
Naga itu meliuk-liuk di permukaan air beberapa saat, kemudian menyelam setelah itu muncul dengan gigi-gigi taring yang bersiap mengoyak-ngoyak Sungsang Geni.
Pemuda itu melompat tepat di moncong hidungnya yang berlubang besar, berdiri dengan tatapan tajam. Merasa sangat dihina, naga itu mengipaskan lehernya berusaha melemparkan Sungsang Geni.
Pada saat yang sama, dua bayangan padang melesat menghantam wajah naga itu, membuat dia kembali menunjukkan gigi-gigi taring dengan kemarahan.
Sungsang Geni hinggap di permukaan air untuk sementara, sebelum kembali menyerang dengan cepat. Dia menciptakan sebuah pedang cukup besar, lalu seraya melepaskan benda berwarna kuning itu.
“Serangan itu tidak akan berhasil!” ucap Naga itu.
Dia dengan tubuh besarnya dapat menghindari pedang Sungsang Geni, pedang itu melesat lurus tapi kemudian berhenti di awang-awang. Pada saat yang sama, Sungsang Geni mengarahkan telunjuknya dengan telapak tangan menghadap ke langit.
Pemuda itu menekuk jari telunjuk tersebut, pada saat yang sama pedang energi yang sempat berhenti kembali menyerang dengan cepat. Dan berhasil menancap tepat di leher sang Naga.
“Ahkkk...!” teriakan Naga itu menciptakan gelombang laut berukuran besar di sekitarnya.
Setelah itu Sungsang Geni melepas 3 bayangan kemudian bergerak cepat mengepung naga itu.
“Apa yang akan kau lakukan?” Naga itu menjadi panik.
Sungsang Geni tidak menjawab, tatapan sinis dan tajam tidak hilang dari raut wajahnya yang biasanya tenang. Hanya hitungan detik, dia bersama 3 bayangan menyerang naga itu dengan teknik pedang awan berarak.
“Pemuda itu berhasil melukai sisik naga...” Brewok Hitam menelan ludah beberapa kali.
“Apa kau tadi melihatnya? Permainan pedang itu miliki pedang perguruan bukit emas?” Sibondol berkata.
“Tapi bukankah pendekar Bukit Emas menggunakan pedang nyata di setiap serangannya?”
“Yang kau katakan memang benar. Tapi cara dia menggerakkan pedang itu dengan jari telunjuknya, itu mirip sekali dengan yang dilakukan Benggala Cokro, bukan?” Sibondol meyakinkan Brewok Hitam.
Sejauh ini mereka tidak pernah melihat seseorang bisa bertarung dengan pedang yang tercipta dari energinya sendiri. Belum pernah ada. Beberapa teknik yang digunakan Sungsang Geni memang sempat dikenali, seperti teknik awan berarak yang mereka lihat ketika Dewangga menggunakannya.
Tapi tidak dengan bayangan yang tercipta, teknik itu seperti sebuah ilusi tapi tentu saja itu bukan. Ilusi tidak bisa melukai wujud pisik, karena hanya pengalihan pikiran saja.
__ADS_1
Tapi bayangan Sungsang Geni bisa melukai naga itu, bahkan terlihat memiliki kemampuan yang sama dengan pemiliknya.
“Kenapa kita tidak pernah mendengar namanya?” Sibondol menggelengkan kepala, beberapa saat tadi dia sudah mencoba mengingat siapa tahu ada seorang pendekar mata-mata yang memang ditugaskan serikat pendekar untuk membantu, tapi dia tidak dapat menemukan kebenaran dengan pikirannya.
“Kemampuan itu bahkan setara dengan...Darma Cokro dan Ki Alam Sakti.” Brewok Hitam bergumam.
“Tidak, dia belum mengeluarkan semua kemampuannya. Mungkin dia lebih kuat dari semua orang.”
Brewok Hitam tertegun beberapa saat kemudian matanya melotot menyadari sesuatu.
“Pemuda itu jangan-jangan dia sudah membuka seluruh cakra di tubuhnya. Tidak salah lagi, dia pendekar level iblis.”
Sungsang Geni tentu saja tidak begitu peduli dengan istilah pendekar iblis yang mulai melekat pada dirinya. Satu hal yang dia yakini, dia harus menjadi lebih kuat, lebih cerdas lebih bijak untuk memimpin sebuah pasukan.
