PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Pengantar Pesan 3


__ADS_3

Buyung Upiak melepaskan 2 serangan sekaligus, mengarah pada dua orang pengirim pesan yang sedang duduk di kuda.


Mendapat serangan itu, keduanya tidak tinggal diam, mereka membuka telapak tangan kemudian mengarahkan ke depan. Menahan dua kelebat cahaya kuning yang bersinar.


Ledakan energi terjadi, dua orang itu terpental dari punggung kuda dan mendarat kasar di dinding Markas.


Salah satu dari mereka menghentakan kaki, kemudian menarik sebilah golok. Dia menyerang lebih dahulu.


“Aku akan membunuhmu, akan kupastikan kau tidak bisa melihat mentari besok pagi!” Orang itu berteriak


Buyung Upiak hanya tersenyum kecil, serangan tanpa tenaga yang cukup itu dengan mudah dihindarinya. Tubuh orang tua itu memutar ke samping, pada saat yang sama ujung pedangnya berhasil menyayat tipis pangkal paha pria itu.


“Jangan mencoba menyerang dia sendirian!” temannya memperingatkan.”Kita bisa membunuhnya jika bertarung bersama-sama.”


“Benar, dia memang hebat tapi jika kita menyatukan kekuatan, bukan mustahil bisa mengalahkannya.”


Dari yang Sungsang Geni lihat, tiga orang pengantar pesan memiliki tenaga dalam setingkat pendekar pilih tanding. Bahkan tenaga dalamnya mungkin tidak sampai setengah jule. Mau seperti apapun, pertarungan ini sudah bisa ditentukan siapa pemenangnya.


Mereka bertiga menyerang secara bersamaan. Dalam beberapa menit saja sudah terjadi pertukaran ratusan gerakan antara kedua belah pihak, tapi sejauh ini Buyung Upiak masih mendominasi pertarungan.


Permainan pedang Buyung Upiak berada di atas rata-rata, apa lagi sapuan pedang yang mengincar kaki musuhnya. Setiap gerakan pedangnya mengandung tenaga dalam yang cukup besar.


Sungsang Geni bisa merasakan aliran tenaga dalam pada pedang milik Buyung Upiak begitu teratur, dan tidak meluap-luap. Meski sebenarnya pemuda matahari itu bisa melihat beberapa kelemahan dalam permainan pedangnya.


Pada suatu waktu, salah satu dari mereka menyerang bagian leher orang tua itu. cukup cepat, Buyung Upiak harus menunduk untuk menghindarinya, dan sebagai gantinya beberapa helai rambut putihnya putus .


Ketika orang tua itu sedang menunduk, salah satu dari pengantar pesan mengambil posisi di bawah, nyaris tidur di permukaan tanah. Kemudian dia dengan tombaknya berniat menikam wajah Buyung Upiak, tapi tidak berhasil.


Orang tua itu malah menghantam ujung tombak dengan kepalan tinju, membuat senjata pria itu menjadi patah berkeping-keping. Dan nahas, pukulan tinju orang itu masih berlanjut dan mendarat tepat di kepala.

__ADS_1


Darah segar berhambur keluar dari mulut pria itu. Sebelum akhirnya pria itu menghembuskan napas. Tersungkur di permukaan tanah.


“Orang tua gila! Kau telah membunuh teman kami, kau tidak pantas hidup. Kami berdua akan mengirmu ke alam baka!” maki Pengantar Pesan.


“Teman, jangan khawatir kami akan membunuh orang tua ini.”


Buyung Upiak tertawa cekikikan, dia kemudian mulai melakukan gerakan-gerakan jurus. Mungkin tingkat menengah di dalam ilmu bela diri yang dia pelajari.


“Kalian berdua tidak perlu khawatir, aku tidak akan membuat dia mati sendirian. Ahahaha.”


Setelah mengatakan hal itu, Buyung Upiak dengan gerakan cepat melakukan serangan yang sulit dibaca. Dua tiga kali pedang miliknya melukai tubuh kedua orang penyampai pesan.


Sekarang kedua lawan Buyung Upiak tidak bisa berdiri, urat-urat besar di betis mereka sudah terkoyak. Bahkan satu diantara mereka harus menahan bobot tubuhnya dengan lutut, dan menopang tangan dengan gagang golok.


Pada saat yang sama, terasa sangat singkat. Buyung Upiak melesat dengan cepat. Tahu-tahunya sudah berada di belakang kedua musuhnya dengan pedang yang berlumuran darah.


