
Senopati Datu Wenda mulai terdesak, dia mendapatkan luka dibanyak bagian. Tombak Karang Dalo, meski bukan kualitas tinggi ternyata mampu menandingi Datu Wenda, berkat tenaga dalamnya yang besar.
Senopati itu, ditendang keras, mendarat di pepuingan bangunan. Dia memutahkan darah, tubuhnya mulai merasa lemas, mungkin karena darah yang keluar dari tubuhnya teralalu banyak.
Datu Wenda menatap Karang Dalo, pandangannya menjadi kabur, tapi cukup untuk mengetahui Karang Dalo mendekati dirinya dengan tombak yang siap menikam.
“Mungkin ajalku akan tiba hari ini, ma’afkan aku Pancur Lara.” Gumam Datu Wenda, sedih.
Dengan sisah kekuatannya, dia berusaha untuk berdiri, menggenggam pedangnya dengan erat. Bersiap menerima serangan yang sesaat lagi dilancarkan Karang Dalo.
Namun sebelum mimpi buruknya dimulai, dia menatapi sisi lain, seseorang menghabisi prajurit Tombok Tebing seorang diri.
Meski pandangannya mulai memburuk, Datu Wenda sempat menyimpulkan orang itu ada dipihaknya, dan mungkin akan menolongnya. Seorang pemuda dengan jubah yang menawan, sekarang menjadi harapan terakhir Datu Wenda.
Tidak butuh waktu lama, Sungsang Geni akhirnya tiba di dekat Datu Wenda. Mata pemuda itu meski sayu, tapi terlihat menakutkan.
Dibelakang Sungsang Geni, puluhan prajurit Surasena berteriak, sambil membunuh beberapa prajurit Tombok Tebing yang tersisah.
“Kau baik-baik saja? Paman Senopati?” Sungsang Geni bertanya.
Datu Wenda hanya mengagguk, setelah cukup dekat, dia baru mengetahui bahwa pemuda didepannya adalah pemuda sama dengan yang ditemuinya di ruangan Mahapatih Darma Guru.
“Kenapa kau...? uhuk..?
“Jangan banyak berbicara paman, sekarang istirahatlah,” Sungsang Geni menyandarkan Datu Wenda pada tiang bangunan yang terpotong. “Kalian semua, jaga paman Senopati, jangan sampai ada orang yang melukainya lagi!”
“Siap pendekar....Kalian dengar! kita harus menjaga Senopati Datu Wenda, itu adalah printah pahlawan kita!” kemudian puluhan prajurit itu berteriak kembali, lalu membuat barisan melingkar, dengan Datu Wenda berada di tengah-tengahnya.
“Pahlawan?” Sungsang Geni, nyaris tersedak mendengar perkataan puluhan prajurit itu, “Apa yang mereka pikirkan?” sambunya heran.
Karang Dalo mendapati kehadiran Sungsang Geni menjadi cemas, dia tidak ingin berurusan dengan pemuda itu lagi, tidak setelah melihat kekuatan pemuda itu mampu memotong tombak pusakannya menjadi dua.
__ADS_1
“Pendekar muda...aku tidak ingin berurusan denganmu, kau bukanlah prajurit Surasena, jadi kenapa kau repot-repot membantu mereka?” ucap Karang Dalo berkata tergagap, “Jadi biarkan aku pergi dari sini.”
“Lalu bagaimana pula dengan teman-temanku yang kau bunuh?” tanya Sungsang Geni, “Bukankah mereka juga bukan pasukan Surasena, kenapa kau membunuh mereka semua?”
Karang Dalo terlihat pucat mendengarnya, dia mencoba memutar otaknya untuk tidak terlibat dengan pemuda itu. Satu-satunya cara menghadapi Sungsang Geni mungkin dengan menyerangnya bersama senopati lain dari Tombok Tebing.
Karang Dalo melemparkan tombak ditanganya sekuat tenaga kearah Datu Wenda, dan dugaannya benar, Sungsang Geni berusaha melindungi Datu Wenda. Tanpa membuang waktu, Karang Dalo segera melarikan diri sekencang-kencangnya.
“Hadang pemuda itu!” Karang Dalo berteriak kepada bawahannya yang mengenakan pakaian serba putih.
Sungsang Geni merasa jengkel, tidak disangkanya Karang Dalo sepengecut itu.
Belasan prajurit Tombok Tebing yang menghadanya, tewas seketika ditangan Sungsang Geni. Sebagian tertikam di bagian jantung, tapi tak jarang yang terpenggal kepalanya.
Sungsang Geni tidak berniat melepaskan Karang Dalo, ingatannya kepada teman-temannya mengundang amarah yang tak terbendung. Dia bergerak semakin cepat, mengejar Karang Dalo yang berlari menuju sungai.