Naga besar itu melayang beberapa saat ke udara, menunjukkan seluruh bagian tubuhnya yang panjang dengan empat kaki seperti elang. Sungsang Geni berhasil mendaratkan sebuah tendang keras tepat di tengah perutnya.
Dengan mulut terbuka lebar sambil menahan rintihan sakit dan belasan luka di sekujur tubuhnya, dia mengumpulkan energi kuat di tengah mulutnya.
Seketika semburan api dengan tingkat panas yang luar biasa lepas ke arah Sungsang Geni.
“Celaka, kita akan mati....”
Tapi tanpa mereka sadari, Sungsang Geni tidak bergerak dari tempatnya. Dia membuka seluruh telapak tangan kanan, dan seketika gelombang api besar yang mengarah kepadanya lenyap.
Lenyapnya bahkan lebih cepat daripada terciptanya. Semua orang tidak bisa menyembunyikan wajah terkejut dan terpukau. Brewok Hitam membuka mulutnya lebar-lebar hampir muat dengan kepalan tinjunya sendiri.
“Apa kita sedang bermimpi?” ucap Brewok Hitam tidak percaya.
“Aku pikir juga begitu...” sambung Sibondol.
“Ger...Ger...” Panglima Ireng tersenyum, meski senyumannya tetap saja menakutkan.
Di Sisi lain, naga itu hampir muntah darah setelah kekuatan terbesarnya dapat ditahan begitu saja. Keterkejutannya bertambah besar setelah melihat lengan kanan Sungsang Geni bercahaya terang. Namun.
__ADS_1
“AHKK!” Dia terpekik keras.
Sungsang Geni baru saja meletakkan telapak tangannya tepat di kepala Naga itu, lalu ledakan energi menembus batok dan otaknya. Ini adalah jurus tombak menusuk macan, jurus terkuat teknik pedang bayangan untuk jarak pendek.
Jurus ini pernah dipakai Resi Irpanusa, untuk melawan Sriyu Kuning. Jurus yang sangat sulit, bahkan belum ada yang mempelajarinya kecuali Resi itu sendiri.
“Dia sudah menguasai jurus itu?” Pramudhita yang menonton pertarungan itu tidak kalah terkejut dari orang lain. “Kurang ajar, aku juga harus menguasai jurus itu.”
Naga hitam tidak sempat berteriak, dia jatuh di pinggir pantai. Menggelepar beberapa saat, kemudian wujudnya perlahan-lahan membentuk seorang gadis berbaju putih, yang sedang terkapar.
Beberapa saat, angin meniup selendang yang dia kenakan sehingga menyingkap betisnya yang putih. Tidak ada yang menyangka siluman naga itu adalah seorang gadis cantik.
Gadis itu mencengkram pasir di pantai, merangkak dengan pelan untuk menyentuh air laut. Saat itu, Sungsang Geni mengetahui bahwa dia membutuhkan air laut untuk bertahan hidup.
Pemuda itu lantas terbang dengan cepat, dia mencoba mengangkat tubuh siluman itu meski sebenarnya dia tampak tidak senang.
“Berhentilah melawan, kau akan mati jika terlalu banyak bergerak.” ucap Sungsang Geni.
Setelah meletakannya di permukaan air yang cukup dalam. Sungsang Geni melepaskan sedikit tenaga dalam untuk memulihkan luka dalam naga itu.
“Aku tidak butuh...rasa simpati dari manusia sepertimu!” Dia menepiskan telapak tangan Sungsang Geni yang melekat di keningnya.
“Baiklah, terserah kau saja,” ucap Sungsang Geni. “Aku sudah memulihkan sebagian lukamu.”
Gadis itu menatap Sungsang Geni dengan geram, mungkin berusaha mencekiknya selagi sempat tapi dia tidak mungkin sanggup.
“Jangan kau lakukan! Mencekik leherku dengan sisa energimu itu.”
Naga itu tidak dapat menutupi keterkejutannya, betapa tidak manusia itu bahkan bisa membaca niat jahatnya.
“Aku yakin, para pengawalmu akan menjemputmu di sini.” Sungsang Geni beranjak dari tempatnya. “Ma'afkan aku karena sudah melukai dirimu...”
Setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba suasana di pantai menjadi buruk. Awan hitam bergumpal di tengah laut, ombak besar datang silih berganti dan angin kencang seakan berniat menyapu daratan. Pada saat yang sama, ada bayangan hitam di bawah perairan.
__ADS_1
Ok...sebelum lanjut silahkan like dan koment tergokil kalian.