Buyung Upiak menebas angin, membersihkan noda darah yang ada di bilah pedangnya. Orang tua itu kemudian berjalan dengan tatapan sinis, memperhatikan wajah-wajah musuhnya yang mati tanpa menutup mata.


“Kalian bertiga hanya tikus kecil, berani sekali menantang seekor harimau.” Buyung Upiak menyeka darah di pedang dengan baju lawannya.


Kismojoyo kemudian berjalan sedikit takut mendekati orang tua gila itu. Dia segera menundukkan kepala, khawatir jika pimpinan markas kecil itu menjadi lebih gila lagi, dan membunuh pasukannya sendiri.


“Kismojoyo, panggil semua pasukanmu! Kita akan menghancurkan Markas Kecil di seberang sungai.” Buyung Upiak menatap Kismojoyo beberapa saat, setelah pria itu menganggukkan kepala barulah dia pergi. “Tidak ada yang bisa mempermainkan aku, tidak ada.”


Sungsang Geni tersenyum kecil di kejauhan, tentu saja ada orang yang mempermainkan dirinya. Hanya saja Buyung Upiak tidak sadar dengan hal itu.


***


Sungsang Geni kembali menemui seluruh pasukannya. Semua orang sangat khawatir, pemuda itu pergi lebih lama dari yang mereka pikirkan.

__ADS_1


Sungsang Geni mendarat tepat di hadapan Cempaka Ayu, membuat gadis itu menatapnya dengan ekspresi berbeda-beda, tapi satu yang jelas. Gadis itu begitu mengkhawatirkan dirinya.


“Geni, apa yang terjadi kenapa kau tidak kembali semalam?” Cempaka Ayu segera mencerca pemuda itu dengan banyak pertanyaan.


“Cempaka, tenanglah! Aku baik-baik saja.”


Cempaka Ayu berniat menanyakan beberapa pertanyaan lagi, tapi pemuda itu segera meletakkan telapak tangannya di kening gadis itu. Mendiamkan Cempaka Ayu seketika.


“Mahesa, besok pagi kita akan bergerak menuju Markas Kecil di seberang sungai,” ucap Sungsang Geni.


“Apa kita akan menyerang mereka? Bagaimana dengan markas kecil di sini?” Mahesa mengerutkan kening, belum begitu mengerti situasi yang telah terjadi.


Seingat dia, Sungsang Geni pergi untuk mencari informasi mengenai kuda yang datang dari seberang sungai, tapi sekarang kembali dengan mengatakan akan menyerang.


“Kita tidak akan menyerang mereka, tapi yang akan melakukannya adalah Buyung Upiak. Pemimpin markas kecil di sini.” Sungsang Geni kemudian menuangkan air di dalam cawan bambu, menegaknya beberapa kali. “ Kita akan menghancurkan dua markas sekaligus.”


Sungsang Geni lantas menceritakan rencana yang telah dibuatnya secara garis besar. Beberapa orang prajurit yang memiliki otak cukup pintar, dengan mudah mengerti maksud perkataan Sungsang Geni, tapi di dalam kelompok itu tidak semua orang memiliki otak pintar.


“Intinya kita akan mengalahkan musuh kita sekaligus.” Tutup Sungsang Geni kesal.


Itu poin pertama dari kitab strategi yang dia pelajari. Pinjam tangan seseorang untuk membunuh. Serang dengan menggunakan kekuatan pihak lain. Perdaya sekutu untuk menyerang musuh, sogok aparat musuh untuk menjadi pengkhianat, atau gunakan kekuatan musuh untuk melawan dirinya sendiri.


Biasanya strategi ini dilakukan bagi para penguasa yang memiliki sumber daya yang melimpah. Jadi mereka tidak akan menyerang musuh secara langsung, tapi membayar orang untuk melakukan penyerangan.


Tapi Sungsang Geni bisa menggunakan strategi ini tanpa sogok. Hanya sedikit tipuan kecil.


Sungsang Geni tidak peduli pihak mana yang akan menang dalam perang selanjutnya. Buyung Upiak atau pemimpin Markas Kecil di seberang Sungai? Tidak ada yang berbeda dari dua kelompok itu. Siapa yang akan bertahan, maka akan menghadapi Bayangkara.


“Siapkan rakit, kita akan menyebrangi sungai setelah pasukan Buyung Upiak.”

__ADS_1


__ADS_2