Sungsang Geni tidak mengerti apa yang dipikirkanya, tapi satu yang pasti. Karang Dalo saat ini meneriakan beberapa kata kelangit.
Setelah beberapa saat, dua orang tiba-tiba muncul dari langit, mereka mengenakan jubah putih dengan menggunakan topi dari anyaman rotan, dan wajah tertutup cadar. Mereka dua orang senopati kembar yang berasal dari Tombok Tebing.
Mereka tidak memijak tanah, sekitar 2 jengkal dari tanah, kaki mereka mengambang diudara dengan tenang. Salah satu diantara mereka bersenjata dua pedang, sedangkan satunya lagi menggunakan rantai panjang. Diujung rantai, nampak sebuah celurit menggantung bak jangkar kapal yang terbelah.
“Apa pemuda itu sebegitu hebatnya?” ucap salah satu dari mereka yang mengenakan dua pedang, “Hingga kau terlihat ketakuatan seperti itu?”
“Lihatalah kak, Karang Dalo bahkan terkencing dicelana!”.
Di Tombok Tebing, mereka dijuluki sikembar pembawa maut. Dua Senopati yang kemampuannya melebihi Karang Dalo dalam segi apapun. Menjadikan mereka Senopati kesayangan Puntura sekaligus Senopati paling kejam di Kerajaa Tombok Tebing.
Sejauh ini belum ada yang pernah melihat wajah Sikembar itu, bahkan di Kerajaan Tombok Tebing sekalipun. Orang-orang tidak tahu pasti seberapa tua umur mereka, tapi ketika melihat mata serta kulit mulus mereka, orang-orang Tombok Tebing Menaksir mereka berumur 30 tahun, atau mungkin kurang.
“Tutup mulutmu, Rerintih!” Tukas Karang Dalo kepada sikembar yang menggunakan rantai.
__ADS_1
“Kakak! Bolehkah aku membunuh orang ini terlebih dahulu, sebelum melawan Pemuda disana?” ucap Rerintih, matanya menjelit tajam kepada Karang Dalo, lalu sesuatu bergerak melilit pria itu.
Karang Dalo merasa tercekik, sebab rantai Rerintih mulai melilit batang lehernya. Celurit yang terletak diujung rantai, mulai bergerak menghampiri biji bola mata Karang Dalo, membuat pria itu memejamkan mata sambil ketakutan.
“Hetikan Rerintih!” ucap kakanya yang bernama Reratap, “Raja Puntura masih membutuhkan orang itu.”
Rerentih terlihat kesal, dengan terpaksa dia melepaskan lilitan rantainya. “Ingatlah, jika kau berani berteriak lagi kepadaku, aku akan mencongkel keluar biji matamu.”
Disisi lain, dari kapal Tombok Tebing yang mulai tenggelam, sekitar seratus prajurit dengan kemampuan meringankan tubuh keluar dari sana berbondong-bondong.
“Ikuti Senopati Rerintih dan Reratap,” mereka berteriak.
“Hancurkan Surasena!”
Prajurit itu, berlari diatas air seperti gelombang laut yang akan menyapu daratan. Tidak ada satupun prajurit lemah yang Raja Puntura bawa dikapal itu, setidaknya level mereka berada pada pendekar pilih tanding, sedangkan beberapa orang memiliki tenaga dalam setinggi Datu Wenda.
Raja Puntura telah merencanakan hal ini dengan sangat lama dan sabar. Kerajaan Tombok Tebing melatih beberapa orang berbakat lebih keras, 10 tahun terkahir. Mereka berniat menciptakan petarung terhebat sepanjang sejarah.
Dibanding prajurit Surasena yang umumnya berada pada level pendekar kelas tanding, Prajurit Tombok Tebing lebih unggul dari segala hal.
“Mereka tidak sabaran, benarkan Kakak?” ucap Rerintih.
“Tentu saja!” jawab Reratap singkat, tapi fikirannya saat ini terfokus pada pemuda yang mampu mengalahkan seluruh lawan-lawannya dengan mudah, dan sesaat lagi tiba didekatnya.
‘Siapa pemuda itu? kemampuan dan tenaga dalamnya luar biasa, pantas saja Karang Dalo tidak mampu menghadapinya.’ Batin Reratap bergumam.
Dia tidak ingin pemuda itu menghampirinya lebih dahulu, jadi Reratap lebih dahulu melesat menuju Sungsang Geni, meninggalkan adiknya, Rerintih.
Teng....suara pedang beradu, menciptakan gelombang energi yang menghempas segala benda didekat mereka berdua.
“Kemampuanmu luar biasa pendekar muda,” ucap Reratap sedikit terkejut, melihat Sungsang Geni mempu menghentikan serangannya tanpa kesulitan ber-arti. “Tunjukan padaku kekuatanmu sesungguhnya!”
__ADS_1