu untuk mengatur strategi, tapi dia tidak cukup yakin Serikat Pendekar memiliki solusi dengan waktu sesingkat itu.
Apa lagi, nampaknya Surasena tidak bisa membantu lebih jauh mengenai sumber daya perang karena memang prajurit kerajaan sudah banyak yang tumbang.
“Tapi tenang saja!” Sungsang Geni berkata sambil tersenyum. “Kita telah menghilangkan jejak pelarian bukan? Jadi mungkin kita memiliki 2 hingga 3 bulan lagi.”
Siko Danur Jaya terlihat cukup lega, jika 2 hingga 3 bulan mungkin situasinya akan sedikit membaik. Dan semoga saja, ketika hal itu terjadi para pengungsi sudah berada di dataran Swarnadwipa.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan, sekarang dari tepi sungai ini hanya butuh beberapa hari lagi hingga tiba di titik pengungsian. Ujung paling barat dataran java.
***
Pramudhita bersama Resi Irpanusa dan beberapa pendekar hebat dari Padepokan Pedang Bayangan turun dari kereta kencana yang semuanya terbuat dari emas dan pernak-pernik mutiara.
__ADS_1
Beberapa hari yang lalu, Nogo Sosro sudah pernah bertandang ke Padepokan Pedang Bayangan untuk membicarakan masalah perkawinan antara Pramudhita dan Putri Sancani.
Resi Irpanusa pada awalnya tidak menduga, kerajaan dari lautan dalam mau bertandang ke puncak gunung tertinggi di dataran Java. Tapi setelah menuturkan niat mereka baik-baik, Resi Irpanusa sangat mendukung pernikahan itu.
Saat ini, ketika Pramudhita turun dari kereta kencana, matanya begitu tercengang melihat pemandangan yang begitu asri dan tidak pernah dia temui seumur hidupnya. Istana di dalam laut seperti diselubungi dengan gelembung air yang sangat besar.
Semua orang dari Padepokan Pedang Bayangan menelan ludah beberapa kali, ketika melihat ribuan ikan berenang mengelilingi gelembung kerajaan ini.
“Apa itu yang mereka katakan sebagai gurita?” salah satu dari pendekar Pedang Bayangan menunjuk tantakel yang besarnya hampir seukuran rumah dengan jari meliuk-liuk di atas mereka.
“Resi? Apakah kita akan baik-baik saja? Bagaimana jika gelembung ini pecah?” mereka mulai bergumam.
“Gelembung ini tidak akan pecah?” tiba-tiba suara seseorang terdengar dari pintu gerbang yang terbuka lebar. “Selamat datang di Istana Laut Dalam, semoga kalian menyukai kerajaan kami.”
“Yang Mulia Nogo Sosro...” ucap Pramudhita, dia berniat membungkukkan badan diikuti oleh yang lain, tapi Nogo Sosro segera mencegah tindakan mereka. “Tidak perlu melakukan hal itu, kalian sekarang adalah bagian dari keluarga besar Laut Dalam.”
Mereka kemudian di ajak masuk kedala pintu gerbang kerajaan. Ketika rombongan yang hampir berjumlah 30 orang itu masuk, ratusan rakyat Laut Dalam menaburkan berbagai macam bubuk warna-warni sebagai pengganti bunga.
"Ini benar-benar menakjubkan!" Tabib Nurmanik tercengang.
Pakaian semua orang tak kalah cantik dari Istananya, mereka mengenakan pakaian seperti sisik dari ikan emas tapi tentu saja itu bukan sisik. Bentuknya kerlap kerlip, sangat cocok dipakai oleh mereka yang memiliki kulit seputih mutiara.
“Mereka semua sangat cantik...” pendekar di belakang Pramudhita berkata.
“Kau benar, beruntung sekali kita bisa sampai di tempat ini.”
“Ah...rasanya aku juga ingin menikahi salah satu gadis ditempat ini.” jawab yang satunya.
“Jangan mimpi, kecuali kau sekuat Pramudhita.”
Setelah memasuki gerbang Istana, mereka sudah disambut oleh hampir 100 dayang di depan pintu masuk Istana Kerajaan Laut Dalam.
“Silahkan masuk para pendekar gagah dan cantik!” mereka mempersilahkan.
__ADS_1
Beberapa pendekar wanita yang mengiring langkah kaki Pramudhita sedikit berkecil hati, ketika melihat pakaian yang rakyat laut dalam gunakan sangat berbeda jauh dengan pakaian yang mereka kenakan.
Mereka memakai mutiara sebagai kalung, sedangkan pendekar wanita pedang bayangan memakai kuku-kuku harimau sebagai perhiasan. Itu terlihat sangat bertolak belakang, baik tradisi adat dan gaya hidup mereka.
“Apa mereka akan menghina kita, sebab berpakaian seperti ini?” salah satu dari wanita dibelakang Pramudhita berkata pelan kepada temamnya.
“Entahlah, kita terlihat sangat mencolok ditempat ini.”
Mendengar perkataan kecil murid-muridnya, Resi Irpanusa berdehem beberapa kali. Dia menyadari perasaan hampir seluruh murid-muridnya, bahkan Resi Irpanusa mengetahui bahwa Pramudhita juga merasa rendah diri dengan tampilannya.
“Kalian harus ingat, terkadang benda ditangan orang terlihat lebih berharga dari benda ditangan kita. Padahal mereka juga berpikiran sama.” Resi Irpanusa mengingatkan.
Setelah melewati jalur yang panjang, Pramudhita disambut oleh beberapa dayang yang berbaju merah jambu sedangkan yang lain dipersilahkan untuk menunggu di ruangan yang sudah mereka sediakan.
“Mereka akan memakaikan sesuatu yang sangat bagus untuknya?” Tabib Nurmanik berbisik di telinga salah satu muridnya. “Kau akan melihat, Pramudhita menjelma menjadi seorang yang sangat tampan.”
Acara ini terlihat sangat berbeda di Pedepokan Pedang Bayangan, biasanya ritual pernikahan tidak serumit Kerajaan Laut dalam. Setelah hampir 3 jam lamanya, akhirnya ritual benang merah yang mengikat jari manis kedua pasangan selesai dilakukan.
“Bukankah, pengantin pria harus mencium pengantin wanita?” salah satu dari pelayan berkata sambil tersipu malu.
“Tentu saja.” Yang lainnya juga berkata.
Pramudhita dengan jantung berdebar-debar, membuka tirai yang menutupi wajah istrinya. Tangannya masih bergetar, ketika melihat wanita cantik itu tersenyum manis dengan gincu merah muda menghiasi bibirnya.
Butuh keberanian yang sangat banyak, Pramudhita akhirnya meletakkan bibirnya tepat di kening istrinya. Dan sesuatu tiba-tiba terjadi.
“Kenapa mempelai prianya jatuh pingsan?”
“Suamiku! Suamiku!” Sancani memeluk Pramudhita dengan cemas, tapi pada saat yang sama gelak tawa semua orang memecah ketegangan yang hampir berlangsung 3 jam lamanya.
“Astaga, dia pingsan hanya karena mencium istrinya?” Tabib Nurmanik memijat keningnya yang terasa sakit, sedangkan Resi Irpanusa tertunduk karena menahan tawa.
Like dan koment ter gokil kalian author tunggu.
__ADS_1